"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.
Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?
Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: PELELANGAN DARAH DI SINGAPURA
Bab 32: Pelelangan Darah di Singapura
Singapura malam itu terlihat berkilau di bawah lampu-lampu Marina Bay, namun bagi Aruna, kota ini hanyalah sebuah labirin kaca yang dingin. Sebuah hotel mewah di kawasan Orchard telah diubah menjadi benteng pertahanan bagi para anggota tingkat tinggi Nirwana. Mereka berkumpul untuk sebuah acara tahunan: *The Crimson Auction*—pelelangan barang-barang yang tidak seharusnya ada di dunia, mulai dari dokumen negara yang bocor hingga artefak keluarga yang dirampas secara paksa.
Aruna turun dari mobil Bentley hitam, mengenakan gaun silk berwarna ungu gelap yang menjuntai hingga ke lantai. Rambutnya disanggul rapi, menonjolkan garis rahangnya yang tegas. Di telinganya, sepasang anting berlian bukan sekadar perhiasan; itu adalah pemancar sinyal jarak jauh yang terhubung langsung ke satelit Bambang.
"Posisi?" bisik Aruna sambil melangkah anggun melewati karpet merah.
"Mbak Bos, saya sudah masuk ke sistem CCTV hotel," suara Bambang terdengar di frekuensi rendah. "Adrian dan Haris sudah masuk lewat jalur logistik. Mereka menyamar jadi staf katering. Oh, dan Mbak... hati-hati. Di lantai pelelangan, saya mendeteksi tiga puluh orang dengan senjata tersembunyi. Ini bukan pesta, ini sarang penyamun."
Aruna melangkah masuk ke aula utama. Aroma parfum mahal dan cerutu Kuba memenuhi ruangan. Di sana, di antara pria-pria berjas rapi, ia melihat Prabawa Adhigana. Kakeknya itu tampak sepuluh tahun lebih tua setelah skandal saham kemarin. Wajahnya pucat, dan ia tampak sedang mencoba menjelaskan sesuatu pada seorang pria muda berambut perak yang duduk di kursi utama.
Itu dia. Sosok pria dari jet pribadi. Sang eksekutor Nirwana yang dikenal dengan sebutan The Architect.
Aruna tidak menghampiri kakeknya. Ia justru berjalan menuju bar, memesan segelas wiski tanpa es, dan menunggu pelelangan dimulai. Saat gong tanda dimulai bergema, ruangan menjadi sunyi.
"Barang pertama," suara sang juru lelang terdengar dingin. "Sebuah jam saku milik mendiang Jenderal Mahendra. Di dalamnya terdapat mikrofilm berisi daftar seluruh informan intelijen di Asia Tenggara pada tahun sembilan puluhan."
Darah Aruna mendidih. Itu milik ayahnya. Barang yang seharusnya menjadi kehormatan keluarga kini dijadikan dagangan oleh orang-orang ini.
"Pembukaan harga: sepuluh juta dolar," ucap juru lelang.
"Dua puluh juta," suara Prabawa Adhigana terdengar gemetar. Dia mencoba membeli kembali barang itu untuk mendapatkan kembali kepercayaan Nirwana.
"Tiga puluh juta," sahut seorang pengusaha dari Rusia.
"Seratus juta dolar," suara Aruna memotong kerumunan, tenang namun menggelegar.
Seluruh ruangan menoleh. Prabawa tersentak melihat cucunya berdiri di sana dengan keanggunan yang mematikan. The Architect pun untuk pertama kalinya menatap Aruna dengan minat yang tulus.
"Seratus juta dolar untuk barang yang memang milik saya," Aruna melangkah maju ke depan panggung. "Dan saya tidak membayar dengan uang tunai."
"Lalu dengan apa, Ms. Mahendra?" tanya The Architect sambil tersenyum miring.
Aruna menjentikkan jarinya. Tiba-tiba, seluruh layar besar di aula yang seharusnya menampilkan detail barang lelang berubah menjadi hitam. Detik berikutnya, muncul sebuah video siaran langsung yang menunjukkan gudang penyimpanan data utama Nirwana di Swiss sedang dikepung oleh asap merah.
