JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Siang hari di ruko terasa lebih gerah dari biasanya. Cahaya matahari yang terik memantul dari kaca depan, membuat hawa di dalam ruko menjadi hangat dan lembap. Haura sedang berdiri di area meja admin, sibuk mendiskusikan masalah manifes pengiriman barang dengan kurir ekspedisi langganannya.
"Jadi, Pak, untuk paket yang fragile ini, tolong dipastikan ditaruh di paling atas ya. Jangan ditumpuk dengan kardus berat," instruksi Haura dengan nada profesionalnya yang tajam.
Di sela-sela obrolan serius itu, sebuah tangan besar dengan urat-urat yang menonjol maskulin tiba-tiba muncul dari samping, menyentuh lengan Haura dengan gerakan mencolek yang jahil. Haura, yang tidak suka konsentrasinya terganggu saat sedang bekerja, tidak menoleh. Alih-alih marah atau menepisnya, jemari Haura justru bergerak dengan gerakan refleks yang sangat natural—ia menangkap tangan yang mencoleknya itu, lalu menggenggamnya erat-erat dalam genggaman tangannya yang mungil, memaksa tangan tersebut diam agar tidak mengganggunya lagi.
Haura masih fokus menatap kurir di depannya, namun genggamannya pada tangan Marco tetap tidak lepas, seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia.
"Kenapa sih?" gumam Haura pelan, nyaris tanpa suara, matanya masih terpaku pada lembar resi di depannya.
Marco, yang berdiri tepat di sampingnya, hanya bisa menahan tawa. Ia bisa merasakan kehangatan jemari Haura yang membalut tangannya dengan posesif. Pemuda itu sudah tampil rapi dengan kemeja putih dan celana bahan, bersiap untuk berangkat ke kampus bersama Arlo dan Kevin demi mengikuti ujian kenaikan semester dua.
"Lagi nungguin kurirnya selesai, Ay," bisik Marco tepat di telinga Haura, suaranya yang berat membuat bulu kuduk Haura meremang seketika. "Aku sama anak-anak mau berangkat sekarang. Takut kena macet kalau telat."
Haura baru melepaskan genggamannya setelah urusan dengan kurir selesai. Ia berbalik dan menatap Marco, Arlo, dan Kevin yang sudah siap dengan tas ransel mereka.
"Oh, iya. Hati-hati ya," jawab Haura, mencoba kembali ke mode Boss Lady, meski rona merah di pipinya masih sangat jelas terlihat akibat bisikan "Ay" dari Marco.
Arlo, yang sedari tadi bersandar di pintu sambil memegang kunci motor, hanya bisa mendengus dramatis. "Duh, kalau di depan kita mesranya kayak gini, pas kita nggak ada di ruko, apa kabar tuh ruko?"
"Berisik lo, Arlo! Sana berangkat!" usir Haura dengan wajah yang semakin merona.
Kevin hanya terkekeh sambil mengikuti Arlo keluar. Marco, yang enggan untuk segera beranjak, melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga tubuh mereka nyaris bersentuhan di balik tumpukan kardus yang tinggi.
"Aku berangkat ya, Ay," ucap Marco, matanya menatap Haura dengan intensitas yang membuat napas Haura tertahan.
"Iya, semoga ujiannya lancar," jawab Haura lembut, mencoba merapikan kerah kemeja Marco yang sedikit miring.
"Cuma gitu doang?" tanya Marco dengan senyum miring yang sangat menyebalkan sekaligus memikat. Ia menunjuk sudut bibirnya sendiri dengan jari telunjuk. "Ini ciuman perpisahan, Ay. Buat modal aku ngerjain soal-soal ujian biar nggak pusing."
"Marco! Di sini ada Emilia, lho!" bisik Haura panik, melirik ke arah Emilia yang sedang pura-pura sibuk menghitung stok album di ujung ruangan.
"Biarin aja dia liat. Dia kan udah tahu semuanya," balas Marco enteng.
Tanpa menunggu persetujuan Haura, Marco menarik tengkuk Haura dengan tangannya yang bebas. Ia menundukkan wajahnya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang singkat namun sarat akan rasa memiliki yang sangat dalam. Ciuman itu terasa seperti janji—sebuah pernyataan bahwa ke mana pun Marco pergi, pikirannya akan selalu kembali ke ruko ini.
Haura memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan bibir Marco yang terasa manis dan akrab. Marco melumat bibir bawah Haura dengan lembut, memberikan sentuhan yang cukup lama hingga membuat Haura merasa lemas.
