NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat / Putri asli/palsu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasanya Seperti Ditelanjangi di Alun-alun Kota

Kepala Manda berdengung hebat, suara cemoohan di sekitarnya terdengar makin menjauh, namun bisikan Salma justru terpatri makin jelas.

Darah Manda mendidih. Tubuhnya kaku, lalu ambruk begitu saja ke lantai. Detik-detik sebelum kesadarannya hilang, yang ia lihat hanyalah telunjuk yang menuding dan tatapan jijik orang-orang.

Bruk!

Salma sempat tertegun. Para siswa yang tadinya sibuk mencemooh seketika diam seribu bahasa. Wajah mereka memucat.

Tidak ada yang menyangka Manda akan benar-benar pingsan.

"Akting lagi tuh. Nggak capek apa?" celetuk Naya sinis.

Salma mengerutkan kening. Wajah Manda benar-benar pucat pasi. "Kayaknya dia beneran pingsan karena emosi deh."

Orang-orang mundur selangkah, takut dituduh mencelakai jika Manda tiba-tiba bangun. Salma hendak melangkah maju memeriksa, tapi Aksa menahannya. "Tunggu."

Cowok itu mengeluarkan ponsel dan mulai merekam video. "Oke, sekarang aman."

Salma nyaris tertawa. Aksa benar-benar waspada terhadap potensi playing victim Manda. Saat Salma mendekat, dia melihat darah segar mengalir dari belakang kepala Manda.

Wajah Salma berubah serius. Ia segera menelepon ambulans.

"Waduh, kali ini beneran, Guys!" seru Naya kaget melihat darah itu.

Di perjalanan menuju rumah sakit, Naya masih menggerutu, curiga ini cuma trik Manda agar dikasihani. Namun Aksa menanggapi santai, "Mau asli atau palsu, dia nggak bakal bisa membalikkan keadaan."

Dokter yang menangani Manda akhirnya keluar. "Gegar otak ringan. Cukup istirahat, tidak ada masalah serius."

"Apa mungkin ada efek samping? Misalnya... hilang ingatan?" pancing Salma.

"Oh, mohon tenang. Tidak akan sampai seperti itu."

Salma tersenyum puas. Dia segera menelepon ayahnya, Pak Seno, melaporkan kejadian itu sekaligus menegaskan bahwa dokter menjamin tidak akan ada amnesia.

Respon Pak Seno sangat dingin; dia hanya menyuruh Salma meminta perawat menjaga Manda.

Tepat saat Salma menutup telepon, teriakan histeris terdengar dari kamar rawat. Salma dan Aksa saling pandang, senyum tipis terukir di bibir mereka.

Drama dimulai.

Salma membuka pintu. Terlihat Manda sedang mengamuk, melempar barang-barang. Perawat yang menjaganya tampak ketakutan di pojok ruangan.

"Sus, keluar dulu saja. Biar saya yang urus," kata Salma. Perawat itu langsung lari keluar bak mendapat pengampunan.

Salma berdiri bersedekap di ambang pintu, menatap dingin Manda yang kini duduk terengah-engah di kasur. Matanya kosong, mulutnya terus bergumam, "Aku siapa? Ini di mana?"

Dia seolah tidak melihat keberadaan Salma, tenggelam dalam dunianya sendiri. Namun, setelah lima belas menit bermonolog tanpa respon, Manda mulai gelisah.

Dia mendongak, memancing reaksi.

Saat tatapan mereka bertemu, Salma justru tersenyum miring.

Manda panik. Pokoknya kepalaku terluka, terserah aku mau bilang apa! Dia langsung menjerit histeris, "Pergi! Kalian mau membunuhku, kan?!"

Sayangnya, mau sekeras apa pun Manda berteriak, Salma tetap tenang seperti batu karang. Setelah lelah berakting sendirian, Manda akhirnya diam.

Salma berjalan santai mendekati ranjang, mencondongkan wajahnya. "Capek nggak? Haus? Panas?"

