Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35. MIASMA
Langit di atas Akademi Sihir Oberyn masih terang oleh matahari siang ketika cahaya biru terang tiba-tiba muncul di dalam ruang kesehatan akademi.
WHOOSH!
Udara berputar sejenak.
Dalam sekejap, sosok Aaron Oberyn muncul dari lingkaran teleportasi dengan tubuh seorang gadis di pelukannya, Elara Ravens.
Tubuh Elara terkulai lemah. Rambut hitamnya berantakan, dan wajahnya pucat seperti kehilangan seluruh darah di tubuhnya.
Napas gadis itu pendek-pendek. Jejak darah masih terlihat di sudut bibirnya.
Aaron berjalan cepat ke dalam ruangan.
"Profesor Henna?!" panggil Aaron. Suara Aaron terdengar tegang.
Seorang wanita berambut cokelat tua yang sedang menata botol ramuan di meja panjang langsung menoleh.
Wanita itu adalah Profesor Henna, guru yang bertanggung jawab atas ruang kesehatan akademi.
Begitu melihat Aaron yang membawa seseorang ...
"Ya ampun!" respon Profesor Henna.
Henna langsung berlari mendekat. "Apa yang terjadi?!"
Aaron dengan cepat membaringkan Elara di salah satu tempat tidur.
"Kami sedang latihan di lapangan divisi Arcanum," kata Aaron cepat. "Lalu tiba-tiba energinya tidak stabil."
Aaron menelan ludah. "Dia muntah darah ... lalu pingsan."
Henna tidak membuang waktu sedikit pun. "Menjauh sedikit."
Aaron mundur satu langkah.
Henna langsung mulai memeriksa Elara. Tangannya bergerak cepat. Ia pertama-tama memeriksa nadi Elara dengan metode sederhana.
Lalu membuka kelopak mata Elara. Setelah itu Henna mengangkat tangan. Lingkaran sihir kecil muncul di telapak tangannya.
Cahaya lembut menyelimuti tubuh Elara.
Itu adalah sihir diagnostik, sihir khusus yang digunakan penyihir medis untuk memeriksa kondisi tubuh dan energi magis seseorang.
Cahaya itu bergerak perlahan dari kepala Elara hingga ujung kakinya.
Beberapa detik berlalu.
Wajah Henna berubah.
Senyum profesional di wajahnya perlahan menghilang.
Matanya menyipit. Kemudian melebar.
"Apa ..." Ia memeriksa lagi.
Lingkaran sihir itu berputar lebih cepat. Cahaya biru berubah menjadi ungu. Lalu merah.
Henna tiba-tiba menoleh tajam pada Aaron.
"Pangeran Aaron?" Nada suara Henna serius.
Aaron langsung menegang. "Ya, Profesor?"
Henna berdiri mendadak. Wajahnya tidak lagi sekadar serius. Itu adalah wajah seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang sangat berbahaya.
"Cepat panggil kepala akademi."
Aaron mengerutkan dahi. "Kepala akademi?"
Henna berkata dengan tegas, "Bilang ada murid yang mengalami keracunan miasma."
Aaron membeku.
Waktu seolah berhenti beberapa detik.
Keracunan miasma?
Pikiran Aaron seketika kosong saat ia tahu apa itu miasma.
Henna berseru lagi dengan suara keras, "PANGERAN AARON!"
Aaron tersentak.
"Cepat!" suruh Profesor Henna.
Aaron langsung mengangguk.
Tanpa membuang waktu ...
WHOOSH!
Tubuh pria itu menghilang dalam cahaya teleportasi.
Beberapa detik kemudian ...
Aaron muncul di koridor lantai tertinggi gedung utama akademi.
Di depan sebuah pintu besar dengan ukiran lambang akademi.
Di balik pintu itu adalah ruangan milik Magnus Alderion, kepala Akademi Sihir Oberyn.
Aaron langsung mengetuk pintu.
TOK! TOK! TOK!
Ketukannya keras dan tergesa.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka.
