NovelToon NovelToon
Dipungut Dan Sembuh

Dipungut Dan Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Keluarga / Pernikahan Kilat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keberangkatan dalam Kelegaan

Beberapa hari berlalu begitu saja tanpa terasa. Bagi Rana, waktu yang berjalan di kota kecil Cepu ini terasa jauh lebih cepat namun berharga, kontras dengan hari-hari penuh tekanan yang biasa ia lalui di Bojonegoro hingga waktu terasa berjalan lambat.

Di sini, di tengah kesederhanaan rumah kayu dan riuh rendahnya kereta yang lewat, Rana merasa jiwanya yang sempat layu perlahan-lahan mulai mekar kembali. Ia merasa telah beradaptasi sepenuhnya dengan ritme kehidupan bersama sang bapak.

Setiap pagi, saat azan subuh baru saja berkumandang dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan, Rana membantu Fahri dan Bu Sutin menyusun dagangan mereka yang akan dibawa ke pasar. Setelah selesai menunaikan sholat, ia membersihkan rumah dan memastikan adiknya, Nahda, tidak terlambat berangkat sekolah. Kemudian ikut membelah udara pagi, menemani ayahnya ke tempat pemasok mengambil puluhan ekor ayam potong segar. Tidak ada lagi rasa canggung. Rana justru merasa bangga melihat bagaimana sang bapak, dengan segala keterbatasan fisiknya, dihormati oleh sesama pekerja pasar karena kejujuran dan ketekunannya.

Agak siang, Rana membantu Bu Sutin di warung tenda hijau. Ia tidak segan-segan melilitkan hijabnya dileher, mengenakan celemek kusam, lalu dengan cekatan mencuci piring, meracik lalapan, hingga mengantarkan pesanan nasi ayam goreng kepada para pelanggan yang mulai berdatangan. Kehangatan Bu Sutin yang memperlakukannya bak anak kandung sendiri membuat beban trauma di pundak Rana luruh satu demi satu.

Malamnya, Rana yang tidak diizinkan membantu di warung karena kebanyakan pelanggan adalah sopir, ia dengan sabar duduk di meja belajar kayu yang kecil untuk membantu Nahda, anak dari Pak Tarmuji dan Bu Sutin, yang masih duduk di bangku sekolah dasar, menyelesaikan pekerjaan rumah dan memahami materi pelajaran.

Kehadiran Nahda yang ceria dan manja memberikan warna baru yang hangat bagi Rana, menghapus bayang-bayang kelam tentang hubungan persaudaraannya bersama Rani. Di rumah ini, Rana benar-benar menemukan arti kata "keluarga" yang sesungguhnya.

"Pesawatnya jam berapa, Nduk?" tanya Pak Tarmuji hangat.

Pria tua itu menatap putri sulungnya dengan pandangan mata yang sarat akan rasa berat hati karena waktu kebersamaan mereka yang teramat singkat harus segera berakhir.

Rana yang sedang memasukkan beberapa potong pakaian terakhirnya ke dalam ransel hitam mendongak, lalu melempar senyum tipis.

"Jam sebelas siang, Pak."

Pak Tarmuji tampak manggut-manggut, sejurus kemudian ia melirik ke arah jam dinding plastik yang berdetak konstan. Ia menghitung estimasi waktu perjalanan darat dari Cepu menuju Surabaya yang memakan waktu beberapa jam.

"Berarti kita berangkat habis subuh saja, Nduk. Supaya nanti di jalan tidak terburu-buru, dan tidak kejebak macet. Jalanan menuju Surabaya kalau sudah agak siang biasanya mulai padat oleh truk-truk besar."

"Iya, Pak. Rana manut saja bagaimana baiknya," jawab Rana lembut.

Keesokan paginya, suasana di dalam rumah kayu itu sudah tampak sibuk sejak pukul empat fajar. Bu Sutin dengan penuh kasih sayang memasak nasi kuning hangat beserta lauk-pauknya untuk dijadikan bekal perjalanan mereka. Sementara itu, Fahri; anak laki-laki Bu Sutin dari pernikahan pertamanya, di halaman menerima mobil sewaan yang baru saja diantarkan, siap mengantarkan adik tirinya menuju gerbang perantauan.

