Noora Agatha William adalah seorang wanita karir dan cantik yang berprofesi sebagai model papan atas, bahkan Noora juga mempunyai suami yang tampan dan juga mapan. Bahkan rumah tangga Noora begitu terlihat sangat bahagia dan harmonis, namun seketika pernikahan yang selama ia bina bersama sang suami tidak menyangka akan di rusak oleh orang ke tiga.
Akan kah pernikahan Noora dan Adam masih bisa di pertahankan, atau malah mereka berdua milih berpisah untuk kebahagian mereka masing-masing.
Kita simak terus yuk perjalanan rumah tangga Noora dan Adam, kalau kalian suka dengan Novel ini jangan lupa tinggalkan jejak. Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi cahya rahma R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengikhlaskan dia pergi
Noora yang mendengar dentuman begitu keras dan api berkobaran terasa panas hingga sampai di mobilnya, karena api mengenai sebuah ranting daun yang kering hingga api masih membesar membakar habis ranting tersebut. Noora pun sudah beranjak untuk duduk lalu mendongakkan kepalanya, dia masih tidak faham apa yang barusan meledak.
"Apakah aku selamat, apakah benar kita selamat?"Noora dengan ekspresi bahagia tidak menyangka bahwa dirinya masih di beri umur panjang."lalu apa barusan yang meledak, apakah itu mobil bodigatmu?." tanya Noora dengan wajah linglung, bahkan kaki dan tangannya pun masih bergetar karena mengalami kejadian mencekamkan barusan.
"Adam yang tidak selamat." jawab Devan yang wajahnya berubah. Entah kenapa setelah melihat mobil Adam masuk ke jurang dan meledak Devan begitu merasa sangat bersalah. Devan pun sudah mengusap wajah dengan telapak tangannya, Devan benar-benar frustasi dengan kejadian yang barusan ia alami, bahkan ia melihat kamatian Adam di depannya matanya sendiri.
"Maksut kamu?." Noora yang belum faham dengan ucapan Devan. Noora pun seketika menoleh ke kanan dan ke memastikan bahwa Adam sudah tidak mengikuti mereka.
"Apakah Adam sudah pergi? apakah dia menyerah?." tanya Noora lagi kepada sang suami.
"Maafkan aku Ra, aku tidak punya pilihan lain, Adam sudah pergi di dasar jurang, bahkan mobilnya pun meledak terbakar." jawab Devan.
Degg..
Baru berapa menit dia merasa jantungnya tak berdetak karena sebuah tragedi yang mencekamkan, dan sekarang Noora harus mendengar ucapan yang membuatnya terdiam membisu, bibir pun berubah menjadi huruf O, tatapannya kosong menatap api yang masih berkobaran. Seketika matanya sayu, air mata yang sempat sudah berhenti kini kembali menetes membasahi pipi mulusnya.
"Kamu bohong kan?." Noora yang tidak percaya dengan ucapan Devan.
Devan seketika langsung memeluk tubuh sang istri, dan tidak lama tangisan Noora pun pecah di dekapan Devan. "Kamu bohong kan, itu bukan Adam kan?." ucap Noora sambil menangis.
Devan tidak bisa menjawab pertanyaan Noora, bahkan Devan masih tidak menyangka semua ini akan terjadi, namun Devan tidak mempunyai pilihan lain, dirinya yang akan mati bersama Noora, atau Adam yang mati karena ulah nya sendiri.
Noora pun mencoba lepas dari dekapan Devan, lalu mencoba keluar dari mobil dengan susah payah Noora keluar karena masih menggunakan gaun pernikahannya, Noora ingin memastikan keadaan Adam di jurang tersebut.
"Kamu mau kemana? di luar berbahaya Noora!." teriak Devan yang juga mengikuti Noora keluar dari mobil.
Noora tidak mengindahkan lagi ucapan suaminya, ia terus berjalan untuk mendekat ke dasar jurang, namun pak Hendra berhasil mencegahnya.
"Jangan mendekat nyonya, di sana sangat berbahaya, bisa jadi ada ledakan susulan dari mobil yang jatuh." pak Hendra yang sudah meraih tangan Noora.
"Lepaskan saya pak, saya harus memastikan apa benar mantan suami saya sudah meninggal." Noora yang terus memberontak agar lepas dari pak Hendra.
"Cukup Noora, cukup! hentikan!." Teriak Devan yang mengambil alih tubuh Noora agar kembali di pelukannya."Sadarlah, kamu tidak boleh seperti ini." ucap Devan.
