NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Berondong Tampan

Terjebak Cinta Berondong Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.

Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.

Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.

Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Setelah perbincangan singkat dengan sang kakek, Nara buru-buru pamit dengan memberi alasan harus segera kembali ke kantor untuk memimpin rapat rutin mingguan. Padahal sebenarnya itu hanyalah alasan agar ia bisa menghindari pembahasan tentang Sagara yang dikhawatirkan semakin melebar.

Nara setengah berlari keluar dari mansion megah itu. Namun, saat kakinya hendak menuruni anak tangga terakhir menuju halaman depan, tangan Seokjin lebih dulu menahan lengannya.

"Tunggu Nara," ucap pria itu pelan. "Aku belum selesai bicara denganmu."

Nara terpaksa menghentikan langkahnya. Ia menoleh dengan tatapan penuh rasa kesal sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Seokjin. "Aku sedang tidak ingin berdebat dengan Oppa."

"Aku juga tidak ingin berdebat," balas Seokjin cepat.

"Lalu?"

Seokjin menatapnya beberapa detik. "Aku hanya ingin memastikan kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan pada Kakek."

Nara langsung paham arah pembicaraan itu. Ia menghembuskan napas pelan. "Aku tahu apa yang aku katakan."

"Benarkah?" Seokjin terkekeh tipis. "Menurutku, kau itu hanya asal bicara tanpa memikirkan akibatnya."

Tatapan Nara berubah tajam.

"Apa kau sadar? Kau sudah menjadikan pria itu target perhatian Keluarga kita sekarang." Nada suara Seokjin merendah. "Dan percayalah, itu bukan hal yang menyenangkan."

"Aku bisa mengurusnya sendiri," jawab Nara tanpa ragu.

"Kau yakin?" Seokjin melangkah sedikit mendekat. "Bagaimana kalau Kakek mulai menyelidiki latar belakangnya? Bagaimana kalau beliau tahu pria itu hanya seorang montir?"

Kalimat itu membuat Nara langsung menegang. Entah mengapa, ia tidak suka mendengar pekerjaan Sagara disebut dengan nada merendahkan seperti itu.

"Jangan bicara seolah pekerjaan itu memalukan," ucap Nara dingin.

Seokjin tampak sedikit terkejut. Namun, sesaat kemudian, pria itu justru tersenyum tipis. Senyum samar yang sulit diartikan.

"Kau benar-benar membelanya sekarang."

Nara tidak menjawab. Karena semakin lama pembicaraan ini berlangsung, semakin ia sadar bahwa dirinya memang mulai terlalu jauh melibatkan Sagara. Padahal pria itu sendiri berkali-kali terlihat ingin menjaga jarak darinya. Dan justru itu yang membuat dada Nara terasa aneh.

"Dengar," ucap Seokjin lagi, kali ini lebih serius. "Aku tidak peduli kau ingin bermain-main atau memberontak pada Kakek. Tapi jangan menyeret orang luar yang tidak mengerti apa pun tentang keluarga kita."

"Aku tidak sedang bermain-main." Jawaban itu keluar begitu saja.

Seokjin langsung diam. Tatapannya berubah sedikit berbeda. Seolah baru menyadari sesuatu. "Nara ...," panggilnya pelan.

Namun, Nara lebih dulu memalingkan wajah. "A-aku harus pergi." Ia kembali melangkah turun menuju halaman depan mansion.

Baru beberapa langkah berjalan, suara Seokjin kembali menghentikannya. Nara berhenti tanpa menoleh.

"Hentikan semuanya sekarang juga," lanjut Seokjin perlahan. "Aku yang akan menjelaskannya pada Kakek."

Nara tidak menjawab, Seokjin yang mulai terpancing emosi melangkah hingga berdiri tepat di hadapan wanita itu.

"Dengar Nara, aku ...."

"Bukankah sudah kubilang untuk tidak mencampuri urusanku!" potong Nara. Nadanya menyetak tajam, hingga membuat Seokjin berdiri tegang dengan tatapan tidak percaya.

