NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Dunia Masa Depan
Popularitas:650
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Dunia hiburan tidak pernah benar-benar membiarkan pelakunya memiliki privasi, dan Ares baru saja diingatkan akan kenyataan pahit itu.

​Di sebuah studio mewah di kawasan Jakarta Selatan, lampu-lampu lighting yang panas mengepung Ares. Ia baru saja menyelesaikan adegan terakhir untuk iklan parfum high-end. Namun, begitu sutradara meneriakkan kata "Cut!", keceriaan di wajah Ares langsung ditarik paksa oleh manajernya, Bram.

​"Res, kita perlu bicara serius di trailer," ucap Bram dengan wajah tanpa ekspresi.

​Di dalam trailer yang dingin, Bram melemparkan sebuah tablet ke atas meja. Isinya adalah beberapa foto buram hasil jepretan kamera paparazzi amatir yang memperlihatkan Ares sedang berjalan bergandengan dengan Alana.

​"Ini udah mulai naik di akun-akun gosip, Res," buka Bram sambil melipat tangan. "Gue kasih tahu ya, kontrak film layar lebar lo yang baru, The Silent Love, itu punya aturan ketat. Lo harus tetap terlihat available. Target pasar lo itu remaja putri yang punya fantasi kalau lo itu pacar khayalan mereka."

​Ares menghela napas kasar, ia menyugar rambutnya yang masih penuh hairspray. "Bram, gue serius sama Alana. Gue bukan lagi di fase main-main yang harus disembunyiin kayak anak SMA."

​"Masalahnya bukan cuma di lo, Res!" suara Bram meninggi. "Lo lihat apa yang terjadi sama aktor lain bulan lalu yang go public? Ceweknya diteror. Alamat rumahnya disebar, dan galeri cewek lo itu bisa diserbu sama penggemar fanatik lo yang nggak terima. Lo mau Alana kena mental breakdown gara-gara hujatan netizen?"

​Ares terdiam. Kata-kata Bram menamparnya tepat di ulu hatinya. Ia membayangkan Alana yang tenang di galerinya, mendadak harus menghadapi ribuan komentar kebencian di media sosial atau bahkan ancaman fisik.

​"Jadi... gue harus apa?" tanya Ares lirih.

​"Hapus semua jejak. Jangan bawa dia ke tempat umum. Dan yang paling penting, di depan publik, lo jomblo," tegas Bram. "Lo harus milih, Res. Karir lo yang lagi di puncak ini, atau ego lo buat pamer pacar?"

----

​Malam itu, Ares pulang ke rumah dengan bahu lesu. Ia tidak menghubungi Alana sepanjang hari. Saat ia melewati lorong kamar, ia melihat Andrew baru saja keluar dari ruang kerjanya dengan wajah lelah.

​"Kak," panggil Ares.

​Andrew berhenti, matanya yang tajam langsung menyadari ada yang salah dengan adiknya. "Kenapa? Syutingnya berantakan?"

​Ares bersandar di dinding, menatap langit-langit. "Manajemen ngelarang gue publish Alana. Katanya bahaya buat karir gue dan bahaya buat Alana juga."

​Andrew tertegun. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya. Di satu sisi, ia merasa lega karena Alana tidak akan benar-benar menjadi "milik publik" bersama Ares. Namun di sisi lain, ia marah melihat adiknya tidak bisa melindungi wanita yang katanya ia cintai.

​"Terus, lo mau nyembunyiin dia?" tanya Andrew dingin.

​"Gue nggak punya pilihan, Kak. Gue baru aja tanda tangan kontrak film besar. Ini impian gue," suara Ares bergetar. "Tapi gue ngerasa jahat banget sama dia."

​Andrew mendekat, suaranya terdengar sangat rendah namun penuh penekanan. "Kalau lo nggak bisa kasih dia kebanggaan untuk berdiri di samping lo secara terang-terangan, lo cuma bakal bikin dia merasa kayak simpanan, Res. Alana bukan tipe wanita yang pantas disembunyikan di gudang hanya demi popularitas lo."

​"Terus gue harus gimana? Lepasin film itu?" tantang Ares frustrasi.

​Andrew tidak menjawab. Ia hanya menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu berjalan melewati Ares.

