NovelToon NovelToon
Embers Of The Twin Fates

Embers Of The Twin Fates

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Action / Romantis / Fantasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: ibar

di dunia zentaria, ada sebuah kekaisaran yang berdiri megah di benua Laurentia, kekaisaran terbesar memimpin penuh Banua tersebut.

tapi hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, pada saat malam hari menjelang fajar kekaisaran tersebut runtuh dan hanya menyisakan puing-puing bangunan.

Kenzie Laurent dan adiknya Reinzie Laurent terpaksa harus berpisah demi keamanan mereka untuk menghindar dari kejaran dari seorang penghianat bernama Zarco.

hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, kedua pangeran itu memiliki jalan mereka masing-masing.

> dunia tidak kehilangan harapan dan cahaya, melainkan kegelapan itu sendiri lah kekurangan terangnya <

> "Di dunia yang hanya menghormati kekuatan, kasih sayang bisa menjadi kutukan, dan takdir… bisa jadi pedang yang menebas keluarga sendiri <.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 23

Meja mereka masih dipenuhi piring-piring yang belum kosong. Uap hangat dari sup kaldu mengepul pelan, bercampur aroma daging panggang dan rempah yang menggoda.

Ryujin… masih makan dengan lahap. Ia menggenggam potongan daging besar di satu tangan, sendok sup di tangan lain, bergantian menyerang hidangan tanpa jeda.

“Ini… hik… luar biasa,” katanya dengan mulut penuh. “Aku bersumpah, makanan di tempat ini punya energi tersembunyi. Setiap suapan bikin tubuhku hidup kembali!”

Rava mendesah, menyandarkan siku ke meja.

“Kau sudah makan lebih banyak dari kami bertiga.”

“Itu karena aku berlatih paling keras,” sahut Ryujin cepat, lalu menggigit roti besar. “Latihan itu sangat menguras tenaga dan aku butuh tambahan energi untuk melanjutkan misi nanti, semuanya butuh asupan.”

Liera menutup mulutnya sambil tertawa kecil.

“Kalau begitu, jangan berhenti makan. Nanti kalau tumbang di tengah misi, kami yang repot.”

Kenzie sendiri masih menikmati makanannya. Gerakannya tenang, tidak terburu-buru. Ia menyendok sup, lalu mengambil potongan daging kecil, mengunyah perlahan.

“Jangan sungkan,” katanya sambil melirik mereka bertiga. “Nikmati saja. Anggap ini perayaan kecil yang aku berikan sebagai hadiah untuk kalian.”

“Terimakasih untuk makanannya” Rava mengangkat alis.

Kenzie mengangguk.

“Makanlah semua hidangan yang di pesan ini sampai habis kemudian kita akan mendaftar.”

Ryujin berhenti sejenak, menatap meja penuh makanan, lalu menyeringai lebar.

“Kalau begitu—aku akan memakan semua makanan ini dengan serius.” Ia langsung menyambar hidangan lain.

Rava memijat pelipisnya.

“Dia ini…”

Namun sudut bibirnya sedikit terangkat.

Setelah Makan

Beberapa waktu kemudian, piring-piring akhirnya mulai kosong. Ryujin bersandar ke kursinya, perutnya terlihat menonjol jelas.

“Ahhh…” Ia menghela napas puas. “Kalau aku mati hari ini, aku mati bahagia.”

“Kau tidak akan mati,” kata Kenzie datar. “Karena kita akan kembali sekte untuk melakukan persiapan.”

Rava langsung duduk lebih tegak.

“Baiklah kita akan kembali ke sekte kemudian kita mendaftar di party ke guild untuk mendapatkan misi itu.”

“Iya,” jawab Kenzie menganggukkan kepala “Kita kembali ke sekte dulu. Siapkan perlengkapan, meminta izin pada tetua, dan pastikan kalian telah membawa senjata yang di perlukan.”

Liera mengangguk.

“Itu masuk akal.”

“Baiklah. Kamu akan kembali?.” tanya Rava.

“Aku akan menemui Guruku,” jawab Kenzie tanpa ragu. “Meminta izin untuk mengambil misi.”

Ryujin mengangkat tangan malas.

“Baiklah, ketua… eh, calon ketua?”

Kenzie menatapnya.

“Kita belum membentuk party secara resmi.”

Ryujin tersenyum lebar.

“Tapi rasanya sudah seperti itu.”

Kenzie tidak menyangkal. Ia hanya diam

Setelah itu mereka kembali ke sekte gunung langit untuk melakukan persiapan serta meminta izin pada tetua sekte.

...----------------...

Di puncak gunung Kediaman Helen

Angin sepoi-sepoi berembus pelan di puncak gunung. pemandangan puncak gunung memberikan kesan keindahan yang memanjang mata, pohon maple tertiup angin di puncaknya membawa daun beterbangan di atas udara.

Helen Rowena berdiri di dekat meja batu, sedang menuang teh hangat, ketika itu Kenzie dan Wulan tiba.

“Ada keperluan apa?” tanya Helen tanpa menoleh.

Kenzie melangkah maju dan membungkuk hormat.

“Guru. Aku berniat mengambil misi dari guild. Bersama rekan-rekanku.”

Helen berhenti menuang teh.

“Rekan murid luarmu itu?”

“Ya,” jawab Kenzie mantap.

Wulan melangkah ke samping Kenzie.

