NovelToon NovelToon
Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

​Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
​Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
​[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
​Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Belum Usai, Sudah Datang Lagi

Siang yang mendung itu, Darren disibukkan dengan aktivitas menata tumpukan dokumen yang berserakan di atas meja kerjanya. Berbagai proposal proyek, laporan keuangan bulanan, hingga draf surat kontrak berjejer rapi, namun keberadaan benda-benda itu justru membuat kepalanya terasa pening. Dirinya benar-benar lupa bahwa hari ini terdapat janji temu dengan seseorang pada pukul dua siang. Data mengenai klien potensial itu sebenarnya sudah dikirimkan oleh Seo yeon sejak seminggu yang lalu, akan tetapi Darren tidak sempat membaca rinciannya secara lanjut. Akibatnya, informasi yang dia kantongi hanyalah fakta bahwa orang ini berniat menanamkan investasi dalam jumlah yang sangat masif.

Khawatir akan datang terlambat, Darren segera merapikan jasnya dengan terburu-buru, menyambar kunci mobil dan berlari menuju area parkir. Budi yang sedang asyik membersihkan mobil sedan hitam milik kantor tampak terkejut melihat kedatangan bosnya yang terengah-engah.

“Bos, mau ke mana buru-buru begitu? Biar aku yang antar saja,” tawar Budi sembari menghentikan aktivitasnya.

“Nggak usah. Aku berangkat sendiri saja. Kamu lanjutkan saja membersihkan mobil ini sampai mengkilap,” jawab Darren sembari masuk ke kursi pengemudi.

Mobil segera melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan area gedung perkantoran. Darren sama sekali tidak memedulikan Budi yang hanya bisa berdiri diam sembari menggelengkan kepala melihat ulah sahabatnya yang mendadak tidak sabaran itu.

Lokasi pertemuan berada di sebuah kafe elit yang terletak di kawasan SCBD. Darren tiba tepat pada pukul dua siang, namun keadaan di sana begitu sepi dan tidak ada siapa pun yang menunggu di meja yang telah dipesan atas namanya. Lantas dirinya memilih untuk duduk sembari membuka laptopnya, mencoba tetap produktif meskipun hatinya mulai merasa kesal. Sudah hampir lima belas menit berlalu, namun orang yang dinantinya belum juga menunjukkan batang hidungnya.

“Dasar orang sibuk. Janji jam dua, sekarang jam dua lewat lima belas menit belum muncul juga,” pikir Darren sembari menatap arloji di pergelangan tangannya.

Sembari menunggu, dia memutuskan untuk membuka file rahasia mengenai William. Target besar berikutnya, seorang pengusaha tambang dengan utang keberuntungan mencapai Rp120 miliar. Mata Darren melakukan pemindaian cepat pada seluruh informasi mengenai pria itu yang berhasil dikumpulkan tim risetnya.

Pintu kafe mendadak terbuka. Seseorang masuk dengan cara berjalan yang sangat mantap dan berwibawa.

“Maaf, saya benar-benar minta maaf karena terlambat. Rapat saya sebelumnya berlangsung lebih lama dari perkiraan,” ucap pria itu sembari mendekat.

Darren pun mengangkat wajahnya dari layar laptop dan melihat seorang pria tampan dengan tinggi badan di atas rata-rata. Wajahnya memiliki fitur Asia yang tegas, namun sepasang matanya berwarna biru jernih, sebuah perpaduan genetik yang sangat tidak biasa, atau lumrah disebut blasteran. Rambutnya tersisir rapi, dipadukan dengan jas gelap yang membuat postur tubuhnya terlihat sangat proporsional.

Bagaiman Darren tidak membeku di tempatnya duduk? Bisa-bisanya pria di hadapannya saat ini adalah William Kusuma, target tagihannya yang baru saja dia pelajari datanya.

