NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Dimas sampai di kantor polisi tidak lama kemudian.

Seorang polisi langsung mengantarnya ke ruang pemeriksaan.

Di sana, seorang wanita berambut panjang duduk menunduk dengan wajah pucat dan tangan gemetar.

Wanita itu terlihat ketakutan sejak tadi.

“Untuk sementara dia kemungkinan pelakunya, Pak,” jelas salah satu polisi.

Dimas menatap wanita itu tajam tanpa bicara.

“Kami cek CCTV sepanjang jalan,” lanjut polisi itu lagi. “Mobil yang diduga menabrak istri Bapak sempat berhenti di sebuah rumah.”

Dimas mendengarkan serius.

“Pas kami datangi dan selidiki,” sambung polisi tersebut, “di rumah itu cuma ada wanita ini.”

Polisi itu membuka beberapa lembar berkas lagi.

“Dan menurut warga sekitar, dia memang tinggal sendirian.”

Dimas perlahan mendekat ke meja pemeriksaan lalu berdiri tepat di depan wanita itu.

Tatapannya dingin dan serius.

“Apa motif kamu menabrak istri saya?” tanyanya pelan.

Wanita itu langsung menunduk lebih dalam.

Dimas masih menatapnya tajam.

“Dan kenapa kamu malah kabur setelah itu?”

Wanita itu langsung menjawab terbata-bata.

“S-saya takut, Pak…”

Air matanya mulai jatuh pelan.

“Takut diminta pertanggungjawaban… takut dihajar massa…”

Dimas masih menatapnya tanpa banyak perubahan ekspresi.

Lalu ia kembali bertanya pelan namun tajam,

“Terus kenapa kamu lepas plat mobil?”

Wanita itu langsung diam.

“Dan kenapa kamu pakai masker?” lanjut Dimas sambil terus menatapnya serius.

Wanita itu langsung menangis kecil sambil menggeleng cepat.

“Saya panik, Pak…”

Dimas tetap diam menunggu jawaban.

“Pajak mobil saya mati,” katanya terbata. “Terus saya juga pernah kena tilang elektronik sebelumnya dan belum saya urus…”

Polisi di samping Dimas ikut memperhatikan.

“Saya takut ketahuan lagi di kamera,” lanjut wanita itu sambil sesekali mengusap air matanya. “Makanya platnya saya lepas… saya juga pakai masker.”

Salah satu polisi kemudian membuka data di layar komputer lalu mengangguk.

“Benar, Pak,” katanya. “Kendaraan ini memang pernah kena ETLE beberapa kali dan belum diselesaikan.”

Dimas akhirnya menghembuskan napas pelan.

Penjelasan itu terasa cukup masuk akal.

Setidaknya untuk sementara.

Karena sejak awal, pikirannya sempat jauh lebih buruk dari ini.

Ia sempat mengira ada seseorang yang sengaja ingin mencelakai Valeria.

Dimas kembali menatap wanita itu beberapa detik sebelum akhirnya berpaling ke arah polisi.

“Kalau kasus seperti ini… hukumannya bagaimana?”

Polisi itu menarik napas pelan lalu menjelaskan dengan tenang.

“Karena ini kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan korban luka berat dan pelaku sempat melarikan diri, tetap ada proses hukumnya, Pak.”

Dimas mendengarkan serius.

“Tapi sejauh ini kami belum menemukan indikasi unsur kesengajaan,” lanjut polisi tersebut. “Jadi sementara masuknya kelalaian dalam berkendara.”

Polisi itu juga menambahkan kalau sikap pelaku selama proses pemeriksaan nanti bisa memengaruhi pertimbangan hukum.

“Apalagi kalau ada itikad baik untuk bertanggung jawab terhadap korban.”

Dimas menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya pelan.

Setidaknya sekarang ia tahu kejadian itu kemungkinan memang kecelakaan biasa.

