NovelToon NovelToon
Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliska Rosemary

Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.


Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.


Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Bunga dari Pangeran

Pukul 08:15 pagi.

Paris sedang dalam suasana hati yang baik. Sinar matahari musim gugur yang pucat menyelinap di antara celah gedung-gedung tua, memantul di atas permukaan trotoar yang masih lembap oleh embun. Kiandra melangkah menyusuri Quai André Citroën dengan perasaan yang, entah kenapa, terasa seringan kapas.

Ada senyum tipis yang menolak luntur dari bibirnya. Setiap kali ia mengingat bagaimana tangan besar Enzo Romano melingkar di pinggangnya semalam, atau bagaimana aroma khas pria itu seolah menyatu dengan udara yang ia hirup, jantungnya melakukan salto kecil yang konyol.

"Duh, Ki! Berhenti senyum-senyum sendiri!" batinnya merutuk, meski pipinya justru semakin memanas. "Ingat, Enzo itu dosenmu yang hobi membuang saus ke tempat sampah, bukan partner dansa profesional yang sedang ikut kompetisi romantis!"

Ia merapatkan mantel wolnya, mencoba menstabilkan detak jantungnya saat gerbang Le Cordon Bleu mulai terlihat. Ia harus beralih mode. Dari "Kiandra teman sekamar" menjadi "Kiandra mahasiswi teladan". Tidak boleh ada jejak dansa semalam yang terbawa ke dalam dapur praktik.

Begitu ia melangkah masuk ke area loker, sebuah hadangan sudah menantinya.

"Wow, lihat siapa yang wajahnya mendadak glowing maksimal pagi ini?"

Mei Ling berdiri bersandar di loker besi, menyipitkan mata dengan tatapan menyelidik yang sangat tajam. Di sampingnya, Diya Kapoor sedang sibuk membenahi kacamata hitam mahalnya, namun perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Kiandra.

"Apa sih, Mei? Aku cuma tidur nyenyak saja semalam," jawab Kiandra cepat, mencoba berjalan melewati mereka menuju lokernya sendiri.

"Tidur nyenyak atau habis 'olahraga' malam, Darling? Aura kamu beda banget," timpal Diya dengan nada suara yang sengaja diseret, penuh implikasi nakal. "Kulitmu kelihatan lebih segar, matamu berbinar... itu bukan efek tidur delapan jam, Ki. Itu efek endorfin."

Adele dan Juliette ikut bergabung dalam lingkaran interogasi itu. Adele memperhatikan rona merah di pipi Kiandra yang tidak bisa disembunyikan, sementara Juliette hanya tersenyum tipis, seolah sudah tahu apa yang terjadi tanpa perlu bertanya.

"Wajahmu tidak bisa bohong, Kiandra," ucap Adele lembut.

"Aku serius, nggak ada apa-apa!" Kiandra membela diri, meski tangannya sedikit gemetar saat memasukkan kode loker.

Tiba-tiba, suasana riuh di ruang loker mendadak terhenti. Seorang mahasiswi junior berlari kecil mendekati kerumunan mereka dengan napas terengah-engah. Di tangannya, ia membawa sebuah buket bunga yang ukurannya sangat mencolok—perpaduan antara mawar putih yang mekar sempurna dan bunga lili yang aromanya sangat kuat hingga memenuhi ruangan dalam sekejap.

"Mademoiselle Zanitha? Ini kiriman untuk Anda. Baru saja diantar ke resepsionis," ucap mahasiswi itu sambil menyerahkan buket raksasa tersebut.

"Untukku?" Kiandra tertegun, menerima buket itu dengan tangan yang mendadak lemas.

Mei Ling memekik heboh, nyaris melompat. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar kartu kecil yang terselip di antara kelopak bunga lili.

"Biar aku baca!" Mei Ling berdehem, lalu membacanya dengan suara keras yang bisa didengar seisi ruangan. "Untuk langkah dansa yang tidak akan pernah kulupakan. — B."

"B? Blake Harrington?" Diya Kapoor melepaskan kacamata hitamnya, matanya berbinar penuh kemenangan.

"Pangeran Sciences Po benar-benar mulai berburu. Siapkan dirimu, Ki. Sekali keluarga Harrington menandai targetnya, mereka tidak akan melepaskannya."

Kiandra mematung, memeluk buket bunga itu dengan perasaan campur aduk. Bangga? Mungkin sedikit. Tapi rasa cemas jauh lebih mendominasi. Bunga ini terlalu besar, terlalu wangi, dan terlalu... mencolok. Di kampus yang menjunjung tinggi profesionalisme seperti ini, kiriman bunga seperti ini adalah magnet gosip yang mematikan.

***

Pukul 09:00 pagi.

Ruang Teater Kelas mendadak hening total, seolah-olah oksigen baru saja disedot keluar dari ruangan. Suasana yang tadinya bising oleh bisikan tentang bunga Kiandra, kini berubah menjadi ketegangan yang pekat.

Ceklek.

Pintu kayu besar di depan kelas terbuka dengan satu hentakan yang berwibawa.

Enzo Romano melangkah masuk. Seragam Chef-nya putih bersih, kaku, dan tertutup rapat hingga ke leher. Wajahnya sedingin es kutub, rahangnya mengeras, dan mata hazel-nya memancarkan aura yang sanggup membekukan aliran darah siapa pun yang menatapnya.

Ia tidak menyapa. Ia tidak melihat ke arah mana pun kecuali ke depan. Namun, saat ia melangkah melewati meja barisan depan, langkahnya melambat.

Enzo berhenti tepat di depan meja Kiandra. Matanya melirik tajam ke arah buket bunga mawar dan lili yang diletakkan Kiandra di samping tasnya karena tidak muat masuk ke dalam loker.

