Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.
Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: PETA DUNIA DAN BAYANGAN KEKAISARAN
Hari berganti siang. Di ruang kerja yang luas dan mewah, Chen Si duduk di kursi utama sambil memutar-mutar cangkir teh panas. Di hadapannya, Leng Tian dan Murong Zhan berdiri dengan sikap paling tunduk, tidak ada sedikitpun sisa arogansi mereka dulu.
Di atas meja, terbentang sebuah gulungan kulit binatang kuno yang sangat besar, digambar dengan tinta emas dan perak. Itu adalah Peta Lengkap Langit Pertama.
"Yang Mulia," kata Leng Tian dengan suara hormat, "Ini adalah peta paling akurat yang kami miliki. Wilayah Langit Pertama ini sangat luas, terbagi menjadi seratus delapan wilayah besar, dan ribuan kota kecil."
Chen Si menatap peta itu dengan mata tajam. Jarinya menelusuri garis-garis di atas kertas.
"Jadi, posisi kita sekarang di sini ya... Wilayah Pinggiran, dekat perbatasan," gumam Chen Si. "Dan Gerbang Menuju Langit Kedua terletak di mana?"
Leng Tian segera menunjuk ke arah paling tengah peta, sebuah titik yang digambarkan dengan menara raksasa yang menjulang ke awan.
"Di sana, Yang Mulia! Itu adalah Pusat Kekaisaran Azure, ibu kota utama seluruh Langit Pertama. Di sana berdiri Menara Langit yang tingginya tak terukur. Hanya orang-orang yang memiliki kekuatan minimal level Kaisar Surgawi yang diizinkan melewati gerbang di puncak menara itu."
Chen Si mengangguk perlahan. "Jarak dari sini ke sana?"
"Jika terbang dengan kecepatan maksimal level Raja, butuh waktu sekitar setahun penuh perjalanan tanpa henti," jawab Murong Zhan cepat. "Jalannya berbahaya, banyak hutan belantara berisi binatang buas level tinggi, dan juga wilayah kekuasaan sekte-sekte besar yang jauh lebih kuat dari kami."
Ancaman Baru
Chen Si terdiam sejenak. Setahun perjalanan? Itu cukup lama. Tapi baginya, ini adalah kesempatan bagus untuk mengasah kembali kekuatannya dan mengumpulkan sumber daya.
"Baiklah. Kita akan berangkat dalam tiga hari," putus Chen Si. "Siapkan segala keperluan. Bawa semua pil dan bahan berharga dari gudang Sekte Pedang Awan dan Keluarga Murong."
"Siap!" keduanya serentak menjawab.
Namun, saat mereka hendak mundur, tiba-tiba wajah Leng Tian berubah sedikit pucat. Ia seolah teringat sesuatu yang sangat penting.
"Tunggu... Ada satu hal lagi, Yang Mulia," kata Leng Tian ragu-ragu.
"Apa?" tanya Chen Si dingin.
"Tentang kekalahan kami dan kejadian kemarin... Karena Kota Hujan Jernih ini berada di bawah naungan Kekaisaran Azure, maka setiap perubahan kekuasaan atau pertarungan level Raja harus dilaporkan ke kantor cabang Kekaisaran setempat."
Leng Tian menelan ludah susah. "Kemungkinan besar... mereka sudah tahu. Dan Kekaisaran itu sangat ketat. Mereka tidak suka ada 'kekuatan liar' yang muncul tanpa izin. Biasanya mereka akan mengirimkan pasukan pengecek..."
Chen Si tersenyum miring. "Oh? Jadi mau datang memeriksa aku ya? Bagus. Semakin cepat semakin baik."
Kedatangan Pasukan Kekaisaran
Belum genap satu jam berlalu, tiba-tiba langit di atas Kota Hujan Jernih menjadi gelap gulita. Ribuan pasukan berseragam perak emas berbaris rapi di udara, membentuk formasi perang yang mengerikan.
Di depan barisan, terdapat sebuah singgasana yang diangkat oleh delapan raksasa kuat. Di sana duduk seorang pria tampan dengan jubah kekaisaran yang dihiasi naga emas sembilan cakar.
Wajahnya dingin dan tanpa ekspresi. Aura yang dipancarkannya jauh lebih padat dan stabil dibandingkan Leng Tian. Itu adalah kekuatan level Kaisar Surgawi Awal!
