Dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merampas akar spiritual bawaannya, Lin Tian—sang jenius nomor satu dari Kota Daun Gugur—jatuh menjadi "sampah" yang dilumpuhkan dan dihina oleh klannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menelan segala penderitaan dan penindasan dalam diam, bertahan hidup hanya demi mencari kebenaran tentang orang tuanya yang hilang dan membalas dendam pada mereka yang merampas masa depannya.
Namun, roda takdir berputar ketika darahnya tanpa sengaja membangkitkan jiwa Kaisar Alkemis Surgawi yang tertidur di dalam liontin peninggalan ibunya, Mutiara Kekacauan Primordial.
Mendapatkan warisan kuno dan merombak fisiknya menjadi Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian kembali menapak jalan kultivasi yang kejam. Di dunia di mana hukum rimba berlaku mutlak dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran, Lin Tian harus menggunakan akal, taktik, dan kekuatan barunya untuk membelah segala rintangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Hukum Rimba dan Pembantaian Darah Siluman
Angin malam berembus membawa bau busuk daun yang membusuk dan aroma anyir darah yang mengering. Di hadapan Lin Tian, pepohonan raksasa dengan dahan meliuk menyerupai cakar monster berdiri menjulang ke langit, membentuk batas alami yang memisahkan pinggiran Kota Daun Gugur dengan neraka hijau yang dikenal sebagai Hutan Siluman Kematian.
Udara di sini jauh lebih tebal, dipenuhi oleh miasma beracun yang secara perlahan dapat menggerogoti pikiran kultivator berhati lemah. Namun, bagi Lin Tian yang memiliki Tubuh Pedang Kekacauan, miasma ini tidak lebih dari sekadar kabut biasa. Energi abu-abu di dalam Dantiannya secara otomatis berputar lambat, menetralkan setiap partikel racun yang masuk melalui pori-pori kulitnya tanpa ia harus mengeluarkan usaha berlebih.
Sebelum melangkah melewati batas pepohonan, Lin Tian berhenti sejenak. Ia tidak langsung masuk dengan arogan. Secara logis, hutan ini adalah wilayah musuh tempat ribuan binatang buas pemakan manusia berkeliaran. Di masa kejayaannya, ia sering berburu di sini, sehingga ia tahu betul bahwa kecerobohan sekecil apa pun di Hutan Siluman Kematian akan berujung pada kematian yang sangat instan.
Lin Tian berjongkok di dekat sebuah genangan lumpur rawa yang berbau menyengat. Tanpa ragu, ia meraup lumpur basah tersebut dan mengoleskannya ke seluruh pakaian kulitnya, wajah, serta lengannya. Bau lumpur rawa ini sangat tajam dan menyengat, berfungsi sempurna untuk menyamarkan aroma tubuh dan keringat manusia dari penciuman tajam siluman tingkat rendah. Ini adalah taktik bertahan hidup dasar yang masuk akal, namun sering diabaikan oleh para kultivator muda dari keluarga bangsawan yang terlalu mengandalkan perisai Qi mereka.
Setelah memastikan auranya tersembunyi dengan baik, ia mencabut belati berukir rune dari pinggangnya. Matanya memindai kegelapan, dan ia pun melesat ke dalam bayang-bayang hutan dengan gerakan seringan kucing liar.
Target pertamanya malam ini bukanlah siluman tingkat tinggi, melainkan mangsa yang sepadan untuk menguji kekuatan fisik dan refleks barunya: siluman Tingkat 1.
Sekitar dua mil ke dalam wilayah luar hutan, pendengaran tajam Lin Tian menangkap suara gemerisik ranting patah, diikuti oleh suara geraman pelan yang menggetarkan udara di sekitarnya. Ia segera melompat tanpa suara ke dahan pohon ek raksasa di dekatnya, menyembunyikan kehadirannya di balik dedaunan lebat.
Di bawah sana, seekor makhluk merayap keluar dari semak berduri. Itu adalah Serigala Mata Darah. Tubuhnya sebesar anak sapi, ditutupi bulu hitam kaku yang setajam jarum tembaga. Sepasang matanya memancarkan cahaya merah menyala di tengah kegelapan, aktif mencari mangsa. Tingkat kekuatannya setara dengan kultivator Pengumpulan Qi Tingkat 3.
