Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.
Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDCYTD
"Den," Suara Eyang Uti tercekat. Ada tangis yang ditahannya begitu melihat punggung belakang lelaki yang tengah duduk di sofa ruang tengah keluarga mereka. Panggilan itu membuat lelaki itu menoleh lalu tersenyum. Itu Denis, anak keduanya. Ayahnya Hana. Anak yang telah pergi selamanya dari pelukannya. Eyang Uti tanpa sadar setengah berlari menghampiri anak yang begitu dirindukannya. Ia memeluk Denis erat.
"Maafin Mama, Den. Maafin Mama," ucap Eyang Uti terisak dalam pelukan itu.
Denis mengusap lembut punggung ibunya. Erat ia memeluk tubuh tua Eyang Uti. Mereka saling bertatapan. Denis yang tersenyum ramah nan lembut seperti biasanya.
"Kenapa kamu nggak marah sama Mama, Den? Kenapa kamu selalu baik sama Mama? Sama Mas-mu?"
Denis tak menjawab. Namun senyumnya masih di wajah. Semakin membuat Eyang Uti merasa bersalah atas keputusan menutupi kebenaran kematian Denis. Kening Eyang Uti dikecup Denis lembut.
"Mah, titip Hana dan Sara ya," ucap Denis pelan masih tersenyum lalu hilang dari pandangan.
Eyang Uti lantas terbangun dari mimpinya. Ia terisak seraya mengusap wajah. Sudah lama Denis tidak datang dalam mimpinya. Dan setiap kali putra keduanya datang, Denis pasti mengucap kalimat yang sama. Ia menitipkan Hana dan Sara. Anak serta istrinya. Hati Eyang Uti makin nelangsa. Apa Denis mengucapkan permintaan yang sama karena ia dan Hana yang tidak pernah akur?
"Jo," panggil Eyang Uti dengan suara agak keras.
Terdengar derap langkah terburu-buru menaiki tangga. Tak lama seorang perempuan setengah baya muncul dari balik pintu yang dibuka.
"Iya, Bu," jawab Mbok Minjo.
"Aku mau nyekar ke makam Denis. Suruh si Reno siapkan mobil," ujar Eyang Uti.
"Sekarang, Bu?" tanya Mbok Minjo meyakinkan diri takut salah instruksi karena ini masih jam 6 pagi.
"Iya. Sekarang!"
*
"Pagi, Pak," sapa Dimas pada Rahardian Reishard.
"Pak Reiga mana?" tanya Rahardian yang melihat Dimas datang sendirian pada rapat bersama jajaran manajer produksi Pure Water.
Dimas tersenyum.
"Pak Reiga ada urusan urgent yang tidak bisa diwakilkan, Pak," jawab Dimas.
Jawaban yang tentu mengundang keingintahuan lebih dari Rahardian.
"Urusan urgent apa? Perusahaan?" desak Rahardian.
"Bukan, Pak. Hal yang lebih mendesak," jawab Dimas dengan sebuah senyum.
Kening Rahardian mengerut dalam. Memasang wajah bertanya.
"Hal mendesak apa, Dim?"
"Hal itu, Pak."
"Hal apa?"
"Ya, hal itu Pak."
"Bicara itu yang jelas, Dimas Pranendra!" Lama-lama Rahardian naik pitam. Dimas ciut sendiri melihat wajah Rahardian memerah.
"Ma... Maaf, Pak."
"Jelaskan sama saya sekarang juga!"
"Saya belum bisa menjelaskan karena saya belum paham juga jelasnya bagaimana. Tapi yang jelas, hal yang saya maksudkan ini adalah hal yang sangat Bapak inginkan terjadi dalam hidupnya Pak Reiga, Pak," ucap Dimas panjang runtut dan cepat.
Rahardian tertegun mencoba mencerna kalimat njelimet dari Dimas. Pikiran Dimas disadapnya.
Karena ia sungguh buta dan kadung marah.
"Gimana jelasinnya ya ke Pak Rahardian kalau mungkin sekarang Pak Reiga sedang nge-date sama Adrianne Hana di Singapore?? Wah gila sih! Pak Reiga keren banget! Sekalinya bergerak, langsung dapat kelas kakap kayak Hana. Sepadan banget sih sama Pak Reiga, "ucap Dimas masih heboh seperti pertama kali ia membaca pesan Reiga yang menyuruhnya mewakili semua meeting hari ini karena Reiga mendadak pergi ke Singapore menemani Hana.
Rahardian tersenyum lebar mendengar isi pikiran Dimas.
"Kenapa nggak bilang dari tadi kalau Pak Reiga pergi ke Singapore?" ujar Rahardian seraya menepuk bahu kiri Dimas. Yang ditepuk bahunya bingung sejadinya.
