Zafira adalah perempuan sederhana yang hidup tenang—sampai satu malam mengubah segalanya. Ia dituduh mengandung anak Atharv, pewaris keluarga terpandang.
Bukti palsu, kesaksian yang direkayasa, dan tekanan keluarga membuat kebenaran terkubur.
Demi menjaga nama baik keluarga, pernikahan diputuskan sepihak.
Atharv menikahi Zahira bukan sebagai istri, melainkan hukuman.
Tidak ada resepsi hangat, tidak ada malam pertama—hanya dingin, jarak, dan luka yang terus bertambah.
Setiap hari Zahira hidup sebagai istri yang tak diinginkan.
Setiap malam Atharv tidur dengan amarah dan keyakinan bahwa ia dikhianati.
Namun perlahan, Atharv melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada pada perempuan licik:
Ketulusan yang tak dibuat-buat
Air mata yang disembunyikan.
Kesabaran yang tak wajar.
Kebenaran akhirnya mulai retak.
Dan orang yang sebenarnya bersalah masih bersembunyi di balik fitnah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Canggung dan Sunyi
Beberapa hari telah berlalu sejak Zafira menapaki rumah besar Atharv Pranata. Setiap pagi terasa sama—sunyi, canggung, dan sedikit menegangkan. Hari itu, Zafira duduk di ruang tamu, menyusun beberapa buku di rak kecil yang ditempatkan Sari untuknya.
Ia mendengar langkah Atharv dari luar, suara sepatu menapak di lantai kayu, dan jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat.
Atharv masuk, jas hitam masih terpasang, dasi sedikit longgar. Matanya menatap lurus ke depan, namun ia menunduk sebentar melihat Zafira.
“Kau sudah sarapan?” tanyanya, suaranya tetap datar tapi ada nada ringan penasaran.
Zafira menoleh, menahan canggung.
“Ya Tuan. Aku sarapan sebentar tadi. Dan aku sedang membereskan rak ini.”
Atharv mengangguk, menatap tumpukan buku sebentar, lalu menatap Zafira lagi.
“Baik. Jangan terlalu banyak memindahkan hal-hal di sini. Ini rumahku, tapi aku ingin kau merasa nyaman juga.”
Zafira sedikit terkejut mendengar kata “nyaman” keluar dari mulut Atharv. Ia menunduk, menelan rasa gugup.
“Baik, Tuan. Aku akan hati-hati.”
Atharv melangkah lebih dekat, menatap wajahnya.
“Kau tahu, kau bisa bicara padaku jika ada yang membuatmu bingung. Aku tidak selalu ingin memerintah atau memberi jarak. Tapi jangan salah paham juga.”
Zafira menelan ludah, jari-jarinya gemetar. “Aku mengerti. Terima kasih.”
Atharv menatapnya sebentar lagi, lalu berbalik untuk mengambil dokumen di meja. Ia menambahkan tanpa menoleh,
“Hari ini aku akan banyak rapat. Jangan menunggu, tapi pastikan dirimu nyaman.”
Zafira mengangguk pelan. “Baik, Tuan.”
Setelah Atharv keluar dari ruangan, Zafira duduk kembali di sofa, menatap jendela. Kata-kata Atharv masih terdengar di telinganya—jarang, singkat, tapi entah mengapa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Ada sedikit kehangatan tersembunyi di balik dinginnya, sesuatu yang membuat hatinya sedikit lega.
Meski jarak antara mereka masih membeku, Zafira mulai menyadari satu hal: bahwa rumah ini mungkin besar dan asing, namun ia bisa menemukan sedikit ruang untuk dirinya sendiri, bahkan di tengah kesunyian pernikahan yang dipaksakan ini.
***
Sore itu, Zafira sedang duduk di ruang tamu, menatap jendela yang menampung cahaya matahari mulai merunduk ke ufuk barat.
