NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

liburan Keluarga

Beranjak menuju pertengahan bulan. Musim semi semakin terasa, udara pagi masih dingin tapi tak lagi menggigit. Bunga-bunga liar bermekaran di pinggir-pinggir jalan kompleks militer, dan burung-burung pipit semakin ramai berkicau meski Jinyu curiga mereka lebih banyak bergosip daripada bernyanyi.

Hari itu Sabtu pagi, dan suasana di rumah keluarga Su berbeda dari biasanya. Ibu Liu sibuk di dapur menyiapkan bekal, sementara Su Yichen memeriksa peta dan daftar barang. Di ruang tamu, tiga koper kecil sudah berdiri rapi.

"Jinyu! Jinyu! Kita liburan!" Weimin berlari masuk kamar Jinyu tanpa mengetuk seperti biasa.

Jinyu yang sedang duduk merapikan baju merahnya hanya mendesah. "Kakak ketiga, ketuk pintu dulu."

"Iya, iya. Ayo cepat! Baba bilang kita akan ke luar kota! Lihat pemandangan! Main ke tempat baru!"

Jinyu mengangkat alis. "Liburan?"

Dari ruang tamu, Su Yichen memanggil, "Jinyu, Weimin, ayo sarapan dulu! Kita berangkat jam delapan."

Sarapan pagi itu meriah. Su Weiguo dan Su Jianguo juga ikut—mereka kebetulan pulang akhir pekan ini. Jadi keluarga Su lengkap untuk pertama kalinya sejak Jinyu diadopsi dua bulan lalu.

"Ayah, kita ke mana?" tanya Weimin sambil menyendok bubur.

"Ke Danau Barat. Ada peristirahatan militer di sana. Udara segar, pemandangan indah. Kita bisa memancing, berperahu, dan piknik."

"Danau Barat!" Weimin berjingkrak di kursi. "Aku mau mancing! Aku mau mancing ikan besar!"

Jianguo tertawa. "Ikan besar kabur lihat wajahmu, Weimin."

"Aduh, Kakak jahat!"

Weiguo yang biasanya serius ikut tersenyum kecil. Ibu Liu mengelus kepala Jinyu. "Kamu senang, Nak?"

Jinyu mengangguk sopan. "Senang, Bu."

Dan entah mengapa, ia merasa itu bukan sekadar jawaban formal. Mungkin karena dia sudah mulai terbiasa dengan kehangatan yang berjudul keluarga ini.

Perjalanan ke Danau Barat memakan waktu sekitar dua jam dengan mobil jip militer. Su Yichen menyetir sendiri, Ibu Liu di sampingnya. Di belakang, Weiguo, Jianguo, Weimin, dan Jinyu berdesakan tapi penuh tawa.

Weimin duduk di pangkuan Jianguo, tak henti berceloteh tentang ikan yang akan ia tangkap. Weiguo sesekali menunjukkan pemandangan di luar jendela pada Jinyu—sawah hijau, bukit-bukit kecil, desa-desa dengan atap genteng abu-abu.

"Itu sawah," jelas Weiguo. "Nanti kalau musim panen, warnanya kuning emas."

Jinyu mengamati dengan seksama. Di dunia akhir zaman, tak ada sawah. Hanya gurun dan puing-puing. Pemandangan hijau seperti ini... asing, tapi menenangkan.

"Kakak Weiguo," panggilnya tiba-tiba.

Weiguo menoleh. "Hm?"

"Terima kasih sudah selalu menjelaskan."

Weiguo tersenyum, senyum langka yang jarang muncul. "Sama-sama, Adikku."

Jianguo yang melihat berseru, "Wah, kakak pertama tersenyum! Catat tanggalnya!"

Weiguo langsung memasang wajah datar lagi. "Diam kau."

Semua tertawa, termasuk Jinyu walaupun hanya sedikit.

Danau Barat ternyata sangat indah. Airnya jernih kebiruan, dikelilingi perbukitan hijau. Di tepi danau, beberapa bangunan bergaya tradisional China berdiri peristirahatan militer untuk para perwira dan keluarga.

Mereka tiba menjelang siang. Setelah check-in dan meletakkan barang di kamar masing-masing, keluarga Su berkumpul di tepi danau untuk piknik.

Ibu Liu membentangkan kain di atas rumput, lalu mengeluarkan bekal: mantou isi daging, telur rebus, acar sayur, dan buah-buahan musiman. Jinyu membantu mengatur piring dengan rapi—kebiasaan ratu yang selalu ingin semuanya teratur.

