Keyvandi Orion Eduardo atau didunia entertainment lebih dikenal dengan nama Orion Key merupakan seorang musisi terkenal dengan berbagai macam prestasi yang ia miliki. Kehidupan yang jauh dari berbagai macam isu tidak mengenakkan serta keramahannya membuat lelaki berumur 25 tahun itu banyak disukai oleh berbagai kalangan.
Namun, bagaimana jika semua citra yang telah ia bangun itu mendadak sirna. Ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis SMA yang bahkan belum berumur 18 tahun. Perlahan berbagai macam fitnah dan isu buruk tentangnya mulai tersebar. Sehingga membuat ia dicap sebagai musisi dengan scandal terburuk sepanjang masa.
Disisi lain, seorang gadis SMA dengan nama Despina Elara Faye yang juga merupakan adik tiri dari salah satu musisi yang iri akan karir Keyvandi terpaksa menuruti perintah kakaknya untuk mendekati Keyvandi dan menghancurkan karirnya perlahan. Jika tidak, maka siksaan akan terus ia dapatkan.
Lalu, bagaimana kisah selanjutnya? Baca yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nevera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Dimana?" Keyvandi yang tadinya duduk kini merubah posisinya menjadi berdiri, lelaki itu begitu senang karena akhirnya ada pencerahan yang datang.
"Kau tenang dulu Van, bukan Despina yang aku maksud, tapi tentang lelaki yang ada di CCTV itu."
Keyvandi yang tadinya menarik sudut bibirnya ke atas kini kembali menampilkan wajah murungnya. Ia merasa mengira jika Sean berhasi menemukan Despina, namun ternyata dugaannya salah.
"Lalu bagaimana sayang?" Tanya Keyvara kepada suaminya itu.
Sean mendekat kepada keyvara, mengusap pelan rambut gadisnya itu. "Ternyata lelaki yang di CCTV itu bernama Nathan Alegra, dan ia merupakan sepupu Despina dari almarhum sang ibu."
"Despina tidak memiliki ibu?" Tanya Keyvandi kemudian, memang selama ini lelaki kliyuntidak berusaha mencari tau mengenai Despina, ia hanya diam saja karena ia sangat percaya dengan Despina ,ia tidak ingin mencari tau apapun tentang gadis itu karena ia hanya ingin privacy Despina tidak terganggu.
Sean menganggukkan kepalanya, "Kenapa kau belum tau?"
Keyvandi menggelengkan kepala, "Aku memang sengaja tidak mencari tau, aku tidak ingin jika sampai Despina merasa terganggu karena privacynya terganggu olehku, aku hanya ingin dia baik- baik saja, tanpa harus merasa tidak nyaman."
Keyvara menghela napasnya pelan, kakaknya ini memang seperti itu, jika merasa sudah percaya dengan seseorang, maka tidak akan pernah mencari tau apapun.
"Kak, kak Vandi boleh menyayangi Despina, kak Vandi boleh percaya pada Despina, taoinkakak juga harus tau jika mencaritahu tentang keluarga orang yang kakak sukai adalah hal yang wajib. Bagaimana jika ternyata Despina mengalami hal sulit, apa itu juga tidak akan membuat kakak khawatir, seperti sekarang ini contohnya."
Ya, mungkin benar apa yang keyvara katakan jika sekarang ia yang kesulitan sendiri, hilangnya Despina membuat Keyvandi sangat mengkhawatirkan gadis itu.
"Baiklah, maafkan kakak, tapi kakak hanya tidak ingin membuat Despina sedih, kakak ingin mempercayainya."
Keyvara mendekat pada kakaknya itu, wanita itu memeluk Keyvandi, "Vara mengerti apa yang kakak maksud, tapi Vara hanya ingin yang terbaik untuk kak Vandi, begitupun yang lain pasti ingin yang terbaik untuk kak Vandi."
Tidak lama kemudian, Erlando dan Aruna datang menghampiri Keyvandi dan juga yang lain, keduanya menggeleng kearah Keyvandi, "Kami tidak berhasil menemukannya."
Mendengar itu Keyvandi hanya bisa menghela napas pelan, ternyata mencari Despina tidak segampang itu.
"Tenanglah Van, Vando, Daddymu, Aku dan juga Erlando telah mengerahkan semua orang-orang kami, kemungkinan Despina akna segera ditemukan, kau lebih baik beristirahat saja, pasti sangat lelah bukan setelah perjalanan dari Singapura bukannya beristirahat tapi harus langsung dihadapkan dengan masalah seperti ini."
Keyvandi menatap lantai dengan pandangan kosong, lelaki itu duduk di atas kursi yang tadi ia duduki bersama Keyvara. "Bagaimana aku bisa tenang jika Despina belum ditemukan." Keyvandi memabg sangat mengkhawatirkan gadisnya itu, ia tidak bisa berpikir jernih sekarang, bahkan untuk sekedar duduk diam saja Keyvandi tidak bisa, apalagi untuk tertidur.