Setelah menunaikan ibadah salat Subuh berjamaah yang diimami langsung oleh Pak Tarmuji dengan suara yang bergetar penuh kekhusyukan, rombongan kecil itu pun bersiap untuk berangkat. Nahda mengucek matanya yang masih mengantuk, memeluk pinggang Rana erat-erat seolah enggan melepaskan kakak perempuan yang baru beberapa hari ini menemaninya belajar dan bermain.

"Mbak Rana, nanti kalau sudah sampai di Kalimantan, jangan lupa telepon Nahda ya," bisik bocah perempuan itu manja.

Rana berlutut menyamakan tinggi badannya, mengusap puncak kepala Nahda dengan penuh kasih.

"Iya. Pasti Mbak telepon. Nahda harus rajin belajar ya, bantu Ibu dan Bapak di rumah."

Perjalanan dari Cepu menuju Surabaya berlangsung dengan relatif lancar. Di dalam mobil sewaan, Pak Tarmuji tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari jemari Rana. Pria tua itu menggunakan setiap menit yang tersisa untuk memberikan wejangan, doa, dan kata-kata penguat agar Rana tetap tegar menghadapi kerasnya dunia kerja di pulau seberang. Baginya, mengetahui bahwa putrinya kini tumbuh menjadi wanita yang mandiri dan kuat adalah sebuah kebanggaan terbesar, meskipun di balik kemandirian itu tersimpan luka masa lalu yang diakibatkan oleh keegoisan ibunya sendiri.

Tepat pukul sembilan lebih tiga puluh menit, mobil yang dikendarai Fahri akhirnya memasuki kawasan Terminal 1 Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Udara pesisir yang panas dan hiruk-pikuk calon penumpang yang membawa koper besar seketika menyambut kedatangan mereka.

Fahri memarkirkan mobilnya tidak jauh dari area drop-zone keberangkatan domestik. Mereka semua turun dari mobil, mengiringi langkah Rana yang menggendong tas ransel hitam besarnya menuju ke depan pintu masuk bermesin pemindai.

Pak Tarmuji berdiri tegak dengan tumpuan kakinya yang pincang, menatap lurus ke dalam sepasang mata Rana. Air mata tampak kembali menggenang di mata pria tua itu, namun ia mencoba sekuat tenaga untuk menahannya agar tidak jatuh dan melemahkan semangat putrinya.

"Nduk, Rana..." kata Pak Tarmuji, suaranya bergetar hebat menahan emosi yang membuncah.

"Bekerjalah dengan baik di sana. Jaga kesehatanmu. Ingat, sekarang kamu punya Bapak, punya Ibu Sutin, punya Fahri, dan Nahda yang akan selalu menunggumu pulang di Cepu. Rumah kayu itu... akan selalu terbuka lebar untukmu, kapan pun kamu merasa lelah dengan kerasnya kehidupan di luar sana."

Mendengar ketulusan itu, air mata Rana yang sejak tadi ia bendung akhirnya runtuh juga. Ia langsung maju selangkah, menghambur ke dalam pelukan hangat Pak Tarmuji. Ia mendekap tubuh kurus ayahnya erat-erat, menghirup aroma khas peluh kerja keras yang menguar dari pakaian sang bapak; sebuah aroma yang kini melambangkan perlindungan dan kasih sayang murni yang selama ini absen dari garis hidupnya.

"Terima kasih, Bapak... Terima kasih karena selalu menyayangiku dan tidak pernah membuangku selama ini," bisik Rana sesenggukan di dada ayahnya.

Bu Sutin ikut melangkah mendekat, mengusap punggung Rana dengan lembut penuh keibuan, sementara Nahda dan Fahri menatap momen itu dengan pandangan mata yang berkaca-kaca. Setelah beberapa menit larut dalam keharuan perpisahan, Rana perlahan melepaskan pelukannya. Ia menyeka sisa air mata di pipinya, lalu mencium punggung tangan Pak Tarmuji dan Bu Sutin dengan takzim.

"Rana masuk ke dalam dulu ya, Pak, Bu. Mas Fahri, Nahda... aku pamit ya. Tolong jaga Bapak dan Ibu baik-baik," pamit Rana dengan senyuman terbaik yang bisa ia sunggingkan.

