"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Perdebatan Medis vs Logika Alay
Baru saja ia hendak menghidupkan mesin mobil, sebuah pesan masuk dari nomor rahasia yang mengabarkan bahwa Lala kembali melarikan diri dari rumah melalui jendela kamar. Adrian terperanjat hingga kepalanya hampir membentur langit-langit mobil yang rendah. Ia menatap layar telepon genggam dengan mata yang nyaris melompat keluar karena tidak percaya akan kenekatan gadis itu.
"Anak ini benar-benar ingin membuat saya kehilangan lisensi kedokteran atau serangan jantung mendadak," desis Adrian sambil mencengkeram kemudi dengan sangat kuat.
Ia segera memutar kunci mobil dan menginjak pedal gas menuju taman kota yang disebutkan dalam pesan singkat tersebut. Pikirannya dipenuhi oleh gambaran ayah Lala yang seorang polisi sedang melakukan pengejaran besar-besaran terhadap putrinya sendiri. Adrian merasa terseret ke dalam sebuah lubang masalah yang tidak memiliki dasar sama sekali.
"Dokter Adrian, aku di sini, sembunyikan aku sebelum Ayah menemukan jejak kakiku!" seru Lala yang tiba-tiba muncul dari balik semak belukar.
"Naik ke mobil sekarang juga sebelum saya benar-benar menyerahkan kamu ke kantor polisi terdekat!" bentak Adrian sambil membukakan pintu dengan kasar.
Lala melompat masuk dengan napas yang masih terengah-engah dan rambut yang penuh dengan potongan daun kering. Wajahnya yang pucat kini berganti dengan rona kemerahan akibat berlari jauh dari rumahnya yang dijaga ketat. Adrian segera melarikan mobilnya menjauhi area taman kota untuk mencari tempat yang lebih aman untuk berbicara.
"Secara medis, tindakan kamu ini disebut sebagai perilaku impulsif yang sangat membahayakan keselamatan jiwa," ucap Adrian dengan nada yang sangat dingin.
"Tapi secara logika alay, ini adalah perjuangan cinta yang harus dilakukan demi mendapatkan restu alam semesta," jawab Lala sambil membersihkan daun dari kepalanya.
Adrian menepikan mobil di sebuah kedai kopi yang sepi dan menatap Lala dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh penekanan. Ia merasa perdebatan antara ilmu pengetahuan yang ia tekuni selama bertahun-tahun sedang diadu dengan logika tidak masuk akal milik seorang siswi. Dunia medis yang ia agungkan terasa tidak berdaya menghadapi ledakan emosi dari gadis yang ada di sampingnya ini.
"Cinta itu butuh sirkulasi darah yang stabil ke otak, bukan hanya luapan perasaan yang membuat kamu bolos dan kabur dari rumah," sanggah Adrian.
"Dokter terlalu banyak membaca buku anatomi sampai lupa kalau hati punya logikanya sendiri yang sangat ajaib," balas Lala dengan binar mata yang menantang.
Adrian memijat pelipisnya yang mulai berdenyut-denyut karena tekanan darah yang sepertinya kembali naik secara drastis. Ia mencoba menjelaskan risiko hukum jika ia menyembunyikan seorang gadis di bawah umur yang sedang dicari oleh ayahnya sendiri. Namun, Lala justru mengeluarkan sebuah buku harian berwarna merah muda dan mulai menuliskan sesuatu di sana dengan sangat tenang.
"Apa yang kamu tulis di sana saat keadaan sedang genting seperti ini?" tanya Adrian dengan rasa penasaran yang tidak tertahankan.
"Aku sedang mencatat bahwa Dokter Adrian terlihat sepuluh kali lebih tampan saat sedang marah karena mengkhawatirkanku," sahut Lala tanpa dosa.
Adrian terdiam seribu bahasa sambil membuang muka ke arah jendela untuk menutupi rona merah yang tiba-tiba muncul di pipinya. Ia merasa bahwa benturan dua dunia ini tidak akan pernah menemukan titik temu selama Lala masih menggunakan kacamata cinta yang sangat berlebihan. Pria itu menyadari bahwa ia tidak bisa memulangkan Lala ke rumah malam ini tanpa membuat ayahnya semakin murka.
"Saya akan menelepon kakak kamu, saya tidak mau dituduh menculik kamu oleh ayahmu yang galak itu," tegas Adrian sambil merogoh saku jasnya.
"Jangan Dokter, Kakak pasti akan langsung mengadu dan aku akan dikurung di dalam gudang selamanya!" cegah Lala sambil memegang tangan Adrian dengan sangat erat.
Adrian merasakan kehangatan dari telapak tangan Lala yang membuat seluruh argumen medisnya seketika terbang melayang ke udara. Ia menatap mata bulat Lala yang kini mulai berkaca-kaca seolah sedang memohon perlindungan paling tulus dari seorang pria dewasa. Hati sang dokter kulkas yang biasanya sekeras bongkahan es di kutub utara mulai meneteskan air perlahan-lahan.
"Hanya untuk malam ini, setelah itu kamu harus berjanji untuk mengikuti semua perintah saya tanpa tapi," ucap Adrian dengan suara yang sangat rendah.
"Janji Dokter Sayang, aku akan menjadi pasien paling penurut di seluruh dunia jika Dokter mau melindungiku!" seru Lala dengan kegirangan yang sangat berisik.
Mereka pun menghabiskan malam itu dengan berdebat tentang banyak hal mulai dari resep obat hingga lirik lagu yang menurut Adrian sangat tidak bermutu. Adrian mulai menyadari bahwa ia mulai menghafal jadwal sekolah Lala hanya agar ia bisa menghindari atau justru menantikan kehadiran gadis itu. Tanpa sadar, ia mulai masuk ke dalam pusaran kehidupan Lala yang penuh dengan warna-warna cerah dan sangat tidak terduga.
"Besok aku harus sekolah, apa Dokter mau menjemputku dengan mobil mewah ini?" tanya Lala saat ia mulai merasa mengantuk di kursi mobil.
"Jangan bermimpi terlalu tinggi, saya punya jadwal operasi bedah yang sangat padat besok pagi," jawab Adrian sambil menyelimuti Lala dengan jas putihnya.
Lala tertidur dengan sangat pulas sambil memeluk jas putih milik Adrian yang masih menyisakan aroma parfum maskulin yang sangat harum. Adrian menatap wajah polos gadis itu dan menyadari bahwa ia telah gagal total dalam menjaga jarak profesional yang selama ini ia agungkan. Ia menghidupkan mesin mobil dan mengarahkannya menuju sebuah hotel kecil milik kerabatnya untuk menyembunyikan Lala sementara waktu.
Baru saja ia hendak mematikan mesin mobil di depan hotel, sebuah panggilan video masuk dari telepon genggam Lala yang menunjukkan wajah ayahnya dengan latar belakang parkiran rumah sakit.