Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.
Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.
Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambisi Baru
Matahari pagi baru saja terbit, menyelinap masuk lewat celah-celah jendela kaca besar ruang kerja utama keluarga Buwana, namun kesibukan di kediaman megah itu sudah berjalan sejak dini hari. Udara pagi yang sejuk tidak mampu mendinginkan suasana yang penuh ketegangan dan ambisi yang membara. Di balik meja kerja berukir indah yang terbuat dari kayu mahoni hitam, Dewa Angkasa Buwana duduk tegak. Sorot matanya tajam, dingin, dan penuh perhitungan ciri khas seorang pemimpin yang namanya dikutuk sekaligus dipuja di seluruh jalur perdagangan gelap maupun sah di negeri ini. Di hadapannya, berjejer rapi tumpukan dokumen tebal, peta wilayah, dan laporan bisnis yang terbentang luas, menandakan betapa besarnya kekuasaan yang kini ada di tangannya, dan betapa beratnya tanggung jawab yang harus ia pikul.
Di sisi kiri meja, Naura duduk tenang. Ia tidak lagi terlihat seperti istri yang hanya diam menunggu di balik tirai. Kini, ia duduk sejajar dengan Dewa, memegang dokumen-dokumen penting dengan tangan mantap, matanya meneliti setiap baris tulisan dengan ketelitian yang mengagumkan. Sebagai pewaris tunggal keluarga Zafira, darah pemimpin mengalir deras di tubuhnya, dan kini ia menggunakannya untuk menyatukan dua kerajaan besar menjadi satu kekuatan yang tak tergoyahkan.
Sedangkan di sisi kanan, berdiri Sera. Wanita itu tampak berbeda hari ini; tidak lagi ada bayang-bayang ketakutan atau kebohongan di wajahnya. Ia berdiri tegak, mengenakan pakaian rapi berwarna gelap, dan di tangannya ia memegang sebuah buku catatan tua bersampul kulit cokelat benda yang selama puluhan tahun menjadi simpanan rahasianya, berisi jejak-jejak, nama-nama, dan rencana-rencana yang dulu ia simpan untuk kehancuran, namun kini ia serahkan sepenuhnya untuk kemenangan mereka.
"Semua ini..." ucap Sera pelan namun jelas, tangannya menunjuk deretan nama yang tertulis rapi di halaman pertama buku itu, "adalah nama-nama orang yang selama ini berada di balik layar, memanfaatkan perselisihan Buwana dan Zafira untuk keuntungan pribadi mereka. Mereka yang menggerakkan Arga, mereka yang menyebarkan isu palsu soal hubungan darah, dan mereka yang paling takut melihat kalian berdua bersatu."
Dewa mengangkat wajahnya, menatap deretan nama itu dengan sorot mata yang mengerikan. Bagi orang lain, nama-nama itu mungkin hanya sekadar daftar tokoh berpengaruh di dunia bisnis dan politik, namun bagi Dewa, itu adalah daftar nama orang mati yang sedang menunggu giliran untuk dihancurkan.
"Kau tahu di mana mereka berada? Kau tahu kelemahan mereka?" tanya Dewa, suaranya rendah namun berat, seolah ada badai yang tertahan di balik kalimat itu.
"Aku tahu segalanya, Dewa. Aku tahu siapa yang berhutang, siapa yang berkhianat, siapa yang bermain di dua sisi, dan di mana letak kuburan rahasia mereka masing-masing," jawab Sera tegas. "Dulu aku bodoh, aku pikir aku bisa menjadi penguasa dengan memecah belah kalian. Tapi aku salah. Kekuatan sejati ada di sini, di persatuan kalian. Dan sekarang, pengetahuan ini adalah senjata terkuat kita untuk membalas semua kejahatan yang telah mereka lakukan."
Dewa tersenyum tipis, senyum yang tidak menyentuh matanya senyum khas seorang iblis yang baru saja menemukan daftar dosa musuh-musuhnya. Ia menoleh ke arah Naura, dan seketika itu juga, kekejaman di wajahnya luntur, berganti menjadi kelembutan yang hanya ia miliki untuk wanita itu. Ia meraih tangan Naura yang tergeletak di atas meja, menggenggamnya erat.