Jika Lin Tian menggunakan teknik bela diri klan dan bertarung secara frontal secara terbuka, benturan energi spiritual pasti akan terjadi. Suara ledakan pertarungan itu hanya akan menarik siluman lain yang lebih kuat dalam radius beberapa mil. Itu adalah tindakan ceroboh. Membunuh di hutan ini harus dilakukan dengan efisien, sangat cepat, dan tanpa mengeluarkan suara berarti.
Lin Tian mengamati pola gerakan serigala itu dengan tenang. Ia memegang erat belatinya, menghitung arah angin dan kecepatan langkah sang mangsa. Otot-otot di kakinya menegang secara presisi bagaikan busur yang ditarik maksimal. Ia menahan napasnya, menurunkan detak jantungnya hingga berdetak sangat pelan dan nyaris tak terdengar.
Tepat ketika Serigala Mata Darah itu menunduk untuk mengendus sebuah tulang tua di tanah, sebuah celah pertahanan yang fatal terbuka di bagian belakang lehernya.
Lin Tian tidak membuang waktu satu detik pun. Ia menerjang turun dari dahan pohon bagaikan bayangan abu-abu yang membelah udara. Tidak ada teriakan perang, tidak ada fluktuasi Qi yang dipancarkan secara berlebihan. Ia hanya memfokuskan seluruh Qi Primordial dari Dantiannya secara absolut ke ujung belati di tangan kanannya.
Serigala itu memiliki insting binatang yang sangat tajam. Merasakan ancaman dari atas, makhluk itu mencoba melompat ke samping secara refleks sambil mengayunkan cakar depannya ke arah udara kosong.
Namun, perhitungan Lin Tian tanpa celah. Pergerakan defensif serigala itu sudah masuk dalam simulasi pertarungannya di otak. Di udara, Lin Tian memutar tubuhnya dengan kelenturan ekstrem, menghindari ayunan cakar mematikan serigala itu hanya dengan selisih satu inci.
Crassh!
Belati berukir rune pengoyak lapis baja itu menembus kulit tebal Serigala Mata Darah tanpa perlawanan berarti, menancap tepat dan presisi di celah tulang belakang lehernya. Lin Tian memutar gagang belati tersebut dengan keras dan tajam, memutus saraf tulang belakang utama makhluk itu seketika.
Serigala besar itu bahkan tidak sempat mengeluarkan lolongan peringatan. Tubuhnya ambruk ke tanah dengan suara debuk tertahan, mati seketika sebelum otak binatang buasnya menyadari apa yang baru saja membunuhnya.
Lin Tian segera mencabut belatinya, mengibaskan darah yang menempel, lalu dengan cepat menyeret bangkai serigala itu ke balik semak-semak lebat untuk menyembunyikan jejak pembunuhan dari predator lain. Pertarungan berlangsung kurang dari tiga detik. Ini adalah manifestasi nyata dari efisiensi mutlak dan logika pertempuran mematikan.
Dengan gerakan terampil, ujung belati Lin Tian membedah dada serigala tersebut. Ia merogoh ke dalam dan menarik keluar sebuah kristal bundar sebesar kelereng yang memancarkan cahaya merah pekat. Itu adalah Inti Siluman Tingkat 1.
Di dalam kristal ini, terkandung energi spiritual murni yang telah dikumpulkan sang siluman, namun energi itu sangat buas dan dipenuhi dengan niat membunuh yang liar. Bagi kultivator normal, menyerap inti siluman secara langsung sama dengan mencari mati; energi buas itu akan mengamuk dan merobek meridian mereka. Mereka harus menjualnya ke alkemis untuk disuling menjadi pil yang aman dikonsumsi.
Namun, Lin Tian tidak membutuhkan proses yang panjang itu. Ia duduk bersila di samping bangkai serigala itu dan menggenggam inti siluman tersebut di telapak tangannya dengan erat. Ia mengaktifkan teknik pernapasan bawaannya. Seketika, untaian Qi abu-abu keluar dari pori-pori kulitnya, melilit inti siluman berwarna merah itu secara langsung. Gaya isap yang sangat brutal dan rakus meledak dari Dantiannya.
Wush!
