NovelToon NovelToon
The Nethermist

The Nethermist

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Clevareus

( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )

Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapat Akbar (II)

​17 Februari — Kekaisaran Dratora.

​Kalimat pembuka dari perwakilan pihak kekaisaran seketika menciptakan keheningan yang mencekam di dalam hati setiap orang yang duduk mengelilingi meja bundar tersebut. Tidak terkecuali bagi Rasdinand dan Emily. Atmosfer ruangan mendadak drop ke titik beku.

​"Pada saat bencana langit gelombang pertama terjadi, faksi mereka awalnya berhasil selamat dari insiden tersebut. Akan tetapi, monster susulan yang lahir akibat petaka langit itu tiba-tiba datang dan menghancurkan seluruh kerajaan mereka tanpa ampun," perwakilan Dratora yang bernama Fan Lurtio itu kembali bersuara. Tangannya tampak memegang tumpukan dokumen tebal. "Terkait keselamatan raja dan ratu dari Kerajaan Crimson Leonidas... hingga saat ini kami sama sekali tidak menerima laporan atau tanda-tanda kehidupan apa pun mengenai mereka."

​Mendengar itu, Rasdinand langsung mengangkat satu tangannya ke udara. Dengan raut wajah serius, sang Raja Nightdoom melayangkan pertanyaan krusial mengenai entitas yang sanggup meratakan faksi militer terkuat nomor satu di benua tersebut. "Monster jenis apa... yang memiliki kapabilitas untuk menghancurkan seluruh kerajaan raksasa itu dalam sekejap?"

​Fan Lurtio menghela napas berat sebelum menjawab. "Monster yang melumat seluruh kerajaan tersebut memiliki skala ukuran yang sangat masif. Entitas itu berbentuk seekor cacing raksasa, yang panjang tubuhnya... melebihi bentangan pegunungan."

​Deg.

​Jawaban itu lagi-lagi menghantam mental para penguasa di ruangan tersebut. Para orang penting itu terdiam kaku di atas kursi rapat mereka. Tubuh mereka mematung, namun isi kepala mereka langsung berputar liar penuh kengerian. Setiap kali mereka mencoba membayangkan wujud monster cacing yang panjangnya melebihi gunung, bulu kuduk mereka meremang. Di dalam hati, mereka hanya bisa merapalkan rasa syukur karena makhluk mengerikan itu tidak menjatuhkan pandangannya pada wilayah mereka.

​Fan Lurtio meletakkan tumpukan dokumennya ke atas meja rapat. Ia menatap ke arah Kaisar Vajrudin Ajisaka sejenak, seolah meminta izin, sebelum akhirnya sang kaisar agung membuka mulut dan memberikan titah singkat:

​"Silakan."

​Mendapat lampu hijau dari sang kaisar, Fan Lurtio langsung bangkit dari kursinya. Ia bergerak menyiapkan sebuah papan besar yang telah ditempeli berbagai sketsa coretan panjang. Di sana juga terpajang beberapa peta geografi wilayah yang dipenuhi oleh garis-garis tegas serta deretan angka rumit—sebuah bagan kalkulasi matematis yang menghitung estimasi jarak dan waktu.

​Fan Lurtio mengambil sebuah sebilah rotan kayu, lalu mengetukkannya ke bagan dan peta yang ada di papan tulis.

​Ia menjelaskan bahwa pihak kekaisaran secara resmi menamai monster penghancur itu dengan sebutan "Great Worm". Fan juga memaparkan analisis bahwa mereka memperkirakan keberadaan cacing raksasa itu saat ini tengah bergerak di kedalaman bawah laut, jika dinilai dari karakteristik kulit cacing pada umumnya yang harus selalu berada dalam kondisi basah dan lembap.

​Namun, Fan buru-buru menambahkan bahwa itu semua barulah sebatas estimasi logis. Sebab di dunia yang sudah jungkir balik pascabencana langit saat ini, logika konvensional bisa saja sudah tidak ada gunanya lagi.

​Tiba-tiba, salah seorang raja mengangkat tangannya. Dengan wajah yang mulai memucat, ia bertanya mengenai detail garis-garis coretan pada peta. Pria itu mengaku memiliki firasat yang sangat buruk, terlebih setelah menyadari bahwa wilayah kekuasaannya—Kerajaan Clover Leaf—berada tepat di dalam jalur garis lurus yang membelah peta tersebut.

