Kisah Princess Mahreen dan Collin Lange
Mahreen Al Khalifa putri bungsu Malik dan Milly Al Khalifa adalah putri Sheikh yang suka hidup bebas tanpa aturan istana hingga Malik harus memberikan Collin Lange sebagai bodyguardnya. Tanpa keluarga Al Khalifa tahu, Collin adalah agen MI6 yang menyamar masuk ke istana Al Khalifa untuk mencari buronan internasional yang bersembunyi di Bahrain. Mahreen dan Collin bagaikan air dan minyak hingga gadis itu tahu misi sebenarnya pria tersebut. Setelah Collin menyelesaikan misinya, dia kembali ke Inggris namun Mahreen bertekad untuk mendapatkan bodyguardnya yang ternyata agen rahasia itu kembali ke dalam pelukannya.
Generasi Delapan Klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ukuran Dada
Collin menatap Mahreen yang masih dalam posisi duduk dan matanya turun ke arah dada gadis itu yang hanya ditutupi bikini. Tiba-tiba sebuah tangan memencet hidungnya yang mancung.
"Aw ! Aw! Aw! Princess!" serunya.
"Matamu kemana, Lange! Aku mencium kamu bukan berarti matamu bisa ke dada aku!" sungut Mahreen.
"Itu ... ukurannya berapa?" tanya Collin reflek.
Tanpa basa basi Mahreen meninju wajah Collin dengan tangan kirinya membuat pengawalnya tergeletak di atas pasir.
"Lange mesum!" jeritnya lalu Mahreen pun berdiri dan tanpa memperdulikan kakinya yang masih tidak nyaman, dia berjalan masuk ke dalam ruang ganti.
"Duh! Otakku jadi kacau!" Collin memegang rahangnya yang kena tinju Mahreen. "Duh, kalau Kenneth tahu .. Gimana ini?"
Dalam ruang ganti, Mahreen masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang kena pasir dan air laut. Gadis itu ngomel-ngomel di bawah shower karena Collin mesum.
"Eh, tapi bukan salah Lange juga sih," gumam Mahreen usai marah-marah. Dia melirik dadanya yang memang ukurannya agak besar. "Apa aku perlu operasi mengecilkan dada? Lagian ini kan warisan Mommy yang memang dadanya besar. Haaahhhh kenapa juga aku pakai bikini two piece? Payah kamu Mahreen! Kan Lange jadi ngelantur! Eh, tapi kalau begitu ... Tandanya dia normal dong! Nggak belok."
Mahreen menggosok badannya dengan sabun. "Tunggu, kalau dia normal ... Apa ada kemungkinan dia naksir aku? Ih lucu kali ya?"
Dia pun cekikikan sendiri. "Memang dasar kamu tertarik dengan pria Irish!"
Di tempat lain, Collin pun mandi dan dia cukup terkejut melihat ada boxer pria di dalam lemari. Tapi dia paham karena ini pantai pribadi keluarga Al Khalifa, wajar jika ada underwear dan baju baru untuk ganti.
"Mana merk-nya Calvin Klein pula," senyum Collin yang sudah khawatir dia terpaksa pakai boxer basah atau paling parah, tanpa underwear langsung pakai celana panjang.
Setelah mandi dan memakai bajunya kembali, Collin pun keluar dari ruang ganti satu lagi bersamaan dengan Mahreen yang juga keluar yang rambutnya masih setengah basah. Mahreen keluar mengenakan baju terusan pendek bewarna fuschia dan membawa tas besarnya.
Princess Mahreen Al Khalifa
"Ayo pulang!" ucapnya ke Collin.
"Baik Princess," jawab Collin patuh.
Mahreen berjalan terlebih dahulu dan Collin berada di belakangnya dengan matanya yang waspada menatap sekelilingnya. Memang kemungkinannya kecil jika unsub mencari mangsa disini apalagi ini pantai pribadi.
Tapi yang namanya kejahatan meskipun kecil kemungkinannya, pastinya akan bisa terjadi. Collin bergegas membukakan pintu mobil Mini Cooper Mahreen sementara gadis itu mengucapkan terima kasih pada para staff di resort milik keluarga Al Khalifa. Setelah Mahreen masuk, Collin baru masuk di kursi pengemudi.
"Apakah kita mampir-mampir?" tanya Collin sambil memundurkan mobil kecil itu.
"Tidak. Langsung pulang saja Lange." Mahreen membuka tasnya dan mulai memakai skincarenya.
Collin melirik ke arah Mahreen. "Maap, jika tadi saya tidak sopan menanyakan hal pribadi milik Anda."
"Memang sudah sepatutnya!" jawab Mahreen judes.
"Tapi mata saya tidak bisa ditutup," ucap Collin dengan wajah tidak bersalah.
Mahreen menoleh ke arah Collin. "Dapat pemandangan gratis ya Lange?"
"Maapkan saya." Collin kembali konsentrasi dengan GPS dan jalanan.
"Aku yang salah, memakai bikini two piece. Haaahhh, tapi ada sisi baiknya, Lange," senyum Mahreen.
"Apa itu princess?"
"Kamu normal," jawab Mahreen cuek.
