Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Konfrontasi di Aspal Dingin
Arnold berusaha sepenuhnya untuk sadar, mengetahui siapa di balik kedatangan gigolo itu. Meski matanya berat, fikiran belum bisa fokus, botol air mineral yang berada di atas meja, ditarik dan diguyurkan ke seluruh wajah.
Gebruuush!
Air dingin itu sukses meredam efek alkohol di kepalanya. Dengan mata menyala, ia kembali fokus kepada dua orang yang tadi berdiri di pojok.
Namun, mereka sudah tidak ada lagi di sana. Arnold bangkit, dengan wajah memburu. Targetnya telah terkunci, dan ia tahu apa yang akan dilakukan oleh mereka.
Dev yang menyadari Arnold telah bangkit, segera menghentikan tariannya mengikuti langkah kaki Arnold yang tampak terburu-buru.
"Arnold, kenapa pergi sendiri?" ucap Dev mengikuti langkah Arnold bagai orang kesetanan.
"Kenapa kau biarkan aku sendirian? Sampai si sialan itu memanfaatkan keadaanku," gumamnya dengan napas tertahan.
"Maksudnya?" Dev tak paham maksud ucapan Arnold, tetapi kaki panjangnya terus mengikuti langkah besar pria itu.
Saat sampai di area parkir, dengan jelas ia melihat sebuah kendaraan roda empat, keluar dari lokasi ini. Tangan Arnold tergenggam erat hingga bergetar.
"Sialan!" umpat Arnold rendah. Suara cemprengnya lenyap begitu saja, berganti suara seorang pria berat lengkap dengan emosinya.
Tanpa memedulikan rasa pening yang masih berputar di kepalanya, Arnold melangkah lebar menuju mobil perkasa miliknya. Ia meraba saku celana, mencari kunci dengan gerakan cepat dan tidak sabaran.
"Eh, Nold! Mau ke mana?! Kamu masih mabuk, gak boleh nyetir!" seru Dev panik, langsung berlari menghadang di depan pintu kemudi sebelum Arnold sempat membukanya. Dev sadar, kondisi Arnold saat ini belum stabil.
"Minggir, Dev! Aku harus menangkap mereka!" bentak Arnold, matanya menatap tajam, menembus manik mata sahabatnya. Kilatan amarah di mata Arnold membuat Dev merinding seketika.
Dev tertegun, lalu melirik ke arah gerbang keluar parkiran di mana mobil Teddy baru saja menghilang. Mengembuskan napas kasar, Dev langsung merebut kunci mobil dari tangan Arnold.
"Biar aku yang nyetir! Kamu duduk di samping, tunjukkan jalan!" perintah Dev tegas. Kali ini dia tidak mau membantah atau bercanda lagi.
Arnold tak lagi membantah. Ia langsung memutari kap mobil dan masuk ke kursi penumpang, sementara Dev langsung melompat ke kursi kemudi. Mesin mobil perkasa itu menderu keras, bannya mencicit di atas beton parkiran saat Dev menginjak pedal gas dalam-dalam, melesat membelah jalanan malam demi mengejar kendaraan roda empat milik Teddy.
Di dalam mobil, Arnold mencengkeram dasbor dengan kuat. Matanya menatap lurus ke aspal di depan, membayangkan apa yang akan terjadi jika video tadi dikirim pada istrinya. Meski kontak Teddy memang telah ia blokir, tapi tak menutup kemungkinan lain yang bisa terjadi.
Mesin mobil perkasa itu menderu keras, bannya mencicit di atas aspal saat Dev menginjak pedal gas dalam-dalam, melesat membelah jalanan malam demi mengejar kendaraan roda empat milik Teddy.
"Yang itu kan mobilnya, Bro?!" seru Dev setengah berteriak menembus deru mesin. Matanya menangkap siluet mobil sedan hitam yang baru saja berbelok tajam di lampu merah sekitar dua ratus meter di depan mereka.
"Iya! Jangan sampai lolos!" sahut Arnold dengan napas memburu. Kedua tangannya mencengkeram erat pegangan di atas pintu dan dasbor. Efek alkohol di kepalanya seolah menguap total, digantikan oleh adrenalin yang meletup-letup.
