NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: PERANG DI MEJA MAKAN

Ruang kerja Matteo Al-Ricci adalah perwujudan dari jiwanya, dingin, sangat teratur, dan didominasi oleh warna-warna gelap yang mengintimidasi.

Di balik meja mahoni raksasa, Matteo duduk di kursi rodanya, menatap Alesha dengan tatapan yang bisa membekukan air.

Di hadapannya, terdapat beberapa lembar kertas putih bersih dengan kop surat keluarga Al-Ricci.

"Duduk, Alesha," perintah Matteo tanpa basa-basi.

Alesha, yang masih mengenakan kaus oblong bergambar band rock yang sudah pudar dan celana pendek, duduk dengan gaya sembarangan.

Ia menyandarkan punggungnya dan menyilangkan kaki, sengaja membuat suara decitan pada kursi kulit mahal milik Matteo.

"Apa ini? Sesi konseling pernikahan atau pembacaan surat wasiat?" tanya Alesha santai, tangannya sibuk memainkan sebuah pemberat kertas kristal.

Matteo mendorong lembaran kertas itu ke arah Alesha.

"Itu adalah protokol rumah tangga Villa Al-Ricci. Sebagai Nyonya di rumah ini, kau diharapkan mematuhinya tanpa pengecualian."

Alesha mengambil kertas itu dengan malas. Matanya membelalak saat membaca poin demi poin yang tertulis di sana.

Poin 1: Anggota keluarga wajib bangun pukul 05.30 pagi.

Poin 4: Berpakaian formal (Gaun pagi/Jas) wajib dikenakan mulai pukul 07.00 pagi.

Poin 7: Larangan memasuki area dapur, gudang logistik, dan ruang kerja utama tanpa izin tertulis.

Poin 12: Interaksi dengan staf pelayan dibatasi hanya untuk keperluan perintah kerja.

Alesha tertawa pendek, tawa yang terdengar sangat sinis di ruangan yang sunyi itu.

"Bangun jam setengah enam pagi? Kau pikir aku ini ayam jantan? Dan gaun pagi pukul tujuh? Untuk apa? Menemani hantu-hantu di koridormu ini minum teh?"

"Ini soal martabat, Alesha," jawab Matteo tajam.

"Kau bukan lagi gadis pasar yang bisa berkeliaran dengan pakaian kumal. Setiap inci dari rumah ini adalah representasi dari namaku."

"Representasi namamu atau penjara pribadimu?" Alesha bangkit dari kursinya.

Ia memegang kertas itu dengan kedua tangannya, matanya berkilat penuh amarah.

"Matteo, aku setuju menikahimu untuk menyelamatkan keluargaku, bukan untuk menjadi peliharaan yang kau atur jam makannya. Aku bukan pajangan, dan aku pasti bukan budak kontrakmu!"

SREEEKK!

Dengan gerakan cepat dan penuh penekanan, Alesha merobek lembaran protokol itu menjadi dua bagian di depan wajah Matteo.

Tidak berhenti di situ, ia merobeknya lagi menjadi potongan-potongan kecil hingga kertas-kertas putih itu jatuh berserakan di atas meja mahoni seperti salju yang kotor.

"Aku punya aturan sendiri," bisik Alesha sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Matteo.

"Aturan pertama, Jangan pernah mencoba mengatur hidupku jika kau tidak ingin melihat rumah ini terbakar dalam semalam."

Matteo hanya diam, namun rahangnya mengeras. Kilatan gelap di matanya menunjukkan bahwa ia sedang menahan emosi yang sangat besar.

"Kau akan menyesali pembangkangan ini, Alesha."

"Kita lihat saja siapa yang akan menyesal lebih dulu," jawab Alesha sambil berbalik dan melangkah keluar dengan dentuman pintu yang keras.

Malam itu, Alesha tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi dengan keinginan untuk membalas dendam atas "protokol" kaku milik Matteo.

Ia melirik ke arah tas besar berisi peralatan jahitnya yang diletakkan di sudut kamar. Sebuah ide gila muncul di kepalanya.

"Kau ingin martabat dan keteraturan, Matteo? Aku akan memberimu pertunjukan seni," gumam Alesha dengan senyum licik.

Dalam kegelapan malam, Alesha bergerak layaknya hantu. Dengan kemampuan menyelinap yang ia pelajari saat sering menghindari penagih utang ayahnya, ia menuju ke ruang lobi tempat seragam-seragam cadangan para pelayan disimpan.

Ia membawa "senjata" andalannya, gunting kain baja yang sangat tajam dan beberapa gulung pita kain perca berwarna mencolok yang ia bawa dari rumah.

Sepanjang malam, di bawah cahaya redup lampu meja di studio kecilnya, suara gunting Alesha terdengar beradu dengan kain.

