" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.
Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah di Pernikahan
Sebelum Valerian sempat memprotes atau menghindar, Damian sudah bergerak mendominasi seutuhnya.
Ia menarik tubuh seksi Valerian ke dalam dekapannya, meruntuhkan pertahanan wanita itu di atas ranjang king-size mereka.
Sentuhan Damian kali ini tidak sekasar biasanya; ada kelembutan yang menuntut, rasa takut akan kehilangan, serta gairah yang meledak-ledak di balik selimut sutra yang membungkus tubuh mereka.
Bara asmara yang membakar kamar itu kian memanas seiring berjalannya waktu. Kamar paviliun yang dingin itu seketika dipenuhi oleh deru napas yang memburu pendek dan gesekan kulit yang intim di bawah temaram lampu tidur yang meredup.
Sudah Damian... aku lelah..." ucap Valerian di tengah desahannya yang terputus-putus, kedua tangannya mencengkeram bahu kekar Damian, mencoba menahan gempuran gairah suaminya yang kian tak terkendali di atas tubuhnya. Keringat tipis membasahi kening cantiknya, memancarkan pesona erotis yang kian membuat Damian buta.
Damian tidak berhenti. Ia justru semakin memperdalam pagutannya di ceruk leher Valerian, menghirup aroma wanita itu seolah ingin merekamnya kuat-kuat di dalam memori otaknya.
Dengan napas yang memburu berat di atas wajah Valerian, Damian berbisik lirih, suaranya terdengar begitu frustrasi dan sarat akan luka batin yang tersembunyi.
Vale... aku tidak tahu kapan lagi bisa bercumbu denganmu lagi karena jika aku sudah menikah dengan Clarissa, Ayah akan memintaku fokus padanya," bisik Damian parau, jemarinya menyusuri helaian rambut Valerian yang berantakan di atas bantal.
Damian semakin menenggelamkan wajahnya di dada Valerian, memeluk tubuh wanita itu dengan cengkeraman posesif.
Namun, tepat di tengah puncak kemesraan mereka yang sarat akan desah napas berat dan peluh yang bercucuran, pintu balkon kamar yang tadinya terkunci rapat mendadak bergetar halus.
Dari balik tirai tipis yang bergoyang ditiup angin malam, Valerian bisa melihat siluet jangkung seorang pria berdiri tegak di luar sana.
Melalui pantulan kaca itu, di balik tirai putih tipis balkon yang bergoyang pelan, siluet jangkung itu masih berdiri kokoh. Sinar rembulan yang mengintip di balik awan mendung menyiram sebagian wajah tegas Aksa.
Sepasang netra gelapnya yang tajam menembus kegelapan malam, menyaksikan seutuhnya setiap jengkal kemesraan yang memang seharusnya itu , desah napas, dan peluh yang membasahi ranjang king-size itu.
Vale... ada apa?" Damian berbisik parau di dekat telinga Valerian, merasakan perubahan drastis pada tubuh istrinya yang mendadak menegang kaku seperti batu. Damian mulai menjauhkan wajahnya, dahi maskulinnya yang dipenuhi bulir keringat berkerut jeli.
Damian, jangan!"
Dengan refleks yang didorong oleh ketakutan yang luar biasa masif, Valerian langsung melingkarkan kedua lengan lentiknya di leher kokoh Damian. Ia menarik kembali tubuh suaminya ke bawah, memaksa wajah Damian terbenam di ceruk lehernya, menghalangi pria itu untuk menoleh ke arah balkon.
Aku... aku hanya terlalu lelah. Kepalaku mendadak sangat pusing," bohong Valerian dengan suara yang bergetar hebat, mencoba mengatur deru napasnya agar terdengar natural di telinga Damian.
Damian terkekeh rendah, Ia mengira reaksi protektif Valerian adalah bentuk kepasrahan karena enggan menyudahi malam terakhir mereka sebelum aliansi baru dengan Clarissa Narendra mengunci kebebasannya besok pagi.
Aku tahu kau lelah, Sayang. Tapi tubuhmu tidak bisa berbohong," bisik Damian dengan sisa suara beratnya yang menderu, kembali mempererat remasan posesifnya di pinggang ramping Valerian.