​Fan Lurtio mendadak terdiam. Ia tampak ragu untuk melanjutkan.

​Kaisar Vajrudin yang menangkap keraguan dari sikap diam bawahannya itu langsung menimpali dengan suara beratnya yang berwibawa. "Tidak apa-apa, Fan. Lanjutkan saja. Justru akan jauh lebih baik jika kita membeberkan segalanya kepada mereka sekarang."

​"..." Fan menarik napas dalam. "Baik, Yang Mulia Kaisar."

​Fan memantapkan hatinya, lalu kembali mengarahkan ujung rotan kayunya pada coretan garis lurus di atas peta geografi tersebut.

​"Garis merah ini... adalah estimasi rute perjalanan yang akan ditempuh oleh Great Worm. Jadi, jika wilayah kerajaan Anda sekalian berada di dalam satu tarikan garis lurus ini... maka saya sarankan, Anda harus segera mempersiapkan segala skenario terburuk dari sekarang."

​Raja Clover Leaf yang mendengar hal itu langsung terbungkam seribu bahasa. Ia berusaha keras untuk tetap terlihat tenang sebagai seorang pemimpin, namun gestur tubuhnya tidak bisa berbohong. Ia tampak sangat gelisah, dan bagian keningnya sudah dibanjiri oleh keringat dingin yang mengucur deras. Respons yang sangat manusiawi, mengingat negerinya baru saja diprediksi akan menjadi target kehancuran selanjutnya.

​Kaisar Vajrudin yang melihat ketakutan besar mulai menjalar di wajah Raja Clover Leaf segera mengambil tindakan untuk meredam kepanikan. Ia memerintahkan beberapa pengawal istana untuk membawakan air minum bagi seluruh perwakilan yang hadir.

​"Saya mohon kendalikan ketenangan Anda, Raja Clover Leaf. Saya tahu atmosfer di dada Anda saat ini terasa sangat sesak. Namun pada akhirnya, perlu diingat bahwa ini semua hanyalah sebatas prediksi dan kalkulasi dari para ahli geografi kami," ucap Kaisar Vajrudin dengan nada menenangkan.

​Raja dari Kerajaan Clover Leaf itu akhirnya tidak memiliki pilihan selain menenggak airnya, mencoba sekuat tenaga menekan rasa panik yang merongrong dadanya. Dengan sisa-sisa ketegasannya, ia kembali melempar pertanyaan, "Berdasarkan parameter apa rute perjalanan makhluk itu bisa kalian prediksikan?"

​Fan Lurtio langsung menyahut, "Estimasi rute ini kami susun berdasarkan titik awal kemunculannya saat menghancurkan Kerajaan Crimson Leonidas. jika semisal makhluk itu bergerak dengan dorongan insting untuk mencari sumber makanan baru, maka daerah-daerah yang memiliki kelembapan tinggi serta kaya akan nutrisi adalah target yang paling logis bagi biologisnya. Selain itu, faktor cuaca juga memengaruhi prediksi kami. Karena akhir bulan Februari ini merupakan tanda dari berakhirnya musim dingin."

​Di kursinya, Rasdinand menyandarkan bahunya dalam-dalam pada sandaran kursi. Teori yang dilontarkan oleh Fan Lurtio terdengar sangat masuk akal bagi otaknya yang taktis. Meskipun salju telah sepenuhnya hilang, hawa di benua ini memang masih menyisakan sejuknya musim dingin. Jika pergantian iklim ekstrem benar-benar terjadi, entah bencana gila apa lagi yang harus umat manusia hadapi.

​Namun, ada satu hal lagi yang membuat rahang Rasdinand diam-diam mengencang. Ketika matanya meneliti peta di papan tulis...

​Kerajaan Nightdoom adalah salah satu wilayah yang berada tepat di dalam rute perjalanan cacing raksasa tersebut.

​Emily yang menyadari hal itu langsung menggenggam erat tangan Rasdinand karena tegang. Namun, Rasdinand tahu betul bahwa sebagai seorang raja, ia tidak boleh goyah. Ia harus tetap tegar dan memutar otak secepat mungkin untuk menyusun taktik menghadapi Great Worm jika skenario terburuk itu benar-benar mewujud jadi kenyataan.

​Terlebih, Rasdinand mendadak teringat pada putranya. Leoric yang saat ini tengah berada dalam masa pemulihan, cepat atau lambat harus pergi meninggalkan kerajaan untuk sementara waktu demi memenuhi kewajiban dari perjanjian misteriusnya dengan seorang penyihir asing—seperti yang sempat dilaporkan oleh Basten di ruang kerja raja tempo hari.