"Seluruh penduduk kota! Turun dan berlutut! Jenderal Wei dari Kekaisaran Azure telah tiba!" teriak seorang perwira dengan suara bergema.
Di dalam kediaman utama, Murong Zhan gemetar hebat. "Gila! Itu Jenderal Wei! Dia salah satu komandan kuat di wilayah ini! Levelnya sudah setengah kaki melangkah ke Langit Kedua!"
Chen Si berdiri perlahan. "Akhirnya datang juga. Ayo. Kita keluar menyambut tamu."
Konfrontasi di Langit
Chen Si melangkah keluar dari pintu utama. Ia tidak terbang, ia hanya berjalan di atas udara seolah menginjak lantai kaca. Di belakangnya, Leng Tian dan Murong Zhan mengikuti dengan takut-takut.
Di atas sana, ribuan pasukan kekaisaran menatap ke bawah dengan tatapan tajam dan meremehkan.
Jenderal Wei menatap Chen Si dari atas ke bawah dengan mata dingin.
"Kau... pemuda yang bernama Chen Si?" suaranya berat seperti batu. "Kau berani melukai pejabat lokal, mengambil alih kekuasaan dengan kekerasan, dan membuat keributan besar tanpa izin?"
"Aku hanya membersihkan sampah yang menghalangi jalan," jawab Chen Si santai, tidak sedikitpun menunjukkan rasa takut. "Dan tempat ini terlalu sempit untukku, jadi aku akan pergi segera. Kalian datang tepat waktu untuk mengantar kepergianku."
Ucapan Chen Si membuat seluruh pasukan terkejut. Berani bicara seperti itu pada Jenderal Kekaisaran?! Ini anak muda pasti gila!
Jenderal Wei mengerutkan kening. Niat awalnya hanya ingin menekan dan memungut pajak kemenangan, tapi melihat sikap Chen Si yang begitu angkuh, harga dirinya tersinggung.
"Hmph! Berbicara besar sekali. Kau pikir dengan bisa mengalahkan dua Raja lemah ini, kau sudah bisa menantang Kekaisaran?"
Jenderal Wei menghentakkan tangannya ke bawah.
"Teknik Kekaisaran: Tangan Menekan Bumi!"
Sebuah tangan raksasa berwarna emas terbuat dari energi murni muncul di langit, ukurannya menutupi seluruh kota! Dengan kekuatan yang menghancurkan, tangan itu menekan ke arah Chen Si!
Angin kencang bertiup, tanah retak, orang-orang kota berteriak ketakutan. Serangan ini cukup untuk membunuh Raja Sejati Puncak sekalipun!
Leng Tian dan Murong Zhan sudah siap-siap pingsan, mereka pikir hari ini adalah kiamat.
Namun...
Chen Si hanya mengangkat satu jari telunjuknya.
"Naga Meniup Angin."
PUFF!
Sebuah hembusan angin emas yang tak kasat mata keluar dari ujung jari Chen Si.
BRAKKKKKK!!!
Tangan raksasa emas Jenderal Wei itu hancur berkeping-keping dalam sekejap! Seperti kaca yang dipukul palu!
"APA?!" Jenderal Wei melompat dari singgasana, wajahnya berubah kaget luar biasa. "Bagaimana mungkin?! Kekuatanmu...!"
Kekuatan yang Melampaui Batas
Chen Si perlahan terbang naik, mendekati Jenderal Wei. Jarak mereka kini hanya sepuluh meter.
"Levelmu Kaisar Surgawi Awal. Lumayan. Lebih baik dari dua sampah di belakangku," kata Chen Si sambil menunjuk ke belakang. "Tapi... kau masih terlalu lemah untuk mengujiku."
Chen Si melepaskan sedikit saja tekanan tubuhnya.
DUMMM!!!
Suara jantung berdetak terdengar di seluruh area. Aura Chen Si bukan lagi milik manusia biasa, itu adalah aura kuno, agung, dan mematikan yang membuat ruang di sekitarnya terdistorsi!
Jenderal Wei terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi. Ia merasa seperti sedang menghadapi seekor naga purba yang baru bangun tidur! Kakinya gemetar, energinya seakan membeku dan tidak mau mengalir!