"Kenapa dia harus mati dengan seperti ini, kenapa mas? kenapa mas Adam harus mati dengan keadaan tragis seperti ini, apa ini hukuman untuknya yang sebanding dengan perilakunya?". teriak Noora sesekali sesegukan histeris melihat bahwa laki-laki yang dulu pernah membahagiakan dirinya sekarang telah tiada di depan matanya.
"Aku tau kamu terluka, tapi beginilah cara tuhan agar kamu bisa lepas dari genggaman dan teror Adam, kamu harus bisa menerima semuanya." Devan yang terus memberi pengertian kepada istrinya sambil mengusap pundaknya.
"Aku memang membencinya, tapi aku hanya membenci sifatnya, tidak dengan orangnya, aku tau dia orang yang keras, aku tau dia sering melukaiku, tapi bagaimana pun dia, dia juga pernah menjadi suamiku, dan pernah membahagiakan aku." ucap Noora.
"Aku tau apa yang kamu rasakan sayang" Devan yang paham apa yang di rasakan Noora, walaupun Adam bersikap jahat kepada Noora, tapi Adam dulu juga pernah membahagiakan berlian cantik tersebut yang sekarang telah menjadi milik Devan.
Noora benar-benar merasa hancur, kini kenangan dirinya bersama Adam seketika terlintas begitu saja di fikiran nya, kenangan saat mereka meminta restu kepada orang tua Noora untuk menikah, kenangan saat Adam mengucapkan janji suci, kenangan saat mereka bercinta, hingga kenangan Adam berselingkuh meniduri Adik kandung Noora sendiri, semua kenangan tersebut terlintas begitu saja saat Noora masih menangis di dekapan Devan.
"Bagaimanapun kamu, seperti apapun kamu, sebejat apapun kamu, kamu tetap lah Adam yang pertama aku kenal, kamu tetap lah Adam yang selalu mencoba membahagiakanku, yang selalu mencoba menjadi yang terbaik untukku, terimakasih mas atas semuanya, aku merelakan mu pergi, bawalah cintamu yang sekarang bukan lagi untukku." ucap Noora di dalam hati dengan air mata terus menetes.
Devan tau bahwa istrinya sangat terluka dengan kematian Adam, karena bagaimana pun Adam adalah mantan suami Noora, bagaimana pun Adam pernah menjadi sosok suami yang memberi kehangatan kepada istrinya sekarang.
"Aku minta dia untuk menjadi istriku hingga maut memisahkan kita nanti tuan Adam, terimakasih telah melepasakan dia untukku, aku berjanji akan menajaganya dengan baik, dan memberikan kebahagian berlipat ganda dari yang dulu pernah engkau berikan kepadanya." ucap Devan di dalam hati, juga terpukul atas kepergian Adam dengan cara mengenaskan.
Ambulans dan polisi pun seketika berdatangan, untuk melihat lokasi kejadian. Bahkan para medis pun mendekat kepada Devan dan Noora, namun Devan memberi aba-aba bahwa mereka baik-baik saja.
"Ayo sayang kita pulang, kita iklaskan Adam pergi, pasti dia juga akan bahagia walaupun tidak bersamamu lagi." Devan yang sudah membawa Noora ke dalam mobil yang berbeda, karena anak buah Devan yang lain sudah membawa mobil untuk menjemput Noora dan juga Devan di lokasi tersebut.
Dengan langkah berat, Noora berjalan menuju ke mobil, sambil melihat ke belakang pada jurang yang masih terdapat api besar menyala-nyala.
"Bahkan di saat kematianmu, api lah yang menemanimu, dan api lah yang menjadi saksi begitu panas dan hitamnya sifatmu."ucap Noora di dalam hati lalu sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Devan dengan kepala di senderkan di bahu Devan.
Di dalam mobil, Noora masih menatap ke arah belakang, entah kenapa wajah Adam terus datang di ingatannya.
"Jika kau tanya apa aku menyesal pernah menikah denganmu, jawabannya tidak, karena kamu pernah menjadi bagian-bagian di hidupku, menjadi peluk yang pernah menghangatkan ku, menjadi sesuatu yang ku sebut bahagia, aku bersyukur telah memiliki kesempatan itu, karena dari awal aku datang hanya untuk mencintaimu, bukan untuk melawan takdir, tetaplah tersenyum walaupun sudah tidak bersamaku." Noora yang kembali menitiskan air matanya, kala mengingat kata-kata Adam dulu saat bercerai dengannya.