NovelToon NovelToon
FALLING IN LOVE WITH THE PLAYER OF HEARTS

FALLING IN LOVE WITH THE PLAYER OF HEARTS

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: elfin hati

Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.

Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32 mengurus bayi bayi

"Aduh… aduh… kenapa makin kencang sih, Nak? Kan Ayah sudah angkat… ayo makan, ayo…" Davian mendekapkan bayi itu ke dadanya sendiri, mengelus punggung mungil itu dengan telunjuknya saja karena takut terlalu keras. "Makan di sini ya? Di dada Ayah? Eh… kok nggak ada apa-apanya di sini?! Mana susunya?! Kok kosong?!"

Grey hampir saja terbahak kalau saja tubuhnya tidak terasa sakit sekali. "Davian Arganta… kamu itu lucu sekali ya… bayi minumnya dari botol atau dari aku… bukan dari dada bapaknya…"

Wajah Davian memerah padam karena malu, tapi rasa malunya kalah oleh rasa khawatir. Ia menurunkan Arga pelan-pelan kembali ke buaian, lalu menatap ketiga anaknya yang masih menangis itu dengan tatapan pasrah dan sedih, seolah sedang menghadapi musuh paling berbahaya di dunia.

"Maaf… Ayah bodoh ya… Ayah nggak tahu caranya… Ayah cuma bisa ngasih apa saja yang kalian mau, tapi ini… ini Ayah nggak punya…" gumamnya sedih, lalu ia berlutut kembali di samping kasur, menatap Grey dengan pandangan memohon. "Sayang… ajarin aku. Tolong ajarin aku. Kamu sakit, kamu capek, aku tahu. Aku nggak mau kamu kerja apa-apa lagi hari ini. Biar aku saja yang urus semuanya. Aku mau belajar. Aku harus bisa. Kalau aku nggak bisa siapa lagi? Aku ini kepala keluarga, aku pelindung kalian."

Grey tersenyum lembut, mengulurkan tangannya menyentuh pipi suaminya. "Iya… ayo dekat sini. Pertama, ambil Kalya dulu, dia yang paling tenang. Caranya pelan-pelan, tangan kiri sangga kepalanya, tangan kanan sangga pantatnya. Lembut saja… bayi itu tulangnya masih lunak, Sayang… sehalus kapas."

Davian mengangguk serius sekali, seolah sedang mendengarkan perintah strategi perang yang paling krusial. Napasnya diatur panjang, matanya menatap tajam ke arah Kalya seolah berkata: Tenang Nak, Ayah datang menyelamatkanmu dari rasa lapar.

Dengan gerakan sangat lambat dan hati-hati, tangan besar itu mengangkat tubuh mungil putrinya. Tubuh kecil Kalya yang beratnya tidak sampai tiga kilogram itu terasa begitu ringan di tangan Davian, tapi juga terasa begitu berharga, seolah ia sedang memegang dunia di kedua telapak tangannya. Saat Kalya meringkuk dan menempelkan wajah kecilnya ke dada Davian, tangisan mungilnya perlahan mereda.

Hati Davian langsung meleleh sepenuhnya.

"Dia… dia pegang bajuku, Sayang…" bisik Davian dengan suara gemetar, matanya berkaca-kaca lagi. Ia menatap wajah putrinya lekat-lekat. "Dia nyaman sama aku… Kalya tahu Ayahnya ada di sini. Dia percaya sama aku."

"Nah, sekarang dekatkan ke aku pelan-pelan…" arahan Grey lembut.

Davian melakukannya dengan sangat hati-hati, memposisikan Kalya dengan bantuan istrinya. Saat putri kecilnya mulai menyusu dengan tenang, Davian berdiri diam di sana, menatap pemandangan itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ada rasa bangga, rasa syukur, rasa cinta yang meluap-luap hingga sesak di dada.

"Kamu hebat sekali, Grey…" bisiknya parau. "Kamu bawa mereka ke dunia ini, kamu kasih mereka hidup… kamu segalanya buat kami."

Setelah Kalya selesai, giliran Arga dan Raka. Dan di situlah dimulai ujian sesungguhnya bagi Sang Penguasa. Mengurus dua bayi laki-laki yang nafsu makannya besar itu ternyata jauh lebih sulit daripada mengurus ratusan anak buah. Davian harus membagi perhatian, menggendong satu, menenangkan yang lain, menyeka ludah yang keluar, dan menepuk-nepuk punggung mereka agar sendawa.

