NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Action / Wanita perkasa / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Komedi
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
​Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
​Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
​"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Revolusi Lidah Dan Demo Masak Anak Abah

​Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah jendela kristal besar itu membangunkan Alesia. Ia mengerjap, tangannya secara refleks meraba sisi ranjang di sebelahnya. Kosong. Hanya ada bekas lekukan di bantal dan aroma maskulin yang tertinggal—campuran kayu cendana dan bau keringat tipis yang entah kenapa tidak bikin mual.

​"Cih, udah kabur si Bambang. Takut gue piting lagi kali ya?" gumam Alesia sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.

​"Selamat pagi, Yang Mulia Permaisuri!"

​Alesia hampir saja melompat dari kasur saat melihat Lily sudah berdiri di dekat pintu bersama tiga pelayan lain yang membawa nampan perak.

​"Aduh, Neng Lily! Kaget gue. Kebiasaan deh lu muncul kayak jaelangkung," omel Alesia sambil mengucek matanya. "Si Magnus mana? Udah pergi?"

​"Yang Mulia Raja sudah berangkat ke balai pertemuan sejak fajar, Yang Mulia. Beliau berpesan agar Anda segera sarapan dan... bersiap," jawab Lily dengan nada bicara yang terdengar ragu.

​"Bersiap apaan? Mau diajak jalan-jalan ke Monas versi kerajaan ini?"

​"Bukan, Yang Mulia. Tapi... sarapan Anda sudah siap."

​Alesia melirik nampan yang diletakkan di atas meja. Isinya adalah semangkuk bubur putih pucat yang dihias selembar daun peterseli, sepotong roti tawar yang kerasnya seperti batu bata, dan segelas susu kambing yang baunya prengus.

​Alesia mengerutkan kening. Ia mengambil sendok perak, mencicipi bubur itu sedikit, lalu langsung menyemburkannya kembali ke lantai. Cuih!

​"Ini makanan apa tawas?! Hambar bener kayak janji manis mantan! Nggak ada rasa, nggak ada jiwanya!" protes Alesia kencang.

​"Ma-maaf, Yang Mulia. Itu adalah menu khusus pemulihan pasca keguguran yang disusun oleh Tabib Utama dan diawasi oleh Kepala Pelayan Martha," jelas Lily dengan kepala menunduk.

​"Tabib Utama lagi? Itu orang beneran kudu gue ganti matanya pakai biji kelereng! Masak orang sakit dikasih makanan hambar begini. Yang ada malah makin tipus gue!" Alesia bangkit dari kasur, menyambar jubah tidurnya yang berbahan sutra, lalu mengikatnya asal-asalan layaknya handuk setelah mandi.

​"Yang Mulia! Anda mau ke mana?"

​"Gue mau ke dapur! Gue mau liat siapa yang masak ini sampah. Ini mah kalau dikasih ke kucing di Rawa Belong juga kucingnya bakal demo!"

​"Tapi Yang Mulia, Permaisuri tidak boleh menginjakkan kaki di dapur! Itu melanggar etiket!" jerit Lily panik sambil mengekor di belakang Alesia yang melangkah lebar keluar kamar.

​Alesia tidak peduli. Sepanjang lorong istana yang megah, para pengawal dan pelayan yang berpapasan dengannya langsung mematung. Bagaimana tidak? Sang Permaisuri berjalan dengan langkah tegap, daster sutranya berkibar-ibar, dan wajahnya tertekuk seperti orang mau ngajak tawuran.

​Begitu sampai di pintu dapur kerajaan yang luasnya hampir sebesar lapangan futsal, Alesia langsung menendang pintunya. BRAK!

​"HEI! SIAPA KOKI KEPALA DI SINI?! KELUAR LU!" teriak Alesia menggelegar, membuat puluhan koki dan asistennya menjatuhkan alat masak mereka.

​Seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan topi tinggi melangkah maju. Wajahnya penuh lemak dan ekspresinya terlihat sangat tersinggung. "Saya Chef Gustaff, Yang Mulia. Ada apa dengan keributan ini? Dapur adalah area suci saya."

​"Area suci mata lu soak! Ini apa?" Alesia menyodorkan mangkuk bubur yang ia bawa. "Ini bubur apa lem kayu? Kenapa hambar bener? Lu kaga punya garem? Apa lu korupsi duit bumbu?"

​Chef Gustaff mendengus remeh. "Itu adalah standar nutrisi kerajaan untuk wanita lemah yang gagal menjaga kandungannya. Rasa yang kuat hanya akan merusak keseimbangan cairan tubuh Anda."

