❤️ CINTA DI LANGIT TAJ MAHAL 🕌✨
AARYAN, CEO muda yang dingin dan playboy, hidupnya berubah total saat bertemu MAHEERA, gadis suci yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Meski ditentang keras oleh Ny. Savitri, ibu Aaryan yang angkuh, cinta mereka tetap bersemi. Bahagia sempat terjalin indah, hingga takdir berkata lain. Maheera harus pergi meninggalkannya lebih dulu.
Bertahun-tahun Aaryan hidup dalam kesepian, menyimpan rindu yang tak pernah mati. Hingga akhirnya, ia pun menyusul kekasih hatinya.
Kisah cinta abadi yang membuktikan, kematian pun tak mampu memisahkan dua jiwa yang saling memiliki. 🥹🕊️🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LANJUTAN BAB 12)
📖 (LANJUTAN BAB 12)
...Dan di antara kehangatan itu, Aaryan kembali berbisik dengan suara berat dan penuh gairah.
"Lihat kita sekarang, Maheera... Kita hidup di rumah kecil ini, tidur di kasur biasa, tidak ada pelayan, tidak ada kemewahan... tapi kenapa rasanya aku merasa jadi orang paling kaya di dunia saat memelukmu begini?"
Maheera tersenyum manis di tengah rasa bahagia yang meluap-luap. Jari-jarinya yang lentik bermain-main di dada bidang suaminya, mengelus setiap urat dan otot yang terlatih itu.
"Karena kekayaan yang sesungguhnya itu ada di sini, Mas..." jawab Maheera lembut sambil menunjuk ke dada kiri pria itu, tepat di tempat jantungnya berdetak. "Di hati Mas yang tulus mencintaiku. Itu jauh lebih berharga daripada seluruh harta di luar sana."
"Dan bagiku... tempat ini adalah surga. Selama Mas ada di sini, gubuk kecil ini berubah jadi istana yang paling megah."
Mendengar jawaban seindah itu, hati Aaryan seakan meleleh. Ia semakin mencintai wanita di hadapannya ini. Tidak ada wanita lain di dunia ini yang bisa semanis, sebaik, dan setulus Maheera.
"Kau benar-benar bidadari yang turun ke bumi untuk menyelamatkanku..." ucap Aaryan terharu.
Ia kembali mencium bibir merah muda itu, kali ini lebih lama, lebih dalam, dan lebih membara. Ciuman yang penuh rasa terima kasih, penuh rasa memiliki, dan penuh rasa rindu yang tak terhingga.
Tangan Aaryan yang besar dan hangat mulai bergerak lebih berani, menjelajahi setiap lekuk tubuh istrinya dengan penuh rasa hormat dan hasrat. Ia menyentuh, membelai, dan meremas dengan pas, membuat tubuh mungil itu bergetar hebat menahan nikmat.
"Aaaaah... Mas... hmmm..."
Maheera mendesah pelan, matanya terpejam rapat, kepalanya terlemah ke belakang memberikan akses penuh bagi suaminya. Leher jenjang yang putih mulus itu kini menjadi sasaran ciuman dan isapan lembut dari Aaryan, meninggalkan bekas-bekas merah cinta yang menandakan bahwa wanita ini adalah miliknya sepenuhnya.
Malam itu, kamar kecil itu seakan berubah menjadi dunia milik mereka berdua saja.
Suara desahan lembut, suara napas yang memburu, dan bisikan-bisikan kata cinta saling berganti memenuhi ruangan. Mereka saling mengeksplor, saling memuaskan, dan saling memberikan kenikmatan terbaik tanpa rasa malu dan tanpa rasa ragu.
Aaryan membuktikan bahwa sebagai seorang suami, ia mampu memuaskan istrinya, mampu membuatnya melayang di awan kesembilan, dan mampu membuatnya melupakan sejenak semua masalah berat yang sedang mereka hadapi.
