Perang dahsyat di Alam Kegelapan pecah, darah mengalir bagai sungai, dan takdir para makhluk abadi terguncang. Demi menyelamatkan nyawa putra tunggalnya dari kematian yang pasti, Raja Vampir membuat keputusan berat: ia melemparkan putranya, Liam, ke gerbang terlarang yang menghubungkan dunia kegelapan dengan dunia manusia. Di sana, sihirnya dibatasi, kekuatannya dikunci, dan ingatannya sedikit banyak dikaburkan — supaya dia bisa hidup tersembunyi, selamat dari musuh-musuh yang memburu garis keturunan kerajaan.
Terjatuh di tengah hutan belantara, Liam yang masih remaja ditemukan oleh sepasang suami istri tua yang hidup sangat sederhana dan miskin di pinggir desa. Tanpa tahu siapa anak itu sebenarnya, mereka menerimanya sebagai anak angkat dengan penuh kasih sayang. Bagi mereka, Liam adalah anugerah; bagi Liam, keluarga itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang ia miliki.
Di rumah itu, ada satu sosok lagi yang mengisi hari-harinya: Seruni, anak kandung keluarga itu, seorang gadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMINGGU YANG DI ALIRI KESUNYIAN
Sudah genap tujuh hari sejak sosok pemuda asing itu ditemukan terbaring lemas di tengah hutan, lalu dibawa pulang dan dijadikan anak angkat oleh Pak Suryo dan Bu Lastri. Tujuh hari yang bagi orang lain mungkin terasa singkat dan biasa saja, namun bagi warga desa, tujuh hari itu terasa seperti rentang waktu penuh keanehan dan misteri. Sosok pemuda yang kemudian diberi nama Liam itu, sejak hari pertama ia membuka matanya di rumah bambu sederhana itu, tidak pernah sekali pun menunjukkan ekspresi apa pun di wajahnya.
Liam tidak ingat siapa dirinya, tidak ingat dari mana asalnya, tidak ingat punya siapa pun atau milik tempat mana di dunia ini. Kepalanya kosong melompong, hanya menyisakan rasa dingin yang merasuk sampai ke tulang dan rasa haus samar yang sesekali membakar tenggorokannya, rasa yang tak ia pahami dan tak pernah ia tanyakan pada siapa pun. Namun, kehilangan ingatan itu tidak membuatnya bingung, menangis, atau bertanya-tanya seperti manusia biasa yang kehilangan diri. Ia menerimanya begitu saja, diam, tenang, seolah memang lahir ke dunia ini dalam keadaan kosong dan hening.
Wajahnya selalu sama persis: datar, dingin, tanpa emosi sedikit pun. Matanya yang hitam pekat, indah dan jernih seperti kaca hitam bening, selalu menatap lurus ke depan, jarang berkedip, jarang beralih pandangan, seolah segala sesuatu di sekelilingnya tidak menarik sedikit pun rasa ingin tahunya, seolah semua hal yang ada hanyalah latar belakang yang tak penting. Ia tidak pernah tersenyum, tidak pernah cemberut, tidak pernah marah, tidak pernah takut, tidak pernah terkejut. Ia hanya ada, berdiri, duduk, berjalan, dan diam.
Hari-harinya selalu berjalan dengan pola yang sama, berulang persis tanpa perubahan sedikit pun. Jam biologis di dalam tubuhnya seolah berjalan sangat akurat, meski ia tak punya jam tangan atau penunjuk waktu apa pun. Ia bergerak mengikuti ritme alam dan kebiasaan baru yang ia pelajari diam-diam.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit dan kabut masih tebal menyelimuti hamparan sawah, Liam sudah bangun. Ia tidak pernah tidur nyenyak dan lelap seperti manusia lain; matanya selalu setengah terbuka, kesadarannya tetap terjaga meski tubuhnya dalam keadaan istirahat. Ia bangkit dari alas tidur jerami di sudut ruangan, bergerak tanpa suara, persis seperti bayangan yang meluncur halus di atas lantai tanah yang dipadatkan. Ia merapikan alas tidurnya dengan sangat rapi, sampai tak ada satu pun lipatan yang berantakan, lalu berdiri diam di dekat pintu, menunggu. Menunggu tanpa bergerak, tanpa bersuara, persis seperti patung yang diletakkan di sana sejak semalam.
Bu Lastri yang setiap pagi bangun paling awal untuk menyiapkan keperluan rumah tangga, selalu terkejut bukan main setiap kali menoleh dan mendapati Liam sudah berdiri di sana, diam tak bergerak, menatap kosong ke luar jendela.
