"Jangan nona,kami takut tuan akan memarahi kami."ucap pria itu yang memohon pada Nonanya untuk tidak pergi.
"Sudahlah, biarkan aku pergi sekarang.Lebih baik kalian diam saja."jawab wanita itu dengan nada marah.
Wanita itu langsung pergi dengan membawa sepeda motor jadulnya menuju lokasi tempat tinggal sementara dirinya.
Dibalik semua itu ternyata dia sedang menutupi identitasnya dan mencoba berbaur dengan orang lain , apalagi dibalik dia melakukan itu ada maksud tertentu tentang misi yang sedang dia lakukan untuk mencari informasi penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArsyaNendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Siang hari
Posisi Nina masih sibuk di ruang kerjanya, tiba-tiba saja Ponsel miliknya berdering.Nina melirik ponsel miliknya.
"Dia lagi." batin Nina yang melihat panggilan dari Andra.
"Halo."
"Halo,sibuk ya?" tanya Andra yang sekedar basa-basi bertanya.
"Tidak,ada apa?" tanya balik Nina pada Andra.
"Hanya ingin tanya,sudah makan siang belum." pertanyaan yang sangat asing yang sering sepasang kekasih tanyanya.Kadang bertanya kabar , sudah makan belum,sedang apa semuanya pertanyaan yang sangat sering ditanyakan oleh pasangan kekasih yang umumnya tanyakan.
Nina hanya menggelengkan kepala,betapa bucinnya Andra kepada dirinya.
"Belum ." jawab singkat Nina.
"Lebih baik kamu istirahat dulu,nanti baru melanjutkan pekerjaan." ucap Andra sekedar mengingatkan.
"Iya sebentar lagi, cerewet." jawab Nina yang masih menanggapi dengan nada jutek.
"Jangan marah,aku hanya mengingatkanmu." ucap Andra yang pelan-pelan mengingat Nina.
"Iya aku tahu." jawab Nina yang terlihat begitu kesal kenapa pria itu selalu mengatur hidupnya.
"Nanti sore aku jemput ya." Seketika kedua mata Nina langsung melotot.
"Gawat,jangan sampai ia tahu siapa aku sebenarnya." batin Nina yang mulai cemas.
"Mungkin hari ini aku kerja lembur,nanti malam aku baru bisa pulang." Nina memakai alasan itu agar Andra tak mencurigai dirinya.
"Begitu ya,apa nanti malam saja aku jemput?" tanya Andra yang ingin sekali menjemputnya.
"Tidak,aku bisa pulang sendiri." Nina langsung menolaknya.
"Tapi...."
"Aku sudah bilang kan,aku bisa pulang sendiri." sontak saja Andra menghela nafas pelan-pelan.
"Baiklah,tapi ingat setelah ini kamu harus makan siang." Pesan Andra pada Nina.
"Iya aku tahu." jawab Nina yang nampak begitu kesal,Sambungan telepon langsung terputus.
"Belum apa-apa seenaknya dia mengatur hidupku." gumam Nina yang merasa kesal sendiri dengan ulah Andra.
Nina segera mengirim pesan pada Milano untuk segera mencari makan siang.
Beberapa menit kemudian
Akhirnya makan siang Nina sampai juga,"Nanti setelah selesai makan siang aku akan pergi ke Markas, semua pekerjaan di kantor kamu selesaikan." perintah Nina pada Milano.
"Baik Nona." jawab Milano yang mengerti arahan dari Nonanya.
Setelah selesai makan siang,Nina segera pergi ke markas menemui Lukas.Benar saja setelah Nina datang situasi di Markas sudah dipenuhi mereka yang mulai bersiap-siap untuk pekerjaan yang akan mereka kerjakan nanti.
"Nona." Sapa Lukas yang menyapa kehadiran Nonanya.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Nina pada Lukas.
"Sudah Nona, bahkan beberapa orang sudah standby mengawasi posisi mereka." jawab Lukas yang sudah mengerjakan semuanya.
"Bagus,kita tunggu waktu yang tepat." Jawab Nina yang hanya menunggu mereka dan sesuai rencana pada akhirnya Nina akan memberikan pelajaran pada mereka.
Tak terasa waktu sudah malam,sudah waktunya mereka bergerak.Beberapa orang suruhannya mulai bergerak, sedangkan Nina menunggu didalam mobil melihat beberapa dari mereka sudah di tangkap bahkan dari mereka sudah dalam posisi babak belur karena ulah anak buah dari Nina.
