*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*
Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.
Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.
Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.
Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Omongan Para Karyawan.
Rumor itu menyebar lebih cepat daripada laporan keuangan kuartal ketiga.
Awalnya hanya bisik-bisik di pantry lantai 30.
“Ben Pratama itu ‘kan sudah menikah hampir dua tahun, tapi belum punya anak juga, ya?”
“Katanya, istrinya ada masalah. Mandul.”
“Kasihan Pak Ben. Muda, kaya, tapi bisa punya penerus.”
“Kalau aku, mending menikah lagi.”
Dari pantry, bisik itu merambat ke dalam lift.
Dari lift, masuk ke grup WhatsApp divisi.
Dari grup, sampai ke telinga resepsionis di lobi.
Dan Ben mendengarnya pertama kali dari Pak Herman, Direktur Pemasaran yang sudah bekerja di Ben Holding, sejak perusahaan itu berdiri.
Pak Herman tidak bermaksud menyakiti Ben. Ia hanya merasa perlu memberi peringatan.
“Pak Ben, saya mendengar ada obrolan di luar. Tentang Nyonya Junee. Sebaiknya Bapak bicara dulu dengan beliau. Jangan sampai jadi bahan gosip yang merusak citra perusahaan.”
Ben hanya mengangguk.
Di luar ia terlihat tenang. Namun di dalam, ada sesuatu yang panas dan berat menghimpit dada.
Hari itu, Ben pulang lebih awal.
Junee sudah ada di rumah. Duduk di atas sofa ruang tamu, menatap layar laptop yang tidak menyala.
Junee bahkan tidak menyadari saat Ben masuk.
“Junee.” Panggil Ben pelan.
Junee mengangkat wajah. Matanya terlihat sembap.
Ia sudah tau. Tentang gosip yang beredar di kantor sang suami.
“Aku sudah tau, Ben.” Ucap Junee sebelum sang suami sempat bicara.
“Dari grup alumni SMA. Ada yang kirim screenshot obrolan karyawan Ben Holding. Katanya, istri Ben Pratama mandul. Tidak bisa memberikan keturunan.”
Ben bersimpuh di lantai, tepat di depan kaki Junee.
“Maaf, Junee. Aku terlambat.”
Wanita itu menggeleng pelan.
“Bukan salah kamu. Salah mereka yang terlalu ikut campur rumah tangga kita.”
“Tapi kamu yang menanggungnya, Junee.” Ucap Ben.
“Aku tidak apa-apa, Ben.” Dusta wanita itu.
Ia tersenyum tipis. Dan sangat samar.
Junee kemudian berdiri, melangkah menuju kamar, lalu mengurung diri disana.
Kali ini, Ben tidak mengetuk pintu.
Ia tau, Junee membutuhkan ruang untuk marah, untuk malu, untuk merasa gagal lagi.
Malam harinya, Junee tidak turun untuk makan malam.
Ben memesan sup ayam, makanan favori Junee sejak siklus IVF pertama.
Namun, pintu kamar masih tetap tertutup.
“Junee. Aku masuk, ya. Kita makan malam sebentar.” Ben akhirnya mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban. Ben pun membuka pintu kamar mereka. Ia melihat sang istri meringkuk di atas ranjang.
Pria itu dengan cepat menghampiri. “Junee.“ ia duduk di tepi ranjang.
Sang istri pun menggeliat.
“Kita makan malam sebentar, ya. Aku sudah memesan sup ayam kesukaan kamu.” Ucap Ben sembari mengusap kepala Junee.
“Apa boleh makan disini saja?” Tanya Junee pelan.
Ben menganggukkan kepalanya. “Biar aku ambil dulu.”
Pria itu pun kembali ke dapur untuk mengambil makan malam mereka.
- - -
Keesokan harinya, Junee tidak ikut berangkat ke kantor.
Ia mengatakan pada sang suami jika sedang sakit kepala.
Namun Ben tau itu bukan sakit kepala. Itu harga diri yang terluka.