​Darah Alesia mendidih. "Wanita lemah? Lu bilang gue lemah?! Denger ya, Gustaff... atau siapa pun nama lu. Gue ini anak jawara. Makanan itu adalah bahan bakar buat petarung. Kalau bahan bakarnya busuk begini, gimana mau sehat?!"

​"Saya hanya menerima perintah dari Tabib Utama dan Selir Agung," sahut Gustaff angkuh.

​"Oalah... jadi lu antek-anteknya gundik itu juga?" Alesia menyingsingkan lengan bajunya. "Geser lu! Biar gue yang masak sendiri!"

​"Apa?! Anda mau memasak? Jangan konyol, Yang Mulia. Tangan halus Anda tidak akan bisa memegang pisau dapur kami yang berat," ejek Gustaff disertai tawa kecil para asistennya.

​Alesia menyeringai tipis. Ia berjalan ke arah talenan besar, mengambil sebuah pisau daging yang sangat besar dan berat. Dengan gerakan kilat, ia memutar pisau itu di sela jarinya—teknik permainan golok yang diajarkan Abahnya—lalu JLEB! Pisau itu tertancap dalam di meja kayu tepat satu senti dari jari tangan Gustaff.

​Tawa di dapur itu langsung lenyap. Gustaff gemetaran, wajahnya pucat pasi.

​"Eh, denger ya. Lu kaga tau siapa gue? Gue bisa nyincang bawang secepat gue nyincang musuh gue," desis Alesia. "Lily! Cariin gue bawang merah, bawang putih, cabai yang paling pedas, garem, sama terasi kalau ada!"

​"Ter... terasi apa, Yang Mulia?" tanya Lily bingung.

​"Ah, udahlah, cari bumbu yang baunya menyengat tapi enak! Cepetan!"

​Selama satu jam berikutnya, dapur kerajaan berubah menjadi medan pertunjukan. Alesia bergerak lincah. Ia mengulek bumbu dengan gerakan bertenaga, tumisannya menimbulkan aroma harum yang luar biasa kuat—sesuatu yang belum pernah tercium di istana yang biasanya hanya mencium aroma mentega dan kaldu hambar.

​"Ini namanya Sambal Korek Ayam Suwir!" seru Alesia sambil mengoseng daging ayam di atas wajan besar. "Dan ini, sayur bening bayam pakai kunci, biar seger!"

​Aroma pedas dan gurih itu merayap keluar dapur, melewati lorong-lorong, hingga mencapai hidung Raja Magnus yang sedang berjalan menuju ruang makan bersama beberapa menteri dan Jenderal perang.

​"Aroma apa ini? Sangat menyengat tapi membuat lapar," tanya Jenderal Alaric, seorang pria tua yang gagah.

​Magnus mengernyit. "Aromanya datang dari arah dapur. Mari kita lihat."

​Begitu mereka sampai di dapur, pemandangan yang tersaji membuat semua menteri melongo. Sang Permaisuri sedang berdiri di depan tungku besar, wajahnya sedikit cemong karena jelaga, rambutnya diikat asal ke atas, dan ia sedang asyik mencicipi masakan dari sutil kayu.

​"Nah, ini baru namanya makanan! Gurihnya dapet, pedesnya nampol!" ujar Alesia puas.

​"Alessia!" suara bariton Magnus menginterupsi.

​Alesia menoleh, sutil masih di tangan. "Eh, Bang Magnus! Pas bener lu dateng. Sini, sini! Cobain nih masakan bini lu. Lu pasti bosen kan tiap hari makan makanan yang rasanya kayak kertas basah?"

​Magnus mendekat dengan wajah kaku, diikuti para menteri yang ketakutan. "Apa yang kau lakukan di sini? Kau memegang pisau? Kau memasak? Ini benar-benar tidak pantas!"

​"Pantas atau kaga, yang penting perut kenyang, hati senang!" Alesia mengambil piring kecil, meletakkan sesuap nasi dan ayam suwir pedasnya, lalu menyodorkannya ke depan mulut Magnus. "Ayo, buka mulut. Aaaa... jangan malu-malu, kayak perawan mau lamaran aja lu!"

​Para menteri menutup mata. Berani sekali wanita ini menyuapi Raja dengan cara sekasar itu!

​Magnus sempat ragu melihat cabai merah yang melimpah di piring itu. Namun, aroma yang menggoda mengalahkan logikanya. Ia membuka mulut dan menerima suapan Alesia.

​Seketika, mata Magnus melebar. Sensasi panas merayap di lidahnya, diikuti ledakan rasa gurih dan segar yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. Jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena marah, tapi karena rasa makanan itu benar-benar "membangunkan" indranya.

