NovelToon NovelToon
THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

THE LAST SUNRISE

Echoes of Light: Before the Sky Turns Red

Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.

Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.

Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: MARKAS KEDUA RUMAH

Kalau ada satu hal yang tidak diajarkan di buku panduan kadet, itu adalah bagaimana aroma bawang putih goreng bisa mengalahkan bau logam dingin dan oli mesin yang biasanya menempel di seluruh sudut Markas Delta-7.

Raka menghirup dalam-dalam begitu pintu ruang rekreasi terbuka. "Bim, lo masak apa sih? Baunya sampai ke lorong asrama."

Dari balik partisi dapur darurat yang dibuat seadanya, kepala Bimo muncul. Wajah besarnya penuh tepung, dan dia mengenakan celemek berwarna merah muda cerah dengan tulisan "Chef of Destruction" yang kontras banget sama otot lengan besarnya yang kekar.

"Nasi Goreng Meteor spesial!" seru Bimo bangga, mengacungkan spatula raksasa seolah itu pedang laser. "Rayakan misi kucing tadi! Ayo masuk, sebelum Kai habisin duluan!"

Benar saja, Kai sudah duduk di meja panjang dengan piring kosong di depan, matanya terpaku pada tumpukan telur dadar setinggi tiga lapis yang baru saja diletakkan Bimo. "Aku cuma nyiapin tempat, kok," bela Kai sambil mengambil sumpit, meski tangannya sudah gemetar ingin menyambar makanan.

Elara, yang biasanya paling ketat soal aturan ("Dilarang makan di area kerja!", "Seragam harus rapi 24 jam!"), kali ini diam saja. Dia bahkan melepaskan jaket seragamnya, melipatnya rapi di sandaran kursi, lalu duduk dengan bahu yang sedikit lebih turun dari biasanya. Wajahnya yang tajam mulai mencair saat uap panas dari mangkuk sup jagung menyentuh hidungnya.

"Makan dulu, baru urus peraturan besok," gumam Elara, mengambil sendok. Ada senyum tipis, sangat tipis, di bibirnya. "Meskipun... baunya memang susah ditolak."

Malam itu, ruang makan markas berubah total. Tidak ada lagi suasana kaku ala militer. Piring-piring berserakan, suara kunyahan, dan tawa mengisi ruangan. Mereka bercerita tentang hal-hal remeh: betapa konyolnya wajah Gubernur saat kucingnya menjilati hidungnya, atau bagaimana Kai hampir terpeleset karena terlalu panik melihat ketinggian.

"Enak banget, Bim," kata Raka dengan mulut setengah penuh, menunjuk potongan ayam goreng di piring saji. "Rasanya kayak masakan ibu aku dulu. Ada sedikit hangus di bagian kulitnya, tapi justru itu yang bikin enak."

Bimo tertawa lebar sampai matanya sipit. "Itu teknik high-heat khusus! Kalau nggak hangus dikit, nggak namanya masakan Bimo!"

Di tengah keriuhan itu, terjadi momen kecil yang seolah biasa saja, tapi entah kenapa membuat udara di sekitar mereka terasa sedikit berbeda.

Hanya tersisa satu potong ayam terbesar di piring saji. Kulitnya keemasan, renyah, dan terlihat sangat menggoda.

Tangan Raka dan tangan Elara bergerak bersamaan menuju potongan itu. Ujung jari mereka hampir bersenturan di atas permukaan ayam yang masih hangat.

Mereka berhenti. Menatap satu sama lain.

"Eh, maaf," Raka cepat-cepat menarik tangannya, tersenyum canggung. "Silakan, El. Kan kamu yang memimpin tadi di menara. Kamu butuh energi lebih."

Elara menatap ayam itu, lalu menatap mata Raka. Biasanya, dia akan langsung mengambil apa yang menjadi haknya tanpa ragu. Tapi malam ini, sesuatu menahan dirinya. Pipinya merona sedikit, mungkin karena pantulan lampu dapur, atau mungkin karena sesuatu yang lain.

"Nggak," elak Elara, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Kamu yang nangkep kucingnya. Kamu yang... ambil risiko paling besar. Itu hak kamu."

"Tapi..."

"Ambil aja, Rak," potong Elara cepat, seolah takut kalau dia berpikir terlalu lama dia bakal berubah pikiran. "Anggap aja... hadiah dari aku."

Raka tersenyum, dadanya terasa hangat aneh. "Oke. Tapi setengah buat kamu."

Dengan cekatan, Raka membelah ayam itu jadi dua bagian sama rata pakai garpu, lalu nyodorin separuhnya ke piring Elara.

"Deal?" tanya Raka.

"Deal," jawab Elara sambil tersenyum. Senyum yang tulus, bukan senyum sopan santun biasa.

Mereka makan bagian ayam itu dalam diam yang nyaman. Bukan diam yang canggung, tapi diam yang bilang: Aku senang ada di sini sama kamu.