"Aku bakal ngerjain ujian secepat mungkin biar bisa langsung balik ke sini," bisik Marco saat melepas ciuman mereka, meninggalkan napas yang tersengal di antara bibir mereka yang basah.
"Iya, jangan nakal di kampus," sahut Haura, suaranya parau, tangannya masih memegang kancing kemeja Marco seolah enggan melepaskannya.
"Nakalnya cuma sama kamu doang, Ay," bisik Marco sekali lagi sebelum akhirnya melepaskan pegangan Haura dan berbalik melangkah pergi dengan gaya santai yang khas.
Begitu Marco benar-benar menghilang di balik pintu ruko, Haura masih berdiri mematung di sana. Ia menyentuh bibirnya sendiri yang masih terasa panas.
Emilia yang sedari tadi pura-pura sibuk akhirnya bersuara, "Udah perpisahan ala film-film Hollywood-nya? Sekarang bisa lanjut kerja, atau mau gue kasih kursi biar lo bisa bengong sambil nungguin Dedek Marco balik?"
"Emilia!! Berisik banget sih kamu!" teriak Haura sambil melemparkan bantal kursi ke arah Emilia, namun tawa bahagia tidak bisa ia sembunyikan.
Di dalam ruko yang kembali sibuk, Haura merasa hari ini akan berjalan sangat lambat. Setiap denting jam di dinding terdengar seperti hitungan mundur sampai Marco kembali. Ia tahu, hubungan mereka memang tidak masuk akal, penuh dengan risiko, dan mungkin akan memicu perang besar dengan papanya nanti malam. Namun, saat mengingat bagaimana Marco memanggilnya "Ay" dan menciumnya dengan tatapan penuh pemujaan, Haura merasa bahwa berjuang demi pria muda ini adalah keputusan terbaik yang pernah ia buat dalam hidupnya yang selama ini terasa begitu sunyi.
***
Malam itu, langit Jakarta tampak kelabu, seolah mencerminkan kekacauan yang berkecamuk di dalam benak Haura. Ia sudah berdiri di depan pintu ruko yang sudah terkunci rapat, mengenakan trench coat tipis di atas dress sutra yang ia kenakan untuk makan malam nanti di mansion. Di dalam tasnya, ponselnya terus bergetar tanpa henti—sebuah simfoni yang mengerikan dari nama "Papa" yang terus muncul di layar.
Haura menghela napas panjang, jemarinya yang dingin memegang kunci mobil dengan erat. Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh menuju parkiran, sebuah sosok jangkung muncul dari balik bayang-bayang ruko, menghalangi langkahnya dengan sikap yang mutlak.
Marco.
Pemuda itu mengenakan jaket kulit hitam yang membuatnya terlihat sangat maskulin dan berbahaya di bawah cahaya lampu jalan yang berkedip. Matanya yang tajam mengunci pergerakan Haura, tidak memberikan celah sedikit pun untuk lolos.
Haura mendongak, hatinya berdesir cemas. "Marco, ngapain sih? Udah malem, kamu harusnya istirahat setelah ujian seharian tadi."
Marco melangkah maju, memangkas jarak hingga Haura bisa mencium aroma parfum maskulin yang bercampur dengan sisa keringat ujian dari tubuhnya. "Aku anterin kamu. Ayo."
Haura menggeleng keras, ia mencoba melangkah ke samping, namun Marco dengan cepat menggeser tubuhnya, kembali memblokir jalan. "Nggak usah. Aku bawa mobil sendiri. Kamu mending pulang, Marco. Bicara sama Papa kamu baik-baik. Selesain semuanya malam ini juga."
Marco terkekeh dingin, sebuah tawa yang tidak sampai ke matanya. Ia menatap Haura dengan tatapan yang penuh obsesi dan perlindungan yang sangat pekat. "Bicara baik-baik sama orang yang mukul aku? Kamu pikir itu bakal berhasil? Enggak, Ay. Aku nggak mau kamu sendirian ngehadepin mereka semua."
"Marco, dengerin aku," Haura meraih lengan Marco, mencoba menenangkan pria muda yang sedang tersulut api itu. "Ini masalah keluarga aku dan Papa. Kamu nggak perlu ikut campur terlalu jauh lagi. Aku nggak mau kamu terluka lagi gara-gara Papa aku yang keras kepala."
"Dan aku nggak mau biarin kamu hancur sendirian!" bentak Marco, suaranya menggelegar di tengah sepinya kawasan ruko, namun sedetik kemudian ia meredam suaranya menjadi bisikan yang sangat dalam dan intim. "Ayo, aku anterin kamu. Setelah kamu masuk ke mansion itu, aku bakal nunggu di depan gerbang. Kalau ada apa-apa, aku bakal langsung masuk."