***
Disisi lain, Despina berada di sebuah kamar bercat putih, semua perabot yang ada di kamar itu terlihat sangat mahal. Gadis itu hanya menutupi badannya menggunakan selimut, dengan duduk di pojokan tomat tidur, gadis itu terus menangisi nasibnya yang tidak baik sama sekali. Sudah seharian ini ia berada di sini, hanya perasaan ketakutan yang terus menghantuinya, untuk kaburpun rasanya akan sanagat sulit. Despina hanya bisa berdoa jika Keyvandi bisa menolongnya, ia benar-benar sudah tudak sanggup lagi berada di tempat ini, bagi Despina tempat ini sangat menakutkan
Ceklek
Pintu terbuka, Despina langsung menutup selimutnya, ia tidak siap jika yang masuk ke dalam kamar itu adalah sosok Reza lagi, sudah banyak hal yang Reza lakukan padanya. Tubuh gadis itu gemetar, bahkan airmatanya terus mengalir tanpa ingin berhenti. Lirihan-lirihan kalimat memohon terus keluar dari bibirnya.
"Nona, saya diutus oleh Tuan Reza untuk membantu anda bersiap."
Rasa sedikit lega di hatinya membuat Despina mampu mengucapkan syukur. Ia pikir tadi itu adalah Reza, ternyata bukan. Despina membuka selimutnya perlahan, tapi ia masih menutupi tubuhnya itu.
"Bersiap?"
Pelayan itu menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Despina. "Mari Nonaz biar saya bantu untuk membersihkan tubuh anda."
Despina menggelengkan kepalanya, gadis berambut ikal dan bermata bulat itu menolak hal yang dikatakan oleh pelayan tadi. "Aku tidak mau."
Pelayan tadi langsung merubah ekspresinya menjadi sedih, "Saya mohon Nona, saya tidak ingin dipecat oleh Tuan Reza, saya hany memiliki pekerjaan ini untuk membiayai kehidupan anak-anak saya."
Despina yang tadinya memandang ke arah jendela dengan oandangan kosong itu menoleh ke arah pelayan tadi. Ada perasaan iba di hatinya, "Kenapa kau mau bekerja untuk lelaki itu?"
Pelayan tadi menundukkan kepalanya, "Hanya ini yang bisa aku lakukan Nona, Tuan Reza sudah berbaik hati membantuku, sebenarnya, Tuan Reza tidak sejahat yang Nona pikirkan, Tuan Reza adalah sosok yang baik untuk saya, maka sampai sekarang saya setia bekerja untuknya."
Despina menggelengkan kepalanya, "Kalau dia tidak jahat, tidak mungkin melakukan ini padaku."
Pelayan tadi begitu prihatin dengan keadaan Despina, gadis itu tampak berantakan, semua ini karena sebuah obsesi seorang Reza. Lelaki itu begitu terobsesi memiliki Despina, sehingga tidak bisa berpikir waras, ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan Despina.
"Nona, saya mohon."
Karena tidak tega, Despina akhirnya mengiyakan permintaan dari pelayan itu, ia tidak ingin menjadi orang yang jahat, ia tidak ingin karena keegoisannya seseorang kehilangan pekerjaan.
"Terimakasih Nona, aku sangat berterimakasih pada Nona karena telah mau mensengarkanku."
Akhirnya Despina dibantu oleh pelayan tadi untuk mempersiapkan dirinya. Tubuh gadis itu di mandikan, kemudian setelahnya pelayan tadi memasangkan gaun pada tubuh gadis itu. Sebuah gaun yang cantik dari Reza untuk digunakan. Pelayan tadi juga mendandani Despina dengan makeup tipis, karena wajah gadis itu sudah sangat cantik dan tidak perlu ditambah terlalu banyak polesan.
"Sudah Nona."
Despina melihat pantulan dirinya di cermin, gadis itu begitu cantik, namun sayang, ia sama sekali tidak bisa tersenyum sekarang. Gadis itu hanya berekspresi datar.
"Nona, sebaiknya kita segera keluar, Tuan Reza sudah menunggu anda untuk makan malam bersama."
Despina hanya mengikuti saja, gadis itu seperti patung hidup, tidak ada sedikitpun kata yang keluar dari bibirnya.
Pelayan tadi langsung membawa Despina menuruni anak tangga satu persatu, kemudian membawa ke ruang makan dimana di sana sudah terdapat Reza juga dua orang paruh baya.
Reza berdiri dari duduknya, lalu menghampiri Despina, lelaki itu tersenyum sangat manis. "Biar aku saja, kau kembali ke pekerjaanmu," Ujar lelaki itu menyuruh pelayannya untuk pergi dari sana.
Despina masih dengan diamnya dan wajah datarnya, ia sama sekali tidak berminat untuk tersenyum. "Dad, Mom, perkenalkan ini Despina Elara Faye, panggil saja Despina, dia adalah calon istriku."
Sepasang suami istri paruh baya itu saling berpandangan satu sama lain, kemudian menatap Despina dan Reza dengan senyumannya. "Dia sangat cantik."
.
.
.
TBC