NovelToon NovelToon
Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:841
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.

Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.

Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.

Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.

Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.

Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.

~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Namanya Ami

Kunjungan pertama Rasyid ke Kampung Lembah Embun tidak berjalan seperti biasanya.

Sebagai calon bupati muda yang sedang populer, Rasyid sudah terbiasa disambut hangat di berbagai desa. Warga biasanya berebut bersalaman, meminta foto, bahkan langsung memuji program-programnya sebelum sempat dijelaskan.

Namun tidak di Lembah Embun.

Suasana balai kampung terasa lebih dingin dan hati-hati. Warga memang datang, tetapi banyak yang hanya diam memperhatikan. Beberapa bahkan tampak ragu ketika tim sukses Rasyid mulai membagikan brosur dan memasang spanduk.

Dan di tengah kerumunan itu, berdirilah seorang perempuan muda. Ia terlihat sederhana. Tidak mencolok. Mengenakan pakaian polos dengan rambut yang diikat seadanya.

Tetapi ketika sesi tanya jawab dimulai, perempuan itulah yang membuat seluruh suasana berubah.

“Kalau nanti Bapak benar jadi bupati,” katanya tenang sambil memegang mikrofon, “Bagaimana jaminannya kalau jalan ke Lembah Embun benar-benar diperbaiki? Sebab calon sebelumnya juga pernah berjanji begitu.”

Balai kampung mendadak sunyi. Tim sukses Rasyid saling berpandangan. Biasanya masyarakat segan bertanya setegas itu di depan umum.

Namun perempuan itu belum selesai. “Dan soal pupuk untuk petani, apakah ada kepastian distribusinya tidak berhenti di tengkulak? Karena selama ini bantuan sering tidak sampai ke warga kecil.” pertanyaannya tepat sasaran.

Rasyid yang awalnya hanya tersenyum formal mulai memperhatikan perempuan itu lebih serius. Untuk pertama kalinya selama masa kampanye, ada seseorang yang tidak sibuk memuji atau mencari muka di hadapannya.

Perempuan itu benar-benar memikirkan kampungnya. “Boleh saya tahu siapa nama Mbak?” tanya Rasyid setelah sesi berakhir.

“Farmita Utami,” jawabnya singkat. “Orang sini biasa panggil Ami.”

Nama itu melekat begitu saja di kepala Rasyid.

Ami tidak menunjukkan sikap kagum sedikit pun. Setelah acara selesai, gadis itu justru membantu membereskan kursi bersama warga lain seolah kehadiran calon bupati bukan sesuatu yang istimewa.

Dan entah kenapa, justru itu yang membuat Rasyid terus memperhatikannya. Sebelum meninggalkan Lembah Embun, Rasyid diam-diam meminta salah satu stafnya mengatur pertemuan pribadi dengan Ami. Namun jawaban yang diterimanya membuatnya terdiam.

“Ami menolak, Pak.”

“Menolak?”

“Iya. Katanya kalau ada yang ingin dibahas, cukup saat pertemuan warga saja. Tidak perlu bertemu pribadi.”

Untuk pertama kalinya sejak terjun ke dunia politik, Rasyid ditolak bertemu oleh seorang perempuan. Dan anehnya bukannya tersinggung, ia justru semakin penasaran.

***

Malam itu, suasana posko pemenangan Rasyid masih ramai meski kunjungan ke Lembah Embun sudah selesai sejak sore tadi. Beberapa anggota tim sukses duduk mengelilingi meja panjang sambil mengevaluasi hasil kampanye hari itu.

“Secara umum bagus, Pak,” ujar salah satu staf media. “Cuma suasana di Lembah Embun memang agak susah dikendalikan.”

“Betul,” sahut yang lain. “Apalagi gara-gara perempuan tadi itu.”

“Yang namanya Ami, ya?” celetuk seseorang. “Berani sekali ngomong begitu di depan calon bupati.”

“Padahal biasanya warga lebih antusias,” lanjut salah satu staf media. “Kalau di tempat lain, orang-orang lebih fokus foto sama Pak Rasyid. Ibu-ibu juga ramai bercanda soal Pak Rasyid yang masih lajang.”

Ruangan dipenuhi tawa kecil. “Bahkan ada yang bilang siap memilih hanya karena Pak Rasyid tampan,” tambah yang lain sambil bercanda.

“Menurut saya sih lancang,” timpal yang lain. “Baru lulusan SMA saja gayanya seperti aktivis.”