​"Bagaimana? Mantap kan?" tanya Alesia bangga.

​"Ini... sangat pedas. Tapi... kenapa aku ingin lagi?" gumam Magnus jujur.

​"Itu namanya kenikmatan hakiki, Bang!" Alesia kemudian menoleh ke arah Chef Gustaff yang masih mematung. "Denger lu, Gendut! Mulai besok, menu gue harus ada rasanya. Kalau gue dikasih bubur tawas lagi, pisau ini bukan mampir di meja, tapi mampir di kumis lu! Paham?!"

​Gustaff langsung sujud syukur. "Pa-paham, Yang Mulia!"

​Alesia kembali menatap Magnus yang masih sibuk mengelap bibirnya karena kepedasan. "Tuh kan, Bang. Hidup itu butuh bumbu. Sama kayak hubungan kita, kalau kaku mulu ya hambar. Sekarang, gue mau makan di taman. Lu mau ikut kagak? Tapi inget, makannya pakai tangan ya, biar lebih afdhal!"

​Magnus menatap Jenderal Alaric dan para menteri yang menahan tawa, lalu kembali menatap istrinya yang barbar namun tampak sangat cantik dengan keringat di dahinya.

​"Baiklah. Aku akan menemanimu," jawab Magnus pelan, yang langsung membuat seisi dapur geger. Raja Magnus, sang penguasa dingin, mau makan di taman dengan cara lesehan?

​"Nah, gitu dong! Ayo, Lily, bawa bakul nasinya! Kita gelar tiker di taman!" seru Alesia riang sambil menarik tangan Magnus, tidak peduli dengan protokoler kerajaan yang sudah ia injak-injak hari itu.

​Namun di sudut bayangan dapur, seorang pelayan kepercayaan Selir Rose mengamati semuanya dengan tatapan benci. Ia segera pergi untuk melaporkan bahwa sang Permaisuri kini bukan hanya punya jurus bela diri, tapi juga punya cara baru untuk "menyihir" lidah sang Raja.

1
Ika Fitri Ana
lanjut....👍👍👍
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Pawon Ana
si Siti ini devinisi genius jalanan...,🥰
Ariska Kamisa: terimakasih banyak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Muft Smoker
aduuuuh koq ibu suriii begini amat sifat ny jelek ,, kaya sofa lama Blum di ganti kulit ny ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: /Grin//Proud//Proud/
total 2 replies
Muft Smoker
awaas ekoor ny terbang alessia🤭🤭🤣🤣🤣
Muft Smoker
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Muft Smoker
enk banget kasih nama orang ,, kasihan si naga takut gx terima jenggot ny di samain ma si kael ikan ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: yx bnr ad aja ide nama yg selalu muncul di luar kepala ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣
total 2 replies
Muft Smoker
astgaaa permaisuri senjata ny goloook ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ,, siap2 jdi kurus anda gustaf🤭🤭🤭🤭🤭🤭 ,, permaisuri gx bisa d tindas lgiiii😏😏😏😏
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Muft Smoker
ni nama ny permaisuri jaman emansipasi🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
Muft Smoker
lanjuut kak
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Muft Smoker
raja di panggil abank🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣 ,, catatan baru dlm sejarah ini ,,
Muft Smoker: bnr kak ,, anak abaaah di lawan 🤭🤭🤭🤣🤣🤣
total 4 replies
Muft Smoker
kak baru bab awal loo tp udh seruuu liat tingkat alessi yg apa adany ,,
semangat trus ya kak nulis ny
Muft Smoker: sama2 kak
total 2 replies
Muft Smoker
💯 buat lily🤭🤭🤭🤭
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Muft Smoker
duuh korban tabrak lari gerobak gorengan🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣


hai kak ,,
aq mampir ksniii
Muft Smoker: sama2 kak
total 2 replies
Hasnawiyah Ansar
iya bener sekali tebakan anda
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
lucuk, keren, gerrrrr banget /Joyful/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
baru bab satu aja udah kocaggh banget🤣
Ariska Kamisa: Terimakasih,
stay read kak🙏🙏🙏
total 1 replies
Pawon Ana
ini krakter anak Betawinya positif thinking ya tipenya....jadi asyik orangnya...🤭✌️
Ariska Kamisa: dia anak bae bae kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ika Fitri Ana
semua ceritanya bagus..simpel tidak berbelit...jadi tidak membosankan cerita2nya....rekomend banget.
Ika Fitri Ana
semangat ..bagus ceritanya..semoga tetap menarik seperti cerita lainnya thor...👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih banyak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!