"Makan dulu, baru main," perintah Ibu Liu.

Weimin yang sudah tak sabar ingin memancing terpaksa menurut. Tapi matanya terus melirik ke arah danau.

Setelah makan, Su Yichen membagi tugas: Weiguo dan Jianguo boleh memancing dengan perahu kecil, Weimin ikut mereka tapi harus pakai pelampung. Ibu Liu akan duduk di tepi membaca buku. Dan Jinyu?

"Jinyu ikut ayah jalan-jalan dulu," kata Su Yichen. "Nanti sore kita semua kumpul lagi."

Jinyu mengangguk. Ia sebenarnya ingin ikut memancing, tapi tak masalah.

Su Yichen menggandeng tangan Jinyu menyusuri tepi danau. Mereka berdua berjalan pelan, menikmati pemandangan. Su Yichen yang biasanya sibuk dengan urusan militer, kali ini terlihat santai.

"Jinyu," panggilnya tiba-tiba.

"Iya, ayah?"

"Apa kamu bahagia di keluarga kita?"

Jinyu menatapnya sejenak. Pertanyaan itu tulus. Ia bisa melihatnya dari mata Su Yichen.

"Bahagia, ayah," jawabnya. Dan kali ini, ia benar-benar tulus.

Su Yichen tersenyum, lalu menggendong Jinyu. "Ayo, ayah tunjukkan sesuatu."

Mereka berjalan ke ujung danau, di mana sebuah perahu kayu kecil tertambat. Seorang tentara muda menjaga di sana. Begitu melihat Su Yichen, ia langsung memberi hormat.

"Komandan Su!"

Su Yichen membalas hormat, lalu menunjuk perahu. "Pinjam sebentar, boleh?"

"Tentu, Komandan!"

Su Yichen menurunkan Jinyu ke dalam perahu, lalu ikut naik dan mendayung pelan. Perahu itu meluncur di air tenang, meninggalkan riak-riak kecil.

Jinyu duduk di depan, tangannya menyentuh air danau. Dingin, segar. Di kejauhan, ia melihat perahu Weiguo dan Jianguo—Weimin melambai-lambai heboh.

"Mereka senang," gumam Su Yichen. "Aku jarang punya waktu bersama mereka. Tugas militer selalu menyita waktu."

Jinyu menatapnya. "Tapi ayahkan sudah berusaha."

Su Yichen tersenyum getir. "Iya. Aku sudah berusaha."

Mereka berdua diam sejenak, hanya ditemani suara dayung memecah air.

"Jinyu," Su Yichen berkata lagi. "Aku tahu kamu anak istimewa. Cara bicaramu, caramu berpikir... tidak seperti anak 4 tahun."

Jinyu diam. Hati-hati.

"Tapi aku tidak akan tanya lebih jauh. Yang penting, kamu anakku sekarang. Dan aku akan lindungi kamu, apa pun yang terjadi."

Jinyu menatapnya. Pria ini... benar-benar tulus. Di dunia akhir zaman, tak ada orang seperti ini. Semua hanya peduli pada diri sendiri.

"Terima kasih, ayah" bisiknya.

Sore harinya, mereka kembali ke penginapan. Ibu Liu sudah menyiapkan makan malam sederhana di dapur kecil. Weimin sibuk memamerkan ikannya, tiga ekor ikan kecil yang nyaris tak layak dimakan, tapi ia bangga sekali.

"Nanti kita goreng, ya, Bu! Aku yang tangkap!"

"Iya, iya," Ibu Liu tertawa.

Jianguo menggoda, "Itu ikan atau anak ikan, Weimin? Kecil amat."

"Namanya juga ikan kecil! Nanti besar sendiri!"

Semua tertawa. Jinyu ikut tersenyum.

Setelah makan malam, Su Yichen memanggil keempat anaknya. "Ayo, ayah ajak jalan-jalan sebentar. Ada yang mau ayah tunjukkan."

Ibu Liu melambai. "Aku siapkan air hangat buat kalian mandi nanti. Jangan pulang kedinginan."

Mereka berlima keluar penginapan. Su Yichen berjalan di depan, diikuti Weiguo, Jianguo, Weimin, dan Jinyu di belakang. Jalan setapak itu mengarah ke bukit kecil di belakang danau. Di puncaknya, ternyata ada pos militer kecil bukan pos jaga biasa, tapi barak pelatihan untuk pasukan khusus.