Dev menyeringai tipis, kilat tertantang muncul di matanya. "Oke, pegangan yang kuat, Dokter Arnoldy Darmawan!"
Vroooommm!
Dev memindahkan gigi, menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai mobil. Mobil perkasa milik Arnold melesat bagai peluru, membelah jalanan kota yang mulai lengang. Jarak kedua kendaraan itu terkikis dengan cepat. Teddy yang tampaknya menyadari sedang diikuti oleh mobil berukuran besar dari arah belakang, mulai panik dan menambah kecepatannya secara ugal-ugalan.
Mobil sedan hitam itu meliuk-liuk di antara beberapa kendaraan malam, berusaha melarikan diri. Namun, Dev bukan pengemudi amatir. Dengan lihai, ia meniru setiap manuver Teddy, memotong jalur seefisien mungkin hingga raungan mesin mobil perkasa mereka kini menggema tepat di belakang bemper mobil Teddy.
"Nold, kita kunci di depan belokan itu!" teriak Dev memberi aba-aba.
Tepat di perempatan jalan yang cukup luas, Dev mengambil lajur kanan secara ekstrem. Ia sengaja memepet mobil sedan itu, membuat Leticya yang berada di kursi penumpang sebelah Teddy menjerit histeris karena jarak antar-bemper mereka hanya terpaut beberapa sentimeter.
Ckiiiiiiiiiittttttt!!
Suara lengkingan ban yang bergesekan kasar dengan aspal memekakkan telinga saat Dev membanting setir ke kiri secara mendadak. Mobil perkasa Arnold melintang sempurna di depan moncong mobil Teddy, melakukan manuver nge-drift tajam yang langsung memotong jalur dan mengunci mati ruang gerak kendaraan di belakangnya.
Teddy terpaksa menginjak rem sedalam-dalamnya. Mobil sedannya berhenti mendadak dengan jarak hanya seujung jari dari pintu kemudi tempat Dev duduk. Asap tipis mengepul dari ban kedua mobil yang bergesekan dengan jalanan.
Suasana seketika hening, hanya menyisakan deru napas Arnold yang naik-turun tak beraturan. Targetnya benar-benar terkunci, tak ada jalan keluar lagi.
Belum sempat mobil Teddy kembali memundurkan persneling untuk kabur, pintu penumpang mobil perkasa sudah terbuka kasar. Arnold melompat turun langsung berdiri tepat di samping pintu pengemudi.
"Keluar!" perintah Arnold dingin.
"Ah, sial! Kau itu terlalu lamban!" umpat Leticya.
Namun, dengan tatapan tak kalah dingin, Teddy tak merasa takut sama sekali. Dengan gagah, ia membuka kunci dan menarik gagang pintu. Sudut bibir Teddy, sedikit terangkat. Tak ada rasa gentar sedikit pun dari sorot matanya berdiri tepat di depan wajah Arnold.
"Saya tak menyangka, ternyata ada praktisi medis, memanfaatkan ketidakberdayaan pasiennya," ucap Teddy yang langsung menancap tepat di jantung Arnold.
...****************...
Lova dengan wajah sendu memilih melukis di balkon. Setidaknya, meski rumah ini sepi, kelap kelip lampu dari gedung sebelah dan lampu jalanan, tak lagi membuatnya merasa sendiri.
Jemari lentiknya bergerak lambat, menyapukan kuas di atas kanvas putih yang kini mulai dipenuhi warna-warna pekat. Ia tidak sedang melukis pemandangan kota di depannya secara nyata, melainkan sedang menumpahkan isi dadanya yang sesak.
Di atas kanvas itu, Lova melukis sesosok wanita yang berdiri sendirian di tengah padang sunyi yang didominasi warna abu-abu dan biru tua yang teramat dingin.
Namun, di sudut atas kanvas, Lova sengaja memberikan goresan warna kuning emas dan putih yang berpijar terang, seolah-olah ada secercah cahaya yang berusaha menembus kegelapan itu.
"Sepertinya, aku memang pantas untuk sendiri. Tak ada satu pun yang benar-benar memahamiku, termasuk kamu."
Setitik air mata Lova jatuh, tepat mengenai kuas yang tengah ia pegang, membuat guratan warna abu-abu di kanvas itu sedikit memudar dan melebar, seolah ikut menangis bersamanya.
*bersambung*
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