Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35 - MHB
Pagi harinya, apartemen lantai 28 terasa seperti sebuah makam yang luas. Ketika Maya membuka pintu kamarnya dengan mata yang bengkak dan hati yang diselimuti penyesalan mendalam, ia hanya menemukan kehampaan. Kamar Arka terbuka lebar, rapi, dan kosong. Tidak ada laptop yang menyala, tidak ada aroma kopi, dan yang paling memukul hatinya: gelang emas putih pemberian Arka tergeletak begitu saja di atas meja marmer dapur, tepat di samping tumpukan dokumen dokumen sialan dari rumah ayahnya.
Arka pergi. Dia benar-benar pergi setelah ketulusannya diinjak-injak.
Panik mulai merayap di dada Maya. Sifat mandiri dan logisnya yang biasa ia agungkan mendadak lumpuh. Dengan tangan gemetar, ia membuka ponselnya. Ia mulai berselancar di media sosial, melacak akun teman-teman kuliah Arka, tim basketnya, bahkan akun milik Ghea yang paling ia benci sekalipun. Maya berharap ada satu unggahan kecil, satu tanda, atau lokasi yang menunjukkan di mana suaminya berada. Namun nihil. Arka Pradipta adalah seorang peretas jenius; jika dia memilih untuk menghilang dari dunia digital, maka tidak akan ada satu orang pun yang bisa melacaknya.
Aku sudah keterlaluan, batin Maya, meremas ponselnya ke dada. Aku menghancurkan hatinya.
Di tengah keputusasaan itu, ponsel di genggamannya tiba-tiba bergetar hebat. Sebuah nama berkedip di layar: Ibu Rosa (Mama Mertua). Jantung Maya serasa melompat ke tenggorokan. Dengan gugup, ia menggeser tombol hijau.
"Halo, Ibu... Selamat pagi," ucap Maya, mencoba menahan suaranya agar tidak terdengar serak habis menangis.
"Halo, Maya Sayang! Selamat pagi," suara Rosa terdengar begitu ceria dan hangat di seberang telepon, kontras dengan badai yang sedang dialami Maya. "Maya, Mama telepon cuma mau bilang terima kasih banyak ya, Nak."
Maya mengernyitkan keningnya, bingung. "Terima kasih? Untuk apa ya, Bu?"
"Aduh, kamu jangan merendah begitu. Mama tahu ini pasti semua karena pengaruh kamu. Papa sampai sujud syukur tadi pagi di ruang kerja," Rosa tertawa kecil. "Pagi-pagi sekali, Arka datang ke rumah besar. Dia bilang dia mau menyerah dan resmi masuk ke pradipta Group. Dia siap memimpin divisi keamanan siber dan inovasi baru yang selama ini ditawarkan Papanya. Mama sampai kaget! Makanya Mama mau tanya, jamu apa yang kamu kasih ke Arka sampai anak keras kepala itu akhirnya mau nurut sama Papanya? Biasanya kalau dipaksa Papa, dia pasti kabur."
Haa... maksud Ibu, Arka sekarang bekerja di perusahaan ayah?
Maya membeku di tempatnya berdiri. Lidahnya mendadak kelu. Pikirannya langsung melayang ke percakapan hebat mereka beberapa jam lalu di meja makan.
“Di matamu, aku masih cuma bajingan yang sedang menjalankan tugas perusahaan?... Kamu pikir aku meretas karena perintah Papa? Aku melakukan karena aku ingin membuktikan kalau aku layak berdiri di sampingmu, Maya! Bukan sebagai anak pradipta, tapi sebagai suamimu!”
Kata-kata itu menghantam Maya berulang kali. Arka sengaja masuk ke pradipta Group bukan karena dia menyerah pada ayahnya, melainkan karena kata-kata kejam Maya yang menuduhnya sebagai bidak transaksi. Arka ingin membuktikan, secara legal dan di atas altar korporat tertinggi, bahwa dia bisa menghancurkan pemeras itu dan mengamankan posisi Maya dengan kekuasaannya sendiri—bukan dengan cara sembunyi-sembunyi yang dicurigai istrinya.
Sebelum Maya sempat mencerna rasa syoknya, suara Rosa kembali terdengar, "Oh iya, Maya. Kamu sekarang lagi di rumah ayahmu, ya? Soalnya tadi Arka bilang ke Mama, katanya kamu izin pulang ke rumah ayahmu untuk beberapa hari karena beliau sedang sakit. Makanya Arka tinggal di rumah Mama dulu sementara waktu."
Haa?! Maya kembali terkejut di dalam hatinya. Dasar si Arka itu! Bahkan dalam keadaan terluka dan patah hati, dia masih sempat-sempatnya membuat kebohongan yang rapi demi melindungi nama baikku di depan ibunya sendiri. Dia tidak mau ibunya tahu kalau kami sedang bertengkar hebat.
Maya berdeham, mencoba menguasai dirinya yang hampir menangis lagi karena kebaikan Arka. "O-oh... iya, Bu. Betul. Papa memang sedang agak kurang sehat kemarin, jadi saya izin pulang dulu ke rumah Papa beberapa hari."
"kalau begitu mama suruh arka nginap di situ, supaya.bisa jagain kamu"
" Jangan bu, biarkan arka kerja di perusahaan ayah dulu" ucap maya lembut.
