NovelToon NovelToon
Sistem Kenaikan Surgawi; Jalan Kultivasi Melintasi Multiverse

Sistem Kenaikan Surgawi; Jalan Kultivasi Melintasi Multiverse

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi Timur / Kultivasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nameless Monarch

ig: @namemonarch

Di sebuah multiverse di mana para penguasa mengandalkan insting dan amarah, Ye Chen mendominasi dengan kalkulasi dingin. Ia adalah sosok yang memanipulasi keadaan dari balik layar, memandang konflik dunia layaknya bidak catur di papan raksasa.

​"Kultivasi hanyalah proses penyempurnaan sirkulasi energi. Dan takdir? Itu hanyalah sekumpulan data yang belum dikendalikan oleh tangan yang tepat."

​Inilah awal dari perjalanan lintas jagat raya. Sebuah jalan di mana hukum langit akan tunduk di bawah kendali seorang analis sistem yang memulai langkahnya dari titik terendah untuk mencapai puncak tertinggi multiverse.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameless Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 — Tabib Hua

Keheningan di ruang bawah tanah kediaman Su Wenzhou terasa begitu mencekam setelah kepergian sang pemilik rumah yang tergesa-gesa. Cahaya dari beberapa obor yang terpasang di dinding batu bergoyang pelan, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di atas deretan botol porselen dan tungku alkimia yang dingin. Ye Chen tetap duduk tegak di kursi kayunya, menolak untuk menyandarkan punggungnya meskipun rasa lelah yang luar biasa mulai menggerogoti kesadarannya.

Ia mulai mengatur napasnya melalui Teknik Pernapasan Arus Bumi. Meskipun setiap tarikan napas terasa seperti aliran lava yang dipaksa masuk ke dalam paru-paru dan mengirimkan gelombang rasa sakit yang tajam dari meridiannya yang hangus, ia terus melakukannya dengan disiplin yang mengerikan. Ia tahu bahwa membiarkan sirkulasi Qi-nya membeku total di tengah cedera seperti ini akan menyebabkan kelumpuhan permanen. Ia harus menjaga "jalur" itu tetap terbuka, sekecil apa pun.

Sekitar satu jam kemudian, gema suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari tangga kayu di atas, diikuti oleh suara gesekan kain yang halus dan langkah kaki lain yang jauh lebih ringan, lebih teratur—hampir tidak menghasilkan suara sama sekali di atas lantai batu.

Pintu berat ruang bawah tanah itu terbuka perlahan. Su Wenzhou masuk dengan wajah yang bersimbah keringat dan napas yang memburu, menunjukkan bahwa ia baru saja berlari melintasi Distrik Barat. Di belakangnya, berdiri sesosok pria jangkung yang mengenakan jubah abu-abu polos tanpa lambang faksi mana pun. Pria itu membawa sebuah kotak kayu panjang berukir kuno yang diikatkan dengan tali kulit di punggungnya. Wajahnya tampak biasa saja, namun ada sesuatu yang ganjil; setiap kali seseorang mencoba memusatkan pandangan pada fitur wajahnya, ingatan tentang wajah itu seolah mengabur, seolah-olah ada kabut tipis atau manipulasi energi yang menutupi identitas aslinya.

Inilah Tabib Hua, atau yang dikenal di dunia bawah tanah dengan nama Hua Jue.

Sepasang mata Tabib Hua yang tajam dan dingin langsung terkunci pada sosok Ye Chen. Ia sama sekali tidak memedulikan Su Wenzhou yang gemetar di sampingnya atau peralatan alkimia mahal yang berserakan di ruangan itu. Ia berjalan mendekat dengan langkah yang tenang, membawa serta aroma obat-obatan pahit yang menyengat, bercampur dengan bau karat besi yang samar—aroma khas seseorang yang lebih sering berurusan dengan darah daripada ramuan wangi.

"Dua potong intisari batu spiritual kualitas menengah untuk satu malam kerja di luar praktik resmiku," suara Tabib Hua terdengar datar dan monoton, menyerupai bunyi gesekan dua bilah logam. "Kuharap luka yang kau bawa ke hadapanku malam ini sepadan dengan harganya, anak muda. Aku tidak suka membuang waktu untuk luka yang bisa disembuhkan oleh tukang obat jalanan."

