Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.
Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.
Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.
Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.
Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
*
"Ini...?" Amanda mengerutkan kening melihat setiap huruf yang tertera di atas kertas itu. kertas tebal yang merupakan sebuah sertifikat, akta pendirian, dan surat kepemilikan sebuah lembaga pendidikan.
"Yayasan Pendidikan Cendekia Bangsa," baca Amanda pelan. "Ini... ini apa, Mas?"
"Itu adalah hadiah pernikahan dariku," jawab Dirga tersenyum bangga. "Aku tahu kamu sangat mencintai dunia pendidikan dan anak-anak, maka kuberikan ini padamu. Sekarang kamu bukan hanya seorang guru, tapi juga pemiliknya. Kelola dan kembangkan sesuai hatimu."
Suara decak kagum terdengar dari para tamu. Bahkan Jameela dan Toni yang duduk di sana pun terlihat terkejut.
Amanda menatap Dirga dengan mata berkaca-kaca. Rasa terharu bercampur dengan berbagai perasaan yang rumit memenuhi hatinya. Dari mana Dirga tahu kalau dia memiliki cita-cita untuk mendirikan sekolah? Cita-cita yang sudah lama sekali terpendam dan seakan itu hanya mimpi yang tak mungkin tercapai. Apakah ini impian yang jadi kenyataan.
"Terima kasih, Mas..." bisiknya parau. "Hadiah ini sangat istimewa. Apakah boleh, jika siswa kurang mampu aku gratiskan?"
Dirga tersenyum, melihat mata Amanda yang berkaca-kaca, ada sesuatu yang lain yang tiba-tiba menelusup hatinya. "Sudah aku bilang, kelola sesukamu. Itu milikmu sekarang.”
“Terima kasih.” Tanpa sadar Amanda menghambur memeluk Dirga.
Dirga sedikit tersentak. Dan entah dorongan dari mana, dia membalas pelukan Amanda.
Pelukan itu terasa begitu hangat dan tulus, seolah menghapus batas yang selama ini ada di antara mereka. Detik-detik itu terasa berjalan lambat, seakan seluruh ruangan hanya berisi mereka berdua saja. Amanda bisa merasakan detak jantung Dirga yang berpacu tak beraturan di balik kemeja putihnya, dan Dirga pun merasakan betapa halusnya tubuh wanita itu yang bersandar erat di dadanya.
Namun, kesadaran perlahan kembali menyentak Dirga. Ia sadar, di luar kesepakatan kontrak yang mereka buat, ada perasaan lain yang diam-diam mulai tumbuh. Perasaan yang sempat ia kunci rapat-rapat di dalam hatinya, karena ia pikir tak akan pernah ada ruang untuk itu lagi.
Perlahan Dirga melepaskan pelukannya, namun tangannya tetap bertengger lembut di bahu Amanda, menatap wajah wanita itu yang masih basah oleh air mata haru.
"Kamu tak perlu berterima kasih berulang kali," ucap Dirga pelan, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya. "Aku hanya memberikan apa bisa aku berikan."
Amanda menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya. Jika seperti ini, dia seperti tidak sedang berhadapan dengan pria yang dia juluki sebagai duda gila. Begitu manis, begitu baik, dan harus diakui dia sedikit terpesona. Bukan karena ketampanan, tapi karena kebaikan hatinya.
Tak lama kemudian, suara tepuk tangan meriah dari para tamu bergema bersahutan membuat suasana semakin meriah dan hangat.
Jameela yang menyaksikan pemandangan itu tersenyum tulus, hatinya merasa lega melihat betapa Dirga kini tampak jauh lebih tenang dan berseri, seolah beban berat yang memikul pundaknya selama bertahun-tahun perlahan terangkat.
“Dia benar-benar telah menemukan tempat untuk berlabuh kembali,” batin Jameela dalam hati. “Dan Amanda... wanita itu tampak mampu melengkapi apa yang selama ini hilang dari diri Mas Dirga.”
Hari itu berlalu dengan penuh kehangatan. Setelah seluruh rangkaian acara selesai dan para tamu perlahan pamit pulang, hanya tersisa keluarga kecil mereka di rumah besar itu. Dirga, Amanda, serta Putri. Pak Hendra, Adinda dan anak-anak asuh Amanda sudah kembali ke paviliun.
Putri sama sekali tak melepaskan Amanda sedikit pun. Malam hari ketika mereka duduk bersama di ruang tengah, gadis itu terus saja menempel di sisi wanita itu. Kadang menggandeng tangannya, kadang menyandarkan kepalanya di bahu Amanda, seakan takut jika berpisah sesaat pun sosok yang kini ia sebut ibu itu akan menghilang begitu saja.
Dirga yang duduk di sofa terpisah, hanya tersenyum tipis menyaksikan pemandangan itu. Ia tahu betul, Putri benar-benar bahagia. Putrinya yang sejak usia tujuh tahun terpaksa dipaksa menjadi mandiri, harus menelan kesepian dan menumbuhkan kekuatan sendiri setelah kepergian ibunya. Kini, gadis itu seakan mendapatkan sosok pelindung, tempat bersandar, dan kasih sayang seorang ibu yang selama bertahun-tahun ia rindukan dan tak pernah ia miliki lagi.
*
Malam pun tiba. Di dalam kamar tidur Dirga yang luas dan mewah, suasana terasa menjadi sangat canggung. Amanda masih berdiri membelakangi cermin rias, menatap ragu ke arah Dirga yang saat itu sedang duduk bersandar santai pada kepala ranjang. Ia menelan ludah pelan sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya dengan suara pelan.
“Apakah… kita harus tidur satu ranjang juga?” tanyanya ragu.
Dirga yang sedari tadi tampak sibuk memperhatikan layar ponselnya perlahan mengangkat kepala, menatap wanita itu dengan tatapan datar tanpa ada perubahan sedikit pun. Memindai dari atas sampai bawah.
“Tenang saja,” jawabnya datar. “Tubuhmu tidak terlalu istimewa hingga mampu membuatku bernafsu padamu. Jadi tak perlu takut," ucapnya dengan nada dingin dan tak berperasaan.
Amanda mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa kesal dan malu bercampur menjadi satu di dadanya. Baru saha tadi siang dalam hatinya memuji pria itu, sekarang mulutnya sudah kembali ke setelah awal. Seperti petasan.
Tanpa menatap pria yang mulutnya sepertinya tak pernah tahu cara berbicara manis itu, Amanda berjalan cepat menaiki ranjang, lalu membaringkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Dirga, seolah tak mau lagi memandang wajah pria itu.
Dirga menghela napas pelan, lalu melepas kacamata bacanya dan meletakkannya perlahan di atas meja kecil di samping ranjang. Tangannya kemudian bergerak meraih sesuatu dari dalam laci di sisi ranjangnya, lalu mengulurkannya ke arah punggung Amanda.
“Ini… ambillah,” ucapnya singkat, tangannya terulur lurus ke samping, namun matanya sama sekali tak menatap ke arah wanita itu, seakan hal itu hanyalah urusan sepele baginya.
Amanda yang semula berbaring membelakanginya perlahan bergerak, membalikkan tubuhnya hingga kini berhadapan langsung dengan Dirga. Matanya seketika tertegun lebar, tak berkedip saat melihat benda yang tergenggam di tangan pria itu, sebuah kartu berwarna hitam pekat yang tampak sangat mewah, berkilau dengan ukiran emas halus di permukaannya.
“Apa ini…?”
awas aja kalo jilat ludah kamu sendiri,,
Apa ya isi mapnya?
emang kejahatanmu akan selalu berhasil