Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."
Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.
Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.
Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinta yang Merembes
Satu minggu tanpa internet di sebuah pulau kecil di kawasan Indonesia Timur ternyata bukan hanya sekadar "liburan". Bagiku, itu adalah rehabilitasi jiwa. Selama tujuh hari, satu-satunya bunyi yang kudengar bukan lagi dering telepon atau notifikasi email dari editor yang panik, melainkan deburan ombak yang konsisten dan suara tawa Bimo yang semakin sering terdengar.
Namun, seperti halnya setiap novel yang mencapai akhir bab bulan madu, realitas selalu punya cara untuk mengetuk pintu—atau dalam hal ini, getaran ponsel yang meledak begitu kami kembali ke jangkauan sinyal di bandara Jakarta.
"Wow," gumam Bimo sambil menatap layar ponselnya yang dibanjiri ratusan pesan. "Sepertinya Panji benar-benar merindukan kita, atau perusahaan sedang terbakar."
Aku tertawa sambil merapatkan jaket. "Mungkin dua-duanya. Tapi ingat janji kita, Bim. Yayasan dulu, baru urusan korporat."
Bimo mengangguk, mencium keningku sekilas sebelum kami melangkah keluar menuju jemputan. Tapi ada sesuatu yang berbeda di udara Jakarta kali ini. Bukan hanya soal polusi yang kembali menyambut, tapi ada firasat aneh yang merayap di tengkukku. Sebagai penulis, aku belajar untuk tidak mengabaikan firasat—itu adalah insting plot yang sedang bekerja.
Dua hari setelah kepulangan kami, aku sedang duduk di kantor baru Lentera Nara Foundation. Ruangan ini mulai terasa seperti rumah. Ada tumpukan buku di pojok, foto anak-anak panti yang sedang tersenyum, dan meja kayu besar yang tidak terlalu rapi.
Pintu diketuk pelan. Panji masuk dengan raut wajah yang... sulit dijelaskan. Dia tidak tampak kuyu seperti biasanya, tapi dia tampak sangat waspada.
"Nara, ada tamu yang ingin menemuimu. Dia menolak bicara dengan Bimo, dan dia menolak bicara di bawah pengawasan tim keamanan," ucap Panji.
"Siapa?"
"Namanya Widya. Dia mantan asisten pribadi Ratih Wijaya selama di Singapura."
Aku meletakkan penaku. Nama itu tidak ada dalam buku harian Andra Wijaya, tidak juga muncul dalam penyelidikan polisi kemarin. "Kenapa dia menemuiku sekarang?"
"Katanya, ada 'surat wasiat' yang tidak tercatat dalam dokumen hukum mana pun. Dan itu bukan soal harta, tapi soal asal-usul."
Perasaanku mulai tidak enak. Aku mengangguk pada Panji, memintanya membawa tamu itu masuk.
Widya adalah wanita paruh baya yang tampak sangat rapi namun memiliki sorot mata yang penuh kecemasan. Begitu Panji keluar dan menutup pintu, dia langsung meletakkan sebuah map perak di depanku.
"Mbak Nara, saya di sini bukan untuk mengganggu kebahagiaan Anda dengan Pak Bimo," suaranya gemetar. "Tapi hati nurani saya tidak tenang setelah melihat Anda berdua menikah di televisi. Ada sesuatu yang Ibu Ratih sembunyikan selama bertahun-tahun, bahkan dari Pak Bimo sendiri."
Aku membuka map itu. Di dalamnya ada beberapa lembar hasil laboratorium tua—bertanggal tahun 1995.
"Apa ini?" tanyaku sambil mencoba membaca istilah medis yang rumit.
"Itu adalah hasil tes DNA dan laporan medis dari panti asuhan tempat Anda dibesarkan, Mbak," Widya menarik napas panjang. "Ibu Ratih bukan hanya mengenal ayah Anda, Hendra. Ibu Ratih... dia adalah alasan kenapa Anda berakhir di panti asuhan itu."
Duniaku serasa berhenti berputar. "Maksud Anda? Saya punya orang tua. Ayah saya Hendra, dan ibu saya meninggal saat melahirkan."