***

Di sisi lain.

Menjelang sore, Sagara sengaja meminta izin untuk pulang lebih cepat dari bengkel.

Bang Dori selaku tangan kanan pemilik bengkel sempet heran karena biasanya Sagara selalu menjadi orang terakhir yang meninggalkan tempat kerja. Namun, Sagara hanya menjawab singkat dengan mengatakan ada urusan pribadi.

Langit mulai berubah jingga saat motornya melaju membelah jalanan kota. Kali ini tujuannya bukan rumah kontrakan, bukan juga menuju tempat keramaian. Motor itu justru berhenti di sebuah tempat pemakaman umum yang cukup sepi di pinggir kota.

Sagara mematikan mesin motornya perlahan. Beberapa detik ia hanya duduk diam di atas kendaraan itu, menatap sunyi di bawah bayangan pepohonan besar.

Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah dan rumput basah. Sagara akhirnya turun. Langkahnya tenang melewati jalan setapak kecil di antara makam-makam yang mulai dipenuhi daun kering. Hingga akhirnya ia berhenti di depan sebuah nisan sederhana.

Tulisan di atas batu putih itu masih terlihat jelas.

ARISTA

Tatapan Sagara langsung melembut. Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, wajah pria itu benar-benar kehilangan ekspresi dingin maupun tenangnya.

Ia jongkok perlahan di depan makam tersebut. Tangannya terulur membersihkan beberapa daun kering yang jatuh di atas pusara.

Arista. Ibunya yang wafat beberapa tahun yang lalu, saat Sagara masih mengenyam pendidikannya di bangku kuliah.

Wanita berhati lembut itu pergi begitu tiba-tiba. Tanpa sakit panjang, tanpa tanda apa pun. Kepergian yang sampai hari ini masih meninggalkan lubang besar dalam hidup Sagara. Ia bahkan sempat terpuruk beberapa waktu, hingga akhirnya kembali bangkit untuk sebuah tekad kuat di benaknya.

Sagara menundukkan kepala pelan. Jemarinya mengepal di atas lutut. "Ibu, tunggulah sebentar lagi," gumamnya lirih. "Putramu ini pasti akan mengembalikan nama baik dan kebangganmu."

Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan ranting-ranting pohon besar di sekitar pemakaman. Seolah menjadi saksi akan janji yang ia ucapkan sore itu.

**** bersambung.

1
Kipas muter 8022
terima aje, lumayan
Kipas muter 8022
daripada dibalikin. mending kirim ke gw aja/Facepalm/
Kipas muter 8022
harus'y kirim ke rumah gw
Kipas muter 8022
masalahnya udah jatuh cinta🤣
Bu Dewi
up lagi donk kak😍😍
Teteh Lia: Siap, kak. 🙏
total 1 replies
Aquarius97 🕊️
kalo ini mah montir kece nona 🤭
Sarung bantal90
Nyogok pake motor. 😄
Aquarius97 🕊️
calonnya Sagara tuh bang 🤭
Sarung bantal90
panggilin dokter cinta aja🤣
Sarung bantal90
emosi mulu nenk. lagi pms
Aquarius97 🕊️
sesuai Ama ekspektasi aku sih 🤭
Aquarius97 🕊️
aku langsung kebayang visual seokjin BTS 🤭
Aquarius97 🕊️
kadang emang gitu, ada serigala berbulu domba ...
sitanggang
2 chapter donk... nanggung klw 1 saja
Teteh Lia: Siap, kak. 🙏
total 1 replies
SaturdayNight🌠
pasti yang sabotase, kerna kebongkar
SaturdayNight🌠
koreksi; terdiam
SaturdayNight🌠
lagian lu terlalu ikut campur dan mudah diperdaya
SaturdayNight🌠
disamperin seok jong un, untung lom berangkat, bisa ribut kalo ketemu
SaturdayNight🌠
benul🤣
SaturdayNight🌠
paling dgbukin tahan lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!