NovelToon NovelToon
Pura-Pura Jadi Cewek

Pura-Pura Jadi Cewek

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Asmara / Orisinil / Komedi / Slice of Life
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Willy Tjokro anak dari owner TV swasta nekad berubah wujud jadi perempuan. Targetnya mendekati Summer Lidya, gadis incaran sejak masa SMA yang menolaknya mentah-mentah karena phobia laki-laki.

Definisi jodoh nggak kemana, mereka ditakdirkan berkuliah di satu kampus dan jurusan yang sama. Hal yang menjadi celah bagi Willy mendekati Summer lagi.

Namun, kali ini berbeda, bukan sebagai pria, tapi bestie cewek jadi-jadian yang mengerti isi hati Summer.

Akankah penyamaran Willy berhasil?

Story by Instragram & Tiktok @penulis_rain

Cover Ilustrasi by ig @iyaa_laa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

“Anjir, udah jam berapa ini?”

Willy ternganga melihat layar ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi lewat seperempat. Tandanya ia hanya punya waktu kurang dari 15 menit untuk bersiap. Kelas pagi dimulai pukul delapan, tapi ia diwajibkan datang setengah jam sebelumnya.

Jika pagi di kampus FEB UI dihadirkan dengan dua jenis manusia, Willy adalah orang yang berada di tengah-tengah. Tidak tepat waktu, tapi enggan disebut telat juga. Belum lagi sebelum mandi, bau minyak kayu putih sisa begadang semalam masih menempel di badannya.

Cosplay macam apa ini?

Sesampainya di kampus, ia duduk di barisan tengah ruang mata kuliah Pengantar Bisnis. Ia terlihat normal seperti lelaki pada umumnya. Tidak ada sisa-sisa penyamaran semalam. Lipstik nude pemberian Rina yang mate itu sempat membuatnya frustrasi. Rina lupa memberikan micellar water dan berujung memakai sabun cuci piring.

Oke, agak berlebihan memang, tapi itu kenyataannya.

“Will, lo tau nggak si Mer duduk paling depan lagi. Kayak beda aja gitu di mata gue. Lebih enjoy,” ucap Gio yang duduk di samping Willy.

Willy tidak langsung menoleh. Tangannya sibuk mencatat struktur analisis tata cara pengelolaan bisnis dengan tulisan rapi. Sayangnya itu mungkin tidak berguna di masa depan karena ia kemungkinan besar akan meneruskan bisnis stasiun TV keluarga.

“Bagus.”

“Bagus doang? Lo nggak mau cek sendiri?” balas Gio heran.

Willy akhirnya melirik sekilas ke arah depan dengan mata setengah memicing. Summer duduk dengan posisi condong sedikit ke meja, fokus memperhatikan dosen. Sesekali tersenyum ringkas saat temannya membisikkan jokes asbun ala gen Z. Nah, ini dia yang Willy harapkan. Berarti usahanya semalam itu berhasil mencairkan keadaan.

“Gue lagi fokus kuliah,” jawab Willy datar.

“Sok banget lo. Malem jadi cewek, siang jadi kelelawar Cibaduyut.”

“Jangan keras-keras napa, Nyet. Muncung lo mau gue iket pake rantai besi?” pungkas Willy mencubit paha Gio.

“Njir galak amat. Lo cocok jadi HRD.”

“HRD pala lo peyang!”

Suara mereka yang sedikit ribut itu diselamatkan oleh situasi yang terbilang ramai. Maklum, dosennya agak tua sedikit, jadi ada kesempatan berbincang tipis-tipis sebelum kepusingan itu menyerang.

Sepanjang kuliah, Willy hampir tidak berbicara. Terlalu dingin seperti orang stres ditagih Bank Emok lagi. Ia hanya bertugas mencari referensi, membuat slide, dan mengirim file jadi. Sisanya, diam melamun memandang kecantikan Summer yang entah mengapa sukses membuat hatinya mendingin syahdu.

Lalu di luar kendali, beberapa cewek ternyata diam-diam menggibahi.

“Itu Willy, ya? Anak pemilik TV bukan sih?”

“Iya. Emang pinter banget, tapi dingin cuek gitu. Kayaknya dia nggak pernah punya pacar.”

“Siapa juga yang mau pacaran sama kulkas es krim Indoapril? Mending jomblo.”

“Iya lagi. Dia juga kayak nggak butuh temen.”