​Melihat seisi ruangan mulai dilanda kepanikan massal dalam keheningan yang mencekam, Kaisar Vajrudin kembali mengambil alih jalannya forum.

​"Sudah, sudah. Tuan-tuan dan Nona-nona sekalian yang memegang gelar penting di dalam ruangan ini... Pada akhirnya, saya tegaskan kembali bahwa ini hanyalah prediksi di atas kertas dari para ilmuwan geografi kekaisaran. Meskipun demikian, saya mengimbau Anda sekalian untuk tetap menaikkan level waspada dan mempersiapkan segala hal dalam kondisi kepala dingin."

​Kaisar Vajrudin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru meja bundar. "Dan dalam rapat akbar hari ini, masih ada satu pembahasan krusial lagi yang belum dipaparkan oleh Saudara Fan di depan. Saya minta Anda semua mendengarkan pembahasan kedua ini dengan seksama. Untuk Saudara Fan, waktu dan tempat dipersilahkan."

​"Baik, Yang Mulia Kaisar," jawab Fan.

​Fan Lurtio membalik papan tulis besar tersebut. Di sisi baliknya, rupanya telah terpasang peta geografi lain dengan visualisasi rute yang sama sekali berbeda.

​Fan menunjuk pada rute baru tersebut, lalu mulai memaparkan agenda kedua. "Ini adalah rencana blueprint untuk pembangunan 'Jalur Aman'—sebuah megaproyek interkoneksi jalur perjalanan dan perdagangan bebas hambatan. Jalur ini akan mencakup aspek stabilitas ekonomi, sekaligus jalur cepat untuk pertukaran informasi, logistik, dan kabar dari satu kerajaan ke kerajaan lainnya."

​Fan menatap para raja dengan serius. "Sebab pada linimasa dunia yang sudah kacau saat ini, kebutaan akan informasi dan keterlambatan berita adalah kelemahan paling fatal yang bisa membunuh kita semua."

​Meskipun cetak biru tersebut terdengar seperti sebuah inovasi yang brilian, para penguasa di sana mulai saling berbisik, mempertanyakan risiko masif yang mengintai di balik proyek tersebut. Mereka semua sadar, bahkan mengerahkan seluruh divisi tentara reguler pun tidak akan cukup untuk menjamin parameter keamanan selama proses pembangunan jalan yang melintasi wilayah-wilayah liar pascabencana.

​Mendengar keraguan dan kasak-kusuk dari para raja, Fan Lurtio justru menyunggingkan sebuah senyuman misterius. Ia membalikkan badan, lalu meninggikan intonasi suaranya ke arah pintu gerbang ruang rapat yang tertutup rapat.

​"Professor... Saat ini, saya mengharapkan kehadiran Anda di dalam ruang rapat akbar."

​Hening.

​Beberapa detik berlalu... dan tiba-tiba, sepasang pintu besar ruangan rapat tersebut terbuka lebar dengan sendirinya.

​Anehnya, tidak ada satu pun objek yang berdiri di ambang pintu. Tidak ada manusia, tidak ada hewan, tidak ada benda berwujud. Yang tampak hanyalah embusan angin kosong bertiup pelan memasuki ruangan.

​Tap... Tap... Tap...

​Namun secara mistis, gema suara langkah kaki terdengar sangat jelas. Suara sepatu yang beradu dengan lantai melangkah masuk dari arah luar, membelah ruangan, dan suaranya mendadak berhenti tepat di depan papan tulis, tepat di sebelah posisi berdiri Fan Lurtio.

​BOOM!

​Detik berikutnya, segumpal asap tebal mendadak muncul dan mengepul hebat di samping Fan. Sontak, seluruh raja dan ratu di ruangan itu terlonjak kaget dari kursi mereka.

​Insting bertarung para prajurit pendamping langsung menyala. Mereka serentak menarik senjata dan memasang posisi tempur demi melindungi tuannya masing-masing—termasuk Edelweiss dan Raidou yang langsung melompat maju, memosisikan tubuh mereka sebagai perisai hidup di depan Rasdinand dan Emily.

​Secara perlahan, kepulan asap misterius itu menguap dan menghilang entah ke mana, menyisakan sesosok figur yang perlahan mulai terlihat jelas dari balik kabut uap.