Widya menggeleng perlahan. "Ibu Anda memang meninggal saat melahirkan. Tapi Hendra bukan ayah biologis Anda, Nara. Hendra adalah sahabat dari ayah kandung Anda yang sebenarnya. Ayah kandung Anda adalah seorang jurnalis investigasi yang bekerja sama dengan Hendra untuk membongkar kejahatan Kakek Wijaya tiga puluh tahun lalu. Namanya adalah... Adrian."
Aku terpaku. Nama Adrian pernah kulihat sekilas dalam beberapa dokumen lama sebagai rekan kerja Ayah, tapi aku tidak pernah menganggapnya lebih dari sekadar teman.
"Adrian dibunuh sebelum Anda lahir karena dia memegang bukti yang lebih besar dari sekadar korupsi. Hendra mengambil Anda untuk menyelamatkan Anda dari kejaran keluarga Wijaya. Dia mengubah identitas Anda, menjadikan Anda putrinya sendiri agar Anda terlindungi dari Ratih dan Kakek Wijaya. Ratih tahu soal ini, dan dia menyimpan rahasia ini sebagai 'asuransi' jika suatu saat Hendra berkhianat."
Aku merasa sesak. Jadi, cinta yang selama ini kuterima dari Ayah—Hendra—bukanlah cinta karena pertalian darah, tapi cinta karena janji seorang sahabat? Air mata mulai mengenang di kelopak mataku.
"Kenapa Anda memberitahuku sekarang?"
"Karena Bimo sedang mencoba mencari tahu lebih dalam soal masa lalu ibunya di Swiss. Jika dia menemukan ini lewat orang lain, atau lewat dokumen yang dimanipulasi, itu akan menghancurkannya. Dia akan merasa bahwa cintanya padamu adalah bagian dari 'hutang darah' keluarganya. Anda harus memberitahunya dengan cara Anda sendiri, Nara."
Sore itu, aku pulang ke rumah dalam keadaan linglung. Bimo sudah ada di sana, sedang memasak makan malam sederhana. Dia terlihat sangat bahagia, bersenandung pelan sambil memotong sayuran. Melihatnya begitu tulus, hatiku rasanya mau pecah.
Bagaimana aku bisa memberitahunya bahwa seluruh hidupku adalah sebuah penyamaran yang diciptakan untuk melindungiku dari keluarganya? Bahwa pria yang kupanggil Ayah selama ini telah mengorbankan segalanya demi anak dari seorang sahabat yang dibunuh oleh kakek suamiku sendiri?
"Hai, Sayang. Kantor capek banget ya?" Bimo mendekat, hendak mencium keningku, tapi aku refleks mundur satu langkah.
Bimo terpaku. Senyumnya perlahan memudar. "Nara? Ada apa?"
Aku menatapnya, mencoba mencari kata-kata yang tepat. Tapi sebagai penulis yang biasanya mahir merangkai kalimat, kali ini aku merasa bisu. Aku hanya bisa menyodorkan map perak yang diberikan Widya tadi.
Bimo menerimanya dengan kening berkerut. Dia membacanya perlahan. Satu menit, dua menit... suasana dapur menjadi sangat dingin. Aku bisa melihat bagaimana rahang Bimo mengeras, dan bagaimana tangannya yang memegang kertas itu mulai gemetar.
"Jadi..." suaranya sangat rendah, hampir seperti bisikan. "Keluargaku tidak hanya menghancurkan hidup ayahmu. Kami membunuh ayah kandungmu."
"Bim, dengerin aku..."
"Nggak, Nara. Ini terlalu banyak," Bimo meletakkan map itu di meja dengan kasar. Dia membelakangiku, menatap keluar jendela ke arah lampu-lampu kota. "Setiap kali aku pikir kita sudah keluar dari lumpur, ternyata lumpurnya makin dalam. Bagaimana bisa aku menatapmu setiap pagi tanpa teringat bahwa kakekku membunuh orang yang seharusnya menggendongmu saat bayi?"