Willy mendengar semuanya, tapi seperti yang diharapkan, ia memilih diam dan jaga jarak. Era Corona sudah berlalu 5 tahun lepas, tapi Willy setia menerapkan social distancing.

***

Willy berdiri di depan cermin kamar 206, memegang wig cokelat tua yang kini sudah lebih rapi disisir. Make-up tipis sudah diaplikasikan. Rok jeans dan sweater oversized menggantikan hoodie hitamnya.

Oke, sempurna. Meski aneh di menit pertama, tapi selanjutnya ia menikmati peran ini.

“Ready, okay. Mode Willa on.” Ia bergumam sendiri, lalu suaranya dilatih pelan.

“Hai, Mer, apa kabar?”

“Najis, ketinggian.”

“Halo, Mer, kabar lo gimana?”

“Anjir, sok imut.”

“Halo, Mer, gimana kegiatan lo seharian ini?”

“Nah, cakep. Natural, apa adanya, dan lemah lembut.”

Willa tersenyum puas, bersiap melaksanakan misi lanjutannya. Namun, ia malah terjerembab mendengar ketukan pintu secara mendadak dari luar. Tanpa ragu, Willa membuka pintu sambil tersenyum paksa.

“Sorry, La, kalau ganggu. Lo lagi sibuk nggak?”

“Nggak, kok. Tadi abis beres-beres sekalian mau coba look make-up baru. Emangnya kenapa?” balas Willa senang.

“Gue lagi pusing materi Statistika. Gue pikir nggak seribet itu, ternyata bikin stres tujuh turunan. Lo liat aja rambut gue kayak abis dijambak. Belajar bareng, yuk. Gimana? Eh kamu bukan anak FEB yah? Kamu ada mata kuliahnya juga kan La?”

Wow, sebuah pencapaian terbaru, Willy. Summer sendiri yang mengajak lebih dulu.

“Eh, iya kebetulan aku juga ada materi itu kok. Boleh banget!” jawab Willa antusias.

“Thanks, ya. Gue masuk nih.”

“Aman, anggap aja rumah sendiri meski kita numpang hehe.”

“Numpang, tapi bayar!”

“HAHAHA!”

Mereka duduk santai di lantai kamar Willa. Buku-buku berserakan, terbuka lebar di semua sisinya. Pun Summer yang ternyata punya banyak buku binder berwarna-warni. Katanya sengaja agar semangat belajarnya selalu berapi-api.

“Eh, dosen Statistika kita tuh serem nggak, sih menurut lo?” tanya Summer tiba-tiba, masih melirik garis-garis di bukunya.

“Yang brewok itu?”

“Ho’oh.”

“Menurut gue serem sih enggak juga. Cuma lebih ke tegas aja. Biar nggak disepelekan sama mahasiswanya,” balas Willa pura-pura berpikir.

“Iya juga sih. Gue cuma ngerasa deg-degan parah aja tiap jalan deket dia. Horor banget.”

“Kenapa?”

“Gue juga nggak tau. Kalau ada cowok deketin gue, pasti badan gue tegang gitu terus sesek napas. Padahal nggak semua cowok itu jahat, tapi seolah badan gue ngasih tau bahwa semua cowok itu jahat,” jelas Summer setelah mengedikkan bahu.

“Pelan-pelan aja, Mer. Nggak usah dipaksa. Yang penting lo nyaman dulu.”

“Makanya gue seneng ada lo di sini.”

“Ah, jadi melting gue dengernya.” Willa mendayu seperti banci keserempet becak Mang Asep.

“IH, GELI BANGET GUE LIHATNYA. HAHA!”

Tak terasa, mereka belajar sampai larut malam. Summer yang sesekali bercerita tentang kesehariannya dan seperti biasa Willa mendengarkan. Ia resmi menjadi sahabat, bukan sekadar teman kost biasa.

***

Keesokan harinya di kampus, cuaca terlihat kurang bersahabat. Sedikit mendung dan rintik-rintik hujan tak menyurutkan semangat anak-anak, terlebih Sumer. Ia berjalan di koridor bersama dua temannya. Dari arah berlawanan, terlihat Willy dan Gio jalan beriringan.

Wajahnya setengah tertunduk, datar tanpa ekspresi. Ia memperbaiki tas selempang hitamnya yang sedikit merosot ke bawah bahu, lalu berjalan seperti biasa lagi.

