SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33. AKTING
Celina bahkan tidak sempat menarik napas ketika yang terjadi terlalu cepat.
Satu detik sebelumnya, gadis itu masih menatap layar ponsel di tangannya, berusaha mengatur ulang detak jantung yang sejak tadi tidak mau tenang. Detik berikutnya, dunia seolah berhenti berputar.
Theo mencondongkan tubuhnya tiba-tiba.
Bibir pria itu menempel di bibir Celina, tepat, tegas, tanpa peringatan.
Hangat. Nyata. Terlalu nyata.
Celina membeku. Otaknya kosong, seperti kabel yang tiba-tiba tercabut dari sumber daya. Jantungnya menghantam dada dengan kekuatan yang membuatnya nyaris pingsan. Ia bahkan lupa cara bernapas, lupa bagaimana caranya menolak, lupa bahwa ini bukan tempat dan bukan waktu.
Ketika Theo akhirnya menjauh, napas mereka sama-sama tercekat.
Celina masih terpaku, matanya membesar, tubuhnya kaku seperti patung porselen yang nyaris retak.
Theo menarik wajahnya mundur perlahan. Di bibirnya, terlihat jelas noda lipstik tipis, merah muda samar, tercetak tidak rapi. Ia bisa melihat Celina membeku dengan wajah merah padam.
Lucu, batin Theo.
"Maaf, Princess," ucap Theo pelan, suaranya rendah dan cepat. "Nanti kujelaskan."
Theo mengusap bibirnya dengan ibu jari, menyapunya ke sudut mulut. Alih-alih menghilang, noda lipstik itu justru melebar, berantakan, memberi kesan yang jauh lebih intim daripada sebelumnya.
Celina baru saja hendak membuka mulut ketika ...
Tok! Tok! Tok!
Ketukan keras terdengar di kaca pintu mobil.
Satu ketukan.
Tajam.
Mematikan.
Celina tersentak hebat dan langsung menoleh ke arah sumber suara. Dari balik kaca yang sedikit gelap, ia melihat siluet seorang pria, salah satu dari kawanan penculik tadi. Wajahnya dingin, sorot matanya tajam, seperti elang yang baru menemukan mangsa yang tersesat.
Theo mendecakkan lidah pelan.
Theo kemudian melonggarkan dasinya dengan satu tarikan cepat, lalu membuka dua kancing atas kemejanya, memperlihatkan kulit leher dan sedikit tulang selangka.
"Cium pipi dan leherku, Celina," bisiknya cepat tanpa menoleh. "Sekarang. Buat kita seolah sedang bercinta."
Celina menatapnya dengan panik dan bingung.
"Apa-"
"Celina," potong Theo, nadanya tegas tapi tenang. "Percaya padaku."
Jantung Celina kembali berdegup tak karuan. Wajahnya terasa panas, telapak tangannya dingin. Ini gila. Ini memalukan. Ini ... tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Namun Celina paham. Ia paham sepenuhnya dengan maksud Theo. Tapi tetap saja otaknya seperti tidak mampu memahaminya.
Dengan tangan sedikit gemetar, Celina mendekat. Bibirnya menyentuh pipi Theo, sekilas, ragu. Lalu, dengan keberanian yang dipaksakan, ia menurunkan wajahnya ke leher pria itu.
Hangat.
Aroma maskulin Theo bercampur dengan wangi parfumnya sendiri, membuat kepala Celina berdenyut. Ia mencium lagi, sedikit lebih lama, meninggalkan jejak lipstik yang jelas di kulit Theo.
Theo menghela napas pelan, lalu tertawa kecil, suara rendah yang hanya mereka berdua dengar.
"Kalau bukan dalam situasi seperti ini," bisik Theo nakal, "aku pasti sudah membuat keadaan kita jauh lebih panas dari ini, Princess."
BUGH!
Celina spontan memukul dada Theo.
"Dasar tidak tahu tempat," bisik Celina sengit, wajahnya merah padam.
Theo hanya tersenyum, senyum yang terlalu santai untuk seseorang yang sedang berada di area berbahaya.
"Tunggu di sini," perintah Theo kemudian. "Dan buat tampilanmu sedikit berantakan."
Celina menelan ludah, lalu mengangguk.
Ia mengacak rambutnya dengan tangan, menarik napas kasar, sengaja membuat riasannya sedikit luntur. Jantungnya masih berdegup keras ketika suara ketukan di kaca kembali terdengar, kali ini lebih keras.
"Keluar sekarang juga!" seru pria di luar.
Theo mengacak rambutnya sendiri, melepas jasnya, lalu membuka pintu dan keluar.
Udara malam yang dingin menyergapnya.
Pria di luar langsung menatap Theo dengan curiga. "Apa yang kau lakukan di area gudang seperti ini?"
Theo tidak langsung menjawab.