Seorang pria tinggi berambut perak panjang berdiri di sana.
Itulah Magnus Alderion.
Tatapannya tenang sekaligus penasaran.
"Ada apa, Aaron?" tanya Magnus.
Aaron langsung berkata tanpa basa-basi, "Profesor Henna menyuruh saya memanggil Anda."
Magnus mengangkat alis. "Ada murid yang keracunan miasma."
Wajah Magnus berubah, seakan kehilangan semua ketengannya ia punya.
"Siapa yang kena miasma?" tanya Magnus serius.
Aaron menelan ludah. "Elara Ravens."
Dalam sekejap Magnus melangkah maju. Tangannya langsung menyentuh bahu Aaron.
Aaron bahkan belum sempat bereaksi ketika ...
WHOOSH!
Cahaya teleportasi besar menyelimuti mereka berdua.
Ketika cahaya itu menghilang mereka sudah berada kembali di ruang kesehatan.
Namun ruangan itu kini tidak lagi kosong.
Di sisi ruangan berdiri Lunaris, Leonhart, dan Evangeline yang rupanya telah sampai di ruang kesehatan.
Wajah mereka penuh kecemasan. Ketiganya berdiri cukup jauh dari tempat tidur Elara seolah takut mengganggu.
Begitu Aaron muncul kembali, ia langsung melihat ke arah Elara. Dan wajahnya memucat seketika melihat keadaan Elara.
Elara kembali muntah darah. Tubuh gadis itu gemetar di atas tempat tidur. Darah merah menodai kain putih.
Profesor Henna sedang berdiri di sampingnya dengan tangan yang memancarkan cahaya sihir penyembuhan.
Namun bahkan dengan sihir itu, tubuh Elara tetap bergetar.
Magnus langsung bergerak.
"Henna?!"
Henna menoleh.
Magnus berkata cepat, "Panggil Profesor Adrian. Sekarang."
Henna langsung mengangguk. "Baik!"
Profesor Henna berlari keluar ruangan tanpa menunggu satu detik pun.
Magnus kemudian berdiri di samping tempat tidur Elara. Tangannya terangkat.
Lingkaran sihir besar muncul di udara.
Sihir penyembuhan.
Sihir penstabil.
Sihir penetralisir.
Tiga jenis sihir tingkat tinggi aktif bersamaan.
Cahaya hijau, emas, dan biru menyelimuti tubuh Elara.
Aaron berdiri di samping tempat tidur dengan wajah pucat. Ia belum pernah melihat Elara seperti ini.
Gadis itu selalu kuat.
Selalu tenang.
Bahkan saat menghadapi duel sengit.
Namun sekarang Elara tampak begitu rapuh.
Magnus tetap fokus pada sihirnya. Namun ia bertanya tanpa menoleh.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Magnus.
Aaron menjawab cepat, "Kami tidak tahu, Profesor. Kami sedang latihan di lapangan divisi Arcanum sejak pagi. Kami berdiskusi tentang sihir Elara, lalu tiba-tiba energinya tidak stabil."
Magnus berkata lagi, "Apakah dia bertemu seseorang sebelumnya? Pergi ke suatu tempat?"
Aaron berpikir keras. Namun tidak ada yang terlintas.
"Tidak. Aku cukup yakin. Beberapa hari ini aku hampir selalu bersama Elara dan Lunaris. Selain akademi dan kediaman Duke, dia tidak pergi ke tempat lain," jawab Aaron.
Evangeline yang berdiri di sisi ruangan akhirnya bicara dengan suara kecil, "Elara juga tidak bertemu orang aneh. Dia hanya bertemu teman-teman akademi seperti biasa rutinitas kami."
Magnus tetap menatap Elara. Namun wajahnya tetap tenang.
Aneh sekali.
Setelah beberapa saat ia berkata, "Jangan katakan apa pun tentang ini. Cukup kalian saja yang tahu."
Semua orang menoleh pada sang kepala akademi.