"Pergi! Menjauh dariku!" Manda mencoba mendorong, tapi Salma dengan sigap mencengkeram pergelangan tangannya.

Senyum Salma lenyap, berganti tatapan sedingin es. "Manda, simpan sandiwaramu. Jangan harap kamu bisa kabur ke luar negeri dengan alasan sakit."

Papa nggak akan peduli lagi. Mau kamu ngamuk sampai langit runtuh pun, itu cuma bikin Papa makin muak."

Salma menghempaskan tangan Manda. "Jujur, aku puas banget lihat kamu begini."

Menyadari aktingnya percuma, tatapan Manda berubah penuh kebencian. "Suatu hari nanti, aku akan balas semua ini berlipat ganda!"

"Ditunggu balasannya, Manda!" jawab Salma dingin sebelum berbalik pergi.

Drama rumah sakit itu sukses membuat Manda bungkam. Dia mengurung diri di kamar selama tiga hari penuh, tidak berani lagi pura-pura gila karena ancaman Salma.

Salma juga berhasil memblokir akses orang tua mereka untuk menjenguk dengan alasan "butuh ketenangan total". Manda merasa benar-benar dibuang.

Tiga hari kemudian, hari pembagian rapor tiba.

Salma sedang sarapan saat Manda turun dengan wajah memelas. Begitu tatapan mereka bertemu, Manda langsung membuang muka.

Salma tersenyum geli. Segitu doang nyalinya sekarang?

Selesai sarapan, Salma langsung berangkat. Aksa sudah menunggu di depan gerbang. Melihat sosok itu, senyum Salma merekah.

"Senyum-senyum sendiri, kenapa sih?" goda Aksa sambil mengusap kepala Salma.

"Nggak apa-apa." Salma menatap penampilan nerd Aksa. "Kapan aku boleh lihat wajah aslimu?"

"Kamu mau lihat?"

"Iya."

"Oke, selesai acara perpisahan nanti, aku kasih lihat." Aksa tertawa lembut. "Jangan takut, pacarmu ini cuma sedikit lebih ganteng daripada Farel Barata kok."

"Laki-laki yang aku pilih jelas harus lebih baik dari Farel lah," ujar Salma bangga.

Tiba-tiba tangan Salma digenggam erat oleh Aksa. Jari-jemari mereka bertautan. Wajah Salma memerah padam, jantungnya serasa mau lompat.

Dia buru-buru memalingkan wajah, tapi Aksa hanya tersenyum makin lebar, enggan melepaskan genggaman lembut itu.

Sesampainya di Citra Bangsa Global High School, deretan mobil mewah sudah memadati area. Baru saja sampai di gerbang, nasib sial mempertemukan mereka dengan Jordy Jalendra dan gengnya.

Jordy menatap remeh. "Kirain nggak punya muka buat datang. Gimana, Salma? Udah siap jadi babu aku? Ingat taruhan kita!"

"Jangan sombong dulu, Tuan Muda Jordy. Nanti kalau harus jilat ludah sendiri kan malu," balas Salma santai. "Siapin tisu yang banyak ya nanti."

"Halah! Level kamu tuh nggak sebanding sama aku. Mending kamu buang aja tuh si Aksa, cowok kampungan kayak gitu cuma bikin malu."

Salma tersenyum sinis. "Di mataku, Aksa jauh lebih berharga daripada kamu. Awas, jangan sampai nanti lututmu lemas saking takutnya."

Aksa melemparkan tatapan dingin sekilas yang membuat Jordy tiba-tiba merinding hebat, seolah suhu udara turun drastis.

Jordy menatap punggung bungkuk Aksa dengan bingung, tapi segera menepis rasa takutnya.

Aula sekolah penuh sesak. Farel Barata memimpin pembukaan, lalu Pak Doni Setiawan, Direktur Kesiswaan yang terkenal galak, mengambil alih panggung.