Ia menyeka bibirnya dengan punggung tangan, gestur malas, seperti pria yang baru saja terganggu dari aktivitas paling pribadi. Baru kemudian ia mendongak.
"Hanya bersenang-senang dengan kekasihku," jawab Theo santai.
Pria itu menyipitkan mata, lalu melirik ke dalam mobil.
Celina duduk dengan posisi sedikit miring, rambutnya berantakan, napasnya terlihat belum stabil. Lipstik samar berantakan dan ekspresi kaget yang belum sepenuhnya hilang justru membuat akting itu terlihat ... meyakinkan.
Pria itu kembali menatap Theo, yang kemejanya terbuka, lehernya penuh noda lipstik.
"Lakukan di hotel," kata pria itu sinis. "Kenapa harus di tempat sepi seperti ini?"
Theo mendengus pelan, seolah terganggu. "Istriku cukup menyebalkan. "Dia membayar orang untuk membuntutiku. Kau pasti tahu maksudku," jawabnya.
Wajah pria itu berubah. "Oh ..." Ia tersenyum lebar. "Selingkuh, huh."
Theo membalas senyum itu, tenang, menang. Pria di depannya ini terlalu mudah dibohongi, beruntungnya Theo karena tidak perlu berakting berlebihan.
"Kekasihku jauh lebih memuaskan," lanjut Theo tanpa ragu. "Dibanding istriku yang sibuk bekerja dan terlalu mengatur."
Pria itu tertawa kecil. "Benar. Wanita karier memang cukup menyebalkan."
Ia melangkah mundur. "Tapi lebih baik kau cari tempat lain. Tempat ini sedang dipakai untuk sebuah acara besok."
"Padahal kami sedang bersenang-senang," gerutu Theo.
"Ada sebuah motel kecil tak jauh dari gudang ini, ke sana saja," kata pria itu dengan senyum lebar. "Dan pastikan kau memuaskan kekasihmu itu juga."
Theo mengangguk kecil. "Terima kasih atas pengertiannya."
Pria itu melirik ke arah Celina yang ada di dalam mobil dan tersenyum khas pria brengsek.
Theo segera kembali masuk ke mobil dan menutup pintu.
"Berani sekali menatap gadisku dengan mata penuh nafsu, jika bukan karena situasi sudah kupatahkan lehernya," gerutu Theo pelan.
Mesin dinyalakan.
Mobil melaju menjauh dari area gudang, cukup jauh untuk tidak dicurigai, namun cukup dekat untuk tetap mengawasi.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang canggung.
Theo menghela napas panjang. Lalu ia merasakan tatapan tajam menancap di wajahnya.
Ia menoleh dan tertawa kecil. "Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Theo.
Celina menyilangkan tangan di dada. "Lain kali bilang dulu. Aku nyaris jantungan karena kau tiba-tiba menciumku. Dan mendadak aku jadi selingkuhan."
Theo tertawa lebih keras. "Akting yang bagus, 'kan?" katanya santai.
"Terlalu alami seolah kau memang pernah selingkuh," ejek Celina.
"Hei, aku tersinggung. Aku bahkan belum pernah punya kekasih, dan perlu kau ingat ciuman tadi adalah ciuman pertamaku," kata Theo dengan senyum lebar.
"Tidak mungkin sekali," jawab Celina mendengus.
Theo hanya tersenyum melihat gerutuan Celina.
Akhirnya Theo menemukan tempat yang cukup tersembunyi. Mobil dihentikan.
Ia menoleh ke Celina lagi, matanya berkilat jahil.
"Jadi ... haruskah kita lanjutkan mengawasi, atau melanjutkan ciuman kita?" ujar Theo.
BUGH!
Celina kembali memukul lengannya. "Berhenti bersikap gila."
Theo tertawa, lalu bersandar di kursinya. "Setidaknya sekarang aku lebih tenang. Kita tinggal menunggu bantuan Papa datang."
Celina menatap tajam Theo.
Theo melirik Celina. "Rapikan dirimu. Atau Papa akan mengira kita sungguh-sungguh bercinta," lanjutnya.
Celina menggeram pelan, wajahnya kembali memerah. "Theo ... kau benar-benar ya."
Theo hanya tersenyum.
Namun senyum itu membeku ketika ...
DOR! DOR!
Suara tembakan menggema dari luar sana.
Dan dunia kembali berubah dalam satu detik.
Theo dan Celina saling lihat lalu bergegas keluar dari mobil ketika mendengar suara tembakan itu datang dari arah gudang tempat Lucy dan Leo disekap.
nyelem sekalian minum aer🤣🤣
keselek..keselek dah lo😜🤣🤣
Theo pinter bgt ya mendapatkan ciuman dari gadisnya 😂
ayoooo, cepat "
Lucas apa Rion ya??
permisi, status anda tu apa??🫣