"Iya, Dek. Hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai tujuan," kata Fahri.

"Mbak Rana jangan lupain Nahda, ya?" sahut Nahda.

Rana berbalik badan, melangkah mantap memasuki pintu keberangkatan bandara. Sebelum benar-benar memperlihatkan e-tiketnya kepada petugas keamanan, ia sempat menoleh ke belakang sekali lagi. Di kejauhan, di balik pembatas kaca, ia melihat Pak Tarmuji masih berdiri kokoh melambaikan tangan kanannya dengan senyum lebar yang menghiasi wajah tuanya. Detik itu juga, Rana merasakan sebuah kekuatan baru merayap masuk ke dalam aliran darahnya.

Beberapa jam kemudian, burung besi yang membawa Rana membelah langit Nusantara akhirnya mendarat dengan mulus di landasan pacu bandara Kalimantan. Begitu roda pesawat menyentuh aspal dan mesin mulai melambat, Rana mengembuskan napas panjang, melepaskan seluruh sisa ketegangan yang sempat menggelayuti benaknya selama perjalanan udara.

Ia mengaktifkan kembali ponsel pintarnya. Detik berikutnya, rentetan notifikasi pesan singkat dan panggilan tidak terjawab langsung membanjiri layar ponselnya. Sebagian besar panggilan itu berasal dari nomor Bu Retno dan Rani. Rana sengaja mengabaikan barisan teks penuh makian dan tuntutan dari ibunya tersebut. Mungkin wanita itu baru saja mendapat amukan dari keluarga Puput karena Rana menghilang tanpa kabar.

Namun, di antara tumpukan pesan negatif tersebut, ada satu pesan masuk yang menarik perhatian Rana. Begitu membukanya, senyum Rana seketika mengembang.

Teguh: Apa kamu sudah mendarat di Kalimantan? Semua aman di sini, Bulek Retno mengira kamu benar-benar kembali ke Kalimantan. Jadi kamu tidak perlu khawatir, fokus saja pada pekerjaanmu sekarang.

Rana dengan cepat mengetikkan balasan untuk sepupu baik hatinya itu.

Rana: Alhamdulillah, Mas. Aku baru saja mendarat dengan selamat di Kalimantan. Terima kasih banyak atas semua bantuanmu. Kalau bukan karena kamu dan petunjuk dari Mbak Mutia, aku mungkin tidak akan pernah tahu kebenaran tentang Bapak. Tolong tetap pantau kondisi di rumah ya, Mas. Kabari aku kalau ada hal yang darurat.

Setelah mengirimkan pesan tersebut, Rana berjalan melangkah keluar dari area terminal kedatangan menuju tempat parkir travel yang akan membawanya kembali masuk ke dalam area site pertambangan di pedalaman hutan.

Sambil menatap pemandangan pohon-pohon kelapa sawit dan hamparan tanah merah khas Kalimantan yang membentang di sepanjang jendela mobil travel, Rana merenungkan kembali seluruh garis takdir hidupnya.

Cutinya kali ini memang sempat berubah menjadi malapetaka yang hampir menjerumuskannya ke dalam jurang kehancuran. Namun, di balik malapetaka itu, Allah rupanya bekerja dengan cara yang sangat misterius untuk menuntun langkah kakinya menemukan kembali sang ayah kandung serta hakikat sebuah keluarga yang ssesungguhnya Sungguh Allah Maha Adil.

1
indy
Semangat Rana...
Meymei
sama kak 🥹
indy
jadi ikutan mbrebes mili
indy
wah nggantung nih...
Meymei: hihihi
total 1 replies
Meymei
siap😍
indy
kasihan rana, semoga berhasil kabur
indy
makin penasaran, lanjut kakak
indy
Semangat Rana, jangan lupa makan yang baik agar kuat dan sehat
Meymei
sabar kak, msh perlu proses 🤭
indy
owalah, ternyata Rana ikut memodali usaha Veri. Rana terima saja lamaran Pradika agar bisa segera keluar dari keluarga toksik
indy
semoga mereka benar berjodoh
indy
Alhamdulillah Rana selamat, tinggal tunggu action selanjutnya dari mas Pradika
indy
jangan sampai sapo yang datang dan mengajak rana duluan
Meymei: pantau terus kak 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!