"Semester ini, terjadi peristiwa sangat memalukan. Mencuri soal ujian! Dewan Sekolah memutuskan untuk menindak tegas," suara Pak Doni menggelegar.

Di barisan siswa, wajah Manda pucat pasi. Kakinya lemas.

Pak Doni tanpa ampun membeberkan kronologi kecurangan Manda: menyontek, mencuri soal, hingga memfitnah Salma. Bukti rekaman dan transfer dibacakan di depan ribuan orang.

Rasanya seperti ditelanjangi di alun-alun kota.

"Manda Tanudjaja dicopot dari seluruh jabatan OSIS, status percobaan, dan dipindahkan ke Kelas X-9!" vonis Pak Doni.

Aula gempar. Bisikan pedas menyerang telinga Manda dari segala arah.

"Piala Oscar harusnya dikasih ke dia!"

"Buah jatuh nggak jauh dari pohonnya. Namanya juga anak pungut!"

"Keluarkan Manda! Keluarkan Manda!"

Teriakan itu menggema. Salma menatap Manda dengan kepuasan tak terlukiskan. Karma itu nyata.

"DIAM!" bentak Pak Doni menenangkan massa.

Tiba-tiba, Jordy berdiri dan berteriak lantang. "Pak Doni! Yang dihukum udah dihukum, sekarang waktunya umumkan peringkat angkatan dong! Kelas X-7 koar-koar mau sapu bersih juara. Bapak nahan pengumuman apa karena takut ada yang malu?"

Jordy sengaja melirik Salma. "Dengar, Salma? Kamu pasti kalah."

Salma berdiri dengan tenang. "Tuan Muda Jordy, masih ingat taruhan kita? Kalau peringkat satu sampai tiga angkatan bukan dari Kelas X-7, aku jadi babumu."

"Bagus kalau ingat!" seru Jordy angkuh. "Seluruh sekolah jadi saksi!"

"Tapi kalau aku menang," potong Salma tajam, "Kamu harus pindah ke Kelas X-9, dan kelas kalian harus minta maaf sambil lari keliling sekolah."

"Mustahil!" Jordy tertawa meremehkan. "Kalau kalian bisa mengalahkan kami, aku bakal sujud di kakimu sambil minta maaf!"

"Oke, deal." Salma menoleh ke panggung. "Silakan, Pak Doni."

Pak Doni menatap Jordy dengan pandangan aneh, lalu melihat kertas di tangannya. "Kelas X-7 memang tidak menyapu bersih tiga besar..."

"HAHAHA!" Jordy langsung terbahak penuh kemenangan. "Dengar itu, Salma?! Sini, biar aku ajari cara jadi babu yang baik!"

Manda tersenyum jahat dalam hati. Mampus kamu, Salma!

Namun Salma tetap tersenyum misterius.

Suara Pak Doni kembali menggema, memotong tawa Jordy. "Kelas X-7 tidak menyapu bersih, karena... ada TIGA siswa yang nilainya sama persis dan menjadi JUARA SATU BERSAMA."

Aula seketika sunyi senyap seperti kuburan.

"Tiga siswa yang meraih peringkat PERTAMA PARALEL tersebut adalah: Salma Tanudjaja, Naya Wardhana, dan Aksa Abhimana. Ketiganya dari Kelas X-7. Peringkat kedua diraih oleh Sintya Prameswari dari Kelas X-1, dan peringkat ketiga adalah Monika Latuharhary dari Kelas X-7."

Pak Burhan tidak bisa menyembunyikan nada puas dalam suaranya saat menekankan setiap nama.

Dia sengaja memperlambat tempo bicaranya untuk efek dramatis.

Mata Jordy melotot sampai hampir keluar. Senyumnya membeku.

"Nggak mungkin!" teriak Jordy histeris. "Pasti curang! Mana mungkin tiga orang nilainya sama persis? Pak Rudi, Bapak terima sogokan apa?!"

Wajah Pak Doni menggelap. "Jangan asal tuduh! Kamu pikir CCTV sekolah cuma pajangan?"

