NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8 Panen Raya

Ibu menaruh telunjuk di bibir, mengisyaratkan agar aku menurunkan suara. Di sisi lain, aku heran dengan tanggapan ibu yang kiranya cukup Defensif pada pertanyaanku.

Matanya berkelit, sedangkan tangan ibu saling mengusap satu sama lain. "Jangan keras-keras, nanti bapak dengar."

Rasa penasaranku semakin menjadi-jadi, "Iya kenapa, buk!" bisikku keras.

Ibu menghela napas panjang, kali ini lebih berat dari sebelumnya. Ia menaruh tampah di pangkuannya, seolah butuh jeda sebelum bicara.

"Panen tahun ini… sedikit, Nak," ucapnya akhirnya, pelan sekali.

Aku mengerutkan kening. "Sedikit? Kan bunga di bukit udah mekar semua? Terus acaranya gak jalan gitu?"

Ibu mengangguk, tapi wajahnya tidak menunjukkan rasa lega. "Mekar, iya. Tapi panen desa nggak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Banyak yang rontok sebelum matang. Ada yang busuk di pohon. Ada juga yang nggak jadi buah sama sekali."

Angin sore membawa aroma tanah basah, tapi rasanya tidak lagi menenangkan. Ada sesuatu yang pahit di balik kata-kata ibu.

"Terus… apa hubungannya sama panen raya?" tanyaku, lebih pelan.

Ibu menatapku, lalu menunduk. "Panen raya itu… bukan cuma syukuran. Itu juga cara desa nunjukkin kalau kita masih kuat, masih makmur. Tapi kalau panennya sedikit, orang-orang takut acara itu malah jadi bahan omongan."

Aku terdiam. Desa kami memang kecil, tapi jika gengsinya besar, semua menjadi sulit. Panen raya selalu jadi ajang pamer hasil bumi, makanan, tumpeng, tarian, semuanya. Kalau hasil panen sedikit… acara itu bisa terasa kosong.

"Warga malu," lanjut ibu lirih. "Bapak bilang ke ibu, kalau panen sedikit, mereka nggak mau bikin acara. Takut orang-orang dari desa sebelah lihat dan ngomong macam-macam."

Aku menelan ludah. "Tapi… bukannya panen raya itu buat syukur, bukan buat pamer?"

Ibu tersenyum pahit. "Iya, Nak. Tapi manusia kadang lebih takut terlihat kekurangan daripada lupa bersyukur."

Suara ayam berkokok dari belakang rumah memecah keheningan. Ibu kembali menampi, tapi gerakannya tidak lagi mantap. Seolah setiap lemparan beras mengingatkannya pada sesuatu yang hilang.

Aku memandang jalan desa yang mulai diselimuti cahaya jingga. Rasanya aneh desa yang biasanya riuh menjelang panen raya kini seperti menahan napas, menunggu keputusan yang tidak ingin diambil.

"Jadi… panen raya tahun ini bisa batal?" tanyaku, hampir berbisik.

Ibu tidak menjawab. Tapi dari caranya menunduk, aku tahu jawabannya tidak jauh dari itu.

Angin kembali berhembus, membawa aroma bunga dari bukit. Aroma yang biasanya menandai sukacita, kini terasa seperti pengingat bahwa sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Langit sudah berubah menjadi ungu kebiruan ketika suara langkah berat terdengar dari arah jalan. Ibu spontan berhenti menampi, seolah telinganya lebih peka dari biasanya. Aku ikut menoleh.

Bapak muncul dari balik pagar bambu, bahunya sedikit merosot, wajahnya gelap bukan karena cahaya senja tapi karena sesuatu yang ia bawa pulang dari rapat desa.

Ia tidak langsung masuk. Hanya berdiri sebentar di depan pagar, menatap halaman seperti sedang memastikan dunia di rumahnya masih sama seperti saat ia tinggalkan.

"Bapak pulang," gumam ibu, suaranya pelan tapi sarat kekhawatiran.

Bapak mengangguk tanpa senyum. Ia melepas sandal, masuk ke teras, dan duduk di kursi kayu yang biasanya ia pakai untuk merokok sore-sore.

Tapi kali ini, ia tidak merogoh saku. Tidak ada rokok, tidak ada korek. Hanya diam. Aku dan ibu saling pandang. Ibu memberi isyarat halus agar aku tidak bertanya dulu.

Beberapa detik berlalu sebelum bapak akhirnya bersuara. "Rapatnya… nggak selesai," katanya, suaranya serak seperti habis berdebat panjang.

Ibu mendekat, duduk di sampingnya. "Kenapa, Pak?"

Bapak mengusap wajahnya, gerakan yang jarang ia lakukan kecuali benar-benar lelah. "Panen sedikit. Banyak yang nggak mau panen raya diadain. Katanya malu kalau tamu dari desa sebelah lihat hasil kita cuma segitu."

Ia tertawa kecil, tapi tawa yang pahit. "Padahal panen raya itu buat syukur, bukan buat pamer. Tapi ya… orang-orang lebih takut jadi bahan omongan."

Aku menelan ludah. Kata-kata ibu tadi siang terulang di kepalaku. "Terus… bapak gimana?" tanyaku hati-hati.

Bapak menatapku. Matanya merah, bukan karena marah, tapi karena kecewa. "Bapak bilang tetap harus ada acara. Sekecil apa pun panennya, syukur itu tetap syukur. Tapi… banyak yang nggak setuju. Mereka bilang kalau acara kecil, nanti dibilang desa kita merosot."

Ia menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat. "Bapak nggak mau desa ini kehilangan tradisinya cuma karena takut diejek."

Ibu menyentuh lengan bapak, lembut. "Tapi kalau dipaksakan juga nggak baik, Pak."

Bapak menghela napas panjang, seperti mengeluarkan beban yang terlalu berat untuk ditanggung seorang diri.

"Itu dia. Bapak nggak mau maksa. Tapi kalau nggak ada panen raya..."

Angin malam mulai turun, membawa hawa dingin dari bukit. Suara serangga mulai terdengar, mengisi keheningan yang menggantung di antara kami.

Aku memperhatikan bapak. Di balik tubuhnya yang besar dan suaranya yang biasanya tegas, malam ini ia tampak kecil seperti seseorang yang sedang berusaha mempertahankan sesuatu yang perlahan-lahan terlepas dari genggamannya.

"Bapak…" panggilku pelan, "kalau panennya sedikit… apa mungkin ada yang salah di bukit? Atau di ladang?"

Bapak menatapku lama, seolah mempertimbangkan sesuatu. Lalu ia berkata, lirih namun jelas "Itu juga yang bikin bapak kepikiran. Ada yang berubah tahun ini. Dan bapak nggak tahu apa."

Ibu menegang. Aku ikut menahan napas.

Bapak melanjutkan, suaranya lebih rendah, hampir seperti rahasia. "Besok pagi… bapak mau ke bukit."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!