Magnus melanjutkan, "Aku akan menyelidikinya. Tidak mungkin ada miasma di kediaman Duke Ravens selama Duke dan Duchess tinggal di sana. Mereka pasti akan tahu. Namun jika miasma berasal dari lingkungan akademi ... itu berarti kita memiliki masalah besar."
Mereka semua terkejut mendengarnya.
Magnus menambahkan dengan suara rendah, "Kemungkinan ada seseorang yang membawa miasma ke dalam akademi. Aku dan para profesor akan menyelidikinya. Untuk kalian, jika ada murid atau guru yang mencurigakan langsung beritahu aku."
Kata-kata itu membuat ruangan menjadi sunyi.
Lunaris akhirnya bicara dengan ragu. "Profesor?"
Magnus menoleh padanya. "Ya?"
Lunaris menggigit bibirnya. "Ini tidak ada hubungannya dengan latihan sihir yang aku dan Leonhart lakukan 'kan, Profesor?"
Tangan Luna gemetar, berpikir kalau apa yang terjadi pada Elara adalah karena latihan kerasnya.
Magnus menatap Luna beberapa detik. Lalu ia tersenyum kecil. "Tidak."
Lunaris menghela napas.
Magnus melanjutkan penjelasannya, "Miasma bukan sekadar energi sihir yang tidak stabil. Miasma adalah racun sihir. Energi gelap yang terbentuk dari akumulasi mana rusak. Biasanya muncul di tempat yang dipenuhi kematian, kutukan, atau eksperimen sihir terlarang."
Semua orang diam mendengarkan.
Magnus melanjutkan, "Miasma menyerang tubuh manusia dengan merusak aliran mana. Jika tidak segera ditangani maka Energi dalam tubuh korban akan saling bertabrakan. Dan akhirnya tubuh korban akan hancur dari dalam."
Evangeline menutup mulutnya.
Wajah mereka pucat mendengar kalimat terakhir.
Magnus berkata lagi, "Jadi tidak mungkin hal ini berasal dari latihan sihir biasa. Jelas Elara terkontaminasi dari sesuatu di luar itu."
Lunaris akhirnya menghela napas panjang. Tangan masih gemetar. Namun sekarang setidaknya ia tahu bahwa itu bukan kesalahannya.
Perlahan kondisi Elara mulai stabil. Napasnya tidak lagi tersengal.
Cahaya sihir Magnus masih menyelimuti tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang kesehatan terbuka dengan keras.
Seorang pria berambut pirang masuk dengan langkah cepat.
Profesor Adrian Holt.
Salah satu profesor senior akademi dan ahli sihir penawar racun.
"Profesor Magnus!" Adrian berkata cepat. "Aku mendengar ada kasus miasma!"
Magnus menoleh. "Di sini."
Adrian langsung berjalan ke tempat tidur. Ia menatap Elara. Wajahnya langsung serius.
"Seberapa parah?"
Magnus menjawab singkat, "Masih tahap awal. Untungnya kita menemukannya cepat.”
Adrian mengangguk. Ia langsung mengangkat tangannya.
Lingkaran sihir baru muncul.
Berbeda dengan milik Magnus.
Lingkaran itu dipenuhi simbol kuno yang rumit.
"Baik. Kita bersihkan racunnya sepenuhnya, tapi ini akan butuh waktu," ujar Profesor Adrian.
Di sisi ruangan Aaron berdiri diam. Tangannya menutupi wajahnya sebentar. Ia menarik napas panjang. Lalu menatap kembali ke arah Elara.
Gadis itu masih terbaring diam di tempat tidur. Wajahnya pucat. Sangat pucat.
Aaron mengepalkan tangan. Di dalam hatinya hanya ada satu pikiran.
Siapa ... siapa yang melakukan ini pada Elara?
dah selesaikah makan seblaknya dgn othor???😁
dan akhirnyaaaa....
astrelia muncul deh jeng jeng jeng
jadi yg mati bakalan siapa ini 🫣