Energi merah yang buas dari dalam inti siluman ditarik keluar secara paksa. Niat membunuh yang terkandung di dalamnya mencoba melawan, menyerang kesadaran Lin Tian dengan agresi. Namun, saat bersentuhan dengan Qi Primordial yang mewakili awal mula hierarki energi, aura buas itu dihancurkan dan ditundukkan dalam sekejap mata.
Energi siluman itu dimurnikan secara total, diubah menjadi aliran Qi murni yang sangat padat, lalu mengalir deras ke meridian Lin Tian, mengisi kekosongan kapasitas energi di dalam Dantiannya yang luas. Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, inti siluman di tangannya berubah warna menjadi abu-abu kusam, lalu retak dan hancur menjadi debu.
Lin Tian membuka matanya, merasakan energi di dalam tubuhnya meningkat dengan sangat stabil. Satu Inti Siluman Tingkat 1 memberikan asupan energi yang jauh lebih besar dan efisien dibandingkan sepuluh Batu Spiritual tingkat rendah yang ia hancurkan sebelumnya.
"Kapasitas energi tubuh ini memang tidak normal. Satu inti siluman ini hanya mengisi sebagian kecil dari kebutuhanku menuju Tingkat 3. Jika aku berburu dan berkultivasi dengan metode ortodoks, menembus batas akan memakan waktu terlalu lama," analisa Lin Tian secara logis.
Ia bangkit berdiri, pandangannya menatap tajam ke kedalaman Hutan Siluman Kematian yang semakin gelap dan pekat. Di luar sana, target operasi dan sumber dayanya menanti. Ia harus meningkatkan intensitas perburuannya.
Namun, hukum rimba bekerja di luar kalkulasi. Tiba-tiba, tanah basah di bawah kaki Lin Tian bergetar pelan. Getaran seismik itu semakin lama semakin kuat, diiringi oleh suara patahan pohon raksasa yang roboh dari jarak sekitar dua mil di sebelah barat posisinya. Fluktuasi energi spiritual yang luar biasa besar dan destruktif menyapu udara, menciptakan gelombang angin kencang yang membuat dedaunan berguguran.
Lin Tian segera menyipitkan matanya. Fluktuasi Qi itu sangat menekan, jauh melampaui kelas siluman tingkat rendah. Berdasarkan kepadatan gelombangnya, itu adalah benturan energi antara dua eksistensi di Tahap Inti Emas.
Akal sehat dan rasionalitasnya mengatakan untuk segera mundur dan menjauh dari area episentrum pertarungan tingkat tinggi tersebut. Terlibat atau sekadar berada di dekat konflik antara entitas yang bisa menghancurkan bukit kecil dengan satu ayunan serangan adalah tindakan bunuh diri tak berarti bagi kultivator tingkat bawah sepertinya.
Akan tetapi, hidung Lin Tian yang sangat peka menangkap partikel aroma yang sangat spesifik yang terbawa oleh gelombang angin dari arah pertempuran tersebut. Aroma itu murni, menyejukkan, dan membuat aliran Qi di meridiannya bereaksi secara positif. Itu bukan bau darah.
Itu adalah emisi alami dari Teratai Salju Seribu Tahun. Sebuah tanaman spiritual tingkat tinggi yang secara teoritis memiliki khasiat mutlak untuk merestrukturisasi dan menyambung kembali meridian yang hancur berkeping-keping. Itu adalah bahan utama yang paling masuk akal dan sempurna untuk mengembalikan fondasi kultivasi ayahnya.
"Pertarungan antara dua entitas tingkat tinggi demi memperebutkan satu anomali sumber daya," Lin Tian bergumam pelan, otaknya berputar cepat menghitung rasio risiko dan probabilitas keberhasilan. "Ketika dua kekuatan bertabrakan secara merata, stamina dan fokus mereka akan terkuras. Jika terjadi kebuntuan... akan ada celah."
Mata Lin Tian memancarkan cahaya kalkulatif yang dingin. Risiko kematian langsung berada di angka sembilan puluh persen, namun imbalan yang ditawarkan adalah solusi definitif untuk keselamatan keluarganya. Dengan keputusan bulat dan perhitungan yang matang, ia menekan auranya hingga titik terendah, lalu melesat menembus kanopi pepohonan. Ia bergerak maju mendekati pusat bahaya, bersiap mengeksploitasi setiap kelengahan yang tercipta.