Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.
Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.
"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Jebakan di Balik Dinding Lapuk
Hujan deras mengguyur kawasan perbukitan pinggiran Bogor malam itu, menyamarkan suara roda mobil sedan hitam yang melaju pelan membelah jalanan setapak yang sepi. Di kanan dan kiri jalan, pepohonan liar yang rimbun bergoyang kasar dihantam angin kencang.
Nadia—di dalam tubuh Chelsea—duduk di kursi belakang dengan tatapan mata yang teramat dingin, menatap lurus ke arah sebuah bangunan tua dua lantai di ujung jalan. Klinik swasta terbengkalai yang menjadi tempat persembunyian dr. Yanuar.
Di sampingnya, Reynald memeriksa senjata taktis berperedam suara miliknya dengan gerakan yang sangat efisien. Aura dominan dan hawa membunuh yang dipancarkan sang CEO malam ini begitu pekat hingga sanggup membuat siapa pun gemetar.
"Waktu kita tidak banyak, Chelsea," ucap Reynald, suara baritonnya yang berat terdengar sangat dalam di tengah deru suara hujan. "Barra dan tim siber Reynald Group sudah menyusup ke area belakang untuk melacak router lokal tempat dr. Yanuar menyimpan cadangan server datanya. Begitu kamu masuk, kamu hanya punya waktu sepuluh menit untuk menahannya sebelum Barra memutus seluruh akses jaringannya."
Chelsea menoleh, menatap wajah tampan berahang tegas pria di sampingnya. Ia mengulas senyuman tipis, lalu menaruh telapak tangannya di atas tangan tegap Reynald yang sedang memegang senjata. "Sepuluh menit sudah lebih dari cukup untuk membuat tikus serakah seperti dia berlutut, Reynald."
Reynald membalas genggaman tangan Chelsea, mempereratnya dengan kehangatan posesif yang mutlak. "Aku akan mengawasimu melalui kamera mikro di kerah blazermu. Jika terjadi sesuatu yang di luar rencana... aku akan meratakan tempat ini dalam hitungan detik."
Chelsea mengangguk tegas. Ia membuka pintu mobil, mengembangkan payung hitamnya, lalu melangkah anggun menembus guyuran air hujan menuju pintu masuk klinik yang tampak lapuk dan berkarat.
Suasana di dalam klinik terbengkalai itu terasa sangat mencekam. Bau lembap dari dinding yang berjamur dan sisa-sisa aroma antiseptik tua menyengat indra penciuman Chelsea. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip tidak stabil memberikan bayangan-bayangan panjang yang mengerikan di sepanjang koridor rumah sakit yang sunyi.
Chelsea melangkah masuk dengan tenang, ketukan sepatu hak tingginya bergaung konstan, memecah keheningan malam. Ia berjalan menuju ruang laboratorium utama di lantai dasar sesuai dengan instruksi pesan teks terakhir.
Kreeek...
Chelsea mendorong pintu ganda laboratorium yang berkarat. Di dalam ruangan yang dipenuhi oleh peralatan medis tua yang berdebu, seorang pria paruh baya dengan jas dokter yang sudah dekil tampak sedang duduk di depan sebuah laptop portabel. Rambutnya berantakan, dan matanya memancarkan kilat keserakahan yang tidak sehat. dr. Yanuar.
"Tepat waktu, Nona Chelsea Latief... atau haruskah aku mulai membiasakan diri memanggilmu Nona Nadia Kirana?" dr. Yanuar terkekeh sinis, suaranya parau dan bergetar karena gugup sekaligus bersemangat melihat mangsanya datang.
Chelsea menutup payungnya, meletakkannya di sudut pintu, lalu berjalan mendekati meja laboratorium dengan ketenangan seorang ratu. Ia menaruh sebuah tas koper kulit kecil berwarna hitam di atas meja. "Lima puluh miliar rupiah dalam bentuk obligasi internasional tanpa nama. Persis seperti yang Anda minta, Dokter."
Mata dr. Yanuar seketika berbinar liar. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar untuk meraih koper tersebut, namun dengan cepat Chelsea menahan tutup koper dengan jemari lentiknya.
"Kartu memori asli dan berkas otopsi fisik Nadia Kirana. Serahkan dulu padaku, baru uang ini menjadi milikmu," desis Chelsea dengan suara sedingin es.
dr. Yanuar menarik kembali tangannya, lalu tersenyum licik sembari menepuk laptop di hadapannya. "Kau mengira aku bodoh, Nona Manis? Berkas fisiknya aman bersamaku, tapi data digitalnya telah kuatur untuk terkirim secara otomatis ke tiga kantor berita internasional jika aku tidak memasukkan kode konfirmasi setiap dua belas jam. Buka kopernya sekarang, biarkan aku memeriksa obligasinya terlebih dahulu!"
