NovelToon NovelToon
Sumpah Di Atas Luka

Sumpah Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Slice of Life / Teen Angst / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romantis
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Peachy

Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampir pingsan

Malam di London terasa sangat sunyi ketika jarum jam bergerak malas menuju pukul dua pagi. Di dalam mansion Vance yang megah, keheningan itu mendadak pecah oleh rintihan kecil yang tertahan. Alana, yang tidurnya semakin tidak nyenyak di minggu ke-38 kehamilannya, merasakan gelombang nyeri yang sangat akrab namun jauh lebih tajam merobek ketenangannya.

"Brixton..." bisiknya, suaranya gemetar menahan kontraksi yang seolah meremas seluruh pinggangnya.

Brixton, yang selama berminggu-minggu tidur dalam kondisi "siaga satu", langsung terjaga. Ia tidak butuh waktu satu detik pun untuk sepenuhnya sadar. Matanya yang tajam segera menatap wajah Alana yang mulai berpeluh di bawah temaram lampu tidur.

"Istriku? Apakah sudah waktunya?" tanya Brixton dengan suara rendah namun sarat akan kecemasan.

Alana tidak sempat menjawab dengan kata-kata. Sebuah kontraksi hebat kembali datang, membuatnya mencengkeram lengan Brixton hingga kuku-kukunya memutih. "Sakit... Brixton, ini lebih cepat dari perkiraan dokter. Ahhh!"

Seketika itu juga, kepanikan yang selama ini ditekan Brixton meledak. Pria yang mampu menghadapi krisis ekonomi global tanpa berkedip itu kini tampak gemetar saat meraih ponselnya untuk menghubungi tim medis yang sudah ia siagakan. Tangannya yang biasanya stabil saat menandatangani kontrak triliunan rupiah kini gemetar hebat saat mencoba membantu Alana berdiri.

Perjalanan menuju rumah sakit menjadi momen paling mendebarkan dalam hidup Brixton. Meskipun ia sudah menyewa ambulans pribadi yang menunggu di depan rumah selama dua minggu terakhir, ia tetap bersikeras untuk berada di samping Alana, memegang tangannya, dan menciumi jemarinya tanpa henti.

"Sabar, Sayang. Kita hampir sampai. Tarik napas, Istriku. Lakukan bersamaku... huuu... haaa..." Brixton mencoba menuntun napas Alana, namun suaranya sendiri terdengar lebih terengah-engah daripada istrinya.

Sesampainya di ruang persalinan rumah sakit terbaik di London, suasana menjadi sangat tegang. Dokter dan perawat segera bergerak cepat. Brixton, sesuai permintaannya yang absolut, tidak diperbolehkan meninggalkan sisi Alana barang sedetik pun. Namun, pemandangan di depannya benar-benar menguji kesehatan mental sang penguasa bisnis tersebut.

Melihat Alana berteriak kesakitan, melihat wajah istrinya yang memerah dan lehernya yang menegang karena menahan nyeri luar biasa, membuat Brixton merasa dunianya runtuh. Ia yang biasanya memegang kendali atas segala hal, kini merasa sangat tidak berdaya.

"Dokter! Lakukan sesuatu! Kenapa dia masih kesakitan?!" teriak Brixton, matanya merah menatap sang dokter kandungan.

"Tuan Vance, ini adalah proses persalinan normal. Kami sedang berusaha maksimal," jawab dokter dengan tenang meski sebenarnya ia juga gugup ditekan oleh tatapan maut Brixton.

Brixton kembali berlutut di samping kepala Alana. Ia membasahi bibir Alana yang kering dengan air, lalu ia menempelkan keningnya ke kening Alana. "Maafkan aku, Istriku... maafkan aku harus membuatmu melewati ini lagi. Aku tidak sanggup melihatmu begini."

Waktu seolah berhenti berputar. Lima jam berlalu dalam ketegangan yang menyesakkan. Alana sudah mulai kelelahan. Tenaganya terkuras habis untuk setiap pembukaan yang terasa lambat. Di saat itulah, Brixton benar-benar kehilangan ketenangannya.

