NovelToon NovelToon
Takhta Yang Di Curi

Takhta Yang Di Curi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Action
Popularitas:34.5k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Dunia Doni runtuh saat istri tercintanya meninggal dunia sesaat setelah melahirkan putri mereka, Maudi. Di masa rentan itu, masuklah Seina, seorang wanita licik yang ambisius. Demi menguasai harta Doni, Seina melakukan aksi nekat,ia menukar Maudi dengan putri kandungnya sendiri, Eliza.
Sejak saat itu, nasib kedua bocah tersebut berubah 180 derajat. Eliza tumbuh sebagai gadis yang sangat dimanja dan bergelimang kemewahan. Sebaliknya, Maudi yang merupakan anak kandung Doni, justru dianggap sebagai pembawa sial oleh Seina. Selama tujuh tahun, Maudi kecil hidup dalam penderitaan, disiksa secara fisik dan mental oleh Seina tanpa sepengetahuan Doni.

Penderitaan Maudi berakhir ketika sebuah insiden membuatnya terbuang dan akhirnya tumbuh di lingkungan pesantren. Di sinilah mutiara yang terpendam itu mulai bersinar. Maudi ternyata adalah seorang anak yang sangat jenius.




Assalamualaikum...
yuk, ikuti kelanjutan kisahnya ....
semoga suka.... jangan lupa dukungannya ya🥰🥰🙏🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Suasana ruang makan pagi itu terasa mencekam. Bunyi denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak jam menuju eksekusi. Kakek Harison duduk di kepala meja, wajahnya terlihat jauh lebih bugar, sementara Seina duduk di samping Doni dengan riasan tebal yang gagal menyembunyikan lingkaran hitam di matanya.

"Pagi ini aku mendapat laporan dari kepolisian," Doni memecah keheningan dengan suara berat. "Bram ditemukan dalam kondisi yang aneh. Tubuhnya kaku, dia tidak bisa bicara. Dokter bilang dia terkena serangan saraf mendadak semalam, bulan hanya mulutnya yang bisu tubuhnya juga seperti orang terkena stroke."

Seina menarik napas lega dalam diam. Ia ingat orang suruhannya semalam telah berhasil menyuntikkan zat pelumpuh itu ke sel tahanan Bram. "Bram tidak akan pernah bisa bicara lagi. Rahasiaku aman", batinnya.

"Tapi yang aneh," Doni melanjutkan, matanya menatap Seina tajam,

"Polisi menemukan bukti bahwa ada yang menyuruh Bram untuk mencelakai Ayah. Seseorang ingin Ayah pergi selamanya dari rumah ini."

"Siapa yang tega melakukannya, Don?" suara Seina bergetar, pura-pura terkejut. "Bram itu memangnya siapa Don, apa kau kenal dengan nya, kenapa dia tega ingin melenyapkan kakek?"

Maudi masuk ke ruang makan, membawa nampan berisi teh herbal khusus untuk Kakek Harison. Ia berjalan tertatih, memerankan sosok gadis desa yang canggung.

"Kakek, ini tehnya. Maudi tambahkan sedikit jahe agar jantung Kakek lebih tenang, Maudi tahu, berita ini membuat kakek terkejut" ucap Maudi lembut.

Kakek Harison tersenyum, "Terima kasih, Maudi. Setidaknya ada satu orang di rumah ini yang tulus memedulikan nyawa Kakek."

Seina nyaris tersedak rotinya. Kalimat Kakek barusan terasa seperti tamparan. Maudi kemudian bergeser ke arah Seina, menuangkan air putih ke gelasnya dengan tangan yang sengaja dibuat sedikit gemetar.

"Ibu... Ibu terlihat pucat sekali," bisik Maudi, namun cukup keras untuk didengar Doni. "Apa Ibu semalam tidak bisa tidur? Apa Ibu mendengar suara... aneh di telinga Ibu?"

Seina menjatuhkan garpunya. Kepalanya mendadak berdenyut hebat. Ia teringat ancaman Maudi tadi subuh. Mimpi buruk yang terasa nyata. Memang benar, semalam ia mimpi buruk, mimpi Ambar datang dengan wajah mengerikan,Ambar menangis darah dan meminta keadilan.

"Aku hanya kurang tidur, Doni. Mungkin karena syok soal kejadian semalam," bela Seina cepat saat suaminya mulai menoleh curiga.

