Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elang yang Mulai Tahu
**"AWAL."**
Senin siang.
Perpustakaan sekolah.
Elang duduk sendirian di meja pojok, membaca buku fisika tapi pikirannya melayang kemana-mana. Dia belum melihat Aruna sejak kejadian di kantin waktu itu—saat dia membela Aruna dari Adrian.
Setiap hari dia menunggu. Berharap melihat Aruna duduk di barisan belakang kelasnya lewat jendela koridor. Tapi kursi itu selalu kosong.
Tiba-tiba, pintu perpustakaan terbuka. Kayla masuk dengan wajah kusut, mata merah, tas digendong asal. Dia berjalan gontai ke rak buku, mengambil satu buku tanpa benar-benar melihat judulnya.
Elang memperhatikan. Ada yang tidak beres.
Dia ragu sejenak—biasanya dia tidak pernah berani menyapa duluan. Tapi kali ini... kali ini berbeda.
Elang berdiri, berjalan pelan menghampiri Kayla.
"K-Kayla..." panggilnya pelan, suara gemetar.
Kayla menoleh. Matanya berkaca-kaca. "Elang? Ada apa?"
Elang menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. "Aku... aku mau nanya. Aruna... dia kemana? Kok aku nggak liat dia dari kemarin-kemarin?"
Mendengar nama Aruna, wajah Kayla langsung berubah. Air matanya yang sudah ditahan sejak tadi akhirnya jatuh. Dia menutup mulut dengan tangan, mencoba menahan isakan.
"Kayla..." Elang panik. "Kenapa? Ada apa sama Aruna?"
Kayla menggeleng, mencoba menenangkan diri tapi gagal. "Dia... dia di-skors, Elang."
Deg.
Elang merasa dunia berhenti berputar sejenak.
"D-di-skors? Kenapa?!" tanyanya tidak percaya.
**ISI:**
Kayla menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya. "Sekolah bilang... dia 'mengganggu lingkungan belajar'. Mereka bilang kondisinya bikin siswa lain terganggu. Padahal... padahal dia yang jadi korban! Dia yang di-bully! Dia yang disebarin foto fitnah! Tapi yang disalahkan malah dia!"
Kayla mengepalkan tangan, suaranya mulai meninggi meskipun mereka di perpustakaan. "Ini nggak adil banget, Elang! Kenapa yang keluar malah dia? Kenapa bukan Nisa? Bukan Adrian? Kenapa Aruna yang harus pergi?!"
Elang terdiam. Tangannya mengepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras. Amarahnya memuncak—amarah yang selama ini dia pendam mulai meledak di dalam dadanya.
Amarah pada Nisa yang kejam. Pada Adrian yang biadab. Pada sistem sekolah yang tidak adil. Pada Dhira yang menyia-nyiakan Aruna dengan keragu-raguannya. Dan yang paling menyakitkan... amarah pada dirinya sendiri yang terlalu pengecut untuk melindungi gadis yang dia cintai.
"Mereka... mereka semua brengsek," gumam Elang dengan nada rendah yang jarang orang dengar darinya. "Mereka semua nggak punya hati."
Kayla menatap Elang. Ada sesuatu yang berbeda dari cowok berkacamata ini hari ini. Biasanya dia pendiam, pemalu, nyaris tidak terlihat. Tapi sekarang... matanya menyala. Ada api di sana.
"Dia... dia gimana sekarang?" tanya Elang pelan, tapi ada getaran di suaranya—getaran yang menunjukkan dia sangat takut dengan jawaban yang akan dia dengar.
Kayla menggeleng perlahan, air matanya jatuh lagi. "Nggak baik, Elang. Dia nggak baik banget. Aku... aku nggak pernah liat Aruna sehancur kayak gini. Dia kayak... kayak udah nyerah. Matanya kosong. Dia nggak nangis lagi. Dia nggak marah lagi. Dia cuma... diam. Dan itu yang paling nakutin."