Begitu memasuki area barak, suasana berubah. Lampu-lampu penerangan di sepanjang jalan, para prajurit yang berlalu lalang dengan seragam rapi. Dan setiap kali mereka berpapasan dengan Su Yichen, para prajurit itu langsung menghentikan langkah, menegakkan badan, dan memberi hormat.

"Komandan Su!"

Su Yichen membalas hormat setiap kali, santai tapi berwibawa. Weiguo dan Jianguo sudah terbiasa mereka hanya berjalan biasa, sesekali mengangguk pada prajurit yang mereka kenal. Weimin juga tak canggung, malah melambai pada beberapa prajurit muda yang tersenyum padanya.

Tapi Su Yichen melakukan sesuatu yang berbeda malam ini. Setiap kali berpapasan dengan prajurit, ia akan berhenti sejenak dan memperkenalkan Jinyu.

"Ini putri bungsuku, Su Jinyu."

Prajurit itu akan menatap Jinyu dengan rasa ingin tahu, lalu tersenyum dan memberi hormat kecil. Jinyu hanya mengangguk sopan, tak lebih.

Mereka berjalan semakin dalam ke area barak. Bangunan-bangunan megah mulai terlihat, markas, ruang pelatihan, gudang senjata. Di ujung jalan, sebuah gedung besar dengan penjaga ketat di pintunya.

Itu adalah kantor komandan tertinggi wilayah ini.

Seorang prajurit di pintu memberi hormat. "Komandan Su, ada keperluan?"

"Saya ingin bertemu Komandan Xu. Apakah beliau ada?"

"Ada, Komandan. Silakan masuk."

Mereka masuk ke dalam. Ruangannya luas, sederhana tapi berwibawa. Di belakang meja kayu besar, duduk seorang pria tua berusia sekitar 60-an. Rambutnya sudah putih, wajahnya penuh kerut dan bekas luka tanda ia sudah malang melintang di dunia militer puluhan tahun. Matanya tajam, seperti elang mengamati mangsa.

"Yichen," sapa pria itu tanpa senyum. Suaranya berat, dalam, penuh otoritas. "Kau bawa anak-anak?"

Su Yichen memberi hormat. "Komandan Xu. Maaf mengganggu malam-malam. Aku ingin memperkenalkan anggota baru keluargaku."

Komandan Xu menatap Weiguo, Jianguo, Weimin, ia sudah kenal mereka. Lalu matanya beralih ke Jinyu.

Gadis kecil berbaju merah itu berdiri tegak, tak bersembunyi di balik ayahnya. Rambut cokelatnya tergerai, mata keemasannya menatap balik tanpa rasa takut. Malah, ia sedang... mengamati.

Jinyu menatap komandan itu dengan teliti. Dari cara duduknya, dari posisi tangannya, dari bekas luka di wajahnya. Pria ini keras, disiplin, sudah malang melintang di medan perang. Tapi ada kehangatan di matanya saat melihat Weiguo dan Jianguo. Mungkin... dia punya cucu?

Lalu ia mengalihkan pandangan ke sekeliling ruangan. Meja rapi, tumpukan dokumen, peta di dinding, foto-foto upacara militer. Markas yang tertata. Bawahan pasti segan padanya.

Komandan Xu mengerutkan dahi. Biasanya, anak kecil mana pun yang pertama kali bertemu dengannya akan langsung menangis atau bersembunyi. Bahkan anak laki-laki pemberani pun akan gemetar. Tapi gadis kecil ini...

"Yichen," panggilnya. "Katakan padanya untuk mendekat."

Su Yichen menatap Jinyu. Jinyu mengangguk, lalu melangkah maju sendiri. Tanpa ragu, tanpa gemetar. Ia berhenti tepat di depan meja, lalu membungkuk sopan.

"Selamat malam, Komandan Xu. Perkenalkan, saya Su Jinyu, putri bungsu Komandan Su Yichen." Suaranya jelas, tenang, tidak tinggi tidak rendah.

Komandan Xu tertegun. Matanya yang tajam kini dipenuhi rasa ingin tahu.

"Kau tidak takut padaku, Nak?"

Jinyu menggeleng pelan. "Tidak, Komandan."

"Kenapa?"

Jinyu berpikir sejenak. Ia tak bisa bilang karena aku mantan ratu iblis yang sudah lihat monster lebih menakutkan darimu. Jadi ia memilih jawaban diplomatis.

"Karena Komandan adalah atasan ayah. Ayah orang baik, pasti Komandan juga baik."

Komandan Xu terperangah. Lalu tiba-tiba...

"HAHAHAHA!"

Tawa keras menggema di ruangan. Komandan Xu tertawa lepas, sesuatu yang sangat langka terjadi. Para penjaga di luar saling pandang bingung.