Doni meletakkan gelas kopinya. "Ada satu hal lagi. Pihak kepolisian mengatakan sebelum Bram lumpuh, dia sempat menggumamkan satu nama. Tapi suaranya sangat tidak jelas, seperti "S-e...'' atau ''S-i...''."

Wajah Seina kini benar-benar putih seperti kertas. Ia melirik ke arah Eliza yang duduk di ujung meja, berharap anaknya itu membela. Namun Eliza sedang asyik dengan ponselnya, tidak peduli dengan ketegangan yang ada.

"Mungkin dia mau bilang 'Seeorang'... ya, 'Seorang pengkhianat'?" celetuk Maudi sambil merapikan meja. "Atau mungkin... nama seseorang yang sangat dekat dengan kita mungkin?"

"Cukup, Maudi! Jangan ikut campur urusan orang tua!" bentak Seina, emosinya sudah di ambang batas.

"Tenang, Seina. Kenapa kamu jadi emosional begitu?" tanya Doni heran. "Maudi kan hanya berpendapat."

"Ma... sudahlah, Maudi juga punya mulut,dia berhak mengutarakan pendapatnya" sela Saka yang dari tadi hanya diam memperhatikan drama di pagi hari.

Tiba-tiba, seorang pelayan masuk membawa sebuah amplop cokelat. "Tuan Doni, ada kiriman lagi. Katanya ini salinan data medis dari rumah sakit tempat Nona Maudi lahir dulu."

Seina langsung berdiri dari kursinya, nyaris menabrak meja. "Sini! Biar aku yang urus, Don! Itu pasti soal tagihan lama atau asuransi!"

"Duduk, Seina," perintah Kakek Harison dengan nada yang sangat dingin dan berwibawa. "Biarkan Doni yang membukanya. Aku juga ingin tahu kenapa arsip belasan tahun lalu mendadak dikirim ke sini." ucap kakek Harison penasaran.

Maudi berdiri di sudut ruangan, tangannya terlipat di balik jubahnya. Di dalam amplop itu, Maudi telah menyelipkan sesuatu yang membuat Seina merasa tegang dan ingin segera bersembunyi di lubang tawon. Dan benar saja , saat ini Seina merasa dunianya sedang runtuh. Ia menatap Maudi dengan sorot mata membunuh, namun Maudi hanya membalasnya dengan senyuman tipis di balik cadar, senyuman seorang malaikat pencabut nyawa yang sedang menikmati tontonan kehancuran sang pendosa.

"Don, buka saja," ucap Kakek Harison pendek.

Doni mulai menyobek amplop itu. Suasana ruang makan menjadi begitu sunyi hingga suara napas Seina yang tersengal terdengar jelas... Wajahnya pucat pasi, tubuhnya menggigil karena ketakutan yang luar biasa.

Seina sudah memejamkan mata, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia bersiap untuk skenario terburuk, hasil tes DNA atau dokumen hukum antara Maudi dan Doni.

Namun, saat isi amplop itu keluar, suasana ruang makan mendadak berubah menjadi sangat melankolis dan mencekam.

Di atas meja makan yang mewah itu, tersebar beberapa lembar foto lama yang warnanya mulai menguning. Namun, gambarnya sangat jelas. Foto pertama menunjukkan seorang wanita cantik dengan wajah teduh bernama Ambar, istri pertama Doni, yang sedang hamil besar, tersenyum bahagia sambil memegang perutnya.

Lalu, foto berikutnya membuat Eliza menjerit kecil dan menutup mulutnya.

Itu adalah foto bayi yang baru saja lahir, masih berlumuran darah merah pekat, tergeletak di atas kain rumah sakit yang kasar. Di pergelangan kaki bayi itu, melingkar sebuah gelang identitas kertas yang bertuliskan, "Bayi Ny. Ambar".

"Ini... ini foto Mama mu Eliza .... Ambar?" suara Doni bergetar. Ia menyentuh foto itu dengan jari yang gemetar. Kenangan tentang mendiang istri pertamanya yang meninggal saat melahirkan mendadak menghantam dadanya.

Seina yang tadi ketakutan akan rahasia bayi tertukar, kini justru bingung. Ia tahu itu foto Ambar, tapi siapa yang mengirimnya? Dan kenapa ada foto bayi yang masih berlumuran darah?

