NovelToon NovelToon
Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Romantis / Cintamanis
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)

•••

Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.

Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.

Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Kembali ke rutinitas

Hari berikutnya, suasana kampus kembali ramai seperti biasa. Di antara keramaian itu, sebuah motor masuk ke area parkir lalu berhenti.

Anindia dan Keanu baru saja tiba di kampus. Anindia turun lebih dulu, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Sementara Keanu ikut turun dan melepas helmnya dengan santai.

Keanu tidak langsung beranjak. Ia justru bersandar ringan di motornya, tatapannya tertuju pada Anindia tanpa berpindah sedikitpun. Ada senyum kecil yang muncul di wajahnya, cukup lama seperti disengaja.

Anindia yang baru saja merapikan tasnya langsung merasa aneh sendiri. Ia menoleh ke arah Keanu sekilas, lalu buru-buru mengalihkan pandangannya.

"Kenapa, Mas?" Tanya Anindia pelan, berusaha terdengar biasa saja meski jelas terdengar sedikit salting dari nada suaranya.

Keanu hanya menghela nafas pelan, senyumnya masih belum hilang. "Gak apa-apa," jawab Keanu santai. "Cuma lagi mikir aja."

Anindia mengernyit kecil, semakin diperhatikan tanpa alasan yang jelas. Sementara Keanu tetap di sana, menatap istrinya tanpa berpaling sedikitpun.

Anindia akhirnya menoleh sepenuhnya ke arah Keanu. Alisnya sedikit terangkat karena merasa aneh dengan tatapan suaminya itu.

"Mikir apa sih, Mas?" Tanya Anindia sedikit penasaran.

Keanu tidak langsung menjawab. Ia justru menegakkan sedikit tubuhnya, menatap Anindia lebih serius. "Dengerin, ya?" Ujarnya santai.

Anindia memperhatikan, sementara Keanu menghela nafas sebentar. "Jalan-jalan bareng Lulu, pulangnya beli batik. Aku sih mikirin kamu melulu, semakin lama semakin cantik."

Hening sesaat, lalu Anindia terkekeh pelan. Tangannya refleks menutup sedikit mulutnya karena tidak menyangka Keanu tiba-tiba berpantun seperti itu.

"Mas," ujar Anindia di sela tawanya. "Kamu jurusan bisnis, lho. Belajar pantun dari mana, sih?"

Keanu mengangkat bahu santai, seutas senyum tipis terukir di wajahnya. "Bisnis itu butuh kreativitas," jawabnya santai. "Termasuk cari cara biar istri sendiri selalu senyum."

Anindia semakin tertawa, benar-benar tidak menyangka bahwa pagi itu akan dimulai dengan gombalan dari suaminya. Refleks, Anindia memukul pelan lengan Keanu.

Anindia berujar dengan gelengan kecil. "Iya deh si raja gombal."

Keanu ikut terkekeh. Lalu, ia memiringkan sedikit kepalanya, seolah menikmati reaksi Anindia yang jelas sudah salah tingkah sejak tadi.

"Kalau raja gombal dapat bonus senyum kamu, aku gak keberatan jadi raja tiap hari." Balas Keanu ringan.

Anindia hanya menanggapinya dengan senyum yang tertahan. Setelahnya, keduanya melangkah bersama meninggalkan area parkir.

Suara langkah mereka berpadu dengan ramainya area kampus yang mulai terlihat di depan. Gedung-gedung fakultas berdiri dengan aktivitas mahasiswa yang sudah mulai padat.

Keanu memasukkan satu tangannya ke saku, melirik sekilas ke arah Anindia. "Masih kepikiran, ya?" Tanyanya santai.

Anindia langsung menggeleng cepat, "Enggak."

Tapi jawaban itu justru membuat Keanu tersenyum lagi, seolah sudah tahu jawabannya dari awal. Mereka terus berjalan masuk, menyatu dengan keramaian pagi yang mulai mengisi hari mereka.