Baju kemejanya yang mahal kini penuh noda air susu dan ludah bayi. Rambutnya makin berantakan karena ia sering mengacak-acaknya sendiri saat bingung. Kakinya pegal karena berdiri berjam-jam tak mau duduk, takut salah posisi. Keringat dingin terus mengalir di pelipisnya bukan karena ketakutan, tapi karena konsentrasi tingkat tinggi. Ia tidak mau salah sedikit pun.

"Eh… Raka, Nak… jangan dilepeh dong… ini enak lho, susu dari Ibu… nanti kalau nggak habis, Ibu sakit lho. Ayah juga sedih kalau kamu nggak mau makan…" oceh Davian sambil mengarahkan kembali botol susu ke mulut Raka yang menolak, wajahnya berkerut serius bernegosiasi dengan bayi berumur beberapa jam. "Kamu harus kuat, Nak. Nanti kalau besar, kamu harus lindungi Ibu dan Kakak Kalya. Kalau nggak makan, mana kuat? Ayah dulu juga makan banyak, makannya Ayah kuat, bisa lawan siapa saja…"

Grey yang sudah selesai dan bersandar lemas di bantal, hanya bisa melihat suaminya dengan senyum bahagia. Ia melihat sisi lain dari Davian Arganta yang tidak pernah dilihat dunia luar. Di sini, di kamar ini, kekuasaan, kekayaan, dan ketakutan orang lain tak ada artinya sama sekali. Davian bukan lagi penguasa, bukan lagi bos besar, bukan lagi orang yang ditakuti. Davian hanyalah seorang ayah yang berjuang mati-matian belajar menjadi yang terbaik bagi anak-anaknya, dan seorang suami yang rela berlutut, berantakan, dan menangis demi istrinya.

Setelah semua bayi kenyang, bersendawa, dan kembali tidur pulas dengan perut kenyang, Davian berjalan terhuyung-huyung ke arah tempat tidur. Ia duduk di tepi kasur, menjatuhkan tubuhnya yang lelah luar biasa, lalu membiarkan kepalanya bersandar di sisi tempat tidur, tepat di samping tangan Grey.

Matanya menatap ketiga buaian itu sekali lagi untuk memastikan semuanya aman, sebelum ia menoleh ke arah Grey. Wajahnya penuh lelah, tapi senyumnya begitu tulus dan bahagia hingga membuat hati Grey bergetar.

"Rasanya… rasanya kalau begini, aku rela nggak punya apa-apa, Sayang…" ucap Davian pelan, matanya mulai berat karena kantuk yang tak tertahankan. "Rela aku buang semua kekuasaanku, semua hartaku, semua namaku… asalkan aku bisa begini terus sama kamu dan mereka. Cuma begini saja sudah cukup buat aku. Ini harta paling mahal yang pernah aku punya."

Tangan besarnya yang kasar dan penuh bekas luka itu menggenggam tangan Grey dengan lembut, erat namun tak menyakiti.

"Mulai hari ini, ada aturan baru di rumah ini. Aturan nomor satu: Ibu Grey harus istirahat, dilarang berat-berat, dilarang capek. Aturan nomor dua: Segala sesuatu yang berhubungan dengan anak-anak, Ayah Davian yang urus. Mulai dari mandiin, ganti popok, ajak ngomong, semuanya. Aturan nomor tiga: Kalau ada yang rewel, kalau ada yang nangis, panggil Ayah saja. Ayah ini penguasa ingat? Nggak ada yang berani lawan aku… bahkan anak-anakku sendiri pun harus nurut sama aku… walau sepertinya mereka lebih galak sih," tambahnya dengan suara tertawa pelan sebelum matanya perlahan tertutup.

Kelelahan semalam dan pagi ini akhirnya menaklukkan Sang Penguasa. Ia tertidur dalam posisi duduk, kepalanya bersandar di tepi kasur, tangan tetap menggenggam tangan istrinya, napasnya teratur dan damai. Di luar sana, orang-orang mungkin masih gemetar mendengar nama Davian Arganta, tapi di dalam ruangan ini, di antara wanita yang dicintainya dan tiga malaikat kecilnya, Davian hanyalah ayah yang paling bahagia, paling heboh, dan paling berjuang di seluruh dunia.

Dan Grey tahu, perjalanan baru mereka sebagai orang tua baru saja dimulai—penuh tawa, air mata, kekacauan, dan cinta yang tak akan pernah habis.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!