"Periksa saja sendiri. Kau akan tahu apakah ini layak untuk waktumu atau tidak," jawab Ye Chen singkat, suaranya tetap stabil meskipun bibirnya pucat pasi.

Tabib Hua tidak membuang waktu. Ia meletakkan kotak kayunya di atas meja kerja Su Wenzhou, membukanya dengan satu gerakan halus, dan memperlihatkan isinya yang mengerikan sekaligus mengagumkan: sederet pisau bedah tipis berbahan perak murni, jarum-jarum panjang yang berkilau dalam kegelapan, dan berbagai botol berisi cairan berwarna aneh.

Ia memegang pergelangan tangan kanan Ye Chen yang masih utuh untuk memeriksa denyut nadi, lalu beralih ke tangan kiri yang terkulai hancur. Saat jemari dingin sang tabib menyentuh kulit Ye Chen yang membengkak kebiruan, mata Hua Jue tiba-tiba berkilat dengan binar ketertarikan yang tidak bisa disembunyikan.

"Menarik... benar-benar menarik," gumam Hua Jue, suaranya kini sedikit lebih hidup. "Secara fisik, tulang lenganmu remuk akibat tekanan eksternal yang sangat berat dan tiba-tiba, itu adalah cedera yang biasa aku temui pada buruh tambang yang sial. Namun meridianmu... ini adalah kasus yang berbeda. Mereka tidak hanya robek; mereka hangus dari dalam. Dinding nadimu melepuh seolah-olah kau baru saja mencoba menampung amukan sungai besar ke dalam pipa bambu kecil yang rapuh."

Hua Jue mendongak, menatap Ye Chen dalam-dalam, mencoba mencari tanda-tanda kegilaan atau kepanikan di mata pemuda itu. "Bahwa kau masih bisa duduk tegak, berbicara dengan sadar, dan tidak pingsan karena syok rasa sakit dengan kerusakan seperti ini... itu adalah variabel yang tidak masuk akal secara medis. Manusia biasa seharusnya sudah mati karena serangan jantung akibat rasa sakit ini satu jam yang lalu."

"Bisakah kau memperbaikinya atau tidak?" Ye Chen mengabaikan observasi klinis tersebut. Ia tidak butuh dikasihani atau dikagumi; ia butuh fungsi tubuhnya kembali.

"Aku bisa menyambung apa yang terputus, tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yang sudah menjadi abu di tingkat sel," jawab Hua Jue sambil mulai memanaskan salah satu pisau peraknya di atas api alkimia milik Su Wenzhou yang masih menyala. Cahaya api memantul di mata sang tabib yang kini terlihat seperti pemangsa yang sedang bersiap membedah mangsa.

"Proses ini akan sangat brutal. Aku harus membedah jaringan ototmu, membersihkan serpihan tulang mati secara manual agar tidak terjadi pembusukan di dalam, dan menjahit meridianmu satu per satu menggunakan benang yang telah direndam dalam esensi teratai salju. Aku tidak akan menggunakan obat bius atau daun pemati rasa. Kesadaranmu harus tetap terjaga sepenuhnya agar aku bisa merasakan respons aliran Qi-mu saat aku menyambungnya. Jika kau pingsan, aku tidak bisa menjamin aliran energinya tidak akan tersumbat."

Ye Chen hanya mengangguk pelan, tanpa keraguan sedikit pun. "Lakukan."

Hua Jue memulai operasinya. Dengan gerakan yang sangat presisi, hampir seperti seniman yang sedang menggores kanvas, ia menyayat kulit lengan kiri Ye Chen. Darah kental berwarna gelap merembes keluar, menetes ke lantai batu. Su Wenzhou yang berdiri di sudut ruangan langsung memalingkan wajah, menutup mulutnya dengan tangan karena merasa mual melihat prosedur yang begitu mentah dan berdarah.

Namun, perhatian penuh Tabib Hua Jue tertuju pada luka tersebut. Ia menggunakan penjepit perak kecil untuk mengambil serpihan-serpihan tulang yang sudah hancur menjadi potongan-potongan kecil. Setiap tarikan, setiap gesekan logam di dalam daging dan saraf yang terbuka itu adalah siksaan yang luar biasa, seolah-olah lengan Ye Chen sedang dikuliti dan dihancurkan berulang kali secara bersamaan.