"Halo semuanya!" Wajah Bambang muncul di layar besar dengan kacamata hitam dan mulut yang penuh dengan cokelat Swiss. "Maaf mengganggu pestanya. Saya cuma mau bilang kalau sistem keamanan pusat data kalian baru saja saya ubah jadi mode 'Self-Destruct'. Dalam lima menit, semua bukti transaksi gelap, nama-nama anggota, dan video skandal kalian bakal terunggah ke server Interpol... kecuali Mbak Bos saya mendapatkan apa yang dia mau."
Kekacauan pecah. Para tamu elit mulai panik, beberapa mencoba menelepon asisten mereka, namun sinyal di ruangan itu sudah diblokir oleh Adrian.
"Kau gila, Aruna!" teriak Prabawa. "Kau menghancurkan kita semua!"
"Aku menghancurkanmu, Kakek. Ada perbedaan besar di sana," jawab Aruna. Ia menatap The Architect. "Aku ingin bicara dengan Kenzo. Sekarang. Atau biarkan dunia melihat wajah asli Nirwana malam ini."
The Architect tertawa pelan, lalu berdiri. Dia tidak tampak takut, justru terkesan. "Kau benar-benar bunga lilac yang terbuat dari besi, Aruna. Baiklah. Karena kau sudah merusak pestaku, aku akan memberikan apa yang kau minta."
Dia melambaikan tangan, dan seorang pelayan membawakan sebuah tablet. Layarnya menyala, menunjukkan Kenzo yang sedang duduk di sebuah perpustakaan megah.
"Kenzo? Sayang, ini Mama..." suara Aruna bergetar untuk pertama kalinya.
Kenzo menatap layar. Namun, responnya membuat Aruna membeku. Kenzo tidak tersenyum. Dia menatap Aruna dengan tatapan dingin, persis seperti tatapan The Architect.
"Mama?" ucap Kenzo datar. "Pria ini bilang, Mama membuangku karena Mama lebih peduli pada uang kakek. Dia bilang... Mama adalah alasan kenapa Papa meninggal."
"Tidak, sayang! Itu bohong!" teriak Aruna.
"Jangan menangis, Mama," lanjut Kenzo, suaranya terdengar seperti orang dewasa yang bijaksana namun tanpa jiwa. "Aku suka di sini. Mereka mengajariku cara menjadi kuat. Aku tidak mau pulang ke rumah yang penuh dengan orang-orang lemah."
Kenzo mematikan sambungannya.
Aruna terjatuh berlutut. Rasa sakit karena dikhianati oleh ingatan anaknya sendiri jauh lebih menyakitkan daripada siksaan fisik apa pun. The Architect berjalan mendekat, membungkuk di samping Aruna.
"Kami tidak menculiknya, Aruna. Kami memberinya tujuan. Kenzo adalah masa depan kami. Dan kau? Kau baru saja melakukan kesalahan terbesar dengan mengancam kami."
Tiba-tiba, suara ledakan terdengar dari arah pintu masuk. Bukan dari tim Aruna, tapi dari pasukan keamanan Nirwana yang mulai menembak secara membabi buta untuk mengamankan The Architect.
"Adrian! Haris! Keluar sekarang!" teriak Aruna melalui antingnya.
Di tengah hujan peluru dan pecahan kaca di hotel mewah Singapura, Aruna menyadari satu hal yang mengerikan. Perang ini bukan lagi soal menyelamatkan Kenzo yang malang. Ini adalah perang untuk merebut kembali jiwa anaknya yang telah dicuci bersih oleh ideologi Nirwana.
"Bambang... ledakkan servernya," perintah Aruna dengan suara yang kosong. "Jangan sisakan apa pun."
"Tapi Mbak Bos, Kenzo masih ada di—"
"LEDAKKAN!"
Malam itu, pusat data Nirwana di Swiss meledak, namun Aruna tahu, ia baru saja kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya. Kenzo bukan lagi korbannya—dia telah menjadi musuh masa depannya.
Bersambung.....
.
.
.
.
.
.
Bab 33: Anak yang Menjadi Musuh.
.
.
...Author Note:...
...Plot twist yang sangat menyakitkan! Kenzo ternyata sudah dicuci otak dan sekarang membenci ibunya sendiri. Aruna harus menghadapi kenyataan kalau dia harus melawan darah dagingnya sendiri yang sedang dipersiapkan jadi pemimpin Nirwana berikutnya. Gimana Aruna bangkit dari kehancuran mental ini?...