Di seberang meja, Bimo dan Kai saling lirik. Bimo mengedipkan mata jahil, sementara Kai pura-pura batuk buat nutupin senyumnya. Mereka tahu. Semua orang tau kecuali mungkin Raka dan Elara sendiri, bahwa ada benih sesuatu yang lebih dari sekadar teman tim lagi tumbuh di antara mereka.

Setelah perut kenyang dan piring-piring bersih (berkat Bimo yang rajin membersihkan), mereka pindah ke sofa empuk di sudut ruangan. Lampu utama dimatiin, cuma nyisain lampu sorot temaram yang bikin suasana jadi santai.

"Kalian tau nggak," kata Kai tiba-tiba, sambil mainin hologram kecil di jarinya yang nampilin foto-foto mereka hari ini. "Aku jarang merasa senyaman ini. Di akademi lama, semuanya kompetisi. Siapa nilai tertinggi, siapa tercepat. Nggak ada... ini."

"Iya," sahut Bimo sambil ngelus perutnya yang buncit. "Rasanya seperti punya keluarga lagi. Setelah ortu aku pindah ke sektor pertanian tahun lalu, aku ngerasa kesepian. Tapi di sini... rasanya lengkap."

Elara menatap api buatan di perapian digital yang berkedip pelan. "Aku juga. Dulu aku pikir gabung Squadron itu cuma soal tugas. Jaga kota, ikut perintah. Tapi hari ini... aku sadar, yang kita jaga sebenernya adalah momen-momen kayak gini. Momen di mana kita bisa ketawa tanpa takut."

Semua mata otomatis beralih ke Raka. Dia duduk agak terpisah, memeluk bantal sofa, natap teman-temannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kebahagiaan di matanya, tapi juga ada kesedihan yang dalam, tersembunyi di balik senyumnya.

"Aku cuma pengen kalian semua bahagia," ucap Raka pelan, suaranya hampir tenggelam oleh desisan api digital. "Sisanya... biar aku yang urus. Apa pun yang terjadi, pastiin kalian tetap bisa ketawa kayak malam ini."

Suasana hening sebentar. Kalimat itu terdengar mulia, kayak janji seorang pahlawan. Bimo manggut semangat. "Pasti, Rak! Kita bakal bahagia bareng-bareng!"

Kai nambahin, "Dan kamu bagian dari kebahagiaan itu, Rak. Jangan lupa."

Raka cuma angguk, nggak jawab lebih lanjut. Dia natap telapak tangannya lagi. Di bawah cahaya remang, butiran emas itu masih ada, sedikit lebih banyak dari kemarin. Kayak pasir jam yang terus jatuh, ngitung mundur waktunya.

Aku nggak bisa janji, batinnya sakit. Soalnya aku nggak tau apakah aku bakal masih ada di sini bulan depan. Atau minggu depan.

Tapi dia nggak ngomongin itu. Dia milih untuk nyimpen beban itu sendirian, biarin teman-temannya nikmatin ilusi keabadian ini sedikit lebih lama.

"Malam ini indah," gumam Elara, memejamkan mata, nikmatin kehangatan persahabatan mereka.

"Iya," bisik Raka. "Sangat indah."

Di luar jendela markas, langit Neo-Solara berkedip pelan. Siklus malam berjalan normal. Nggak ada tanda-tanda badai. Nggak ada peringatan bahaya. Cuma kedamaian yang nyelimutin kota kubah itu.

Tapi di dalam dada Raka, badai udah mulai berputar. Dan dia tau, semakin dekat dia sama mereka, semakin sakit saat dia harus pergi. Tapi untuk malam ini, dia bakal jadi bagian dari keluarga ini. Satu malam lagi. Satu tawa lagi. Satu kenangan lagi.

"Besok latihan gabungan, kan?" tanya Bimo memecah keheningan, kembali ke realitas.

"Iya," jawab Elara, buka mata dengan sigap. "Simulasi perang tim. Kita harus kompak."

"Tenang," kata Raka, berdiri dan meregangkan badan, senyum nakalnya kembali muncul. "Dengan chef Bimo yang memberi kita tenaga super, kita pasti menang. Bahkan kalau musuhnya robot raksasa!"

Mereka ketawa lagi. Tawa yang mengisi ruangan, usir bayang-bayang ketakutan Raka untuk sesaat.

Malam itu, mereka tidur dengan nyenyak, mimpiin kemenangan dan masa depan yang cerah. Mereka nggak tau bahwa latihan besok bakal jadi bencana lucu yang justru memperkuat ikatan mereka. Dan mereka certainly nggak tau bahwa setiap tawa malam ini adalah investasi kenangan yang bakal sangat berharga saat langit berubah merah.

Tapi bagi Raka, malam ini sudah cukup. Jadi bagian dari "rumah" ini, meski cuma sebentar, adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya yang singkat.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!