Di sela itu, pandangan Anindia tiba-tiba tertuju ke satu arah. Di dekat salah satu pilar gedung fakultas, ia melihat Ardy berdiri di sana.

Ardy berdiri diam, seolah memperhatikan. Tatapannya tertuju pada Anindia, namun ia hanya tersenyum dan mengangguk singkat. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung berbalik dan melangkah ke arah yang berbeda.

Anindia sempat diam sejenak, tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Sementara Keanu yang berjalan di sampingnya, menangkap momen itu dari sudut matanya.

Keanu sedikit mengernyit, lalu bergumam pelan. "Tumben."

Anindia langsung menoleh cepat. "Tumben apa, Mas?"

Keanu sempat terkekeh kecil, menggeleng pelan sambil kembali melangkah. "Bukan apa-apa."

Anindia masih terdiam di tempat, tatapannya mengikuti arah yang baru saja dilalui oleh Ardy. Hanya sekilas, cukup untuk menangkap sesuatu yang berbeda dari biasanya.

Perlahan, sudut bibirnya terangkat. Anindia menghela nafas pelan, lalu berlari kecil menyusul Keanu. "Mas," panggilnya.

Keanu menoleh sejenak, "Kenapa sayang?"

Anindia menyamakan langkahnya di samping Keanu. Ia menatap Keanu dengan ekspresi jahil yang tidak bisa ia sembunyikan. "Cemburu ya, Mas?" Godanya ringan.

Keanu langsung mengernyit, "Siapa yang cemburu?"

Anindia langsung terkekeh pelan, berasa berhasil memancing reaksi itu. Keanu sendiri hanya menggeleng pelan, tapi tidak bisa menyembunyikan senyum tipisnya.

Perlahan, ekspresi Anindia berubah serius. Langkahnya juga sedikit melambat di samping Keanu.

"Mas," Panggil Anindia pelan.

Keanu menoleh, "Iya."

Anindia menggenggam tali tasnya sejenak, seperti menimbang kata-kata yang ingin ia sampaikan. "Aku ada tugas kelompok nanti," ujarnya. "Katanya mau bahas di depan kafe kampus."

Anindia menatap Keanu, kali ini sedikit ragu. "Hmm, boleh tungguin aku gak, Mas?"

Keanu langsung mengangguk. "Boleh," ujarnya singkat. "Aku tungguin. Kabarin aku aja kalau udah selesai."

Anindia tersenyum mendengar jawaban Keanu. "Makasih ya, Mas."

Keanu hanya mengangguk singkat, lalu mengangkat tangan sedikit sebagai isyarat ringan sebelum melanjutkan langkahnya. "Aku duluan, ya. Jangan mikirin aku pas belajar nanti." Ujarnya penuh percaya diri.

Anindia terkekeh mendengar penuturan suaminya. Tanpa kata lagi, mereka berpisah ke arah yang berbeda, menuju tujuannya masing-masing.

Tiba di kelasnya, beberapa mahasiswa terlihat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Anindia baru saja duduk ketika empat orang temannya langsung menghampiri. Dua cowok dan dua cewek, anggota kelompok tugas yang sama.

Salah satu dari mereka menarik kursi, seorang pemuda berambut ikal. "Anin, nanti jadi kan kita bahas tugas kelompoknya di kafe depan?"

Salah seorang gadis langsung menambahkan, "Iya, kita udah sepakat kan jam-nya?"

Anindia mengangguk kecil sambil meletakkan laptopnya. "Iya, jadi kok." Jawabnya lembut.

Gadis yang lain tersenyum lega, "Oke, bagus. Kami takut kamu gak bisa."

Anindia hanya tersenyum tipis, "Tenang aja, aku usahain datang."

Salah satu gadis di kelompok itu tiba-tiba menopang dagu di meja sambil menatap Anindia dengan senyum usil. "Btw, Nindi," ujarnya santai. "Lo manis banget sih sama cowok lo. Tiap hari nempel terus kayak perangko."