“Ada-ada saja orang kampung sekarang,” ujar pria berkemeja biru sambil menyandarkan tubuhnya. “Dikasih perhatian malah menginterogasi.”

“Kalau orang seperti itu dibiarkan, nanti warga lain ikut-ikutan kritis. Lihat, kan, bagaimana warga begitu mengikuti apa yang dikatakannya."

Percakapan itu dipenuhi nada meremehkan. Namun sejak tadi Rasyid hanya diam sambil memperhatikan foto-foto dokumentasi kegiatan di tablet miliknya. Salah satu foto memperlihatkan Ami sedang berdiri memegang mikrofon dengan tatapan serius. Entah kenapa, wajah itu terus menarik perhatiannya.

“Menurut saya,” akhirnya Rasyid angkat bicara pelan, “dia tidak salah.”

Ruangan mendadak lebih tenang. Beberapa orang saling berpandangan. “Pak Rasyid… dia tadi jelas menjatuhkan suasana,” kata salah satu tim sukses hati-hati.

Rasyid menggeleng. “Tidak. Dia hanya menyampaikan keresahan warga.”

“Tapi caranya itu lho, Pak?”

“Justru saya lebih khawatir kalau masyarakat terlalu diam.” Kalimat itu membuat semua orang terdiam. Rasyid meletakkan tabletnya di atas meja lalu bersandar. “Di setiap kunjungan, saya lebih sering dipuji daripada dikritik. Semua bilang program saya bagus, semua setuju, semua mendukung.” Ia tersenyum tipis. “Padahal belum tentu.”

“Pemimpin itu bukan butuh orang yang selalu membenarkan,” lanjutnya. “Pemimpin butuh orang yang berani bilang kalau kebijakannya salah.”

Suasana ruangan berubah lebih serius.

“Perempuan tadi…” Rasyid menatap kembali foto Ami. “Dia kritis, tapi tetap sopan. Itu jarang.”

“Lho, kok bapak malah tertarik sama dia?” salah satu staf bercanda.

Beberapa orang ikut tertawa kecil. Namun Rasyid tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada foto Ami yang tampak sederhana di tengah warga Lembah Embun.

Lalu tanpa sadar ia berkata pelan, “Kalau semua orang di sekitar saya hanya pandai memuji, mungkin orang seperti dia memang yang paling saya butuhkan.”

Rasyid melanjutkan, “Sudah hampir sebulan kita keliling kampanye. Hampir di setiap tempat, orang lebih sibuk membahas usia saya, kharisma saya, atau status saya yang masih sendiri.” Ia tersenyum tipis, tetapi matanya tetap serius. “Padahal saya tidak ingin dipilih karena itu.”

Tidak ada yang menyela.

“Saya ingin masyarakat memilih karena mereka percaya pada program kerja saya. Karena mereka yakin daerah ini bisa berubah.”

Kalimat itu membuat suasana rapat menjadi jauh lebih serius dibanding sebelumnya.

Rasyid menatap satu per satu orang di ruangan itu. “Kita semua tahu kondisi daerah ini tidak baik-baik saja.” Ia membuka beberapa catatan di depannya. “Angka pengangguran naik. Distribusi pupuk bermasalah. Beberapa desa masih kesulitan akses jalan dan air bersih.” Suaranya terdengar berat. “Masalah seperti itu tidak akan selesai hanya dengan pencitraan.”

Ruangan benar-benar sunyi sekarang. Dan entah kenapa, pikiran Rasyid kembali tertuju pada Ami. Pada cara perempuan itu bertanya tanpa rasa takut. Tidak sibuk mengagumi dirinya seperti kebanyakan orang selama masa kampanye ini. Ami justru memaksanya berpikir sebagai calon pemimpin.

“Perempuan tadi…” ujar Rasyid pelan. Beberapa orang langsung tahu siapa yang dimaksud. “Ami itu mungkin satu-satunya orang hari ini yang benar-benar peduli apakah saya mampu bekerja atau tidak.”

***

Sejak pertemuan di Lembah Embun, nama Ami terus muncul di kepala Rasyid tanpa diminta.

Di sela rapat kampanye, saat membaca proposal program kerja, bahkan ketika menghadiri acara-acara resmi, ingatannya tetap kembali pada perempuan itu. Pada tatapannya yang tenang. Pada cara bicaranya yang lugas. Dan terutama pada keberaniannya mempertanyakan janji seorang calon bupati di depan banyak orang.

Hal yang anehnya justru membuat Rasyid merasa dihargai sebagai pemimpin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!