"Ya sudah kalau begitu, titip salam buat Pak baskoro ya, Nak. Kamu jaga kesehatan juga. Mama senang sekali karena pernikahan kalian membawa perubahan besar buat Arka. Dia kelihatan sangat dewasa tadi pagi, walaupun agak pucat dan lebih banyak diam. Ya sudah, Mama tutup dulu ya, Sayang."
"Iya, Ibu. Terima kasih banyak."
Setelah panggilan terputus, Maya terduduk di lantai apartemen. Rasa bersalahnya kini bertumpuk-tumpuk hingga membuatnya sesak napas. Arka mengorbankan idealismenya, mengorbankan egonya yang selama ini menolak nama besar pradipta Group, hanya untuk membuktikan ketulusannya yang telah diragukan oleh Maya.
Siang harinya, ego Maya sebagai wanita mandiri yang kaku benar-benar runtuh. Ia tidak bisa bekerja di kantornya sendiri. Pikirannya dipenuhi oleh Arka. Menggunakan taksi agar tidak meninggalkan jejak kendaraan, Maya datang ke gedung pencakar langit berlogo pradipta Group—gedung nomor satu di pusat bisnis Jakarta yang biasanya hanya ia lihat dari jauh.
Ia menyamar menggunakan kacamata hitam besar dan syal yang menutupi sebagian wajahnya, berdiri di sudut lobi lantai mezanin yang ramai oleh hilir mudik para eksekutif muda dan staf korporat kelas atas. Dari ketinggian mezanin, Maya bisa melihat ke arah atrium utama.
Tiba-tiba, suasana lobi utama menjadi agak formal saat sekelompok pria berjas hitam berjalan keluar dari lift eksekutif. Di tengah-tengah mereka, berjalan sang penguasa, Haryo pradipta, bersama sang istri, Rosa. Namun, pandangan Maya langsung terkunci pada pria muda yang berjalan di samping mereka.
Itu Arka.
Namun, itu bukan Arka yang memakai piyama berantakan, bukan pula Arka kasual yang ia lihat di kampus. Arka mengenakan setelan jas tiga potong (three-piece suit) berwarna hitam legam yang dijahit sempurna mengikuti lekuk tubuhnya yang tegap. Kemeja putihnya dikancingkan hingga kerah tertinggi dengan dasi sutra hitam yang rapi. Rambutnya ditata ke belakang, memperlihatkan dahi dan garis rahangnya yang tajam tanpa ampun.
Aura "Baby Tiger" benar-benar telah mati, digantikan oleh sosok singa muda pewaris takhta yang memancarkan karisma yang begitu dingin, megah, dan mengintimidasi. Ia berjalan dengan langkah konfiden, mendengarkan paparan dari beberapa direktur senior di belakangnya dengan wajah datar tanpa senyum.
Dia... luar biasa berkarisma, batin Maya, tangannya meremas pagar pembatas mezanin. Dadanya berdenyut menyakitkan. Pria berkarisma yang ditakuti dan dihormati oleh seisi gedung ini adalah pria yang semalam ia usir dari apartemennya. Pria ini adalah suaminya, yang rela melepaskan kebebasannya demi sebuah pembuktian cinta yang terluka.
Maya menatap wajah Arka dari jauh. Ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, menunjukkan bahwa dia benar-benar tidak tidur semalaman. Wajahnya begitu kaku, tidak ada lagi kehangatan yang biasa ia berikan pada Maya. Maya merindukan Arka yang menyebalkan. Ia merindukan godaan tentang sereal. Melihat Arka yang sekarang, Maya merasa pria itu berada di dunia yang sangat jauh dan tak terjangkau olehnya.
Namun, tanpa sepengetahuan Maya, sepasang mata tua yang tajam milik ayah mertuanya, dan mata lembut milik ibu mertuanya, tidak sengaja menangkap sosok wanita yang mengenakan kacamata hitam di lantai mezanin itu. haryo dan Rosa menghentikan langkah mereka sejenak, menatap ke arah Maya yang sedang memandang Arka dengan tatapan penuh kerinduan dan penyesalan.
Haryo dan Rosa saling lirik, lalu menggeleng-gelengkan kepala mereka secara bersamaan dengan senyum tipis di bibir mereka. Mereka tahu persis siapa wanita itu, dan mereka tahu anak dan menantu mereka sedang terlibat dalam drama domestik anak muda.
"Dasar ya, Pa... anak muda zaman sekarang," bisik Rosa sambil menyenggol pelan lengan suaminya, nadanya penuh geli namun sayang. "Masih aja gengsi-gengsian. Yang satu bela-belain masuk perusahaan demi membuktikan diri, yang satu malah ngintip dari jauh kayak agen rahasia."
Haryo hanya terkekeh kecil, memperbaiki posisi jasnya. "Biarkan saja, Ma. Biar Arka belajar jadi pria dewasa yang sesungguhnya. Dan biar menantu kita itu sadar, kalau anak kita itu bukan cuma bocah magang biasa yang bisa dia abaikan begitu saja."
Sementara orang tuanya berbisik di belakang, Arka terus berjalan ke depan, matanya menatap lurus ke pintu keluar gedung. Dia tidak tahu bahwa wanita yang membuatnya patah hati semalaman berada hanya beberapa puluh meter di atas kepalanya, sedang menatapnya dengan air mata yang kembali merebak di balik kacamata hitamnya.
Bersambung.....
pasti capek menghadapi keegoisan maya....
tinggalen ae ka...
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