NovelToon NovelToon
Luka Yang Menyala

Luka Yang Menyala

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.

Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.

Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.

Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.

Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Pagi itu, langit begitu kelam. Galuh dan Galih bersimpuh di sebelah pusara ibunya yang masih basah.

"Ibu ..." Galih melirih sambil mengusap nisan kayu sederhana tanpa nama milik ibunya yang ada di samping kuburan sang ayah.

Tak ada upacara pemakaman yang layak. Hanya ala kadarnya saja. Bahkan hanya ada empat orang warga yang menghadiri pemakaman itu.

"Teh ... Ibu sudah tiada. Rumah kita pun sudah hangus terbakar. Sekarang kita akan tinggal di mana?" tanya Galih dengan suara serak.

Galuh menggeleng. "Teteh tidak tahu, Galih."

"Kenapa para tetangga jahat sekali pada kita, Teh? Padahal sebelumnya mereka sangat baik ..."

Lidah Galuh kelu, terlalu sulit menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada anak seusia Galih. "Sudah ya, kamu tak usah memikirkan hal itu. Kita berdoa saja, semoga Tuhan segera mengirimkan pertolongannya untuk kita. Sekarang, ayo kita doakan Ibu."

"Iya, Teh."

Bibir mereka komat-kamit, dibarengi dengan tangan yang menengadah.

Dari balik pohon beringin yang besar, seorang lelaki tersenyum lebar. "Inilah akibatnya jika orang miskin sepertimu sok-sok'an melawan seorang penguasa. Sengsara dan penderitaan lah yang akan kalian terima. Dan penderitaanmu tidak akan berhenti di sini, Galuh. Masih ada lagi kejutan lain yang akan kau dan adikmu terima. Tunggu saja, gadis sialan!" Lelaki bertopi hitam itu membalik badan, berlalu pergi dari area pemakaman.

Hingga tengah hari datang, Galuh dan Galih masih termangu di sebelah makam kedua orang tua mereka.

Bukan tak ingin pergi, tapi mereka bingung harus pergi ke mana.

"Teh ... aku lapar," lirih Galih sambil menekan-nekan perutnya.

Galuh menoleh, menatap iba pada adiknya. "Ayo bangun. Kita pergi ke kebun yang ada di belakang rumah kita. Di sana ada pohon singkong. Kita bisa makan itu untuk pengganjal perut."

"Iya, Teh. Ayo."

Sebelum pergi, kedua adik kakak itu mengecup nisan ibu dan ayahnya secara bergantian. Lalu melambaikan tangan.

Langkah mereka terseok-seok. Bukan hanya karena lapar, tapi juga karena lelah dan trauma.

Sesampainya di kebun belakang rumah, Galuh langsung menggali singkong, mencabutnya dengan sekuat tenaga. Seulas senyum samar menghiasi bibirnya yang kering dan pucat. "Dek, lihat. Singkongnya lumayan besar. Kita makan ini saja, ya?"

Galih mengangguk cepat. Matanya berbinar terang. "Iya, Teh."

"Sebentar ya, Teteh cuci dulu singkongnya." Galuh berlari ke sumur, lalu menimba air dan mencuci singkong tersebut sambil mengupas kulit singkong dengan pisau yang tidak ikut terbakar tadi malam.

"Nih, Dek." Dia memberikan sepotong singkong yang sudah dikupas dan dicuci itu kepada adiknya.

"Teteh juga harus makan. Biar nggak sakit. Aku nggak mau Teteh pergi. Cukup ibu saja yang meninggalkanku," isak Galih seraya menggigit singkong tersebut.

Galuh tadinya tidak berniat makan, tapi setelah mendengar ucapan adiknya, gadis delapan belas tahun itu pun akhirnya makan juga diiringi linangan air mata. "Teteh tidak akan pernah meninggalkanmu, Galih. Teteh berjanji akan menjagamu sampai titik darah penghabisan."

"Iya, Teh. Aku juga akan melindungi Teteh."

Galuh dan Galih tercenung di bawah pohon pisang sambil menatap nanar ke bekas rumah mereka yang kini sudah rata dengan tanah.

"Teh ... malam ini kita tidur di sini atau di makamnya Ibu dan Bapak?" Pertanyaan itu kontan membuat hati Galuh berdenyut.

"Kamu maunya di mana? Di sini ... atau di makam Ibu dan Bapak?" Saking bingungnya, Galuh tak bisa menjawab pertanyaan sang adik. Baginya, dua pilihan itu bukanlah tempat yang baik untuk bermalam.

"Di makam Ibu dan Bapak aja ya, Teh. Sekalian kita nemenin Ibu dan Bapak," jawab Galih polos.

"Memangnya kamu tidak akan takut? Bukannya waktu dulu ... kamu selalu bilang kalau di kuburan itu banyak hantunya," balas Galuh mencoba tegar di tengah jiwa raganya yang porak-poranda.