"Yichen!" serunya setelah reda. "Kau benar-benar menemukan mutiara! Gadis ini luar biasa!"

Su Yichen tersenyum lega. "Terima kasih, Komandan."

Komandan Xu berdiri, berjalan mengelilingi meja, lalu berjongkok di depan Jinyu menyamakan tinggi badan. Wajahnya yang tadinya keras kini melembut.

"Su Jinyu," panggilnya. "Kau tahu, tidak banyak orang dewasa yang berani menatap mataku seperti itu. Apalagi anak kecil. Kebanyakan menangis."

Jinyu hanya diam sopan.

"Aku suka kamu," lanjut Komandan Xu. "Kalau besar nanti, kamu mau jadi apa? Tentara seperti ayahmu? Atau ingin menjadi dokter"

Jinyu berpikir. Tentara? Di dunia akhir zaman, ia adalah penguasa, bukan tentara biasa. Tapi di sini...

"Aku ikut kata ayah dan Ibu saja, Komandan."

Komandan Xu tertawa lagi. "Pintar! Menghormati orang tua, itu baik." Ia berdiri, merogoh saku seragamnya, lalu mengulurkan sesuatu pada Jinyu.

Sebuah lencana militer kecil, lencana kehormatan.

"Ini untukmu, Nak. Kenang-kenangan dari seorang komandan tua. Kalau ada masalah, tunjukkan lencana ini pada prajurit mana pun, mereka akan bantu."

Jinyu menatap lencana itu, lalu menatap Su Yichen. Ayahnya mengangguk. Maka ia menerima dengan kedua tangan, membungkuk dalam.

"Terima kasih, Komandan Xu. Aku akan menjaganya baik-baik."

"Panggil saja aku kakek xu, mulai sekarang kamu cucu ku"

Komandan Xu mengelus kepala Jinyu, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan pada siapa pun. "Pulanglah, Nak. Dan ingat, kalau ayahmu sibuk, kapan pun kamu mau main ke sini, pintuku selalu terbuka."

"Baik, terimakasih kakek xu"

Mereka keluar dari kantor dengan perasaan berbeda-beda. Weiguo menatap Jinyu dengan kagum. Jianguo bersiul pelan. Weimin langsung memeluk adiknya.

"Jinyu! Kamu hebat! Komandan Xu galak banget, tapi dia baik sama kamu! Dia bahkan membiarkan mu memanggil nya kakek xu, aku benar-benar iri dengan mu"

Jinyu hanya tersenyum tipis.

Su Yichen menggandeng tangannya lagi, kali ini lebih erat. Dalam hati, ia semakin yakin putri kecil ini bukan anak biasa. Tapi ia tak perlu tahu semuanya. Yang penting, ia adalah anaknya sekarang.

Malam itu, di kamar penginapan, Jinyu berbaring memandangi lencana di tangannya. Yoyo muncul dari balik selimut.

Shshsss~ "Kau buat komandan itu terkesan, bahkan dia menerima mu menjadi cucunya"

"Aku hanya jujur."

Shshsss~ "Jujur? Katamu 'Komandan pasti baik'? Itu diplomatis, bukan jujur."

"Kau tahu maksudku."

Yoyo mendesis geli. Shshsss~ "Hari yang menyenangkan, ya?"

Jinyu tersenyum kecil. "Iya."

Dari luar, terdengar suara Weimin tertawa bersama Jianguo. Ibu Liu memanggil mereka untuk minum teh hangat. Su Yichen dan Weiguo mengobrol pelan di ruang tamu kecil.

Keluarga.

Jinyu memejamkan mata, lencana itu digenggam erat.

Hidup di masa lalu, ternyata tidak buruk.

Bahkan, mungkin... ini yang disebut bahagia.

1
Dewiendahsetiowati
keluarga Su pasti kangen berat sama jinyu.gimana kabar Yoyo dan Xiao Bai ya
Herli Yani
seru selalu buat deg-degkan rasa jangan lama2 y Thor 👍
Julia thaleb
shiou hu dan yoyo kan bisa tinggal diruang dimensi ..?
Cloudia: maaf ya, ini kelalaian saya. saya lupa buat bahwa mereka sengaja ditinggal untuk melatih anak didik miliknya makanya si Jinyu bilang supaya mereka tidak sedih. saya kelupaan buat🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Cloudia: sengaja ditinggal untuk melatih anak didiknya 🤭
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
Ellasama
terus up y Thor jangan putus ditengah jalan /Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!