[Peringatan Sistem: Ambang batas rasa sakit Tuan Rumah telah melampaui 95%. Tekanan darah meningkat drastis. Detak jantung tidak stabil di angka 160 bpm. Disarankan untuk memasuki Mode Hibernasi Kesadaran sementara demi mencegah kerusakan otak.]

"Tolak," batin Ye Chen dengan perintah yang mutlak. "Tetap aktifkan monitor diagnostik. Tampilkan proyeksi anatomi meridian yang sedang dikerjakan oleh tabib ini secara transparan di retina mataku. Aku ingin melihat setiap sambungan yang ia buat."

Di pandangan Ye Chen, muncul peta hologram transparan dari struktur lengannya sendiri. Ia bisa melihat ujung jari Hua Jue yang bergerak lincah dan luar biasa stabil, menyusun kembali fragmen tulang yang remuk seperti sedang menyusun teka-teki rumit yang pecah. Tabib itu kemudian mengeluarkan jarum panjang yang telah terikat benang perak tipis yang bersinar hijau redup—benang spiritual yang sangat mahal.

Saat jarum itu mulai menembus lapisan meridian yang hangus untuk menyatukannya kembali, Ye Chen merasakan sensasi seperti ribuan sengatan lebah beracun dan petir yang menghantam sarafnya secara berulang-ulang. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membanjiri wajahnya hingga rambutnya basah kuyup. Ia mencengkeram pinggiran kursi kayu dengan tangan kanannya begitu kuat hingga kayu oak itu berderak dan retak di bawah tekanan jarinya.

Meskipun pembuluh darah di pelipisnya menonjol seolah ingin pecah, tidak ada satu pun teriakan atau rintihan yang lolos dari mulutnya. Ia menelan seluruh rasa sakit itu, mengubahnya menjadi fokus yang tajam.

Tabib Hua Jue berhenti sejenak, mengangkat wajahnya dan menatap Ye Chen dengan keheranan yang nyata. "Kau... kau benar-benar tidak berteriak? Aku sudah menjahit banyak prajurit dan kultivator liar, bahkan mereka yang berada di Alam Lautan Asal pun akan melolong seperti serigala terluka saat jarum ini menyentuh inti meridian mereka."

"Teriakan... tidak akan mempercepat proses penyembuhanmu, Tabib. Itu hanya membuang energi yang kubutuhkan untuk tetap sadar," jawab Ye Chen dengan suara yang ditekan dalam-dalam dari tenggorokannya, napasnya tersengal namun matanya tetap jernih.

Hua Jue terkekeh pendek, sebuah suara parau yang jarang sekali ia keluarkan. "Logika yang dingin dan efisien di tengah neraka. Aku suka cara berpikirmu, anak muda."

Tiga jam berlalu dalam ketegangan yang mematikan di dalam ruangan bawah tanah itu. Ketika fajar hampir menyingsing di luar sana, lengan kiri Ye Chen kini telah terbungkus perban tebal yang telah direndam dalam ramuan hijau pekat yang mengeluarkan bau aromatik yang kuat. Tabib Hua Jue menyeka tangannya yang berlumuran darah dengan kain putih bersih, lalu mulai merapikan peralatan bedahnya.

"Tulangmu sudah tersambung dan posisinya sudah benar, meski butuh waktu setidaknya satu bulan untuk pulih secara fisik. Meridianmu sudah kujahit kembali, tapi ingatlah, mereka saat ini hanya sehalus benang laba-laba. Sangat rapuh," instruksi Hua Jue dengan nada serius. "Jangan mencoba mengalirkan Qi secara penuh atau melakukan pertarungan fisik dalam dua minggu ke depan jika kau tidak ingin lenganmu meledak secara permanen dan menjadi cacat selamanya."

Hua Jue mengambil dua potong kristal intisari batu spiritual dari meja yang sebelumnya diletakkan oleh Su Wenzhou. Ia menimbangnya sejenak di telapak tangannya, merasakan kemurnian energi di dalamnya, lalu menatap Ye Chen dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Namaku Hua Jue. Aku biasanya tidak peduli pada pasienku setelah mereka membayar. Namun kau... kau adalah variabel yang menarik untuk diamati. Jika kau selamat dari luka ini dan membutuhkan 'tangan cadangan' untuk rencana-rencana gilamu di masa depan, cari aku di penginapan 'Awan Merah' di Distrik Timur. Tapi ingat, hargaku tidak akan pernah murah."