Setiap kali Alana berteriak karena kontraksi, wajah Brixton ikut pucat. Puncaknya, saat Alana merintih lemah, "Aku tidak kuat, Brixton... aku ingin menyerah," kepala Brixton mendadak terasa ringan. Pandangannya mengabur. Ia merasa oksigen di ruangan itu mendadak hilang.

Brixton sempoyongan. Tubuh tegapnya hampir saja menghantam lantai jika tidak segera ditangkap oleh seorang perawat laki-laki dan didudukkan di kursi.

"Tuan Vance! Anda harus tetap sadar! Nyonya membutuhkan Anda!" seru perawat itu.

Brixton menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengusir rasa pusing yang hebat. Ia memejamkan mata dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, pria yang mengandalkan logikanya ini mulai berkomat-kamit dalam doa yang sangat dalam.

“Tuhan... jangan ambil dia. Jangan biarkan dia menderita lebih lama lagi. Berikan rasa sakitnya padaku saja. Aku mohon, selamatkan istri dan putriku. Aku berjanji akan menjadi pria yang lebih baik lagi. Tolong aku...”

Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah. Brixton tidak peduli lagi pada harga dirinya sebagai pria perkasa. Di ruang persalinan itu, ia hanyalah seorang hamba yang memohon keselamatan untuk belahan jiwanya. Ia bangkit kembali dengan kaki yang masih agak goyah, mendekati Alana yang sedang dalam tahap akhir persalinan.

"Ayo, Istriku! Kau bisa! Kau wanita terhebat di dunia!" teriak Brixton, suaranya serak karena emosi. Ia membiarkan tangan Alana mencengkeram lehernya, menarik bajunya hingga robek, namun ia tidak peduli. "Sedikit lagi, Sayang. Putri kita ingin melihat wajah Ibunya yang cantik. Ayo!"

Alana mengeluarkan sisa tenaga terakhirnya. Dengan satu dorongan panjang yang diikuti dengan jeritan pilu, sebuah suara yang sangat jernih dan manis tiba-tiba memecah ketegangan di ruangan itu.

Oeeeekk... Oeeeekk...

Suara tangisan itu terdengar lebih lembut daripada tangisan Leo dulu, namun bagi Brixton, itu adalah melodi paling indah yang pernah ia dengar seumur hidupnya. Segala pusing, mual, dan kepanikan yang ia rasakan menguap seketika digantikan oleh rasa lega yang luar biasa hingga ia hampir terjatuh kembali, kali ini karena lututnya lemas oleh kebahagiaan.

"Bayinya perempuan, Tuan Vance. Sangat cantik," ucap dokter sambil mengangkat bayi kecil yang kulitnya masih kemerahan itu.

Brixton tidak langsung melihat bayinya. Matanya tetap tertuju pada Alana. Ia menciumi wajah Alana yang bersimbah keringat dengan penuh pemujaan. "Kau melakukannya, Istriku. Terima kasih. Terima kasih karena sudah bertahan untukku."

Alana tersenyum lemah, matanya terpejam lelah namun penuh kedamaian. "Dia... apakah dia baik-baik saja?"

"Dia sempurna, seperti Ibunya," bisik Brixton.

Sesaat kemudian, perawat membawa bayi mungil itu yang sudah dibersihkan dan dibalut selimut berwarna merah jambu lembut. Brixton menerima bayinya dengan tangan yang masih gemetar. Untuk pertama kalinya, ia menimang putri kecilnya.

Bayi itu memiliki helai rambut tipis yang tampak akan berwarna kemerahan seperti Alana, dan ketika matanya terbuka sedikit, Brixton melihat binar yang sangat jernih. Di saat itulah, Brixton kembali menangis. Ia mencium kening bayi itu dengan sangat lembut, seolah takut napasnya saja bisa melukai kulit suci sang bayi.

"Selamat datang di dunia, Aurelia Clarissa Vance," bisik Brixton pelan.

Ia membawa Aurelia mendekat ke arah Alana, membiarkan ibu dan anak itu bersentuhan untuk pertama kalinya. Pemandangan itu adalah mahakarya terindah yang pernah dilihat Brixton. Di dalam ruangan rumah sakit yang steril itu, ia merasakan kehadiran Tuhan yang begitu nyata melalui sebuah kelahiran.