Dan Maheera pun membuktikan bahwa sebagai seorang istri, ia mampu menjadi pendamping yang setia, yang hangat, dan yang mampu membuat pria sekuat Aaryan Singhania tunduk dan betah berlama-lama di dalam pelukannya.
"Mas... aku cinta Mas..." isak Maheera di puncak kenikmatan, air mata bahagia mengalir hangat di sudut matanya.
"Aku juga mencintaimu, Maheera... lebih dari hidupku sendiri..." jawab Aaryan seolah berjanji.
Gerakan mereka semakin intens, semakin cepat, dan semakin dalam. Menuju satu titik puncak di mana kedua jiwa dan raga itu benar-benar bersatu menjadi satu. Di mana batas antara aku dan kamu hilang, berganti menjadi KITA.
"AKU MILIKMU... DAN KAU MILIKKU SELAMANYA!!!"
Terucaplah janji itu di tengah kehangatan malam, di tengah gairah cinta yang membara.
Mereka tidak peduli apa kata orang. Mereka tidak peduli kalau ibunya marah, mereka tidak peduli kalau dunia menentang. Yang mereka tahu saat ini adalah, mereka saling mencinta, mereka saling memiliki, dan mereka bahagia.
Itu saja yang penting.
Berjam-jam berlalu dalam kehangatan itu. Matahari pun mulai bersiap untuk terbit kembali.
Akhirnya, kedua tubuh itu terbaring lelah namun sangat puas dan bahagia. Napas mereka masih terdengar sedikit memburu, keringat bercucuran membasahi tubuh namun itu adalah tanda cinta yang luar biasa.
Aaryan memeluk tubuh mungil istrinya itu dari samping dengan sangat erat, melindunginya dari dinginnya malam. Kepala Maheera bersandar nyaman di dada bidang itu, mendengar detak jantung suaminya yang berirama teratur dan menenangkan.
"Mas..." panggil Maheera pelan dengan suara yang terdengar sangat manja dan lemas.
"Hmm... kenapa, Sayangku?" jawab Aaryan sambil mengecup puncak kepala gadis itu berulang kali.
"Kalau nanti Ibu Mas terus saja tidak mau menerima aku, gimana?" tanya Maheera dengan nada sedikit sedih, namun wajahnya tetap tersenyum damai. "Aku tidak apa-apa kok, Mas. Aku cuma takut nanti Mas yang sedih dan kepikiran."
Aaryan menghela napas panjang, lalu mengusap punggung halus itu dengan penuh kasih sayang.
"Biarkanlah waktu yang menjawab, Sayang. Ibu mungkin sekarang masih marah, masih gengsi, dan masih belum bisa menerima kenyataan. Tapi percayalah... suatu saat nanti, Ibu pasti akan sadar. Ibu pasti akan tahu bahwa kau adalah wanita terbaik yang pernah hadir dalam hidupku."
"Dan sampai saat itu tiba... kita akan tetap bahagia seperti ini. Kita akan buktikan pada mereka, bahwa cinta kita itu kuat. Bahwa kita bisa bertahan, dan kita bisa sukses meski tanpa restu mereka di awal."
Maheera mengangguk setuju. Ia merasa sangat aman dan sangat tenang di pelukan itu.
"Iya, Mas. Kita hadapi semuanya bareng-bareng ya. Susah senang kita jalanin bareng-bareng."
"Janji?"
"Janji!"
Mereka pun kembali terdiam, menikmati kebersamaan itu sebelum akhirnya terlelap dalam tidur yang paling nyenyak dan paling damai.
Malam itu mengajarkan mereka satu hal penting: Bahwa kebahagiaan rumah tangga itu tidak diukur dari seberapa besar rumahnya, seberapa mahal mobilnya, atau seberapa setuju orang lain dengan hubungan kalian.
Tapi kebahagiaan itu diukur dari seberapa besar cinta yang ada di dalamnya, seberapa kuat saling percaya, dan seberapa senang hati kalian saling melayani dan mencintai satu sama lain.
Dan malam itu... mereka membuktikan bahwa mereka memilikinya semua.