"Kau dengar itu, Sayang?" bisik Dewa, cukup terdengar oleh keduanya. "Musuh kita bukan hanya satu atau dua orang. Mereka adalah jaringan besar, raksasa yang selama ini hidup subur di atas dendam kita. Mereka pikir mereka pintar bermain di balik layar, membiarkan kita saling membunuh hanya demi keuntungan uang dan kekuasaan mereka."
Naura membalas genggaman itu, menatap suaminya dengan keyakinan penuh. "Dan sekarang mereka akan menyesal, Dewa. Mereka menyesal telah membuat kita saling bermusuhan, dan mereka akan lebih menyesal lagi saat tahu bahwa kita kini berdiri berdampingan, menjadi satu kesatuan yang siap menghancurkan siapa saja yang berani menyakiti kita."
"Benar," jawab Dewa tegas. Ia melepaskan tangan istrinya dan kembali berdiri, aura pemimpin mutlak kembali mendominasi ruangan. Ia berjalan mendekati peta besar yang menempel di dinding, menunjuk sebuah wilayah bisnis yang luas di bagian utara kota.
"Rian!" panggil Dewa keras.
Pintu terbuka seketika, Rian masuk dengan langkah cepat dan tegap, diikuti oleh Raga dan Pak Wahyu. Wajah mereka serius, siap menerima perintah apa pun dari tuannya pria yang mereka hormati dan takuti lebih dari siapa pun di dunia ini.
"Siap, Tuan Dewa!" jawab mereka serempak.
"Dengar baik-baik," perintah Dewa, suaranya menggema, dingin, dan penuh ancaman mematikan. "Mulai hari ini, kita lakukan pembersihan total. Kita ambil alih semua jalur perdagangan, baik yang sah maupun yang di bawah tanah, yang selama ini dikuasai oleh kelompok-kelompok yang tertera dalam daftar Sera. Aku tidak peduli apakah itu bisnis properti, ekspor-impor, atau jalur distribusi barang gelap. Semuanya harus jatuh ke tangan kita."
Dewa menatap tajam ke arah Rian.
"Kau tangani sisi 'khusus'-nya. Gunakan pasukan elit kita. Pastikan tidak ada perlawanan yang berarti. Jika ada yang berani melawan, berikan mereka pelajaran yang paling mereka ingat seumur hidup. Aku ingin mereka tahu, bahwa sejak hari ini, nama Buwana dan Zafira yang bersatu adalah hukum yang mutlak. Siapa pun yang melanggar atau menghalangi, akan kuhancurkan hingga ke akar-akarnya, sampai tidak ada sisa sedikit pun untuk dikuburkan."
Rian mengangguk mantap, matanya berkilat antusias. Ia sangat paham betul sifat tuannya itu. Dewa Angkasa Buwana tidak pernah main-main saat berbicara soal kekuasaan atau keselamatan keluarganya. "Akan saya laksanakan sepenuhnya, Tuan. Tidak akan ada yang berani melawan lagi."
Dewa lalu beralih menatap Raga dan Pak Wahyu.
"Kalian berdua bekerja sama dengan Sera dan Naura. Kalian urus sisi hukum, dokumen, perizinan, dan aliran uangnya. Kita harus memastikan bahwa saat kita mengambil alih kekuasaan itu, semuanya terlihat sah, rapi, dan tidak ada celah bagi musuh untuk menjatuhkan kita lewat jalur hukum. Naura akan memimpin strategi bisnis ini. Dia adalah Nyonya Buwana, dia adalah pewaris Zafira, dan keputusannya sama mutlaknya dengan keputusanku sendiri. Kalian harus patuh dan melayani dia seperti kalian melayani aku."
Perintah itu membuat Naura tersentak sedikit, namun rasa bangga dan percaya diri segera memenuhi dadanya. Dewa tidak hanya menganggapnya sebagai istri, tetapi juga sebagai rekan setingkat yang berhak memimpin kerajaan besar ini bersamanya.