Di bawah dekapan Damian, air mata Valerian perlahan menetes di sela bantal. Matanya tetap terkunci pada siluet di balik tirai balkon. Di sana, Aksa perlahan mengepalkan tangan jangkungnya hingga buku-buku jarinya memutih di balik bayangan jendela.
Perlahan, bagai hantu malam yang menelan amarahnya sendiri, siluet Aksa bergerak mundur dan menghilang ke dalam kegelapan taman Paviliun Barat, meninggalkan keheningan yang menyiksa batin Valerian.
Keesokan paginya, fajar kecil pecah bersama kesibukan yang luar biasa masif di kediaman utama keluarga Wardhana. Hari yang telah ditentukan oleh Tuan Bagian Wardhana akhirnya tiba.
Seluruh silsilah dan aliansi bisnis dari berbagai penjuru berkumpul untuk menyaksikan pernikahan politik terbesar tahun ini antara Damian Wardhana dan Clarissa Narendra.
Di dalam ruang ganti VIP, Damian berdiri tegak di depan cermin besar, mengenakan setelan tuksedo putih tulang yang dirancang khusus oleh desainer ternama Paris.
Aksa melangkah masuk dengan gaya jangkungnya yang teratur namun tak tersentuh. Ia telah mengenakan setelan jas hitam formal, lengkap dengan bros perak lambang operasional Wardhana Group di dadanya.
Penampilannya begitu sempurna, dingin, dan memancarkan wibawa yang bahkan mampu meredam keangkuhan Damian di dalam ruangan tersebut.
Kedua bersaudara itu saling berhadapan, memotong udara ruang ganti menjadi begitu mendidih. Sepasang netra gelap Aksa menatap Damian tanpa riak emosi sedikit pun.
"Ayah memintaku memastikan kau tidak melarikan diri sebelum menandatangani pengalihan saham awal di altar nanti," ucap Aksa dengan suara baritonnya yang berat, datar, dan menusuk tajam.
Damian tersenyum miring, melangkah mendekati Aksa hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa inci. "Melarikan diri? Kau bercanda, Aksa. Aku adalah pemenang di rumah ini. Nikmati perannya sebagai penonton di barisan depan, Adikku.
, dan satu hal lagi..." Damian menepuk bahu kekar Aksa dengan tekanan yang sengaja dikeraskan. "...istri pertamaku.. ah, maksudku Valerian, terasa sangat luar biasa semalam.
Rahang tegas Aksa mengetat tajam selama satu detik, guratan urat lehernya menegang, memperlihatkan riak kemurkaan pekat yang nyaris lepas kendali. Ia perlahan menurunkan tangan Damian dari bahunya dengan gerakan taktis yang mendominasi.
Simpan bicaramu untuk altar, Damian," desis Aksa parau, suara baritonnya yang berat merendah tepat di depan wajah kakaknya. "
Sementara itu, di barisan kursi VIP gereja katedral yang megah, suasana dipenuhi oleh bisik-bisik para investor asing dari London. Nyonya Zen duduk dengan anggun di barisan depan, memancarkan wibawa aristokrat yang beku. Di sampingnya, Dania duduk terdiam dengan gaun marunnya, matanya yang cemas terus menatap ke arah pintu masuk, mencari keberadaan Valerian yang sengaja ditempatkan di barisan belakang bawah pengawasan ketat lima pengawal bertubuh kekar.
Valerian duduk tegak dengan gaun formal hitam satin yang longgar untuk menyembunyikan usia kehamilan minggu keempatnya. Wajah cantiknya tampak pucat, sisa kelelahan batin dan fisik semalam masih membekas jelas di bawah sapuan bedak tipisnya.
Pandangan matanya kosong, menatap hamparan karpet merah altar tempat Damian kini telah berdiri menunggu kedatangan Clarissa Narendra.
Musik organ gereja yang sakral mulai menggema ke seluruh penjuru ruangan, menandakan pengantin wanita mulai melangkah masuk didampingi oleh Tuan dan Nyonya Narendra.
Clarissa tampak menawan dengan gaun putih ekor panjangnya, memancarkan senyuman indahnya.
Tuan Bagian Wardhana yang duduk di kursi utama keluarga tersumir puas melihat jalannya upacara. Di matanya, draf perjanjian semalam telah berhasil mengunci pergerakan Aksa. Sekaligus mengamankan aliansi baru dengan keluarga Narendra.