“William Kusuma,” pria itu memperkenalkan diri sembari menyodorkan tangan dengan ramah. “Saya sangat tertarik untuk berinvestasi di perusahaan yang sedang Anda rintis, Bapak Darren Wirawan.”

Darren menjabat tangan itu dengan gerakan yang kaku. “Aku tahu. Terima kasih banyak sudah bersedia meluangkan waktu untuk bertemu.”

Keduanya duduk saling berhadapan. William langsung menuju inti pembicaraan tanpa basa-basi yang berlebihan. Dia menjelaskan profil perusahaannya, alasan ketertarikannya pada sektor properti yang sedang Darren kembangkan, serta angka investasi yang ditawarkan. Jumlahnya sangat fantastis, jauh melampaui ekspektasi awal Darren.

Kendati demikian, Darren tidak mampu memfokuskan perhatiannya secara penuh. Pikirannya mendadak kacau akibat mencoba mengaktifkan sistem secara diam-diam untuk melihat detail data utang William yang lebih rinci demi memastikan langkah selanjutnya.

Layar transparan mendadak muncul di hadapan Darren, akan tetapi tampilannya tidak berjalan normal seperti biasanya. Angka-angka di layar melompat-lompat dengan liar dan tidak beraturan. Layar itu berkedip-kedip seolah sedang mengalami korsleting listrik yang parah. Seluruh informasi yang ditampilkan sangat tidak stabil.

“Apa-apaan ini? Kenapa sistemnya malah error begini? Ini pertama kalinya terjadi. Jika begini, bagaimana aku menagihnya?” batin Darren sembari menatap kosong ke arah depan dengan kepanikan yang tersembunyi.

“Pak Darren? Anda tidak apa-apa?” tanya William, menyadarkannya dari lamunan.

Darren akhirnya sadar. “Maaf. Ada beberapa hal teknis yang mendadak mengganggu pikiran saya.”

Lantas William menyunggingkan senyum yang terlihat sangat tulus. “Tidak masalah. Saya mengerti bahwa ini adalah pertemuan yang cukup mendadak.”

Pria itu melanjutkan pemaparannya mengenai visi bisnis mereka ke depan. Hingga tiba pada satu kalimat yang membuat Darren merasa semakin tidak nyaman.

“Sejujurnya, saya sempat mengira akan bertemu langsung dengan Nona Han Seo yeon untuk membahas investasi besar ini. Namun, sepertinya Anda tidak kalah kompeten dibandingkan teman lama saya itu,” ujar William sembari menyesap kopinya.

Langsung saja Darren mengernyitkan kening. “Teman?”

William mengangkat alisnya sedikit. “Anda belum tahu? Seo yeon dan saya dulu pernah sangat dekat saat kami masih tinggal di Korea. Bisa dikatakan, kami pernah menjalin hubungan asmara, alias berpacaran.”

Darren terdiam seribu bahasa. Adapun William tampaknya tidak terlalu memedulikan reaksi Darren yang mendadak beku dan terus melanjutkan pembahasan bisnis hingga akhir pertemuan. Darren benar-benar hanya mampu menjawab sebisanya, sementara pikirannya sudah melayang entah ke mana.

Pertemuan itu akhirnya berakhir. Darren mengemudikan mobilnya pulang dalam kondisi sendirian. Hujan gerimis mulai turun membasahi kaca depan, membuat suasana jalanan terlihat semakin suram. Bilah wiper bergerak pelan, menyapu butiran air yang menempel di permukaan kaca dengan monoton.

Jika ditanya soal pikirannya? Sudah pasti masih dipenuhi oleh sosok William. Pria yang sempurna dengan mata biru yang menawan, tubuh tinggi, kekayaan melimpah, dan fakta bahwa dia adalah mantan kekasih Seo yeon.

“Kenapa gue jadi kepikiran terus soal itu? Itu kan masa lalu dan bukan urusan gue juga,” batin Darren sembari menghela napas panjang. Dia meringis kesal, merasa membenci dirinya sendiri karena mendadak didera rasa cemburu buta terhadap pria yang baru saja dikenalnya.