​Di dalam kamarnya, Andrew meraih ponselnya. Ia membuka akun media sosial Alana yang masih terkunci. Ia berpikir, jika Ares harus menyembunyikan Alana demi karirnya, maka Alana akan menjadi semakin kesepian di dunianya yang sunyi.

​Dan entah mengapa, keinginan Andrew untuk datang ke galeri itu lagi, untuk memastikan Alana baik-baik saja, menjadi semakin sulit untuk dibendung.

----

Keesokan harinya, Ares datang ke galeri pagi itu dengan wajah yang tampak seperti orang yang tidak tidur semalaman. Ia sudah menyiapkan ribuan kata maaf dan penjelasan panjang lebar di kepalanya. Ia takut Alana akan merasa tidak dihargai, atau lebih buruk lagi, Alana akan memilih untuk menyudahi hubungan mereka.

​Namun, di luar dugaan, reaksi Alana justru membuatnya terpaku.

​"Res, dengar aku," ucap Alana tenang setelah Ares menjelaskan posisi sulitnya di depan meja kerja galeri yang penuh palet warna. Alana meletakkan kuasnya dan menatap Ares dengan tulus. "Aku nggak butuh pengakuan di depan kamera atau jutaan pengikutmu. Aku mencintai kamu, bukan popularitasmu."

​Ares tertegun. "Tapi Lan, ini berarti kita nggak bisa jalan di mal, nggak bisa makan di tempat terbuka, bahkan aku mungkin harus pura-pura nggak kenal kamu kalau ada media. Kamu bakal merasa sendirian."

​Alana tersenyum kecil, lalu menggenggam tangan Ares. "Aku sudah terbiasa dengan kesunyian di galeri ini, Res. Kalau ini adalah harga yang harus dibayar untuk mimpimu, aku akan membayarnya bersamamu. Aku bakal jadi rahasia paling aman yang pernah kamu punya. Fokuslah pada film itu."

​Ares memeluk Alana erat, merasa menjadi pria paling beruntung di dunia. Ia tidak menyadari bahwa di balik kebesaran hati Alana, ada setitik rasa hampa yang mulai menyelinap, sebuah kesadaran bahwa ia akan selalu menjadi prioritas kedua setelah ambisi Ares.

----

​Berita tentang "kesepakatan rahasia" itu sampai ke telinga Andrew malam harinya lewat Ares yang bercerita dengan nada lega yang luar biasa.

​"Alana emang malaikat, Kak. Dia dukung gue seratus persen. Dia nggak keberatan hubungan kita backstreet," ujar Ares sambil menenggak air mineral di dapur.

​Andrew yang sedang membaca koran digital di iPad-nya terhenti. Bukannya ikut senang, Andrew justru merasa rahangnya mengeras.

​Malaikat? pikir Andrew pahit. Atau dia hanya terlalu baik sampai membiarkan dirinya sendiri terluka?

​Andrew tahu tipe wanita seperti Alana. Wanita yang akan memberikan segalanya demi orang yang dia sayangi, bahkan jika itu artinya dia harus menghapus eksistensinya sendiri dari hidup pria tersebut. Bagi Andrew yang tumbuh dengan didikan bahwa tanggung jawab dan kejujuran adalah segalanya, keputusan Ares terasa sangat egois.

​Keesokan harinya, Andrew sengaja pulang lebih awal. Entah apa yang merasukinya, ia tidak mengarahkan mobilnya ke rumah, melainkan ke jalanan kecil tempat galeri Alana berada.

​Ia memarkir mobilnya agak jauh, hanya untuk melihat dari dalam kaca mobil. Ia melihat Alana sedang sendirian di dalam galeri, duduk di kursi tinggi sambil menatap kanvas kosong. Tidak ada sosok Ares, tidak ada sorot lampu syuting. Hanya Alana dan kesunyian yang seharusnya tidak ia rasakan jika Ares benar-benar menjadikannya ratu.

​Andrew meraih ponselnya, jarinya ragu di atas layar. Ia ingin mengirim pesan, atau sekadar masuk dan menagih wanita itu kopi, kopi yang dulu pernah ia tolak.

'​Dia mendukung Ares, Andrew.' Jangan jadi pengacau, batinnya memperingatkan.

​Namun, saat ia melihat Alana menghela napas panjang dan menyandarkan kepalanya di meja, Andrew menyadari satu hal, Ares mungkin mendapatkan dukungannya, tapi Alana sedang kehilangan pegangannya.

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung......

1
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!