​Sosok itu berwujud seorang kakek tua dengan janggut putih yang sangat lebat. Rambut, janggut, serta kumis tebalnya yang memutih tampak mendominasi wajahnya. Perawakannya terlihat sedikit kurus, dan ia mengenakan sehelai jubah panjang yang agung lengkap dengan sebuah topi berukuran besar di kepalanya.

​"Hohoho... Saya yakin kehadiran saya sedikit membuat Anda semua terkejut, Tuan-tuan dan Nona-nona sekalian..." Kakek tua itu terkekeh pelan dengan suara serak yang khas. "Namun, tidak perlu menaruh rasa takut pada saya. Saya hanyalah seorang pria tua yang baik hati."

​Kakek tua itu kemudian mengarahkan ujung jarinya ke arah pintu gerbang yang sempat terbuka tadi. Dan secara ajaib... pintu kayu raksasa itu langsung membanting menutup dengan sendirinya tanpa disentuh siapa pun. BRAKK!

​"Sekali lagi, izinkan saya memperkenalkan identitas asli saya di hadapan Anda sekalian yang agung... Ah, dan tidak lupa salam hormat saya yang setinggi-tingginya pada sang Kaisar Agung Vajrudin..."

​Kakek tua itu sedikit membungkukkan badannya dengan senyum misterius yang tersungging di balik janggut tebalnya.

​"Saya... adalah seorang Penyihir."

1
Manusia Ikan 🫪
tetapi perang tidak akan pernah berhenti
Manusia Ikan 🫪
kau tahu? aku siap mendengarkannya selama apapun :v
T28J
Dewa apa lagi itu 🤣🤣
T28J
urusin kerajaan mu dulu, kalau sudah aman baru lanjut ke pernikahan /Facepalm/
T28J
1. Semakin kebawah gaya tulisan nya berbeda, atas bagus paragrafnya, bawah loncat2,
2. Terlalu banyak narasi,
3. Saya tidak lihat konflik disini, hubungan antara mata di langit dengan narasi yang sudah banyak dijelaskan (pernikahan, perang kerajaan, dll)
4. 🙏
Clevareus: kalau soal penulisan, nanti pas abis selesai arc ekspedisi udah lumayan kubenerin, kalau yang awal awal gini udah gabisa dibenerin 😭🙏
total 1 replies
T28J
kemenangan mutlak bro, bukan kekalahan
kecuali kalau dari awal kamu menceritakan kerajaan zarath
Rayzent
bagus, sudut pandangnya ga cuma Leoric Clarissa tapi juga ke karakter lain. jadi dunianya hidup ga cuma di sekitar Leoric Clarissa /Good/
Rayzent
respect untuk Roberto /Cry/
Momen'to
gambarnya bikin dimana ini?
Clevareus: chat gtp kak
total 1 replies
Momen'to
overprotektif g sih, udh bukan khawatir lagi mah ini, tapi ngeremehin kemampuan, dia pikir pangeran maju tanpa persiapan apa-apa kh
Momen'to
masih penasaran, sang kakak pertama kelihatannya kayak ada benih pengkhianatan kah??
Momen'to
dewa KnowNot dewa ape tu woi 😭
Protocetus
Woe min kok jarang update sih
Clevareus: aku up chapter setiap hari loh 😭🙏
total 1 replies
Momen'to
para bangsawan boleh ngomong gitu selama mau ngehadepin makhluk-makhluk itu 🤭
Momen'to
honestly memang terlalu banyak informasi, sampai lupa nama² char nya tdi /Grievance/
Momen'to: ya karakter sampingan ga perlu kasih nama kak, sebut aja posisi mereka siapa, entah anak atau saudara dll, nama hanya utk karakter penting
total 2 replies
Clevareus
Mantap
Mhyr
penggambaran monsternya dan suasana mencekamnya kurang dapat. bisa tambahkan detail monsternya agar terlihat mengerikan. lalu kurangi kalimat narator yg terlalu menjelaskan, bisa mengurangi ketegangan cerita.
Clevareus: okee siap, makasi masukannya
total 1 replies
Mhyr
info macam ini sebaiknya simpan aja buat nanti. bab 1 atau prolog ini mending difokuskan pada perkenalan karakter utama, latar dunia (cukup sedikit, detail menyusul), tujuan MC.
AngkaSatu
Epic
AngkaSatu
Wah jadi inspirasiku nanti.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!