"Wah, Le Liam... kapan kau bangun? Membuat Ibu terkejut saja," seru Bu Lastri sambil menaruh kayu bakar ke dalam tungku tanah liat.
Liam hanya menoleh sedikit, gerakan kepalanya lambat dan terukur. Tatapannya datar, suaranya rendah, berat, dan tanpa nada naik turun sama sekali. "Baru saja."
Jawaban yang selalu sama, singkat, padat, tak ada penjelasan lebih lanjut, tak ada sapaan balasan. Ia tidak pernah bertanya apa yang akan dimasak, tidak pernah menanyakan apa yang harus dilakukannya hari ini, tidak pernah bertanya kenapa mereka bangun pagi-pagi sekali. Ia hanya menunggu. Dan begitu Bu Lastri mengucapkan satu kalimat perintah sederhana, Liam akan langsung bergerak melaksanakannya, cepat, tepat, dan hening.
"Ambilkan air di mata air sana ya, Le. Embernya sudah ada di depan teras."
Tanpa jawaban, tanpa anggukan kepala, Liam langsung berjalan keluar pintu. Langkah kakinya lebar dan ringan, membuatnya sampai di mata air yang jaraknya setengah kilometer itu dalam waktu yang sangat singkat, jauh lebih cepat dibandingkan pemuda desa lain yang sudah biasa berjalan jauh. Ia mengangkat dua buah ember kayu besar yang penuh berisi air itu dengan mudah, seolah isi ember itu hanya berisi kapas ringan, bukan air berat yang biasanya butuh tenaga kuat untuk membawanya. Otot-otot tubuhnya yang tersembunyi di balik baju gembel pemberian Pak Suryo bekerja dengan sempurna, menunjukkan kekuatan yang tak wajar bagi anak seusianya. Namun Liam sama sekali tidak peduli dengan kekuatannya itu. Baginya, apa pun yang ada pada dirinya adalah hal biasa, adalah hal yang harus begitu, adalah bagian dari dirinya yang tak perlu dipertanyakan.
Sepanjang jalan pulang membawa air, ia berjalan menunduk sedikit, pandangannya tertuju pada tanah di bawah kakinya, atau lurus ke depan, tidak pernah melirik ke kiri atau ke kanan, tidak menyapa siapa pun, tidak menoleh saat ada anak-anak kecil berlarian melewatinya sambil berteriak riang. Warga desa yang melihatnya selalu menggeleng-gelengkan kepala sambil berbisik pelan satu sama lain.
"Anak itu aneh sekali, Pak. Tampan luar biasa, kulitnya seputih kapur bersih, tapi matanya itu... dingin sekali, tajam namun kosong. Seolah dia bukan anak manusia biasa, seolah hatinya tak berdenyut sama sekali."
Pak Suryo hanya tersenyum tipis mendengar bisikan itu. "Dia kehilangan ingatan, Bu. Mungkin begitulah caranya bertahan hidup di dunia yang asing baginya. Biarkan saja, dia anak yang baik, penurut, dan sangat kuat. Tak pernah sekali pun dia menyusahkan kami."
Dan benar, Liam sangat penurut, bahkan penurut melebihi anak-anak yang paling patuh sekalipun. Setelah air masuk ke dalam bak penampungan, ia akan langsung beralih ke tugas berikutnya yang diberikan. Membelah kayu bakar adalah pekerjaan yang paling sering ia lakukan, bukan karena ia suka, tapi karena itu pekerjaan yang hening, yang hanya butuh tenaga dan ritme, tanpa perlu bicara atau berinteraksi dengan siapa pun.
Di halaman rumah yang sempit, Liam berdiri tegak di depan tumpukan kayu keras yang besar. Ia memegang kapak tua yang berat itu dengan kedua tangannya, memosisikannya dengan tepat dan hati-hati. Gerakannya lambat, terukur, lalu ayunan itu turun dengan kekuatan dahsyat yang menggetarkan udara. KRAK!
Kayu-kayu keras yang biasanya butuh dua atau tiga kali pukulan orang dewasa yang kuat, terbelah menjadi dua bagian sempurna hanya dengan satu ayunan tangan Liam. Debu kayu beterbangan ke mana-mana, tapi wajah Liam tetap datar, napasnya tetap teratur dan tenang, tidak ada tanda-tanda lelah sedikit pun, tidak ada keringat bercucuran di dahinya. Ia mengulang gerakan itu berulang kali, terus-menerus, dengan kecepatan dan kekuatan yang sama persis, sampai seluruh tumpukan kayu gunung itu habis terbelah rapi dan tersusun menumpuk. Ia berhenti tepat saat tugasnya selesai, tidak lebih, tidak kurang. Lalu ia meletakkan kapak itu dengan hati-hati di tempat semula, menyeka tangannya ke celana kain, dan berdiri diam menunduk menunggu perintah berikutnya. Tidak ada senyum puas, tidak ada rasa bangga, tidak ada keluhan. Baginya, pekerjaan hanyalah urutan gerakan yang harus diselesaikan sampai tuntas.