"Itu kan dulu, Teh. Sekarang kan di sana udah ada Ibu dan Bapak. Jadi hantunya tidak akan berani gangguin aku."

"Ya udah ... kalau gitu, kita tidur di makam ibu dan Bapak aja. Yuk kita ke sana lagi. Kita berteduh dulu di bawah pohon beringin yang ada di kuburan. Di sini panas banget," ajak Galuh, mengusap kepala adiknya.

"Ayo, Teh. Singkongnya kita bawa ya, buat nanti makan malam."

"Ya." Galuh menengadah, menghalau air matanya yang siap jatuh lagi. Ia harus kuat. Tak boleh terlihat lemah di depan adiknya.

Langkah kedua kakak beradik itu kembali terayun, menapaki jalan setapak berbatu.

Setiap berpapasan dengan para tetangga, bukan ucapan belasungkawa yang terlontar, melainkan cacian yang menusuk sampai ke ulu hati.

"Eh ... si gadis perek lewat!" maki seorang ibu berbaju biru.

"Bukan hanya perek, tapi tukang fitnah juga," timpal ibu-ibu lainnya.

"Eh, iya. Perek plus tukang fitnah. Nggak kira-kira lagi memfitnahnya, ke anak Juragan Zainal yang baik hati dan dermawan."

"Kayaknya sih tadinya, dia mau mengincar Den Lingga buat dijadiin suami. Tahunya gagal. Dia malah bernasib malang. Rumah terbakar, ibunya mati dan kini mereka luntang-lantung kayak gelandangan."

"Hahaha ..."

Kumpulan ibu-ibu itu benar-benar tak punya simpati, apalagi empati. Terus memaki dan menyudutkan Galuh.

Gadis itu tak meladeni, dia terus mengajak adiknya berlari. Menjauh dari keramaian kampung Cisaat.

Sampai di bawah pohon beringin yang berdiri tegak di tengah-tengah pekuburan ... Galuh menjatuhkan tubuhnya, menunduk dan meraung sejadi-jadinya.

Galih mengusap punggung kakaknya dengan lembut. "Teteh harus kuat. Sabar ya, Teh."

Galuh tak menanggapi. Hatinya sudah terlampau sakit.

______

Malam turun perlahan, membawa dersik angin yang menusuk tulang.

Galuh mengeratkan pelukan ke tubuh Galih. Adiknya itu menggigil dari tadi sore. "Dek, badan kamu panas sekali," lirihnya cemas.

"Aku tidak apa-apa, Teh. Besok juga pasti sembuh," balas Galih dengan suara parau.

"Kita ke rumah sakit sekarang juga ya. Teteh tidak mau kamu jatuh sakit."

"Tapi kita tidak punya uang, Teh. Dokternya tidak mungkin mau mengobati aku." Suara Galih terdengar bergetar.

"Ah, sudahlah. Itu biar menjadi urusan Teteh." Galuh beranjak dari sisi makam ibunya. Melepas pelukannya di tubuh Galih. "Ayo naik ke punggung Teteh. Cepetan!"

Karena kepala Galih mulai pusing, akhirnya anak itu tak membantah. Dia naik ke atas punggung kakaknya dan Galuh gegas pergi meninggalkan area pemakaman.

Langkah Galuh cepat, meski beban yang digendongnya terasa berat. Senyum lega terbit, ketika kakinya sudah berhasil sampai di jalan besar menuju kota. "Dek, sabar ya, kita tunggu mobil angkot lewat. Kamu pasti sembuh dan kita tidak usah kembali lagi ke desa ini. Teteh akan cari kerja di kota saja." Harapan itu muncul tiba-tiba.

Namun takdir punya cara sendiri untuk mencabut harapan itu.

Dari arah depan, muncul mobil van berwarna hitam, suara mesinnya terdengar nyaring dan lajunya begitu kencang serta sedikit tak wajar.

Lampu depan menyilaukan mata, membuat Galuh refleks memejamkan mata.

Namun tanpa diduga, benturan yang sangat keras menghantam tubuhnya.

Tubuh keduanya terhempas, melayang dan jatuh mencium aspal.

Sebelum semuanya gelap, Galuh berbisik lirih dengan wajah yang berlumuran darah. "G-Ga-lih ..."

1
partini
potong aja burung nya ,kan bagus nafsu membara tapi tidak bisa
Ama Apr: haha iya
total 1 replies
partini
hemmmm tuh lobang ndowerr ya Thor 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, kayaknya sih kk
total 1 replies
partini
waduh
Ama Apr: 😵😵😵 Wkwk
total 1 replies
partini
lanjut
Ama Apr: Siap, makasih kk Parti😘
total 1 replies
partini
tadi dapat notif belum ku buka
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!