Aku berjalan mendekatinya, memutar tubuhnya agar menghadapku. "Bimo, lihat aku. Ayah Hendra memilih untuk menjadi ayahku. Dia mencintaiku lebih dari apa pun, melebihi darah. Dan aku memilihmu. Masa lalu itu... itu bukan salahmu. Kamu tidak memegang senjatanya, kamu tidak menandatangani perintahnya."
"Tapi aku menikmati hasilnya, Nara! Uang yang aku pakai untuk membangun yayasan itu, rumah ini, semuanya berasal dari pondasi yang dibangun di atas nyawa orang-orang jujur seperti ayah kandungmu!" Bimo berteriak, suaranya pecah oleh rasa frustrasi yang luar biasa.
"Maka dari itu kita harus memperbaikinya!" balasku tak kalah kencang. "Kalau kamu menyerah sekarang, kalau kamu merasa bersalah sampai menghancurkan hubungan kita, maka mereka menang! Kakek Wijaya dan Ratih menang karena mereka berhasil meracuni masa depan kita dengan masa lalu mereka!"
Bimo menatapku, matanya merah. Dia tampak sangat tersiksa. Dia menarikku ke dalam pelukannya, sangat erat, seolah-olah aku akan menghilang jika dia melepaskannya sedikit saja.
"Maafin aku, Nara. Maafin keluargaku," isaknya di bahuku.
Kami menangis bersama di lantai dapur malam itu. Sebuah pengakuan yang pahit, sebuah rahasia yang merembes keluar seperti tinta yang tumpah di atas kertas putih. Tapi di tengah tangisan itu, aku menyadari sesuatu: kejujuran memang menyakitkan, tapi ia adalah satu-satunya alat yang bisa membersihkan luka sampai ke akarnya.
Malam semakin larut. Kami duduk di balkon, saling bersandar dalam diam. Map perak itu sudah kusimpan jauh-jauh.
"Besok kita harus menemui Ayah Hendra," ucapku pelan.
"Ya," jawab Bimo. "Aku ingin berterima kasih padanya. Secara langsung. Karena telah menjadi pria yang lebih baik daripada kakek dan ayahku. Karena telah menjagamu untukku."
Aku menggenggam tangan Bimo. "Dan kita akan mencari tahu di mana makam Adrian. Aku ingin mengunjunginya. Sebagai putrinya."
Bimo mengangguk. "Apapun yang kamu butuhkan, Nara. Apapun."
Aku tahu, bab ini terasa sangat berat. Rasanya seperti ada plot twist yang tidak diinginkan yang tiba-tiba muncul di tengah cerita yang sudah hampir happy ending. Tapi hidup memang bukan novel yang bisa diatur jumlah halamannya. Hidup adalah tentang bagaimana kita bereaksi terhadap setiap kejutan yang dilemparkan takdir kepada kita.
Tinta hidupku malam ini mungkin sedikit bernoda, merembes ke mana-mana karena air mata. Tapi aku tahu, kami punya cukup banyak lembaran baru untuk mulai menulis lagi. Kali ini, tanpa ada satu pun rahasia yang tersisa di balik kabut.
"Bim?" panggilku saat dia mulai memejamkan mata di bahuku.
"Hmm?"
"Aku sayang kamu. Bukan karena kamu seorang Wijaya, tapi karena kamu adalah pria yang berani menangis bersamaku di lantai dapur."
Bimo tersenyum tipis, mencium jemariku. "Dan aku sayang kamu, karena kamu adalah penulis yang paling berani menghadapi kenyataan, bahkan saat kenyataan itu mencoba menghancurkan duniamu."
Di bawah langit Jakarta yang sama, kami akhirnya benar-benar tahu siapa kami. Dan meski identitas di kartu namaku mungkin tidak akan berubah, identitas di hatiku kini jauh lebih kokoh. Aku adalah Nara—putri dari dua ayah hebat, dan istri dari pria yang sedang berjuang mencari cahayanya sendiri.
Dan cerita ini... masih sangat jauh dari kata tamat.