Di bawah rindangnya pohon randu angker di sudut kampung, seorang pemuda bernama Langit tumbuh dewasa tanpa mengenal siapa orang tua kandungnya. Setiap senja, ia merenung di sana, merasa namanya seluas langit namun tak punya pijakan. Ia tak tahu, takdirnya sudah "terjerat" sejak hari ia ditemukan sebagai bayi di bawah pohon keramat itu oleh Nenek Wati.
Sembilan belas tahun kemudian, rahasia kelam masa lalu mulai terkuak, menyeret Langit pada sebuah pencarian identitas yang tak hanya mengancam hidupnya, tapi juga menguji perasaannya. Ketika ia dihadapkan pada sosok Intan, wanita yang sudah "terjerat" pernikahan namun begitu "layak diperjuangkan", akankah Langit mampu melepaskan diri dari belenggu masa lalu dan menemukan tempat sejatinya? Atau justru semakin dalam "terjerat" dalam takdir yang tak pernah ia minta?
Ikuti perjalanan Langit menemukan jati diri, cinta, dan rahasia yang terkubur di dalam novel TERJERAT.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 9: DILEMA HATI DAN TELINGA YANG MENDENGAR
Saat nama Langit itu terlontar dari bibir Pardi, seketika seluruh tubuh Jaji membatu. Getaran hebat menjalar dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jantungnya berdegup kencang bak genderang perang, seakan ingin melompat keluar dari rongga dada.
Napasnya memburu tak beraturan, tangannya gemetar hebat saat mencoba menopang berat badannya pada meja kayu itu. Ujung jarinya terasa mati rasa. Bibirnya bergetar tak terkendali, matanya berkaca-kaca namun air mata itu ditahan mati-matian.
Badannya menggigil kedinginan layak tertimpa hujan es, meski matahari pagi sedang bersinar terik. Ia tak percaya... wanita yang ia cintai setulus hati, wanita yang ia nafkahi sepenuh jiwa, tega berkhianat dengan seorang pemuda yang usianya jauh lebih muda.
"Tenang dulu Bro... tenang," ucap Pardi mencoba menenangkan, namun senyum di sudut bibirnya menyimpan seribu kelicikan. "Bukti belum kuat benar. Tunggu dua minggu lagi. Kalau mereka nekat lanjut, baru Lo boleh bertindak. Untuk sekarang, sebaiknya Lo pura-pura tidak tahu apa-apa."
Pardi tidak akan memberikan dua video yang sudah jelas-jelas membuktikan perselingkuhan itu sekarang. Ada rencana besar yang sedang ia susun rapi di kepalanya.
'Tujuanku simpel kok... Dari Jaji ini, aku dapat uang besar. Dari bocah Langit dan neneknya, aku bisa mainin soal pinjaman bank, pasti ada untungnya. Dan dari Intan... Tubuh segar dan bohay itu... pasti bisa aku dapatkan juga. Hahaha! Keuntungan tiga in satu! Dari Jaji sudah 10 juta masuk kantong, dari Langit target 10 juta lagi, ditambah kenikmatan badan Intan... Sungguh kemenangan mutlak buat gue!' batin Pardi tertawa puas, merasa menjadi orang terpandai yang memanfaatkan situasi.
"Jadi gue harus gimana Di?" tanya Jaji lirih. Amarahnya mulai mereda, digantikan oleh rasa kecewa yang mendalam. Ia memutuskan untuk menuruti saran temannya, bersabar, berpura-pura bodoh, menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan mereka berdua ke dalam lumpur penghinaan.
"Lo jalanin hidup seperti biasa. Secepatnya balik lagi ke kota, biarkan mereka merasa bebas. Semakin Lo jauh, semakin mereka lepas kontrol. Itu kesempatan emas buat gue rekam bukti yang sempurna. Nanti di persidangan, Lo bisa ambil hak asuh anak dan rebut semua harta Lo," ucap Pardi seolah bijak memberi solusi. Padahal, semakin jauh Jaji pergi, semakin leluasa pula ia bermain api dengan istrinya.
"Baiklah... kalau memang itu jalannya," jawab Jaji lesu. Bahunya terlihat turun menahan beban dunia. "Besok aku akan kembali ke kota. Sungguh tak kusangka... istriku tega berkhianat seburuk ini."
Ia pun berdiri dari duduknya. Pardi menyambutnya dengan pelukan hangat, berpura-pura menguatkan sahabatnya itu.
"Sabar Bro... semua akan indah pada waktunya."
Tampak dari luar mereka adalah sahabat baik yang saling mendukung. Namun siapa sangka, Pardi adalah perwujudan nyata dari peribahasa "Serigala Berbulu Domba". Di balik wajah ramah dan tutur kata manisnya, tersimpan niat busuk yang siap menerkam mangsa satu per satu.
PERBANDINGAN DUA WANITA
Saat Jaji berjalan meninggalkan halaman rumah Pardi, matanya tak sengaja menangkap sosok istri Pardi yang sedang duduk di ruang tengah sambil mengasuh anak dengan penuh kelembutan.