Ponsel di saku jasnya pun bergetar. Darren melirik layar yang menampilkan pesan singkat dari Seo yeon.

“Kamu ada di mana? Aku sekarang sedang di rumah makan dekat gedung kejaksaan. Tolong jemput aku di sini. Budi sedang tugas mengantar kedua orang tuaku ke bandara.”

Tanpa pikir panjang Darren segera memutar kemudi untuk membelokkan arah mobilnya menuju lokasi yang disebutkan. Sesampainya di depan rumah makan itu, dia melihat Seo yeon berdiri di emperan sembari menunggu. Alhasil Darren segera keluar dari mobil dengan membawa sebuah payung yang tersimpan di kursi belakang, lalu berlari kecil menghampiri wanita itu.

“Nona, sebaiknya segera masuk. Jangan sampai terkena air hujan,” katanya sembari membukakan pintu mobil dengan sigap.

Seo yeon masuk ke dalam kabin tanpa berujar sepatah kata pun, dan Darren menutup pintu, lalu segera kembali ke kursi pengemudi.

Mobil melaju dengan perlahan menembus rintik hujan yang kini mulai menderas saat Seo yeon duduk diam di kursi penumpang, pandangannya lurus menatap ke luar jendela yang mulai berembun. Begitu pula dengan Darren yang juga memilih untuk bungkam, memusatkan seluruh fokusnya pada kondisi jalanan.

Alhasil suasana di dalam kendaraan itu terasa sangat canggung.

“Bagaimana hasil pertemuanmu dengan William tadi?” tanya Seo yeon secara tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya.

Darren sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. “Pertemuan tadi berjalan baik dan lancar. Dia menunjukkan ketertarikan yang sangat besar untuk berinvestasi.”

“Ada hal lain?” tanya Seo yeon lagi.

“Hmm... tidak ada yang istimewa. Dia pria yang sangat profesional dan selalu langsung menuju inti permasalahan,” jawab Darren berusaha terdengar netral.

Seo yeon hanya memberikan anggukan sebagai tanggapan, tidak lagi melanjutkan pembicaraan, namun melalui kaca spion, Darren bisa melihat tatapan mata wanita itu seolah sedang mencari sesuatu dalam pikirannya. Darren terpaksa menggenggam setir dengan lebih erat. Bibirnya bergerak-gerak, ragu antara ingin bertanya atau tetap diam.

Akhirnya, dorongan rasa penasaran itu tidak lagi terbendung. “Nona Seo yeon... maaf jika ini terdengar kurang sopan. Tapi, tadi William sempat bercerita bahwa kalian dulu pernah berpacaran. Apakah hal itu benar?”

Keadaan langsung menjadi sangat senyap, membuat Darren segera menyesali pertanyaannya begitu kata-kata itu terlontar dari mulutnya. “Maafkan aku. Itu urusan pribadimu dan bukan wewenangku untuk bertanya. Jadi lupakan saja.”

Detik-detik yang berlalu terasa sangat lambat seperti jam yang berputar lambat karena bungkamnya wanita itu.

“Iya, itu benar,” jawab Seo yeon begitu datar, tanpa emosi sedikit pun. “Kejadian itu sudah lama sekali, saat kami masih duduk di bangku SMP.”

Darren tidak tahu harus memberikan respons seperti apa. Dia memilih untuk kembali fokus pada kemudi sementara mobil terus melaju membelah rintik hujan yang tidak kunjung reda.

“SMP? Berarti Wiliam seumuran Seo yeon? Wajahnya sudah dewasa sekali. Tapi jika dipikir-pikir... bukankah berarti itu cinta monyet?” gumam Darren dalam hati, mencoba menenangkan gejolak yang masih tersisa di dalam dadanya.

1
Bg Gofar
mantap gan
DanaBrekker: terima kasih 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!