Haura menatap wajah Marco yang lebamnya mulai memudar namun masih menyisakan bekas luka di sudut bibirnya. Rasa cintanya yang membuncah membuatnya merasa lemah. Ia tahu, Marco hanya ingin melindunginya, namun ia pun tak ingin Marco terus-terusan berada dalam bahaya.
"Kamu keras kepala banget, ya," keluh Haura, suaranya melembut.
"Aku cuma keras kepala soal kamu, Ay," sahut Marco. Ia meraih pinggang Haura dengan tangannya yang bebas, menarik tubuh wanita itu merapat hingga tak ada jarak tersisa di antara mereka.
Di bawah temaram lampu ruko yang kesepian, Marco menundukkan wajahnya, mengecup kening Haura dengan lembut, lalu turun ke hidung, dan akhirnya mendaratkan ciuman yang sarat akan gairah di bibir Haura.
Itu bukan ciuman perpisahan. Itu adalah ciuman yang menuntut kepemilikan. Marco menghisap bibir bawah Haura dengan intensitas yang membuat wanita itu merintih tertahan. Tangannya meremas pinggang Haura, menekan tubuh mereka agar semakin menyatu.
"Mmmhh... Marco, ahh..." desahan Haura pecah di udara malam.
"Jangan pernah berpikir buat ninggalin aku cuma karena ancaman Papa kamu," bisik Marco di sela ciuman mereka, tangannya kini menyusuri lekuk tubuh Haura di balik trench coat itu dengan sentuhan yang sangat intim dan menuntut. "Apapun yang dia bilang nanti, ingat kalau kamu milik aku."
Haura mencengkeram kerah jaket kulit Marco, merasakan panas yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ciuman mereka semakin dalam, basah, dan panas. Lidah Marco menjelajah di dalam mulut Haura, memberikan rasa manis yang adiktif bagi wanita itu. Di tengah desahan mereka yang memburu, Haura merasa dunianya seolah berhenti berputar.
"Marco... ahhh... berhenti... nanti kita terlambat..." desah Haura, meski tangannya justru semakin erat menarik Marco mendekat.
"Aku nggak peduli," bisik Marco, tangannya kini berada di paha Haura, memberikan remasan yang membuat wanita itu kembali melenguh. "Ahh... Marco... tolong... jangan di sini... nanti ada yang liat... ahh!"
Marco melepaskan bibirnya sejenak, menatap mata Haura yang tampak sayu dan basah oleh gairah. Ia mengusap bibir Haura yang bengkak dengan ibu jarinya. "Dengar, Ay. Kamu satu-satunya wanita yang pernah bikin aku ngerasa punya tujuan hidup. Kalau malam ini segalanya bakal berantakan, aku mau kita yang bikin kehancuran itu sendiri."
Haura memejamkan mata, membiarkan jantungnya berdetak kencang seirama dengan napas Marco yang memburu. Ia tahu bahwa pilihan yang ia ambil akan sangat sulit, namun di tangan pria muda ini, ia merasa cukup berani untuk menghadapi badai apa pun.
"Oke," jawab Haura pelan. "Kamu anterin aku. Tapi kamu harus janji, apa pun yang terjadi di dalam mansion nanti, kamu jangan bertindak gegabah."
Marco tersenyum, sebuah senyum kemenangan yang membuat jantung Haura berdegup tidak karuan. Ia mencium bibir Haura sekali lagi, lebih lembut kali ini, sebelum akhirnya melepaskannya.
"Aku janji, Ay. Asalkan kamu selalu jadi milik aku."
Mereka berjalan menuju mobil dengan tangan yang saling bertautan erat. Di dalam mobil, Haura merasa atmosfernya berubah total. Kehangatan yang diberikan Marco tadi terasa masih tertinggal di kulitnya, menjalar dan menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
Saat mobil mulai melaju membelah jalanan Jakarta, Marco terus memegang tangan Haura, tidak melepaskannya meskipun ia harus menyetir dengan satu tangan. Haura menyandarkan kepalanya di bahu Marco, menatap jalanan yang lewat di luar jendela.
Ia tahu, mansion Widjaja akan menjadi medan perang malam ini. Papanya pasti sudah menunggu dengan segala kemarahannya. Namun, dengan Marco di sampingnya, Haura merasa ia bukan lagi wanita yang dulu selalu tunduk pada aturan. Ia adalah Haura, wanita yang akhirnya berani mencintai—dan dicintai—dengan cara yang paling liar dan berapi-api.
Malam baru saja dimulai, dan Haura sudah siap untuk menghadapinya, apapun risikonya.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak 😘😝🤣
semangattt