Di kantor, tekanannya berbeda.
Rapat direksi pagi itu berubah arah.
Pak Surya, pemegang saham minoritas yang selalu diam, tiba-tiba bersuara.
“Pak Ben, saya pikir sudah saatnya kita bicara soal suksesi. Perusahaan ini besar. Kita membutuhkan kepastian siapa yang akan melanjutkan. Maaf, tapi kenyataannya Nyonya Junee belum memberi keturunan. Apakah Bapak tidak mempertimbangkan opsi lain?”
Opsi lain yang di maksud adalah, Ben menikah lagi. Seperti pembahasan para karyawan di pantry.
Ruangan seketika menjadi sunyi.
Semua mata tertuju pada Ben yang duduk di kursi paling ujung.
Ben menutup dokumen di depannya dengan pelan.
Lalu ia menatap ke arah Pak Surya.
“Pak Surya.” Ucapnya datar.
“Perusahaan ini berdiri karena kerja keras saya. Dan sayalah yang menentukan, kepada siapa akan mewariskannya nanti.”
“Namun secara bisnis—”
“Secara bisnis, saya adalah CEO dengan 62% saham.” Potong Ben.
“Perusahaan ini akan saya wariskan kepada orang yang saya pilih. Dan pilihan saya tetap Junee Pratama. Istri saya.
Kalau Bapak dan pemegang saham lain tidak terima, silakan jual saham Bapak sekarang juga. Saya akan beli.” Imbuh Ben.
Suara pena yang jatuh terdengar jelas.
Tidak ada yang berani menyela lagi.
Rapat bubar lima menit kemudian.
Ben pulang dengan kepala penuh.
Di penthouse, Junee masih di dalam kamar.
Kali ini pintunya tidak tertutup. Ia pun masuk ke dalam.
Junee duduk di bersandar pada kepala tempat tidur, sembari memeluk lutut.
Saat melihat Ben, ia langsung menunduk.
“Ben… aku minta maaf.”
“Untuk apa?” Pria itu sembari duduk di tepi ranjang.
“Karena aku menjadi beban. Karena aku membuat kamu malu di depan para bawahan kamu. Karena aku tidak bisa menjadi istri yang ‘lengkap’.” Ucap wanita itu.
Ben mengangkat dagu Junee agar wanita itu menatapnya.
“Kamu dengarkan aku baik-baik, Junee.” Ucap Ben pelan.
“Aku tidak menikahi kamu untuk punya anak.
Aku menikahi kamu karena aku mau hidup dengan kamu.
Kalau mereka melihat nilai seorang istri dari rahimnya, itu masalah untuk mereka. Bukan masalah kita.”
Air mata Junee jatuh lagi.
“Tapi Ben, aku tau kamu ingin punya anak. Aku melihat kamu begitu bahagia saat bersama anak-anak di panti. Kamu begitu bahagia saat mereka memanggil kamu ‘ayah.”
“Ya, aku memang ingin.” Ben mengakui.
“Tapi aku ingin anak itu datang dari kamu yang mau, bukan dari kamu yang hancur, Junee.
Kalau jalannya bukan dari rahimmu, kita bisa mencari jalan lain. Bersama.”
Junee menggeleng.
“Aku takut gagal lagi, Ben.”
“Aku juga takut.” Jawab Ben jujur.
“Tapi aku lebih takut kehilangan kamu karena kamu mundur.” Imbuhnya.
Junee terdiam cukup lama. Kemudian menghambur memeluk sang suami.
Malam itu untuk pertama kalinya setelah dua kali gagal, Junee tidur di pelukan sang suami tanpa menangis.
Rumor di luar masih berjalan.
Rapat pemegang saham belum selesai.
Tapi di dalam kamar ini, Ben dan Junee memilih untuk tidak hancur.
Besok, Ben akan menghadapi mereka lagi.
Dan kali ini, ia tidak akan diam.
---
pesan 1 kak