Teman yang lain langsung terkekeh kecil. Anindia ikut tertawa pelan, tapi lebih karena canggung. Memang belum banyak yang tahu hubungannya dengan Keanu secara jelas di lingkungan kampus.

Anindia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga sekilas, lalu menjawab ringan. "Dia bukan cowokku." Ujarnya sengaja menggantung.

Salah satu pemuda di kelompok itu langsung menyeringai kecil, matanya berbinar seolah menemukan celah. "Oh... Berarti masih ada kesempatan dong?"

Anindia menoleh sekilas ke arah pemuda itu. Ekspresinya tetap tenang, tapi senyumnya berubah sedikit lebih lembut. "Tapi dia imamku."

Seketika, pemuda yang berbicara tadi langsung terdiam. Senyumnya perlahan menghilang, kata-kata itu seperti belati yang menusuk dadanya. Teman-teman yang lain saling pandang, jelas tidak menyangka dengan apa yang baru saja mereka dengar.

Suasana sempat hening sepersekian detik, sebelum salah satu gadis itu terkekeh pelan. "Wah, kena mental."

Pemuda yang lainnya berkedip beberapa kali, seperti baru memproses percakapan yang barusan terjadi. "Eh, maksudnya udah nikah?" Tanyanya ragu.

Anindia menatap mereka, lalu tersenyum tipis. "Iya," jawabnya singkat.

Pemuda yang tadi sempat berharap langsung menggaruk tengkuknya, lalu tertawa kecil menyembunyikan rasa canggungnya. "Waduh, pantesan."

Anindia hanya tersenyum menanggapinya. Setelahnya, mereka mulai membahas diskusi ringan yang akan mereka kerjakan hari ini.

Sementara itu, di sisi lain kampus, Kenai melangkah tenang menyusuri lorong gedung fakultas manajemen bisnis. Tangannya membawa beberapa lembar berkas yang sudah ia rapikan sejak pagi.

Keanu berhenti di depan sebuah ruangan dosen. Lalu, ia mengetuk pintu perlahan.

Tokk... Tokk... Tokk...

"Masuk," sahut suara dari dalam.

Keanu membuka pintu perlahan, lalu melangkah masuk dengan sopan. "Selamat pagi, Pak," ucapnya tenang sedikit membungkuk hormat.

Dosen itu menatap Keanu sejenak, lalu mengangguk pelan. "Sudah selesai tugasnya?" Ujarnya singkat.

"Iya Pak," jawab Keanu sembari menyerahkan berkas yang ia bawa.

Dosen itu menerimanya, lalu mulai membukanya satu per satu. Matanya bergerak cepat membaca isi laporan dan hasil analisis yang Keanu kerjakan.

"Duduk," ucap dosen itu.

Keanu menurut. Ia menarik kursi di depan meja dosen, lalu duduk dengan posisi tegak. Jemarinya saling bertaut di atas paha. Keringat tipis mulai muncul di pelipis, sesuatu yang jarang terjadi padanya.

Bukan karena tidak percaya diri. Tapi karena Keanu tahu bahwa dosen ini termasuk tipe yang cukup teliti dan tidak mudah puas dengan hasil yang asal-asalan.

Matanya sesekali melirik berkas di tangan dosen itu, menunggu reaksi sang dosen. Ruangan itu terasa sedikit lebih hening dari biasanya.

Brakk!

Tiba-tiba saja dosen itu memukul meja cukup keras, membuat Keanu langsung tersentak. Jantungnya seperti berhenti sepersekian detik.

"Apa-apaan ini?!" Suara dosen itu terdengar tegas, bahkan sedikit meninggi.

Keanu langsung menegakkan punggungnya, tangannya refleks mengepal di atas paha. Di kepalanya sudah terlintas revisi, atau kemungkinan tugasnya akan ditolak.

"Pak, saya-" Keanu mencoba bicara, tapi suaranya terpotong rasa was-was.