"Siapa yang mengirim ini, Don?" tanya Seina, suaranya masih goyah. Ada sedikit tidak senang juga karena ada foto perempuan yang pernah singgah di hati Doni "Kenapa tiba-tiba ada foto persalinan Ambar setelah belasan tahun?"

Kakek Harison mengambil salah satu foto bayi tersebut, memperhatikannya dengan teliti menggunakan kacamata bacanya. "Ada yang aneh... lihat di pojok foto ini."

Kakek menunjuk ke arah latar belakang foto bayi yang satunya lagi, yang sudah di bersihkan itu....Di Ruang inkubator ... Di sana, di atas meja medis di belakang bayi Ny. Ambar, terlihat sebuah bedongan bayi lain yang hanya terlihat setengahnya. Di meja itu, ada gelang identitas lain yang bertuliskan nama yang berbeda, namun terpotong.

Hanya terlihat huruf "Ny. S..."

Seina nyaris terjatuh dari kursinya. S? Seina? Apakah itu foto saat ia juga melahirkan di hari yang sama?

Maudi mendekat, berpura-pura ingin membereskan piring, namun matanya menatap lekat ke arah Seina.

"Wah, bayi itu terlihat sangat merah ya, Bu," bisik Maudi dengan nada polos namun tajam. "Dulu Ibu bilang, saat Maudi lahir, Ibu tidak sempat memotret karena Ibu terlalu sibuk... menukar perasaan sedih menjadi bahagia? Atau... menukar yang lain?"

Seina menatap Maudi dengan kemarahan luar biasa. "Diam kamu, Maudi! Masuk ke dapur!"

Doni tidak menggubris keributan itu. Ia terpaku pada foto Ambar yang sedang hamil. "Kenapa pengirimnya hanya mengirim foto ini? Apa maksudnya?"

Doni membalik foto bayi berdarah tersebut. Di belakangnya, terdapat tulisan tangan dengan tinta merah yang sudah kering...

"Darah tidak pernah berbohong. Yang lahir dari rahim yang suci, akan tetap suci. Yang lahir dari rahim pengkhianat, akan tetap menjadi noda."

1
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣🤣 jangan sampai darah tinggi kamu Rebecca
@Mita🥰
untung tidak pingsan tuh nenek dan Rebecca
@Mita🥰
selamat menempuh hidup baru Maudy Rasya
@Mita🥰
Eliza dapat in aja sama Emir
@Mita🥰
ternyata takut juga si Rebecca 🤣🤣🤣
erna kusuma jayadi
😭😭 tolong nanggung bgt ini
Cica Aretha
gantung thor🤭...semangat💪
@Mita🥰
😍😍😍😍😍 buat mu Eliza
Asih Prawawati
Yaaaaaaaaaa di skip dehhhhh🤣🤣🤣
Sukarti Wijaya
authore ngece sm penggemare kie ditunda2 MP ne🤣🤣🤣 ben do penisirin😄😄🤭🤭
Aisyah Virendra
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
bisa bisanyaaaaaa diii Skiiiiipppp padahal kannn aku mau lihat 🙄🙄🤣🤣🤣🤣 ya ampunnn semangat MP yaaaaa Rasya Maudi, besok ekspos deh tanpa Niqob didepan keluarga supaya mereka paham bagaimana sicantik keturunan Daneswara yg sesungguhnya, jangan bertele² lagi pokoknya ga sabar banget 😂
Sri Supriatin
weee menunggu sesok maneh, suwon Thor 👍👍😄😄
Sri Supriatin
Ha ha di gantung pas lgi Seruuu 🤭😍😍
Gustilia Elazzam
bagus....
🥰🥰m4r1n4.sg🙏🏻🙏🏻🙏🏻: terimakasih 🙏🏻
total 1 replies
Cica Aretha
memunggu saat wajah maudi terlihat thor..semamgattt💪
Lovita BM
udah aq lempar vote kak 🙂
🥰🥰m4r1n4.sg🙏🏻🙏🏻🙏🏻: terimakasih 🙏🥰
total 1 replies
suti markonah
kapan mak lampir ndeloh rupane maudi thorrr..ojo suwe² aku pengen mereka pingsan weruh ayune maudi
Aisyah Virendra
Masih nunggu sesi tatap wajah Maudi yg sesungguhnyaa nel 🤔
Cica Aretha
SAMAWA maudi dan rasya..🤭🤭 nambah lagi thor..💪💪😍
suti markonah
kapokmu kapan mu kowe gerandong, lampir, keno mental kan😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!