Ia menata beberapa buku dan peralatan kecil yang ditempatkan Sari, berusaha merasa sedikit lebih nyaman di rumah yang luas dan asing ini.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu dan langkah kaki di teras depan. Zafira menoleh, sedikit terkejut.
“Siapa ya?” gumamnya pelan.
Sari masuk dengan langkah ringan.
“Nona, ada tamu sepertinya Nyonya Pranata, ibunda Tuan Atharv. Ia ingin menyapa Nona.”
Jantung Zafira berdebar lebih cepat. Ia menelan ludah, berdiri perlahan, dan merapikan gaun sederhana yang ia kenakan sore itu.
“Ibunya datang sekarang?” tanyanya ragu.
Sari mengangguk.
“Iya, Nona. Jangan khawatir, beliau ramah. Hanya ingin mengenal Nona.”
Pintu ruang tamu terbuka, dan seorang perempuan anggun melangkah masuk.
Rambutnya disanggul rapi, pakaian sederhana tapi elegan. Matanya menatap Zafira dengan senyum hangat.
“Zafira, selamat datang di rumah kami,” suara itu lembut, tapi penuh wibawa. “Aku ibu Atharv. Aku ingin mengenalmu lebih dekat.”
Zafira menunduk, jantungnya masih berdebar.
“Senang bertemu Nyonya. Maksud saya Ibu,” ucapnya pelan, sedikit canggung.
Ibu Atharv tersenyum lembut, melangkah mendekat.
“Panggil saya Nyonya saja, atau ibu, terserah yang membuatmu nyaman. Jangan terlalu tegang, Zafira. Saya tahu ini semua masih baru untukmu.”
Zafira mengangguk, tersenyum tipis untuk pertama kalinya hari itu. Kehadiran ibu Atharv membawa suasana berbeda—tidak dingin seperti Atharv, tapi hangat dan menenangkan, meski rasa canggung tetap terasa di antara mereka.
Ibu Atharv duduk di sofa, menepuk tangan Sari sebentar sebagai tanda persetujuan, lalu menatap Zafira.
“Jadi, Zafira bagaimana harimu sejak tinggal di sini? Apakah semuanya terasa terlalu asing atau kau sudah mulai menyesuaikan diri?”
Zafira menelan ludah, menunduk sejenak sebelum menjawab.
“Saya masih belajar menyesuaikan diri, Nyonya. Rumah ini besar dan berbeda dari rumah orang tua saya, tapi Sari sangat membantu, jadi saya mulai merasa sedikit lebih nyaman.”
Ibu Atharv tersenyum lembut.
“Itu bagus. Jangan sungkan untuk bilang jika ada yang membuatmu kesulitan. Aku ingin kau merasa seperti bagian dari keluarga, meski aku tahu semuanya masih terasa baru dan menegangkan.”
Zafira mengangguk pelan.
“Terima kasih, Nyonya. S-saya akan berusaha.”
Ibu Atharv mencondongkan badan sedikit, menatap mata Zafira dengan perhatian.
“Dan bagaimana dengan hubunganmu dengan Atharv? Saya tahu ini pernikahan kalian tidak sepenuhnya karena pilihanmu sendiri. Tapi saya ingin kau merasa aman dan nyaman, setidaknya di rumah ini.”
Zafira menelan keras. Jantungnya berdebar kencang mendengar pertanyaan itu.
“S-saya berusaha menjaga jarak, Nyonya. Tapi saya berterima kasih atas perhatian Nyonya. S-saya ingin melakukan yang terbaik, meski sulit.”
Ibu Atharv tersenyum lagi, kali ini dengan nada hangat yang membuat Zafira merasa sedikit lega.
“Saya mengerti, Zafira. Jangan terburu-buru menyesuaikan diri. Pelan-pelan saja. Rumah ini memang besar, tapi yang penting kau tahu, kau tidak sendirian.”
Zafira menatap ibu Atharv, tersenyum tipis, dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah ini, ia merasakan sedikit kehangatan di tengah kesunyian dan jarak yang selama ini ia rasakan.