Namun sebelum ia sempat melanjutkan, dosen itu menghela nafas pelan. Tatapannya tertuju pada Keanu, seutas senyum tipis terukir di wajahnya.

"Bagus," ujar dosen itu singkat.

"Hah?" Suara itu keluar begitu saja dari mulut Keanu, seolah tidak mengerti.

Dosen itu kembali menatap lembar tugas di tangannya, lalu mengangguk kecil beberapa kali seolah merasa puas.

"Analisisnya rapi, cara kamu melihat kasusnya juga tidak dangkal. Ini sudah level mahasiswa yang mengerti arah, bukan sekedar mengerjakan."

Keanu masih diam di tempat, masih sedikit bingung dengan perubahan suasana yang terlalu cepat. Perlahan, Keanu menghela nafas pelan, seolah sadar bahwa dirinya baru saja diteror mental dalam beberapa detik terakhir.

Keanu mengusap ujung jarinya sejenak, lalu menatap dosen itu dengan tatapan sedikit lega. "Jujur, Pak," ujarnya pelan. "Tadi saya mengira tugas saya bakal ditolak."

"Kalau ditolak, saya tidak akan bilang bagus." Jawab dosen itu santai.

Keanu mengangguk kecil, sudut bibirnya ikut naik tipis. Dosen itu menutup berkasnya, lalu kembali menatap Keanu.

"Yang penting kamu paham apa yang kamu kerjakan. Jangan hanya bagus di atas kertas, tapi kamu sendiri tidak mengerti isinya," ujar dosen itu.

Keanu langsung mengangguk lebih serius. "Siap, Pak."

Dosen itu bersandar santai di kursinya, lalu mengangguk pelan. "Ya sudah, nanti nilai saya masukkan." Ujarnya tenang. "Tetap pertahankan, jangan menurun."

"Baik, Pak."

Dosen itu kemudian merapikan berkas-berkas di atas mejanya. "Kalau sudah, kamu boleh pergi."

Keanu berdiri dari kursinya, "Terima kasih, Pak."

"Ya," jawab dosen itu singkat tanpa menoleh lagi, sudah kembali fokus pada pekerjaannya.

Keanu melangkah mundur, lalu memutar badan dan keluar dari ruangan tersebut. Begitu pintu tertutup di belakangnya, Keanu kembali menghela nafas pelan.

"Gila, tadi hampir kena mental," gumam Keanu pelan, sebelum akhirnya kembali melangkah menuju kelasnya.

Keanu melangkah santai menyusuri koridor setelah keluar dari ruangan dosen. Pikirannya perlahan terasa lebih ringan dibanding beberapa menit sebelumnya.

Suasana kampus semakin ramai menjelang siang. Beberapa mahasiswa berlalu lalang membawa laptop dan buku masing-masing.

Tak lama kemudian, Keanu tiba di depan kelasnya. Ia melangkah masuk dengan tenang. Suara obrolan mahasiswa langsung terdengar memenuhi ruangan. Sebagian masih sibuk bercanda, sebagian lain mulai menyiapkan materi sebelum dosen datang.

Keanu melangkah menuju bangkunya. Ia menarik kursi perlahan, lalu duduk sambil meletakkan tasnya di samping meja.

Keanu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menghela nafas pelan. Tidak ada bayang-bayang masa lalu yang menghantui pikirannya seperti hari kemarin.

Untuk sesaat, keduanya memilih menjalani hari seperti mahasiswa pada umumnya. Dan mungkin, setelah semua yang sempat mengguncang pikiran mereka, rutinitas sederhana seperti ini justru menjadi hal yang paling menenangkan.

^^^Bersambung...^^^

1
Fadillah Ahmad
Kok, sepi sih, yang baca? Padahal Tulisan di Sinopsis-nya bagus loh? Rapi lagi. Kok sepi banget, ya?

Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih udah mampir, kak... Selamat membaca ya, semoga terhibur hehe😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!