Nina tersenyum sinis,"Selanjutnya kita interogasi mereka." ucap Nina yang langsung memerintahkan Lukas dan Milano untuk segera mengerjakan tugas mereka.
Akhirnya mereka kembali ke tempat Markas mereka dan langsung menyeret mereka semua.
Mereka semua berada di penjara bawah tanah yang tentunya cahaya sangatlah minim dengan udara sangat lembab dan tentunya suasana di tempat itu sangat mencengkam.
Posisi Nina sudah sampai diarea terlarang yang dimana lokasinya itu berdekatan dengan jalur penjara bawah tanah.
"Siapkan senjata yang aku butuhkan." Perintah Nonanya yang langsung saja mereka lakukan.
"Semuanya sudah ada di ruang eksekusi,jika Anda ingin menggunakan silakan." jawab Lukas yang sengaja' dari awal sudah mempersiapkan itu semuanya.
Nina masuk menemui mereka dengan kondisi babak belur,"Ternyata kalian masih kuat bertahan." ucap Nina pada mereka.
"Siapa kamu, beraninya kamu..." belum selesai bicara Nina langsung memberikan pelajaran.
"Tutup mulutmu,aku hanya ingin informasi dari kalian.Jadi jawab pertanyaanku." ucap Nina dengan nada dingin.
"Siapa orang yang menyuruh kalian untuk membantai satu keluarga di kejadian 5 tahun yang lalu." Pertanyaan itu membuat mereka terdiam seolah sudah melupakan hal itu.
Nina mengambil pistol dan menembak kaki mereka,"Jika kalian masih tutup mulutmu maka malam ini hari terakhir kalian untuk hidup." Ancaman itu membuat mereka terdiam.
"Kejadian 5 tahun yang lalu?"
"Kalian menghabisi seorang ibu dan anak,hingga mereka kalian siksa.Apa kalian benar-benar bodoh atau sekedar bersandiwara?" tanya Nina yang terlihat begitu kesal.
"Apa mungkin ,di rumah mewah itu bos?" tanya salah satu dari mereka pada bos mereka.
Pria itu terdiam menatap tajam kearah Nina,"Lalu apa hubunganmu dengan mereka?" tanya salah satu dari mereka yang dimana pria itu ketua mereka.
"Tak perlu banyak tanya kamu,jika kalian masih menyayangi nyawa kalian lebih baik jujur siapa orang yang menyuruh kalian." ucap Nina dengan tatapan dingin kepada mereka.
"Bos kita jujur saja." ucap lirih pria yang ada disampingnya Bos mereka.
"Tidak akan." langsung saja Nina menembak salah satu dari mereka hingga peluru mengenai badan mereka.
Situasi makin panas, dengan cepat Nina menembak salah satu dari mereka.Sedangkan posisi Milano dan Lukas tersenyum sinis,"Sepertinya mereka tak tahu betapa kejamnya Nona kita." ucap Milano dengan suara lirih kepada Lukas.
"Biarkan Nona yang menghukum mereka,mereka orang-orang bodoh yang salah berurusan dengan Nona seperti kita." jawab Lukas yang merasa menarik dengan apa yang Nonanya lakukan.
"Masih tutup mulut?" Pertanyaan itu sontak saja membuat mereka ketakutan.
"Baiklah aku akan bicara,kami perintah oleh tuan Marcel dan Nyonya Bagaskara." langsung saja kedua mata Nina melotot.
"Apa kamu bilang!" teriak Nina yang langsung emosi.
"Hanya itu yang kami tahu." jawab pria itu terpaksa berbicara jujur dengan siapa klien yang selama ini menyewa jasa mereka.
"Dasar biadab!" Nina begitu emosi setelah mendengar kebenarannya itu.
Milano dan Lukas kaget mendengar kebenaran dari mereka jika mana kedua orang itu penyebab kematian Mama dan adiknya.
"Tapi Nona,apa hubungan antara tuan Marcel dengan Nyonya Bagaskara?" tanya Milano yang terkejut kenapa keduanya saling bekerjasama.
"Aku tak tahu, lebih baik kita cari apa hubungan mereka." jawab Nina yang terlihat begitu emosi setelah mendapati kebenaran kematian keluarganya.
Nina melirik kearah mereka yang saat itu dalam posisi duduk terikat,"Urus mereka semua,masukkan mereka di kandang belakang Markas." Nina langsung pergi dari tempat penjara bawah tanah , dengan emosi yang meledak-ledak.
"Baiklah tuan Marcel, tunggu kapan aku akan menghancurkan semua yang kamu miliki." gumam Nina yang sudah emosi dengan kelakuan musuhnya selama ini.