"Siap, Tuan. Kami akan membantu Nyonya Naura sepenuhnya," jawab Raga dan Pak Wahyu hormat.
Setelah semua orang mendapat bagian tugas dan mulai bergerak keluar ruangan untuk mengeksekusi rencana besar itu, hanya tinggal Dewa dan Naura yang tersisa di ruangan luas itu. Suasana menjadi hening kembali, namun tidak lagi terasa kosong atau dingin seperti dulu. Ada kehangatan, ada rasa aman, dan ada ikatan cinta yang semakin kuat mengikat keduanya.
Dewa berjalan mendekat, merangkul pinggang ramping istrinya dan menarik tubuh wanita itu mendekat ke dadanya. Ia menatap wajah Naura lekat-lekat, meneliti setiap inci wajah yang menjadi sumber kekuatan dan kelemahannya sekaligus. Bagi dunia luar, Dewa adalah monster berdarah dingin yang tidak memiliki hati, pria yang bisa memerintahkan pembunuhan tanpa berkedip sedikit pun. Namun di sini, dalam keheningan ruangan ini, ia hanyalah seorang pria yang rela membakar seluruh dunia hanya untuk melihat senyum di wajah wanita ini.
"Kau tidak takut, Naura?" tanyanya pelan, jemarinya mengusap lembut pipi istrinya. "Dunia tempat kita berjalan ini penuh darah, penuh pengkhianatan, dan penuh bahaya. Musuh kita banyak, dan perjalanan kita masih sangat panjang. Sampai bab terakhir kisah ini, sampai kita benar-benar meraih kedamaian, akan ada banyak pertarungan, banyak intrik, dan banyak nyawa yang harus dikorbankan. Apakah kau siap menemaniku menjadi Ratu di dunia yang kejam ini?"
Naura tersenyum indah, melingkarkan tangannya ke leher Dewa, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka saling bersentuhan. Ia menatap mata hitam suaminya dengan tatapan penuh cinta dan keyakinan yang tak tergoyahkan.
"Dulu aku takut, Dewa. Dulu aku membenci perjodohan ini, aku membenci takdir yang mempertemukan kita dalam balutan dendam. Dulu aku bahkan takut mencintaimu karena aku percaya kebohongan bahwa kita bersaudara, bahwa apa yang kita rasakan adalah dosa."
Naura berhenti sejenak, lalu tersenyum lebih lebar, matanya berbinar terang.
"Tapi sekarang? Sekarang aku tahu kebenarannya. Kita tidak bersaudara. Kita tidak terikat darah, tapi kita terikat oleh takdir, oleh janji, dan oleh cinta yang tumbuh melewati segala rasa sakit dan kebohongan. Kau adalah suamiku, Dewa. Kau adalah pria yang dulu kubenci, yang kini menjadi satu-satunya alasanku bernapas. Aku tidak takut pada bahaya, aku tidak takut pada musuh, dan aku tidak takut pada darah yang mungkin harus menodai tangan kita. Karena aku tahu, selama aku ada di sisimu, dan kau ada di sisiku, kita tidak akan pernah kalah."
Dewa tersenyum, senyum paling tulus dan bahagia yang pernah ia miliki dalam hidupnya. Ia mencium kening istrinya dengan penuh rasa syukur, lalu mengecup bibirnya lembut namun penuh kepemilikan. Ciuman itu adalah janji, adalah sumpah setia, dan adalah tanda bahwa tidak ada lagi yang bisa memisahkan mereka.
"Kau adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku, Naura," bisik Dewa di sela-sela ciuman itu. "Dulu aku berpikir hidupku hanya soal balas dendam dan kekuasaan. Aku berpikir aku akan hidup dan mati sebagai iblis yang kesepian. Tapi kau datang... kau mengubah segalanya. Kau mengubah dendam menjadi cinta, dan kekuasaan menjadi tanggung jawab untuk melindungi kebahagiaan kita."
Dewa melepaskan pelukannya sedikit, namun tangannya tetap erat memegang bahu istrinya, menatapnya dengan sorot mata yang kembali berubah tajam dan penuh tekad.