Pendeta mulai membacakan sumpah pernikahan hukum yang sakral di depan altar. Damian dan Clarissa saling berhadapan, siap menyatukan silsilah dua dinasti bisnis terbesar di ibu kota.
Damian Wardhana, apakah kau bersedia menerima Clarissa Narendra sebagai istri sahmu?"
"Ya, saya bersedia," ucap Damian dengan lantang, suaranya bergaung penuh keangkuhan di bawah kubah gereja.
Clarissa Narendra, apakah kau bersedia menerima Damian Wardhana sebagai suamimu?"
Clarissa tersenyum manis, melirik sekilas ke arah Aksa di sudut pilar sebelum menjawab, "Ya, saya bersedia."
Tepat ketika pendeta meminta kedua mempelai untuk bertukar cincin dan melangkah menuju meja marmer untuk menandatangani dokumen aliansi, Damian membalikkan tubuhnya menghadap para hadirin.
Damian mengulurkan tangan kanannya yang kekar ke arah barisan belakang, menunjuk tepat ke arah tempat duduk Valerian.
Sebelum penandatanganan aliansi saham dilakukan, aku ingin istri pertamaku, Valerian Wardhana, maju ke depan altar," ucap Damian lantang lewat mikrofon, suaranya menggema penuh intimidasi yang mutlak ke seluruh penjuru katedral.Semua mata investor dan keluarga besar seketika tertuju pada Valerian yang membeku di kursinya.
"Maju, Valerian. Maju dan bawa draf perjanjian hitam semalam yang ditandatangani oleh Aksa. Di depan seluruh saksi bursa London hari ini, aku ingin kau sendiri yang menyerahkan dokumen penyerahan takhta saham adikku kepada ayahku, sebagai bukti kepatuhanmu padaku sebelum aku menyentuh Clarissa."
Valerian mencengkeram erat gaun satin hitamnya, napasnya memburu pendek di bawah tatapan tajam ratusan orang. Di sudut pilar, jemari jangkung Aksa yang memegang gawai seketika berhenti bergerak; rahang tegasnya mengeras sekeras baja, menyadari bahwa Damian sengaja merancang momen ini untuk menginjak-injak harga diri mereka berdua secara publik.
Dengan tubuh yang gemetar menahan gejolak emosi dan janin di rahimnya, Valerian perlahan berdiri. Ia melangkah maju menyusuri karpet merah altar, membawa amplop cokelat besar berisi draf kehancuran Aksa. Setiap langkahnya terasa bagai berjalan di atas paku panas.
Begitu Valerian sampai di atas undakan altar, tepat di hadapan Damian, Clarissa, dan Tuan Bagian, Damian mengulurkan tangannya yang kasar untuk merebut amplop tersebut. Namun, tepat sebelum jemari Damian menyentuh kertas cokelat itu, Valerian mendadak menghentikan gerakannya.
Bukan karena takut, melainkan karena rasa mual yang teramat luar biasa masif tiba-tiba menghantam ulu hatinya akibat kehamilan mudanya. Wajah Valerian berubah seputih kertas, matanya berputar ke atas, dan tubuh cantiknya seketika ambruk kehilangan kesadaran ke arah depan.
Namun, tubuh Valerian tidak jatuh ke pelukan Damian.Sebuah bayangan hitam jangkung bergerak secepat kilat dari sudut pilar sebelum Damian sempat bereaksi. Lengan kekar Aksa menangkap tubuh lemas Valerian dengan dekapan yang teramat erat, protektif, dan posesif di depan altar pernikahan kakaknya sendiri.
Gaun hitam Valerian yang tersingkap akibat jatuh menampakkan noda darah segar yang perlahan mengalir merembes di sela paha sutranya, membasahi karpet merah katedral tepat di bawah kaki mereka.
Aksa menarik kerah tuksedo putih Damian dengan satu tangannya yang bebas, lalu berbisik parau dengan suara bariton yang menggetarkan fondasi gereja:
"Lihat apa yang sudah kau lakukan , Damian... Sekarang, mari kita hitung berapa yang harus kau bayar untuk setiap tetes darah ini.