“Aku akan ikut mendampingi mereka,” katanya ringan. “Sekalian menjadi pengawas dan pelindung. Aku tidak ingin mereka menghadapi bahaya yang belum bisa mereka tangani.”

Helen akhirnya menoleh.

Tatapan dinginnya berpindah dari Kenzie ke Wulan, lalu kembali ke Kenzie.

“Alasan?” tanyanya singkat.

“Kami butuh pengalaman bertarung,” jawab Kenzie. “Latihan di sekte tidak akan cukup. Dan aku ingin kami tumbuh… bukan hanya berlatih di sekte saja.”

Keheningan sejenak.

Helen menghela napas pelan.

“Mungkin misi itu berbahaya.”

“Iya, aku tahu.”

“Dan kau tetap ingin pergi?”

“Ya guru.”

Helen menatapnya lama, seolah menimbang sesuatu yang tidak terucap.

Akhirnya, ia berkata,

“Baik. Aku izinkan.”

Kenzie sedikit terkejut.

“Tapi dengarkan baik-baik,” lanjut Helen dengan suara tegas. “Jangan serakah pada misi. Jangan mengejar bayaran. Dan jika satu saja dari kalian ragu, maka mundurlah.”

Ia menatap Wulan.

“Kau bertanggung jawab atas mereka.”

Wulan tersenyum kecil.

“Tentu, Guru.”

Helen kembali menatap Kenzie.

“Ini bukan ujian. Ini dunia nyata.”

Kenzie membungkuk dalam.

“Aku akan mengingatnya.”

...----------------...

Berbeda saat kemudian

Kenzie dan wulan pergi dari puncak untuk menemui rava, ryujin dan liera di tempat murid luar, mereka berdua berenca untuk melakukan pendaftaran sesegera mungkin.

Di tempat rava dan yang lainnya, mereka sedang bersiap-siap untuk pergi berangkat, mereka menunggu kedatangan Kenzie yang berada di tempat murid dalam.

"tuan Kenzie lama sekali meminta izin" ryujin berkata dengan tidak sabaran

rava mendengus mendengar perkataan ryujin "Sabar dan tunggu saja kedatangan kak Kenzie" nadanya bicaranya penuh dengan ketidak sukaan pada ryujin

Baru beberapa saat mereka berbicara Kenzie dan wulan datang menghampiri mereka bertiga

Liera dengan antusias berkata, "itu kak Kenzie.. Tapi kenapa kak wulan ikut datang juga?.." ucapnya dengan bingung, melihat wulan datang mengikuti Kenzie dari belakang

"Hallo semuanya" ucap wulan menyapa mereka

"Wah.. Primadona sekte ikut datang juga" ucap ryujin dengan mata berbinar binar melihat wulan

Rava yang ada di dekat ryujin tak tahan lagi ia secara naluri memukul ryujin "bisakah kamu jangan membuat malu dan membuat kak wulan marah, jika kak Wulan mau kamu mungkin sudah di pukuli oleh kak wulan" ucap rava berkata dengan suara tegas

Wulan yang melihat itu hanya tersenyum ramah pada mereka, ia tak memiliki niat untuk melakukan hal lain yang membuat ryujin merasa takut

Kenzie dan liera juga ikut tertawa pada mereka, sejak bertemu mereka berdua sudah memiliki sifat seperti seorang sahabat sejati seperti dua anak kucing.

Kenzie pun tak lagi banyak basa-basi ia langsung mengajak mereka pergi ke tempat pendaratan party di gedung guild untuk mendapatkan misi yang cocok untuk mereka berlatih.

Singkat cerita mereka pun tiba di guild,

Gedung guild ramai sejak pagi. Papan misi dipenuhi kertas berlapis-lapis, suara diskusi dan langkah kaki bercampur riuh.

Rava, Liera, dan Ryujin berdiri di dekat pintu masuk ketika Kenzie pergi mendapatkan kuota untuk mendaftar.

“Kau lama sekali tuan kenzie,” kata Ryujin.

Kenzie meliriknya.

“Kalian siap?”

Rava mengangguk.

“iya siap, semua perlengkapan sudah dicek.”

Liera tersenyum kecil.

“Iya, Aku juga.”

Wulan melangkah ke depan.

“Kalau begitu, mari kita daftarkan party.”

Mereka berdiri di depan meja pendaftaran. Petugas guild mendongak.

“Nama party?” tanyanya.

Mereka saling pandang sejenak.

Ryujin membuka mulut.

“Bagaimana kalau—”

“Kita tentukan nanti,” potong Kenzie tenang. “Untuk sekarang, daftar saja dulu.”

Petugas mengangguk.

“Baik. Anggota?”

“Kenzie,”

“Rava,”

“Liera,”

“Ryujin.”

“Kalau boleh tau wanita cantik ini apakah anggota party juga?” tanya petugas.

“Wulan Tsuyoki, sebagai pendamping” jawab Wulan ringan.

Petugas berhenti menulis sejenak, lalu melanjutkan dengan lebih serius.

“Baik. Anggota Party kalian telah terdaftar.”

Stempel ditekan ke lembar pendaftaran.

Suara itu—pelan, namun tegas.

Itulah awalnya.

Party pertama Kenzie akhirnya terbentuk.

1
أسوين سي
💪💪💪
أسوين سي
👍
{LanLan}.CNL
keren
LanLan.CNL
ayok bantu support
أسوين سي: mudah-mudahan ceritanya bagus sebagus Qing Ruo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!