Collin tertawa. "Saya sangat normal, Princess."
"Lange, apakah kamu pernah punya pacar?" tanya Mahreen sambil menatap Collin setelah menyimpan skincarenya.
"Pernah," jawab Collin. "Kami berpacaran cukup lama."
"Lalu? Kenapa putus?"
"Pekerjaan saya. Jujur, mantan saya itu tipe ... Hiper. Awal awal menyenangkan tapi bagiku tidak setiap saat harus have s3x. Ada kalanya saya cuma butuh tidur. Endingnya ya ... Dia selingkuh. Sejujurnya, saya cukup lega."
"Lega? Kenapa? Apa kamu tidak bisa main lama?" tanya Mahreen tanpa filter membuat Collin menoleh kaget. "Hei, aku ada keturunan Arab dan nafsu kita lumayan lho."
Collin menggeleng gemas. "Bukan masalah main lama, Princess. Tapi s3x jika hanya nafsu itu juga membosankan. Serius. Anda pernah berhubungan s3ksual?"
Mahreen menggeleng. "Tidak. Belum. Karena aku tidak mau rugi bandar. Katakan aku kuno tapi cewek adalah pihak yang paling dirugikan jika melakukan s3x before married. Lagipula, serunya dimana pada saat malam pertama, kamu sudah tidak perawan? Tidak ada yang bisa dibanggakan. Aku tidak menjamin akan mendapatkan pria yang masih perjaka tapi setidaknya, dia sehat. Oh, tetap .. Mau secintanya aku padanya, aku tetap minta screening kesehatan, lengkap! Termasuk genetik! Karena aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku rutin test kesehatan dan aturan di istana sangat ketat dengan itu!"
"Karena istana tidak mau mendapatkan keturunan yang jelek bukan?" senyum Collin.
"Touché. Apakah kamu sudah cek kesehatan?" Mahreen menatap Collin serius.
"Dalam pekerjaan saya, kesehatan adalah paling utama. Sebelum saya diterima kerja oleh Sheikh Malik, saya sudah ditest di perusahaan. Ayahmu sudah mendapatkan datanya. Thanks God saya tidak menderita penyakit yang aneh-aneh termasuk PMS ( penyakit menular s3ksual ). Saya tahu, Sheikh Malik tidak mau putrinya dikawal oleh pria yang mengidap penyakit menular dan berbahaya," jawab Collin.
"Good! Aku suka kamu jujur," senyum Mahreen.
Collin mengangguk. Mereka pun terdiam hingga tiba di istana Al Khalifa.
***
Menjelang malam, koridor istana sudah mulai sepi. Mahreen berjalan santai mencari Collin yang sedang memeriksa jadwal pengamanan untuk esok hari.
"Lange!" panggil Mahreen.
Collin menoleh. "Princess, ada sesuatu?"
"Besok kau ikut denganku keluar kota. Ada jadwal mendadak dari istana." Mahreen mendatangi Collin dengan mengenakan piyamanya yang bewarna pink dan memperlihatkan belahan dadanya.
Collin menghela napas panjang. "Tentu saja. Saya baru saja menyelesaikan jadwal lama, lalu muncul jadwal baru."
"Itulah kehidupan seorang pengawal princess yang cantik ini," kata Mahreen sambil tersenyum.
Collin hanya mengangguk pasrah.
Sebelum masuk ke kamarnya, Mahreen tiba-tiba berhenti.
"Oh ya, Lange."
"Ada lagi?"
"Aku baru saja mengukur ukuran untuk gaun baru."
Collin mulai curiga. "Lalu?"
Mahreen menyebutkan ukuran dadanya dengan berbisik. "Kalau kamu mau tahu, ukuran dadaku 34 cup D."
Collin langsung mendelik. "Kenapa saya harus tahu informasi itu?"
Mahreen tertawa. "Karena ekspresimu lucu sekali!"
"Itu bukan informasi yang diperlukan untuk pengamanan." Brengseekk princess satu ini! Kan otak aku jadi berkelana kemana-mana.
"Siapa tahu berguna." Mahreen tersenyum usil.
"Tidak akan pernah berguna." Collin tetap memasang wajah dingi.
Mahreen tertawa semakin keras.
Collin menggelengkan kepalanya. "Selamat tidur, Princess."
"Sayang sekali. Padahal aku sudah menyiapkan sepuluh pertanyaan soal mode." Mahreen pura-pura berpikir.
"Good night Princess," ucap Collin dengan penuh penekanan.
Mahreen terkekeh lalu membuka pintu kamarnya. "Selamat malam, Lange."
"Selamat malam, Princess. Dan tolong, besok jangan beri saya kejutan aneh lagi."
Mahreen hanya melambaikan tangan sambil tersenyum jahil sebelum masuk ke kamar.
Collin berdiri beberapa detik di koridor.
"Jadwal mendadak masih bisa saya hadapi," gumamnya. "Tapi Princess Mahreen adalah tantangan yang jauh lebih berat."
Dari balik pintu terdengar suara tawa Mahreen penuh kemenangan.
***
Yuhuuu up malam yaaaaaa gaeeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
#eh