Di luar gedung, di dalam mobil komando tersembunyi, Reynald menatap layar monitor yang menampilkan visual dari kamera mikro Chelsea. "Barra, berapa lama lagi?" desis Reynald melalui alat komunikasi.
"Tiga menit lagi, Tuan. Enkripsi server lokalnya berlapis, kami sedang melakukan brute-force paksa," jawab Barra dari balik dinding luar laboratorium.
Di dalam ruangan, Chelsea sengaja memperlambat gerakannya. Ia membuka kunci koper kulit tersebut dengan sangat lambat, membiarkan dr. Yanuar terus menatap lembaran kertas obligasi bernilai tinggi di dalamnya dengan napas yang memburu nafsu.
"Anda tahu, dr. Yanuar," Chelsea membuka suara dengan nada terlampau tenang sembari menyilangkan tangannya di dada. "Baskoro membayar Anda sepuluh miliar setahun lalu untuk memalsukan kematianku. Sekarang, Anda meminta lima puluh miliar dariku. Tampaknya inflasi di dunia kriminal bergerak sangat cepat."
dr. Yanuar yang sedang memeriksa keaslian lembaran obligasi seketika membeku. Ia mendongak, menatap tajam ke arah mata bulat Chelsea. "Apa maksudmu... kematianmu? Jadi kamu benar-benar mengakuinya? Kamu adalah jiwa Nadia Kirana?!"
Chelsea maju satu langkah, mencondongkan tubuhnya ke depan meja hingga wajah mereka sangat dekat. Sepasang mata bulatnya kini memancarkan kilat dendam masa lalu yang teramat pekat, sanggup menciutkan nyali pria paruh baya di hadapannya. "Benar, Dokter. Aku adalah wanita yang tubuhnya kamu bedah malam itu. Aku adalah orang yang kamu nyatakan mati bunuh diri karena racun yang kamu samarkan namanya di atas kertas laporan."
"K-kamu... bagaimana mungkin... ini tidak logis!" dr. Yanuar mulai panik, ia terhuyung mundur hingga kursinya berdecit keras di atas lantai semen. Ketakutan supranatural mulai mencengkeram batinnya saat melihat sorot mata Chelsea yang begitu persis dengan Nadia Kirana sebelum tewas.
Tepat saat dr. Yanuar hendak meraih laptopnya untuk menekan tombol darurat penyebaran data, lampu indikator di router internet di pojok ruangan mendadak berubah menjadi merah pekat dan mati total.
Brak!
Pintu laboratorium ditendang terbuka secara paksa dari luar. Barra masuk bersama tiga personel elit Reynald Group dengan senjata taktis yang langsung mengunci seluruh pergerakan dr. Yanuar.
"Server lokal telah sepenuhnya terputus dan diamankan, Nona Chelsea," lapor Barra tegas sembari menyita laptop milik sang dokter.
dr. Yanuar jatuh terduduk di lantai dengan wajah sewarna kertas semen, menyadari bahwa kartu as yang ia bangga-banggakan telah lenyap dalam sekejap. Seluruh rencana pemerasannya hancur berkeping-keping.
Dari ambang pintu, Reynald melangkah masuk dengan keanggunan yang mematikan. Langkah kakinya yang berat mendekati dr. Yanuar, lalu dengan satu gerakan cepat, ujung sepatu pantofel mahalnya menghantam rahang sang dokter hingga pria itu tersungkur dan memuntahkan darah.
Reynald tidak menatap sang dokter yang mengerang kesakitan; perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Chelsea. Ia menarik tubuh ramping tunangannya ke dalam pelukan hangatnya, memeriksa kondisinya sekali lagi. "Semuanya sudah aman, Chelsea. Rahasiamu tetap bersamaku."
Chelsea menyandarkan kepalanya sejenak di dada bidang Reynald, mengembuskan napas lega yang panjang. Namun, saat Barra sedang mengemas berkas otopsi fisik asli dari dalam brankas tua dr. Yanuar, sebuah lembaran dokumen kecil terjatuh dari selipan map merah tersebut.
Nadia membungkuk, mengambil lembaran kertas yang ternyata adalah manifes pengiriman barang dari masa lalu. Matanya seketika membelalak saat membaca baris nama pengirim asli zat Arsenik-X yang digunakan Baskoro untuk meracuninya setahun lalu.
Nama pengirimnya bukan Baskoro, melainkan sebuah inisial organisasi internasional yang berbasis di Singapura: C-Global Management.
Arthur Chen. Pria paruh baya di Singapura itu bukan sekadar rekan bisnis Baskoro; dialah pemasok utama racun yang mengakhiri hidup Nadia Kirana di masa lalu. Perang yang ia kira sudah selesai di Singapura, ternyata baru saja membuka gerbang konspirasi yang jauh lebih besar dan mengerikan.