Kayla menatap Elang dengan mata penuh keputusasaan. "Gue takut, Elang. Gue takut kalau... kalau dia..."
Kayla tidak melanjutkan. Tapi Elang mengerti.
Dia mengerti dengan sangat jelas.
Dan ketakutan yang sama juga mencengkeram dadanya—ketakutan kehilangan Aruna selamanya.
"Gue harus ketemu dia," kata Elang tiba-tiba, dengan nada yang tegas. Nada yang bahkan membuat Kayla terkejut.
"Elang, dia lagi nggak mau ketemu siapa-siapa. Bahkan aku yang sahabatnya pun susah banget nembus pertahanannya. Dia mengunci diri di kamar terus. Dia—"
"Gue nggak peduli." Elang memotong, matanya menatap Kayla dengan tatapan yang sangat serius. "Gue harus ketemu dia. Gue harus bilang sesuatu. Sebelum terlambat."
Kayla terdiam, menatap Elang lama. Dia melihat sesuatu di mata cowok ini—sesuatu yang jarang dia lihat dari siapapun: ketulusan yang dalam, keberanian yang lahir dari keputusasaan, dan... cinta yang tidak pernah diungkapkan.
"Kamu... kamu suka sama Aruna, ya?" tanya Kayla pelan.
Elang terdiam sejenak. Lalu mengangguk. Untuk pertama kalinya, dia mengakuinya pada orang lain.
"Iya. Aku suka dia. Dari dulu. Sejak awal semester. Bahkan sebelum Dhira deket sama dia." Suaranya bergetar. "Tapi aku terlalu pengecut. Aku nggak pernah berani bilang. Aku cuma... ngeliat dari jauh. Kayak pecundang."
Kayla merasakan dadanya sesak. Ada kesedihan yang dalam dari kata-kata Elang.
"Tapi sekarang..." Elang melanjutkan, matanya mulai berkaca-kaca. "Gue nggak peduli lagi dia nerima gue atau nggak. Gue nggak peduli dia suka sama Dhira. Gue cuma... gue cuma mau dia tau... bahwa dia berharga. Bahwa ada orang yang ngeliat dia bukan sebagai beban. Bahwa dia... pantas dicintai."
Air mata Elang jatuh—untuk pertama kalinya di depan orang lain.
"Gue nggak mau dia pergi, Kayla. Gue nggak mau kehilangan dia sebelum gue sempet bilang... bahwa dia... penting buat gue."
Kayla menangis juga. Dia memeluk Elang sebentar—pelukan persahabatan, pelukan pengertian.
"Aku kasih alamat rumahnya," bisik Kayla. "Tapi... hati-hati, ya. Keluarganya lagi sangat protektif sama dia. Terutama kakaknya, Arya."
Elang mengangguk. "Terima kasih, Kayla."
**ENDING:**
Elang keluar dari perpustakaan dengan langkah cepat—langkah yang penuh tekad. Tangannya gemetar, tapi hatinya sudah bulat.
Dia harus menemui Aruna.
Dia harus bilang semuanya.
Meskipun ditolak. Meskipun tidak didengar. Meskipun Aruna tidak akan pernah membalas perasaannya.
Tapi setidaknya... setidaknya dia sudah mencoba.
Setidaknya dia sudah berani.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Elang berjalan keluar gerbang sekolah, menatap langit yang mendung. Sepertinya akan hujan lagi.
Tapi dia tidak peduli.
Dia harus pergi. Sekarang.
Sebelum terlambat.
Sebelum Aruna benar-benar... pergi.
*Aruna... tunggu aku. Kumohon... bertahanlah...*
---
Kadang, keberanian datang terlambat. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak pernah sama sekali. Karena ada kalanya... satu kata yang tulus bisa menyelamatkan nyawa seseorang yang sudah berada di ujung jurang. Dan Elang... berharap dia masih punya waktu.
---