"Perasaan gue nggak nyebut Singapore," gumamnya dalam hati.
Rahardian terkekeh.
"Udah ayo masuk! Rapat harus dimulai," ujar Rahardian lalu masuk ruangan dengan wajah sumringah.
*
"Rei, kamu suka makanan italia nggak?" tanya Hana begitu mereka sampai di depan sebuah restoran khas Italia bernama Dolcetto.
"Lumayan. Kena..."
Belum mendengar jawaban sempurna dari Reiga. Hana sudah menarik pergelangan tangan kanan pria itu lalu menyeretnya masuk ke dalam restoran tersebut. Salah satu restoran favorit-nya Hana. Reiga tersenyum melihat jemari lentik Hana yang melingkari pergelangan tangannya. Si judes dan galak kini bahkan telah berani menyentuh pergelangan tangannya ke sana kemari. Bagai dua teman yang sudah sebegitu dekat. "Two chocolate bomboloni with one iced coffee less sugar less ice," ucap Hana menjawab pertanyaan kasir.
"Bomboloni?" ujar Reiga.
Hana hanya menoleh sambil senyum. "Bomboloni di sini tuh favorit aku banget," ucap Hana memberitahu informasi yang tidak ditanyai Reiga.
"Please wait for a few minutes," ramah si kasir lalu menyiapkan pesanan Hana.
"Pesan Bomboloninya dua. Minumnya cuma satu. Ada rencana mau satu sedotan sama aku atau gimana nih?" tanya Reiga yang entah bagaimana jadi senang menggoda Hana.
"Dih!" cemooh Hana yang juga entah bagaimana mudah akrab dengan Reiga.
"Aku beli dua tuh sengaja. Jaga-jaga takut kamu mau. And why do i just buy one coffee? Itu karena tadi kamu udah minum kopi di pesawat. Kebanyakan kafein itu nggak baik. Nanti beli air mineral aja di taman Botani," ujar Hana menjelaskan analoginya.
Reiga tersenyum.
"Perhatian amat," ledek Reiga lagi.
"Sekali lagi ledekin aku, aku tampar ya," sebal Hana meski ia menutupnya dengan sebuah senyum.
"Galak banget. Kamu sama Arnold kayak gini juga?" tukas Reiga meski sesungguhnya ia bisa melihatnya sendiri dari 'berkas' kenangan yang dimiliki Hana.
"Ya enggaklah!" tukas Hana.
"Oh pantes."
"Pantes apa?"
Hormon kortisol Hana sudah naik kembali.
"Pantes aja selama ini dia suka sama orang yang salah."
"Maksudnya?"
"You should show him this part of you, Han. This bright, playful, cheerful, and easygoing of you. There's no man will refuse this form of Adrianne Hana," jawab Reiga.
"Termasuk kamu dong?" ucap Hana sambil cengar-cengir.
"Iya. Termasuk aku," jawab Reiga lugas tanpa berpikir lama.
Hana terpekur diam. Kasir mengaburkan keheningan di antara mereka. Ia menyerahkan pesanan Hana.
"How much?" tanya Hana seraya bersiap mengeluarkan kartu dari dalam clutch hitam ber-merk Chanel yang dipakainya. Reiga mencegahnya. "Aku aja yang bayar," ucap Reiga sudah mengulurkan kartu American Express miliknya pada kasir.
"Thank you," ucap Hana tak enak.
"Sekali-kali traktir orang yang lagi patah hati apa salahnya. Hitung-hitung sedekah. Nyenengin hati orang," ledek Reiga membuat kedua mata Hana membelalak namun dengan senyum menghiasi wajah cantiknya.
"Heh!?" ucap Hana berlaga kesal.
Reiga tersenyum atas reaksi Hana.
"Sekali-kali traktir cewek cantik apa salahnya kan? Biasanya Dimas mulu kan yang ditraktir," ledek Hana balik.
"Hmm, udah bisa ngeledekin aku balik nih. Are we friends now?"
"Aren't we?"
Reiga mendekatkan wajahnya.
"I don't wanna be your friend, Adrianne Hana," tukas Reiga.
Kedua mata Hana kembali membulat. Hobi meledeknya Reiga ini.
"Terus kamu maunya jadi apa?" timpal Hana.
Reiga mendekatkan wajahnya kearah Hana.
"Menurut kamu apa?" jawabnya sok misterius.
Kasir mengembalikan kartu Reiga dan detik setelahnya Hana sudah menarik pergelangan tangan Reiga lagi. Kali ini yang sebelah kiri. Mereka keluar menuju Taman Botani yang hanya berjarak 0,9 km dari Dolcetto.