Beberapa jam kemudian, Alana sudah dipindahkan ke ruang perawatan VIP yang sangat mewah, yang sudah disiapkan Brixton dengan ribuan bunga mawar putih dan pink. Alana tertidur pulas karena kelelahan, sementara Aurelia berada di dalam boks bayi di samping tempat tidurnya.

Brixton tidak tidur. Ia duduk di kursi di antara ranjang Alana dan boks Aurelia. Ia memegang tangan Alana dengan tangan kirinya, dan jari telunjuk kanannya digenggam erat oleh tangan kecil Aurelia.

Ia terus memperhatikan setiap tarikan napas Alana, memastikan istrinya benar-benar baik-baik saja. Sesekali ia membisikkan doa syukur yang tidak putus-putus. Kepanikan yang hampir membuatnya pingsan tadi kini berganti menjadi rasa protektif yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

"Aku akan menjagamu, Aurelia," bisik Brixton pada bayinya. "Dan aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk mencintai Ibumu lebih dari yang bisa kau bayangkan."

Ketika Leo dibawa masuk oleh Bibi Martha untuk bertemu adik perempuannya, Brixton mengangkat putra sulungnya itu dan mendudukkannya di pangkuannya.

"Lihat, Leo. Itu Adik Aurelia. Dia sangat kecil, bukan? Kau harus menjaganya bersama Papa, oke?"

Leo menatap adiknya dengan rasa ingin tahu yang besar, lalu mencium pipi adiknya dengan lembut, membuat Brixton kembali merasa matanya memanas. Keluarga ini sudah utuh. Luka masa lalu yang dulu pernah menganga lebar kini telah tertutup rapat oleh lapisan-lapisan kebahagiaan yang baru.

Alana terbangun menjelang sore hari. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Brixton yang menatapnya dengan pandangan paling lembut yang pernah ada.

"Suamiku..." panggil Alana parau.

"Aku di sini, Istriku. Aku tidak akan pernah pergi," jawab Brixton segera. Ia membantu Alana minum dan membenarkan bantalnya.

"Maafkan aku tadi... aku melihatmu hampir pingsan," ucap Alana dengan senyum kecil menggoda.

Brixton terkekeh, meski wajahnya sedikit memerah karena malu. "Melihatmu kesakitan adalah hal paling mengerikan dalam hidupku, Alana. Aku lebih baik menghadapi sepuluh kebangkrutan perusahaan daripada melihatmu merintih seperti tadi. Tapi semua itu tidak sebanding dengan kebahagiaan yang kau berikan padaku sekarang."

Brixton membungkuk, mencium bibir Alana cukup lama. Sebuah ciuman yang sarat akan rasa terima kasih, hormat, dan cinta yang tak terhingga. "Kau adalah pahlawanku, Istriku."

Hari itu, di kediaman Vance yang kini akan semakin ramai dengan suara dua anak, Brixton menyadari bahwa kekuatannya sebagai seorang pria bukan lagi diukur dari seberapa banyak ia bisa menguasai dunia, melainkan seberapa besar ia bisa merendahkan hatinya untuk menjaga dan mencintai keluarganya.

Aurelia Clarissa Vance lahir bukan hanya sebagai anak kedua, tapi sebagai simbol dari keajaiban maaf dan kekuatan cinta yang mampu menaklukkan keputusasaan. Dan bagi Brixton, melihat Alana tersenyum sambil mendekap putri mereka adalah puncak dari segala kesuksesan yang pernah ia impikan dalam hidupnya.

"Aku mencintaimu, Istriku... selamanya," bisik Brixton sekali lagi, sebelum ia akhirnya ikut terlelap di samping ranjang Alana, dengan hati yang akhirnya benar-benar menemukan kedamaian yang sempurna.

1
kalea rizuky
males deh Thor mending cerai selingkuh lagi nanti dia wong cwok plin plan uda ciuman ma jalang remes2
kalea rizuky
mual. g sih liat suami ciuman ma cwek lain
kalea rizuky
pergi jauh Alana
kalea rizuky
cerai aja selingkuh pasti nanti. gt lagi
kalea rizuky
selingkuh g ada obat ceraikan saja
kalea rizuky
km akan kehilangan berlian demi sampah
kalea rizuky
cerai aja lah suami dajjal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!