#DI DALAM KESEDERHANAAN, DINGIN YANG TAK BERUBAH#
Sarapan pagi di rumah itu selalu berlangsung hening, hanya terdengar suara sendok beradu dengan piring tanah liat. Di atas meja kayu pendek yang rendah, tersedia nasi merah dan sayur lodeh sederhana, makanan sehari-hari keluarga miskin itu. Pak Suryo dan Bu Lastri makan sambil sesekali mengobrol pelan, membicarakan keadaan ladang, cuaca, atau tetangga yang sedang sakit. Di ujung meja, Liam duduk bersila dengan punggung lurus kaku, persis seperti patung yang duduk bersila dengan sopan.
Cara makannya pun sangat aneh dan terukur, terlalu rapi dan sopan untuk anak desa yang biasa hidup bebas. Ia memegang sendok dengan cara yang halus, seolah sudah terbiasa memegang benda itu seumur hidupnya. Ia mengangkat makanan ke mulutnya perlahan, mengunyah dengan jumlah gerakan rahang yang sama setiap kali, menelan dengan tenang, lalu kembali mengambil porsi berikutnya dengan tempo yang tak berubah. Ia tidak pernah menambah nasi, tidak pernah mengeluh makanan kurang enak atau kurang bumbu, tidak pernah bertanya kenapa lauknya hanya sedikit. Ia makan sekadar untuk mengisi perut, sekadar memenuhi kebutuhan tubuhnya agar tetap bergerak, bukan karena rasa lapar atau nikmatnya makanan yang masuk ke mulutnya.
Namun ada satu hal yang selalu diperhatikan Bu Lastri dengan rasa heran yang mendalam: Liam tidak pernah minum air putih. Meski bekerja berat di bawah matahari terik berjam-jam lamanya, meski tenggorokan manusia biasa pasti sudah kering kerontang dan perih, Liam sama sekali tidak pernah meminta minum atau menyentuh gelas air yang disediakan.
"Le, minumlah. Sudah aku sediakan di situ, segar sekali airnya dari mata air," ucap Bu Lastri sambil mendorong gelas tanah liat berisi air bening ke arahnya.
Liam melirik air itu sekilas, tatapannya kosong dan tak berminat, lalu kembali menatap makanannya. "Tidak perlu."
"Ah, mana ada orang tidak butuh minum. Minum saja, jangan sungkan, air ini milik kita bersama," desak Bu Lastri lagi dengan nada lembut.
Liam menggeleng pelan, gerakan kepala yang sangat minim dan halus. "Tidak haus."
Dan benar, ia tidak haus akan air. Yang ia rasakan haus bukanlah haus biasa, melainkan rasa haus samar, manis, dan panas yang berpusat tepat di tengah tenggorokannya, rasa yang justru makin menyala dan menggelitik jika ia melihat warna merah pekat, seperti warna tomat matang atau warna cabai yang sedang merah merona. Rasa itu ia pendam dalam-dalam, ia abaikan, ia kunci di dasar lehernya, tanpa tahu apa itu dan dari mana asalnya, tanpa bertanya pada siapa pun. Baginya, rasa itu ada begitu saja, sama seperti rasa dingin yang selalu menyelimuti tulang-tulangnya.
Setelah makan selesai, Liam akan membantu membereskan piring, mencucinya sampai bersih sekali tanpa ada sisa sedikit pun, lalu berdiri di beranda rumah, menatap keluar ke arah hamparan sawah yang luas dan hijau. Di sinilah sifat dingin dan diamnya Liam terlihat paling jelas dan nyata. Ia bisa berdiri diam di sana berjam-jam lamanya, tanpa bergerak sedikit pun, tanpa mengubah ekspresi wajah, tanpa berkedip terlalu sering. Matanya menatap lurus ke satu titik di kejauhan, seolah ada dunia lain yang hanya bisa ia lihat, dunia yang penuh kabut dan bayangan, dunia yang tak bisa dimengerti oleh orang tua angkatnya atau siapa pun di desa itu.
Seruni, anak kandung Pak Suryo yang berusia dua puluh tahun, sering kali memperhatikan Liam dari dekat dengan tatapan penuh rasa ingin tahu sekaligus iba. Gadis itu ceria, hangat, ramah, dan selalu memiliki senyum yang indah, senyum yang mampu menerangi sudut paling gelap sekalipun. Ia sering kali mencoba mengajak Liam bicara, berusaha memecahkan dinding dingin yang tebal dan kokoh yang mengelilingi pemuda itu.