"Ini serius mau jalan kaki?" tanya Reiga.
Cuaca memang masih bagus karena baru jam 8 pagi. Manusia yang berkeliaran di Orchard pun belum sebanyak biasanya. Hana mengangguk.
"Justru ini yang aku cari kalau lagi kabur," jawab Hana sambil menatap Reiga yang memandanginya.
Siluet sedih milik Hana yang berbalut kekuatan yang membingungkan Reiga.
"Di Jakarta nggak bisa kayak gini ya?"
"Ya enggaklah. Terlalu banyak orang yang kenal sama muka aku," jawab Hana tak menyesali sedikitpun keputusannya menjadi artis.
"Berat juga ya jadi artis," gumam Reiga.
"Memang nggak semudah dan semenyenangkan yang orang pikir sih. But it is still blessing and i enjoy it," jawab Hana.
Reiga tidak bisa menahan tangan kirinya yang sudah mengelus kepala Hana lembut. Hana terkesiap, setengah terperangah mendongak menatap Reiga.
"Gadis hebat. I'm so proud of you," puji Reiga tulus.
"Apa sih!? Why does he tastes like someone i've met before, an old friend," ucap Hana.
Reiga tersenyum mendengar isi pikiran Hana. Udah tahu dia bisa baca pikiran. Masih aja bicara sendiri dalam kepala. Hana memang beda. Reiga mengulurkan tangan kirinya kearah Hana.
"Apa?" tanya Hana bingung.
"Hold hand together," jawab Reiga.
Wajah Hana bertanya.
"Untuk?"
Modus sekali Reiga. Baru pertama kali kenal sudah ajak pegangan tangan. Dia pikir Hana cewek model apa!?
"Merasakan pengalaman kedua mumpung nggak lagi di Jakarta. I read it in your head," jawab Reiga membaca salah satu wishlist Hana yang berharap bisa jalan di trotoar dengan pacar sambil berpegangan tangan.
Ah, Hana baru ingat Reiga bisa baca pikiran.
Patah hati benar-benar membuatnya jadi bodoh. Dan saking mudah akrabnya dengan Reiga, Hana jadi lupa kalau pria ini bukan manusia biasa.
"Peraturan krusial ya, Reishard! Jangan baca pikiran aku!" seru Hana memberikan peringatan dengan raut wajah serius.
"Can't help with that," tanggap Reiga sambil senyum.
"Reiiiiii," gemas Hana.
Reiga terkekeh lalu tertawa dan detik berikutnya tangan kanan Hana sudah dalam genggamannya. "Aku belum bilang boleh loh!" ujar Hana.
"You said yes in your head," santai Reiga mengucapnya.
"Dih, enggak! Kapan!?" sebal Hana berkilah meski faktanya beberapa detik yang lalu dia memang menimbang ingin mengiyakan ajakan Reiga untuk bergandengan tangan. Ha ha ha... Sejak kapan Adrianne Hana jadi tidak tahu malu begini. Murah dan mudah diraih. Mau saja diajak bergenggaman tangan dengan pria yang baru dikenalnya. Kurang dari 24 jam pula. Kalau dipikir ini pertama kalinya ada seorang pria yang seberani ini dengan Hana. Dari SMP bahkan hingga detik ini, para pria memang memujanya namun tidak ada satupun yang benar-benar berani mendekatinya. Semuanya takut dan ragu. Lantaran menurut mereka, Hana terlalu superior dan sulit diraih. Cantik, latar pendidikan yang bagus, keluarga terpandang, circle yang high class, populer, dan cerdas. Hanya manusia satu ini, yang dipandangi Hana sambil sesekali menyeruput es kopi yang dipesannya di Dolcetto yang dengan sintingnya berani mengajaknya berpegangan tangan.
"Haus. Bagi sedikit ya," ucap Reiga dengan santainya main sedot dari sedotan Hana.
Hana yang kebanyakan bengong tidak sempat melarang apalagi menghentikan gerakan Reiga yang tahu-tahu sudah selesai menyedot es kopinya.
"Now we already kissed," goda Reiga.
"Nggak jelas!" tukas Hana sewot dengan muka memerah lantas berjalan duluan seraya menarik tangannya dari genggaman Reiga. Namun sekali lagi Reiga menahan Hana.
"Mau kemana sih buru-buru banget?" ucap Reiga.
"Asli sih, Han. Apa sih yang ada di pikiran lo sampai bisa-bisanya mengiyakan ajakan manusia ini untuk pergi ke Singapore bareng kayak gini?"
Bibir Reiga tersenyum mendengar isi pikiran Hana.