"Kau... kau siapa sebenarnya?! Bukan penduduk Langit Pertama! Kau dari Alam Dewa?!" jerit Jenderal Wei dengan suara putus asa.
"Aku hanya orang biasa yang lewat," jawab Chen Si santai. "Sekarang, ada dua pilihan untukmu."
Chen Si menatap mata Jenderal Wei tajam.
Pertama, turunkan singgasana, berikan aku semua batu roh dan harta yang kalian bawa sebagai 'uang jalan', lalu lapor pada atasanmu bahwa tidak ada masalah di sini.
Kedua, aku bunuh kau dan seluruh pasukanmu di sini, lalu aku yang akan pergi ke ibu kota sendiri untuk menemui kaisarmu.
"Pilih."
Ketundukan Mutlak
Suasana hening mencekam. Ribuan pasukan di belakang Jenderal Wei tidak berani bernapas keras. Mereka bisa merasakan niat membunuh yang nyata dari pemuda itu. Jika Jenderal salah bicara, mereka semua pasti mati!
Jenderal Wei berkeringat dingin deras. Otaknya bekerja cepat. Ia sadar betul, pemuda di depannya ini bukan monster yang bisa diajak kompromi dengan cara biasa. Kekuatannya mungkin setara dengan para tetua tertua di istana!
Jika melawan, dia pasti mati. Jika menyerah, mungkin masih bisa selamat dan mendapatkan hubungan baik dengan kekuatan besar ini.
Tanpa pikir panjang lagi...
BUK!
Jenderal Wei langsung turun dari singgasana dan berlutut di udara!
"Hamba salah pandang! Hamba tidak tahu ada Yang Mulia yang melintas! Mohon maaf yang sebesar-besarnya!"
Seluruh pasukan ternganga! Jenderal mereka berlutut?!
"Bagus. Pintar," kata Chen Si tersenyum puas.
"Segera serahkan semua harta! Dan siapkan dokumen perjalanan resmi agar kami bisa melewati pos-pos pemeriksaan dengan lancar!" perintah Jenderal Wei pada bawahannya dengan gemetar.
Dalam waktu singkat, sebuah tas penyimpan dimensi berukuran besar diserahkan pada Chen Si. Isinya penuh dengan batu roh tingkat tinggi, pil obat langka, dan bahkan peta rahasia jalan pintas!
Perjalanan Dimulai
Tiga hari kemudian.
Di gerbang luar Kota Hujan Jernih.
Chen Si berdiri di atas sebuah awan emas yang ia ciptakan sendiri. Di belakangnya, terdapat sebuah kereta kencana besar yang ditarik oleh sembilan ekor Burung Vermilion hasil rampokan dari Jenderal Wei.
Di dalam kereta terdapat Leng Tian, Murong Zhan, dan tumpukan harta benda yang tak terhitung jumlahnya.
Jenderal Wei sendiri yang datang mengantar sampai ke perbatasan kota dengan sikap paling hormat.
"Semoga perjalanan Yang Mulia lancar. Jika sampai di ibu kota nanti, silakan cari hamba, hamba akan mempersiapkan penyambutan terbaik!"
Chen Si hanya melambaikan tangan. "Ya ya. Pergilah. Jangan ganggu aku."
WUSH!
Kendaraan raksasa itu melesat pergi meninggalkan jejak cahaya warna-warni, menembus awan menuju arah pusat benua!
Di Dalam Kereta
Chen Si duduk bersila di ruang utama kereta, matanya tertutup rapat. Energi di luar sana sangat padat dan liar, ia menyerapnya terus-menerus.
"Jadi ini jalan menuju Ibu Kota ya..." bisik Chen Si dalam hati. "Aku bisa merasakan ada banyak aura kuat tersembunyi di sepanjang jalan. Hutan belantara ini ternyata sarang monster."
Tiba-tiba, Chen Si membuka mata. Matanya menyala tajam.
"Hmm? Ada yang mencoba mengintai kita sejak tadi lima menit lalu. Sepertinya bukan perampok biasa..."
Di luar kereta, jauh di dalam hutan lebat yang mereka lewati, sepasang mata hijau menyala menyala mengikuti pergerakan kereta Chen Si.