Hua Jue mengenakan jubah abu-abunya, menyampirkan kotak medisnya, dan berjalan keluar tanpa menunggu jawaban, meninggalkan aroma obat dan darah yang kuat di ruangan itu.

Ye Chen bersandar di kursi untuk pertama kalinya, wajahnya tampak seperti mayat yang hidup, namun matanya berkilat penuh kehidupan dan ambisi. Ia bisa merasakan lengannya kembali memiliki "jalur" aliran energi, meski saat ini jalur itu masih terasa sakit dan sangat lemah.

"Su Wenzhou," panggil Ye Chen dengan suara rendah namun otoriter.

Pria tua itu tersentak dari lamunannya. "Y-ya, Tuan Ye?"

"Siapkan kamar paling tenang dan paling tersembunyi di rumah ini untukku. Aku akan menetap di sini selama proses pemulihan awal. Siapkan makanan kaya nutrisi dan jangan biarkan siapa pun menggangguku. Dan pastikan tidak ada seorang pun, termasuk Serikat Gagak Hitam atau intelijen Keluarga Lin, yang tahu aku berada di bawah atapmu."

Su Wenzhou hanya bisa mengangguk pasrah, menyadari bahwa mulai malam ini, posisinya telah bergeser sepenuhnya. Rumahnya bukan lagi miliknya; itu telah menjadi markas sementara bagi pemuda yang lebih berbahaya daripada monster rawa manapun.

Ye Chen memejamkan mata, memanggil antarmuka sistemnya di tengah kesunyian.

"Sistem, simulasikan rute sirkulasi kultivasi yang paling aman untuk mempercepat regenerasi sel meridian tanpa memberikan beban tekanan yang berlebih. Gunakan Teknik Pernapasan Arus Bumi sebagai fondasi utama penstabilan."

[Memulai simulasi regenerasi seluler... Menemukan frekuensi energi yang optimal untuk jaringan saraf. Estimasi waktu pemulihan fungsional: 12 hari. Memasuki fase meditasi dalam untuk sinkronisasi tubuh dan energi...]

Di dalam kegelapan ruang bawah tanah itu, Ye Chen mulai memulihkan dirinya sendiri. Tahap pertama dari rencana infiltrasinya telah usai dengan hasil yang memuaskan. Saat ia melangkah keluar dari rumah ini nanti, Kota Daun Gugur akan segera menyadari bahwa variabel yang pernah mereka buang ke jurang limbah telah kembali sebagai ancaman yang tidak pernah mereka bayangkan dalam kalkulasi terburuk mereka.

1
Adrian Ahmad
monoton kurang menarik
ada usul tidak jelas
Harman Loke
lanjuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutt teruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuusssssss author
Naevys
Wow, penulisan, dan pemilihan kata kata nya...
Nameless Monarch: Masih pemula bang, sama sekali gak ada wow nya:)
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
punya penulisan yang bagus, dan cerita yang mudah di ikuti. enak untuk di baca /CoolGuy/
Manusia Ikan 🫪: 😋hump
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
hmmmm masih tidak terbiasa dengan fantasi timur😅
Manusia Ikan 🫪
bagus nih, ruang simulasi mental
Manusia Ikan 🫪
sebagai mahasiswa arsitektur, aku pengen punya skill yang berhubungan dengan membangun ini😹
Manusia Ikan 🫪
hemmmm
Manusia Ikan 🫪
wah jarang jarang tuh ada sistem toko
Manusia Ikan 🫪
kenapa cerita fantasi timur, sangat mudah untuk mendapatkan kekuatan😅
Manusia Ikan 🫪: kwkawkoa masuk akal😹
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
bukan bumi kan!
Manusia Ikan 🫪
apakah ini urutan kekuatannya?
Manusia Ikan 🫪
😅mmmmm bro langsung tahu cara makenya?
Manusia Ikan 🫪: wkaowkaokwoa tapi lebih bagus kayak gini, dari pada gk tahu apa apa😹
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
yeeeeeey aku yang like pertama😹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!