Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Sarah, itu mobilnya sudah masuk ke halaman! Ayo, cepat berdiri di depan sini bersama Mbak!" seru Ayu dengan nada antusias.
Aisya menarik napas panjang di balik cadar. Ia merapikan jilbab besarnya yang tertiup angin gunung, berusaha menenangkan debaran jantung yang entah mengapa sejak tadi berdegup kencang.
Sebuah mobil SUV hitam besar berhenti tepat di depan mereka. Pintu terbuka, dan seorang pria dengan setelan kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga siku keluar dari sana.
Langkahnya tegap, wajahnya yang tegas terlihat sedikit lelah namun tetap memancarkan wibawa yang luar biasa.
"Selamat datang, Pak Kaisar. Senang sekali Bapak bisa berkunjung lagi ke sini," sambut Ayu dengan hormat.
Kaisar mengangguk sopan, namun matanya tidak sengaja beralih ke sosok wanita yang berdiri di samping Ayu. Begitu netra tajamnya menangkap sepasang mata di balik cadar itu, langkah Kaisar terhenti seketika.
"Sarah, perkenalkan, ini Pak Kaisar Adhitama, pemilik yayasan kita. Dan Pak, ini Sarah, guru baru di sini yang tadi saya ceritakan," ujar Ayu memperkenalkan.
Aisya menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani menatap mata pria itu.
"Selamat datang... Pak," ucap Aisya lirih.
Mendengar suara itu, Kaisar seolah tersengat listrik. Suara lembut, jernih, dan sedikit bergetar yang selama tiga bulan ini menghantui mimpi-mimpinya.
Kaisar melangkah maju satu tindak, membuat jarak di antara mereka sangat dekat.
"Sarah? Namamu benar Sarah?" tanyanya.
Aisya semakin menunduk, tangannya meremas ujung khimar nya. "Iya, Pak. Nama saya Sarah."
Kaisar terdiam lama, ia menatap lekat-lekat mata itu. Mata yang selalu tampak sedih namun kini memancarkan ketenangan. Ia melihat kilatan yang sangat ia kenali, sebuah ketulusan yang hanya dimiliki oleh satu wanita di dunia ini.
"Mata itu..." gumam Kaisar pelan, hampir tidak terdengar. Ia mengabaikan Ayu yang menatap mereka dengan bingung. "Bisa kami bicara berdua saja, Bu Ayu? Saya ingin menanyakan beberapa hal teknis tentang sekolah pada... Mbak Sarah."
Ayu yang menangkap atmosfer aneh namun manis di antara keduanya hanya tersenyum penuh arti.
"Oh, tentu, Pak. Silakan. Sarah, ajak Pak Kaisar ke taman belakang, di sana lebih tenang. Saya ke dapur dulu menyiapkan teh."
Setelah Ayu pergi, keheningan menyelimuti mereka. Mereka berjalan beriringan menuju taman belakang yang dipenuhi bunga-bunga. Kaisar tidak melepaskan pandangannya sedikit pun dari sosok di sampingnya.
"Tiga bulan, Aisya," ucap Kaisar tiba-tiba.
Langkah Aisya terhenti. Ia mematung. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat nama aslinya disebut dengan begitu penuh perasaan.
"Kenapa Bapak memanggil saya dengan nama itu? Nama saya Sarah," ucap Aisya.
Kaisar berjalan memutar hingga ia berdiri tepat di depan Aisya. Ia tidak menyentuh, namun tatapannya seolah merangkul.
"Kamu bisa mengganti namamu seribu kali. Kamu bisa menutupi wajah cantikmu dengan kain ini. Tapi kamu tidak bisa mengganti binar matamu, Aisya. Kamu tidak tahu seberapa gila aku mencari mu ke seluruh penjuru Jakarta."
Aisya mendongak, matanya mulai berkaca-kaca. "Mas Kaisar, untuk apa mencari orang yang sudah dibuang? Aku bukan siapa-siapa lagi."
"Dibuang oleh orang bodoh bukan berarti kamu kehilangan nilai. Kamu itu mutiara, Aisya. Dan melihatmu mengenakan cadar seperti ini, Masya Allah, kamu jauh lebih cantik dan mulia dari yang pernah kubayangkan." Kaisar tersenyum tipis, sebuah senyum tulus yang jarang ia tunjukkan pada orang lain.
Aisya memalingkan wajahnya, pipinya memanas di balik kain cadar. "Mas Kaisar terlalu berlebihan. Aku hanya ingin memulai hidup baru yang lebih baik."
"Kalau begitu, izinkan hidup barumu itu bersamaku," potong Kaisar cepat.
Aisya tertegun, matanya membulat menatap Kaisar. "Apa maksud Mas?"
Kaisar melangkah lebih dekat lagi, aromanya yang maskulin dan menenangkan menyelimuti Aisya.
"Aku datang ke sini bukan hanya untuk melihat yayasan. Aku datang karena Dhani bilang dia menemukan jejakmu. Aisya, aku sudah menunggu saat kamu bebas dari pria itu sejak lama. Aku tidak peduli dengan masa lalu mu. Aku hanya peduli pada masa depanmu. Maukah kamu mengajariku cara menjadi imam yang baik untukmu?"
Air mata Aisya jatuh membasahi cadarnya. "Mas, aku ini janda. Aku dihina karena tidak bisa memberi keturunan. Apa Mas tidak malu? Mas punya segalanya, sedangkan aku?"
"Bagiku, kamu adalah segalanya. Soal keturunan, itu urusan Allah. Yang aku inginkan adalah dirimu, bukan yang lain. Aku ingin melindungi mu agar tidak ada lagi orang seperti Marni atau Rima yang bisa menyentuh seujung rambutmu pun."
"Kenapa harus aku Mas? Masih banyak wanita di luar sana yang lebih sempurna?"
"Karena sejak di pasar itu, hatiku sudah tertinggal padamu," ucap Kaisar. "Jadi, Sarah atau Aisya, apakah ada tempat untuk pria keras kepala ini di hidup barumu?"
apa Sarah nama tengah belakang atau samping 🤣