"Hei, Liam. Apa yang kamu lihat di sana terus-menerus? Hanya sawah dan pohon pisang saja lho, tak ada hal aneh apa pun," kata Seruni sambil berdiri di sampingnya, ikut menatap ke arah yang sama persis.
Liam menoleh perlahan. Tatapannya menembus wajah Seruni, dingin namun tidak kasar, tidak juga benci atau jijik. Ia menatap gadis itu seperti menatap benda lain, namun ada sedikit perbedaan yang halus: matanya tidak beralih secepat saat menatap benda mati atau tanaman.
"Aku melihat... angin," jawab Liam datar, suaranya rendah dan serak, tanpa nada emosi apa pun.
Seruni tertawa kecil, tawanya renyah dan menyejukkan hati, memecah keheningan yang menyelimuti beranda itu. "Angin? Angin kan tidak terlihat oleh mata biasa. Kamu ini ya, bicaramu selalu aneh dan sulit dimengerti."
"Terlihat," jawab Liam singkat, lalu kembali menatap lurus ke depan melewati bahu gadis itu. "Gerakan daun. Gelombang padi. Itu angin."
Seruni menggeleng sambil tersenyum sedih. Ia kasihan melihat pemuda itu. Di balik ketampanannya yang luar biasa, di balik kekuatannya yang hebat dan menakjubkan, ada kekosongan yang sangat besar dan mendalam di sana. Liam tampak seperti orang yang tersesat bukan hanya di hutan, tapi tersesat juga di dalam hidupnya sendiri. Ia hidup, bergerak, bernapas, makan, bekerja, tapi tidak hidup sepenuh hati. Semuanya dilakukan secara otomatis, tanpa rasa, tanpa tujuan, tanpa ingatan.
"Liam," panggil Seruni pelan, suaranya lembut seperti bisikan angin. "Kamu ingat tidak sedikit pun hal tentang dirimu? Nama aslimu, tempat tinggalmu, siapa orang tuamu? Coba ingat-ingat lagi, siapa tahu ada yang terlintas sebentar saja di kepalamu."
Liam diam cukup lama. Ia menunduk sedikit, kerutan halus terlihat di keningnya, satu-satunya ekspresi kecil yang pernah ia tunjukkan selama seminggu ini. Ia mencoba menggali jauh ke dalam kepalanya yang kosong itu, mencoba meraba sisa-sisa ingatan yang mungkin tertinggal. Ada bayangan samar, sangat samar dan kabur, seperti asap yang tertiup angin: warna merah gelap pekat, suara benturan keras, aroma besi yang tajam dan menyengat, dan sosok tinggi besar yang membelakanginya seolah berpesan sesuatu yang sangat penting. Tapi semuanya hilang begitu saja saat ia mencoba menggenggamnya, lenyap kembali ke dalam kegelapan ingatannya.
"Tidak," jawabnya akhirnya, datar dan tenang, tanpa nada kecewa atau sedih. "Hanya gelap. Dan dingin."
Seruni menghela napas pelan, lalu menepuk bahu Liam perlahan dengan tangan halusnya. "Tidak apa-apa. Sekarang di sini rumahmu. Kami keluargamu. Lama-lama nanti pasti ingat lagi. Atau... biarkan saja, buat lembaran baru yang lebih indah dan tenang di sini ya."
Liam tidak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya diam menerima tepukan itu, merasakan sentuhan hangat tangan gadis itu di bahunya. Rasa hangat itu terasa asing, sangat berbeda dengan rasa dingin yang biasa ia rasakan, tapi tidak menyakitkan, tidak membuatnya ingin mundur atau menjauh. Justru rasa itu sedikit melelehkan lapisan es di sekitar hatinya, meski hanya setipis benang yang tak terlihat mata.
#SENJA DAN KESUNYIAN DI SUNGAI#
Matahari mulai condong ke barat, warnanya berubah menjadi jingga kemerahan yang lembut dan hangat, menyinari hamparan sawah dan pepohonan dengan cahaya keemasan yang meneduhkan. Hari kerja selesai. Pak Suryo pulang dari ladang dengan langkah pelan, Bu Lastri sibuk menyiapkan bahan makanan untuk makan malam. Seperti kebiasaannya sejak dua hari terakhir, saat pekerjaan selesai dan tidak ada lagi perintah atau hal yang harus dilakukan, Liam berjalan perlahan menjauhi rumah, berjalan melewati pematang sawah yang sempit dan berlumpur, menuju ke arah pinggir sungai kecil yang airnya jernih, dingin, dan mengalir tenang.