Pak Doni menyalakan layar proyektor raksasa. Lembar jawaban Salma, Naya, dan Aksa ditampilkan berdampingan.

Tulisan tangan berbeda, cara penyelesaian soal esai pun punya logika khas masing-masing, meski jawaban akhirnya sama. Tuduhan menyontek terbantahkan telak.

Jordy mundur beberapa langkah, menggeleng linglung. "Nggak mungkin... Aksa itu murid bodoh, nggak mungkin tiba-tiba jenius!"

Aksa menanggapi santai, "Aku paham ini sulit diterima akal sehatmu, karena emang nggak semua orang bisa sepertiku yang ngerjain ujian tergantung suasana hati."

Salma menahan tawa. Aksa emang jago bikin orang mati berdiri.

"Saya minta buka rekaman CCTV ujian! Mereka pasti curang!" tuntut Jordy agresif. Dia yakin sudah memanipulasi CCTV kelasnya sendiri agar aman, jadi dia merasa di atas angin.

"Oke, kalau Tuan Muda Jordy memaksa. Silakan pilih satu mapel," tantang Salma.

"Kimia!" sambar Jordy cepat.

Siswa Kelas X-1 dan X-2 mulai membully lagi. "Kelas 7 emang sampah! Paling modal nyontek! Siap-siap sujud aja!"

Video CCTV mulai diputar di tiga layar besar.

Awalnya Jordy tersenyum lebar. Namun, perlahan keringat dingin mengucur deras di dahinya.

Kenapa gambar di rekaman Kelas X-1 bergerak? Bukannya sudah diatur supaya gambarnya freeze? Videonya berjalan normal... itu artinya, aksi contek massal mereka terekam?!

"Pak, ngapain nonton ginian? Buang waktu!" teriak Jordy panik, berusaha menghentikan pemutaran. "Langsung ke kelas mereka aja!"

"Lho, kok panik, Tuan Muda?" Salma tersenyum mengejek. "Keringatmu segede jagung tuh. Jangan-jangan... Kelas X-1 yang curang?"

Ucapan Salma membuat siswa Kelas X-1 lainnya ikut gelisah. Mereka membela diri dengan suara keras, tapi hati ketar-ketir.

Tiba-tiba, sebuah jeritan kaget terdengar dari tengah kerumunan siswa.

"Eh, lihat itu! Kelas X-1 lagi ngapain di layar?!"

1
sahabat pena
aksa terlalu lambat.. sdh tau ada barang bukti bukan di serahkan ke kantor polisi atau di viral kan. jd di manfaat kan sama rival nya pak rahmat kan? untuk menjatuhkan pak rahmat
mom SRA
pagi thoor
INeeTha: Pagi kaksk🙏🙏🙏
total 1 replies
kriwil
harusnya manda yang kejebak sama laki laki lain atau sama riko sekalian biar hancur nya tambah seru
Kembae e Kucir
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kriwil
apa di sekolahan ini ga ada guru dan kepala sekolah ,sampai tentang soal ujian di bobol maling yang maju hanya sosok ketua osis 😄
mom SRA
pagi thor
kriwil
seno itu dapat anak pungut sezan dari mana ya😄
kriwil
awal mula seno mungut siluman ular itu knp ya
mom SRA
mpm thor
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Diah Susanti
thor, buat tanudjaja, kalo si manda cuma anak pungut, biar dia merasakan dibully 1 sekolahan.
mom SRA
malem thor
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
ealah moduse kang Aksa, lancar kayak jalan tol bebas hambatan
penampilan cupu ternyata suhu 😂
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Diah Susanti
ini apa hubungannya dengan rahasia manda? apa karena cucu orang hebat makanya mudah dapat info? 🤔🤔🤔🤔
Diah Susanti
padahal bolu pisang enak lho, aq suka tak bisa bikinnya/Grin//Grin//Grin/
mom SRA
seru critanya.... semangat thoor
tutiana
hadirrrr, suka huruf s ya Thor,
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!