Wanita itu tampil begitu anggun dan santun. Hijab yang dikenakannya menutup aurat dengan rapi dan sopan, tidak memperlihatkan sedikitpun lekuk tubuh yang seharusnya menjadi hak milik suami saja. Caranya berbicara lembut, senyumnya tulus, dan sikapnya yang menghormati tamu maupun suami membuat Jaji tertegun.
'Bandingkan dengan Intan...' batin Jaji mulai membandingkan.
'Intan memang cantik dan segar, tapi sikapnya... Ah. Saat menikah dulu usianya baru 16 tahun, masih terbilang bocah dan polos. Hingga sekarang sifat kekanak-kanakannya masih sering terlihat. Terlalu bebas, terlalu ramah sampai kadang tak tahu batas dengan pria lain, dan cara berpakaiannya pun seringkali membuat mata orang lain melirik yang bukan haknya. Belum cukup dewasa dalam berpikir, makanya mudah tergoda rayuan.'
Perasaan Jaji makin perih. Ia menyadari betul, mungkin karena saat menikah Intan masih sangat muda, sehingga pola pikirnya belum sepenuhnya matang seperti wanita sebayanya.
Langkah kakinya terus menjauh, pikirannya melayang entah ke mana. Hatinya hancur lebur.
"Apa sih yang kurang dariku? Materi sudah aku cukupkan, rumah, makanan, pakaian semua ada. Anak-anak pun tumbuh bahagia. Atau... Jangan-jangan..."
Langkahnya terhenti mendadak. Sebuah pertanyaan menyakitkan muncul di benaknya.
"Apakah... nafkah batin?"
Jika itu alasannya, maka sadarlah Jaji... Mungkin akulah yang salah. Bukan istriku sepenuhnya.
Hati dan pikirannya kini berada di persimpangan jalan yang gelap. Di satu sisi, selingkuh itu haram dan dosa besar. Tapi di sisi lain, ia tahu penyebabnya mungkin karena dirinya yang sudah tak lagi mampu memenuhi kebutuhan biologis istrinya secara maksimal selama hampir setahun ini.
"Ya Tuhanku... apa yang harus hamba lakukan? Haruskah hamba menutup mata menerima kenyataan pahit ini? Atau hamba harus bertindak tegas, mengakhiri semuanya, menceraikannya... Lalu bagaimana nasib kedua anakku nanti?" jerit batinnya dalam dilema yang tak berujung.
Hingga akhirnya, sebuah ketenangan mulai menyelimuti hatinya.
"Jawabannya hanya satu... Shalat malam. Meminta petunjuk langsung dari Sang Pencipta."
Dengan tekad bulat ia yakin, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Tuhan tidak akan menempatkan seseorang dalam masalah melebihi batas kemampuannya.
RAHASIA DI BALIK DINDING
Sementara itu, di dalam rumah Pardi...
Istri Pardi yang tadi berpamitan masuk ke kamar, ternyata tidak benar-benar pergi. Ia bersembunyi di balik dinding pembatas, telinganya tajam menangkap seluruh percakapan suaminya dengan tamu tadi.
Wanita berhijab itu memijat pelan pelipisnya, wajahnya terlihat masygul dan kecewa.
'Jadi selama ini suamiku... bukan hanya sekadar membantu teman, tapi melakukan pekerjaan kotor seperti ini?'
Ia mendengar jelas nama Intan, nama Langit, hingga rencana licik suaminya yang ingin mengambil keuntungan dari semua orang, bahkan berniat jahat pada istri orang.
"Dasar laki-laki... sama saja busuknya," gumamnya pelan dengan nada kecewa yang mendalam.
Ia kini memegang sebuah rahasia besar yang bisa menghancurkan segalanya. Dan mulai detik ini, istri Pardi pun memiliki rencananya sendiri...
Lamunannya tersentak kaget, ketika sang suami muncul mengagetkan dari arah pintu masuk. Bahkan istrinya tak menyadari bahwa pintu rumah sudah dikunci Pardi dari dalam.
"MAH....................!" teriak Pardi dengan nada tinggi.
"Ayo, gairah malam belum aku salurkan karena alasanmu itu ngantuk, jadi pagi ini mau tak mau kau harus melayani nya."
Tanpa basa-basi, Pardi menarik tangan istrinya dengan kasar. Wanita itu terhuyung, baru sadar dari rasa terkejutnya.
"Pah... bagaimana kalau nanti ada tamu? Lagian Putri sudah bangun, bisa saja dia melihat kita!" cemas sang istri berusaha menolak halus.
"BANYAK ALASAN MULU KAMU MAH, HAH?!"
Emosi Pardi meledak seketika. Kemarahannya yang sudah dipendam semalaman kini membuncah tak tertahan karena ini sudah kali kedua istrinya berani menolak dirinya.
"JANGAN BANYAK TANYA! KAU ISTRIKU, WAJIB MELAYANI SUAMI! KALI INI GAK ADA TOLAK-TOLAKNYA!" geramnya sambil menyeret istrinya masuk lebih dalam ke kamar dengan wajah memerah padam menahan amarah.
CATATAN PEMBACA:
SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!
SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.
JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!
SALAM DARI ANAK KAMPUNG,
ARIS.
Bersambung...