Ia memotong bagian kerah yang kaku, membuang kancing-kancing hitam yang membosankan, dan menggantinya dengan aksen asimetris yang berani.

Ia menambahkan kantong-kantong fungsional dengan warna-warna kontras pada rompi pelayan yang biasanya terlihat seperti seragam pengurus jenazah.

Ia bekerja dengan kecepatan luar biasa. Bagi desainer berbakat seperti dia, mengubah pakaian membosankan menjadi sesuatu yang memiliki karakter adalah hal yang mudah.

Baginya, ini bukan sekadar jahitan, ini adalah pernyataan perang.

Pagi harinya, Villa Al-Ricci gempar.

Matteo turun menuju ruang tamu utama menggunakan lift pribadinya tepat pukul delapan pagi.

Ia mengharapkan keteraturan. Ia mengharapkan suasana hening dan patuh seperti biasanya.

Namun, apa yang ia temukan membuatnya tertegun.

Marcello, kepala pelayan yang biasanya tampak seperti patung hidup, berdiri di dekat pilar dengan ekspresi bingung yang luar biasa.

Jas hitam panjangnya kini tidak lagi kaku, bagian bawahnya dipotong miring dengan aksen jahitan merah yang mencolok di ujungnya.

Para pelayan wanita yang membawa nampan sarapan tampak canggung dengan celemek mereka yang kini memiliki aksen ruffle warna-warni dan kantong besar di bagian depan, yang sebenarnya sangat memudahkan mereka membawa lap bersih, namun terlihat sangat "nyentrik" untuk standar bangsawan Roma.

Seluruh staf tampak seperti sedang ikut serta dalam peragaan busana avant-garde yang gagal, namun di satu sisi, gerakan mereka menjadi lebih luwes karena pakaian mereka tidak lagi mencekik.

"Apa-apaan ini, Marcello?" suara Matteo terdengar bergetar karena menahan geram.

"Tuan... saya... Nyonya Alesha mendatangi kami semalam," jawab Marcello dengan suara kecil, wajahnya merah padam karena malu.

"Beliau bilang ini adalah 'optimasi fungsional berbasis estetika modern'. Kami tidak berani menolak karena beliau bilang ini adalah perintah dari 'Nyonya Besar'."

Matteo mengalihkan pandangannya ke ruang tamu mewah yang berada di tengah aula. Di sana, di atas sofa beludru seharga ratusan juta rupiah, Alesha sedang duduk bersandar dengan sangat santai.

Ia mengenakan kaus oblong putih polos yang longgar dan celana jin pendek. Rambutnya diikat asal-asalan ke atas.

Tangannya memegang cangkir kopi porselen mahal, dan ia tampak sangat menikmati pemandangan kekacauan yang ia ciptakan.

"Pagi, Suamiku," sapa Alesha dengan senyum kemenangan yang paling lebar.

"Bagaimana menurutmu? Seragam mereka jauh lebih punya 'nyawa' sekarang, kan? Tidak lagi terlihat seperti mereka sedang bersiap-siap menuju pemakamanmu setiap hari."

Matteo memutar kursi rodanya mendekati Alesha, napasnya terdengar berat.

"Kau sudah keterlaluan, Alesha. Kau merusak tatanan rumah ini."

Alesha meletakkan cangkir kopinya dan menatap Matteo tanpa rasa takut.

"Aku tidak merusak tatanan, Matteo. Aku hanya menunjukkan padamu bahwa aturan-aturan kakumu itu bisa dipatahkan hanya dengan sekali gunting. Jika kau memperlakukanku seperti pajangan, maka aku akan memastikan pajangan ini menghancurkan setiap sudut rumahmu sampai kau sadar bahwa aku adalah manusia, bukan salah satu dari patung marmer kaku di lobi itu."

Alesha bangkit, berjalan mendekati Matteo, dan menepuk bahu suaminya itu dengan lembut.

"Pelayanmu sekarang bisa bernapas lebih lega, Matteo. Harusnya kau berterima kasih padaku."

Alesha melenggang pergi menuju taman, meninggalkan Matteo yang terpaku di tengah ruangan.

Matteo menatap para pelayannya yang tampak sibuk bekerja dengan seragam aneh mereka. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Villa Al-Ricci tidak lagi terasa seperti museum yang dingin.

Ada keributan, ada warna, dan ada kemarahan yang terasa hidup.

Matteo menyandarkan punggungnya, matanya mengikuti sosok Alesha yang menghilang di balik pintu kaca taman.

"Wanita gila," gumam Matteo pelan.

Namun, di balik kemarahannya, ada getaran aneh yang tidak bisa ia jelaskan rasa ingin tahu yang mulai tumbuh terhadap badai yang baru saja memasuki hidupnya.

1
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!