Bukan sesuatu yang sengaja direncanakan untuk mencelakai Valeria.

Setelah beberapa detik diam, Dimas akhirnya berkata pelan pada polisi,

“Saya serahkan semuanya sesuai prosedur hukum yang berlaku saja, Pak.”

Polisi itu mengangguk memahami.

“Saya sekarang lebih fokus ke pemulihan istri saya,” lanjut Dimas lelah. “Jadi tolong diproses sesuai aturan.”

Dimas akhirnya berdiri dari kursinya lalu mengangguk kecil pada polisi.

“Kalau ada perkembangan lagi, tolong kabari saya.”

“Siap, Pak.”

Tanpa banyak bicara lagi, Dimas segera pamit dan keluar dari kantor polisi itu.

Sementara itu—

Malam mulai turun saat Gilang menghentikan motornya di depan sebuah rumah tua dengan pagar besi berkarat.

Lampu terasnya redup.

Tempat yang sangat familiar baginya.

Rumah rentenir tempat ayahnya meninggalkan begitu banyak utang.

Gilang turun perlahan lalu masuk ke dalam sambil membawa sebuah tas kecil.

Beberapa pria yang sedang duduk merokok langsung menoleh ke arahnya.

“Ohh… anaknya Pak Rudi,” celetuk salah satu dari mereka.

Gilang tidak menjawab.

Tak lama kemudian seorang pria tua bertubuh besar keluar dari dalam rumah.

“Tumben datang malam-malam,” katanya sambil menyipitkan mata. “Mau nyicil lagi?”

Gilang membuka tasnya pelan lalu meletakkan beberapa bundel uang di atas meja.

“Saya mau lunasin semuanya.”

Beberapa orang di ruangan itu langsung tertawa kecil melihat tumpukan uang di atas meja.

“Nah gini kan enak,” celetuk salah satu pria sambil menyulut rokoknya.

“Jadi nggak perlu capek-capek lagi gedor rumah reot kalian tiap minggu.”

Orang-orang di sana kembali tertawa.

Namun Gilang hanya diam sambil menahan rahangnya mengeras.

Pria tua itu mulai menghitung uang di meja dengan wajah puas.

“Hm… lengkap.” Ia mengangguk kecil. “Akhirnya lunas juga utang bapakmu.”

Gilang langsung berbalik pergi begitu saja setelah urusan selesai.

Tidak ada pamit.

Tidak ada basa-basi.

Ia hanya keluar dari rumah itu lalu menyalakan motornya cepat.

Di sepanjang jalan malam yang mulai sepi, pikirannya kembali penuh.

Utang ayahnya lunas.

Masalah yang selama bertahun-tahun menghantui keluarganya akhirnya selesai begitu saja.

Tapi justru itu yang membuat Gilang semakin tidak tenang.

Kenapa Valeria bisa semudah itu memberinya uang sebanyak itu?

Hanya karena dirinya hamil?

Atau memang ada alasan lain yang belum ia tahu?

Sebenarnya siapa wanita itu?

Kenapa Valeria bicara seolah-olah sudah mengenalnya sejak lama?

Bahkan wanita itu tahu tentang ayahnya.

Tentang keluarganya.

Tentang hidupnya.

Padahal Gilang sendiri tidak pernah benar-benar bercerita apa pun.

Gilang akhirnya menghembuskan napas kasar lalu menggeleng sendiri, seolah malas memikirkan semuanya lebih jauh.

“Bodo amat lah…”

Tangannya menggenggam gas motor sedikit lebih kuat.

Apa pun alasan Valeria, yang jelas sekarang hidupnya berubah.

Utang ayahnya lunas.

Sekar bisa PKL dengan tenang.

Dan setelah sekian lama, Gilang merasa tidak sedang tenggelam.

“Anggap aja rezeki nomplok,” gumamnya pelan.

Lagipula, dirinya sudah terlalu lama hidup susah.

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!