"Bunga yang indah," suara bariton Enzo terdengar datar, namun ada nada sarkasme yang menusuk di dalamnya.

Kiandra mendongak, mencoba memasang wajah paling profesional yang ia punya meski jantungnya berdegup brutal. "Terima kasih, Monsieur."

Enzo tidak langsung pergi. Ia justru mengulurkan tangan, mengambil satu tangkai bunga lili dengan dua jarinya. Ia memeriksanya dengan teliti, memutar-mutarnya seolah sedang memeriksa bahan makanan busuk yang tidak layak masuk ke dapurnya.

"Estetika bunga yang sudah layu sebelum sempat mekar sempurna," ucap Enzo rendah, suaranya menggema di tengah keheningan kelas yang mencekam.

"Sama seperti fokus beberapa mahasiswa hari ini. Terlalu sibuk dengan hal-hal remeh hingga lupa tujuan utama mereka di sini."

Plak!

Enzo melempar kembali bunga itu ke atas meja dengan gerakan kasar yang membuat beberapa kelopak mawarnya rontok. Ia berbalik dan berjalan menuju podium dengan langkah yang mengintimidasi.

"Hari ini kita akan mempraktikkan Consommé," suara Enzo menggelegar, memotong udara yang terasa semakin berat.

"Aku ingin kejernihan yang sempurna. Cairan yang bening seperti kristal, tanpa satu tetes lemak atau kekeruhan sedikit pun. Jika aku melihat ada partikel sekecil debu di dalam kaldu kalian, kalian gagal."

Ia menjeda kalimatnya, matanya menyapu seluruh kelas sebelum akhirnya terkunci pada Kiandra.

"Dan untuk Mademoiselle Zanitha," Enzo menyunggingkan senyum miring yang sangat provokatif, senyum yang membuat bulu kuduk Kiandra berdiri.

"Karena kamu terlihat sangat 'bersemangat' pagi ini, aku ingin kamu membuat dua variasi protein yang berbeda. Sapi dan unggas. Sendirian."

Kiandra terbelalak, mulutnya sedikit terbuka karena syok. "Dua, Monsieur? Tapi waktunya—"

"Waktunya sama dengan yang lain," potong Enzo tanpa ampun. "Jangan biarkan aroma bunga itu membuat otakmu tumpul, Mademoiselle. Di dapurku, bunga tidak akan membantumu menyaring lemak."

Enzo memberikan tatapan hazel yang sangat dingin, mengunci mata Kiandra selama tiga detik penuh ancaman sebelum ia berbalik menuju papan tulis.

"Ki," Mei Ling berbisik sangat pelan dari samping, wajahnya tampak ngeri. "Sepertinya dia nggak suka kamu dikasih bunga orang lain. Apa Chef Romano cemburu?"

"Nggak mungkin, Mei. Dia memang iseng saja," balas Kiandra dengan gigi terkatup.

Namun, di dalam hatinya, Kiandra merasa seperti baru saja disiram air es. Sakit hati? Jelas. Semalam mereka baru saja berbagi momen yang begitu intim di bawah lampu apartemen, dan sekarang pria ini memperlakukannya seperti musuh di depan semua orang.

***

Pukul 12:00 siang.

Dapur praktik terasa seperti neraka yang lembap. Uap panas dari panci-panci besar memenuhi ruangan, membuat seragam Chef yang kaku menjadi basah oleh keringat. Kiandra mandi keringat, wajahnya memerah karena panas kompor dan tekanan waktu yang mencekik.

Ia berjuang dengan dua panci besar di depannya. Satu tangan sibuk mengocok putih telur untuk membuat raft penyaring, sementara tangan lainnya memastikan suhu kaldu sapi tidak sampai mendidih terlalu keras.

"Sialan! Dia benar-benar mengabaikanku!" geram Kiandra dalam hati.

Enzo berkeliling dapur dengan tangan di belakang punggung. Ia memberikan komentar pedas pada setiap mahasiswa.

Ia memarahi Jaxson karena memotong sayuran terlalu kasar, ia menyindir Adele karena gerakannya yang terlalu lambat. Namun, setiap kali ia melewati stasiun kerja Kiandra, ia seolah-olah menganggap Kiandra tidak ada.

Ia tidak melihat, tidak menegur, bahkan tidak melirik sedikit pun pada dua panci Kiandra yang sedang diperjuangkan mati-matian.

Kiandra merasa ingin menangis karena lelah dan kesal, namun ia menahannya. Ia menyaring kaldunya dengan sangat hati-hati menggunakan kain muslin. Setetes demi setetes, cairan emas bening itu jatuh ke dalam wadah. Ia memastikan kejernihannya sempurna, lebih jernih dari milik siapa pun di kelas itu.

Saat kelas berakhir, seluruh mahasiswa mulai merapikan alat-alat mereka. Kiandra masih sibuk menyaring sisa kaldu terakhirnya, tangannya gemetar karena kelelahan otot.

Enzo berdiri di ambang pintu dapur, bersiap untuk pergi. Ia berhenti sejenak, menoleh ke arah Kiandra yang masih berjuang sendirian di stasiun kerjanya yang kini sudah sepi.

Pria itu tidak mendekat. Ia hanya menatap Kiandra dari kejauhan, lalu menyunggingkan senyum miring yang sangat provokatif—sebuah senyum yang seolah mengejek kerja keras Kiandra—sebelum akhirnya ia berbalik dan menghilang di balik pintu.

Kiandra menatap pintu yang tertutup itu dengan napas memburu. Rasa panas di dadanya kini bukan lagi karena suhu dapur, melainkan karena amarah yang meledak-ledak.

"Lihat saja nanti di rumah, Enzo Romano!" desisnya tajam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!