Namun, jarak mereka terlalu dekat dan Summer menyadari itu. Tubuhnya langsung bereaksi. Bahunya terangkat setengah, langkah melambat dengan pandangan yang turun seketika.

Willy berhasil menangkap sinyal itu, paham apa yang harus ia lakukan. Ia menghentikan langkah, turut menarik lengan baju Gio juga agar tak mendahuluinya, membiarkan Summer berjalan lebih dulu.

Tiada interaksi setelahnya, seolah mereka adalah orang asing yang tak pernah dipertemukan semesta. Willy hanya mengangguk singkat, dibalas anggukan datar juga oleh Summer.

Begitu Summer menjauh bersama kedua temannya, Gio buru-buru menepuk bahu Willy, ingin menanyakan sesuatu.

“Lo nggak capek hidup kayak gini?” tanya Gio lalu menggigit bibir, seolah takut pertanyaan itu menyinggung perasaan Willy.

“Capek apa?” jawab Willy tetiba mengerutkan kening.

“Hidup dengan dua kepribadian gitu.” Gio membuang pandang, menatap lurus ke depan lalu mendengkus pelan.

“Kalau itu bisa bikin Summer nyaman dan nggak parno lagi, why not?” Willy mengedikkan bahu, mencoba biasa saja meski pertanyaan barusan sempat menyenggol egonya.

“Tapi lo sendiri? Lo nyaman nggak?”

Willy terdiam, ia merunduk menatap kakinya sendiri. Meski hanya permainan sandiwara, tetapi dirinya juga merasa sangat berbeda. Seolah mempunyai dua jiwa di satu raga yang sama.

“Gue … nyaman.” Ia menjawab ragu, lalu Gio menghentikan langkahnya.

“Lo nyaman bukan tanpa alasan, ‘kan?”

“Gue ‘kan mau bantu dia biar bisa deket sama cowok lagi,” pungkas Willy menjawab cepat.

“Gak mungkin, sih cuma itu doang. Nggak mungkin ada orang rela ngelakuin hal segila ini kalau bukan tanpa tujuan jelas.”

Willy mendongak, menatap nanar ke arah Gio yang ekspresinya berubah sangat serius.

“Maksud lo?”

“Lo masih cinta ‘kan sama dia?” Seketika Willy menghentikan langkahnya tepat di hadapan Gio. Lumayan lama Gio menunggu jawaban, semakin menguatkan asumsinya.

Dan di saat bersamaan, tiba-tiba Summer berhenti juga lalu menoleh pelan ke arah mereka dengan tatapan datar.

“Matilah gue!”

1
SANG
Lucu, lucu habis💪👍
hyungnimsoo
udahh Mer jgn jutek2 lg🤭
Fitri Pujianti
Ini mba Summer ga ada kpikiran balas dendam sma bapak kah tor
Yerim Naira
Duh mana bapaknya! udah bkin anak gadisnya trauma😒
Nurani Putri
😒 Untung ngga tinggal lg sma bapaknya
Sandriyanah
😒😒 bokapnya ngeselin bgt
SuryaNingsih
Hmm sedih bgt pasti jd summer, wajar aja dy jd tkt sma laki
Rosalina Ayyaee
Kayanya sumber ketakutan Summer dy anak broken home ya
Rain: Iyapp
total 1 replies
Wulandarry
alasan dia trauma krn bokapnya toh yg kdrt😒
ainnuriyati
Ya ampun galak bgt bapaknya Summer😒 ngeselin pantes aj mbak summernya trauma ama laki
Hardy Greez
Dia itu ada trauma krn ortunya
Hardy Greez
bisa ktawa lepas cuma dgn si willy eh willa
hyungnimsoo
iya Summer trbukq nya sma Willa ya🤣
Fitri Pujianti
hmm berkaitan sma,apa ya😒 kluarga?
Yerim Naira
Haduhh smg cpt ilang traumanya summer ya
Nurani Putri
Kasian ya hidupnya mba summer ini prnuh cobaan bgt udh ma tmen nya jadi2an
SuryaNingsih
Ini pasti si Summer tu ada trauma gitu brkaitan dgn masalalu
Rosalina Ayyaee
setakut kah itu, ksian jdnya liat summer ini
Wulandarry
Ini Summer tu cuma pendiem tp krn muka nya jutek jd pada salah arti ya?🤣
ainnuriyati
knapa ya😒 apa dy prnah di pukul wktu petir?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!