Alfina dan Alfino teman masa kecil yang selalu bertengkar jika berada di dalam satu kelas.
Fina mempunyai tambatan hati bernama Choki, sedangkan Fino memiliki Anjani, hubungan itu tidak berarti sama sekali ketika kedua orang tua memaksa mereka untuk menikah muda.
Fina membuat perjanjian setelah pernikahan, Jika disekolah menjaga jarak, jika dirumah berperan layaknya pasutri. Tujuan Fina buat janji karena untuk melindungi Fino dari gangguan Choki.
Pada akhirnya perjanjian yang Fina buat seakan masuk ke perangkap nya sendiri. Fina semakin di ganggu oleh Choki, sedangkan Fino semakin dekat dengan Anjani.
Apakah Fina bertahan dengan janji yang sudah ia buat, jika kalau tidak bertahan bagaimana kisah mereka membina sebuah pernikahan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FINA FINO 29.
Setelah ayah mertua nya mengirim uang lewat E-wallet, Fina berpikir untuk mempunyai rekening pribadi. Tidak selamanya dia kalau ambil uang harus ke minimarket lebih dulu untuk tarik tunai, terlebih tarik tunai itu ada biaya tambahan admin.
Yang menjadi penghalang Fina untuk membuka rekening adalah waktunya yang bentrok sama jam sekolah. Sekolah libur di tanggal merah sama saja, bank pasti ikutan tutup. Hari minggu?, apa lagi.
Fina tidak mau membuka rekening harus menunggu jeda semester yang akan terjadi pada dua bulan kedepan. Karena itu ia menghampiri Fino yang sesaat ingin tidur di luar kamar.
"Mas kok kamu tidurnya diluar sih?"
Sebuah pertanyaan membuat Fino mengerut nya keningnya. Fina lupa apa gimana dengan perkataan nya saat ia berada di kantor papa nya sore tadi? "Kan kamu yang nyuruh saya buat tidur diluar" Jawab Fino.
"Gak jadi mas, malam ini kamu tetap tidur satu ranjang dengan saya"
"Lah kenapa berubah pikiran?"
"Saya sudah enggak berniat mengungkit aib masa lalu kamu mas, untuk apa saya marah karena itu coba?. lagian itu cuma masa lalu kamu saja kan? Saya percaya kalau sekarang kamu sudah enggak menyewa LC lagi buat kesenangan kamu mas" Kata Fina.
Fino kaget dengan ucapan itu. "Nah gitu dong, kalau mas liat kamu bersikap dewasa seperti ini kan akan senang dengarnya" Kata langit, ia bangga sampai memujinya seraya membelai lembut kepala gadis itu.
Fina tersenyum dan menatap manja. "Hehe iya dong, istri siapa dulu"
Fino mendengkus geli. Tapi ia memilih tidak menjawab pernyataan itu, lebih tertarik pada nya yang tiba-tiba datang menghampiri. "Ada apa kamu kesini?"
"Besok bolos sekolah bersama yu mas"
"BARU JUGA SAYA PUJI ANJIR!" Gumam Fino sesaat menatap nya horor. "MAU NGAPAIN!" Jawabnya sangar.
Fina menggoyang-goyangkan badan nya manja sambil mempermainkan kain bajunya bagian bawah. "Besok anter saya yuk mas ke Bank buat buka kartu rekening"
"Kenapa harus bolos sekolah Fin?"
"Karena cuma itu satu-satunya cara buat buka rekening mas, kita setiap hari sibuk sekolah, liburan tanggal merah yang saya tau setiap bank pasti akan libur, mau hari Minggu? apa lagi. Jadi waktu mana yang cocok untuk buka rekening? Saya gak mau sampai nunggu jeda semester" Kata Fina.
"Iya sih, tapi jangan ganggu jam sekolah nya kita juga dong Fina." Kesal Fino rupanya.
Fina menggembungkan kedua pipinya sebal, berharap kalau Fino mau menemani nya untuk buat rekening. Sebenarnya ada opsi lain jika Fino tidak mau menemani nya buat rekening. Ada orang tua Fina di rumah sana yang bisa menemani Fina.
Tapi balik lagi sama Fina, ia ingin Fino yang menemaninya buat rekening.
"Kita besok berangkat sekolah, urusan itu gampang bisa belakangan." Tolak Fino.
"Cuma sehari doang mas ya ampun, lagian kita belum pernah izin kan dari awal kita naik kelas tiga?"
Fino langsung mendelik horor. "Kita tiga hari izin enggak berangkat sekolah karena jalani prosesi pernikahan tuh apa?" Sekalian saja Fino mengingatkan.
"Hm" Pada akhirnya Fina tidak bisa merubah ekspresi cemberut nya. "Kalau kamu ga bisa yaudah saya ngajak mamah saja"
Kini Fino menatap serius dan bertanya. "Mas sekarang mau nanya, kamu pengen banget buat rekening itu untuk apa?"
"Buat tabungan masa depan mas, saya baru mikir kita tuh sebentar lagi akan punya bayi, jadi uang lima belas juta dari ayah Santo mau saya simpan sebagian di rekening untuk kebutuhan pokok bayi kita.. Kau mikir lah nanti gimana kalau anak kita sakit, anak kita sudah mulai sekolah, lalu anak kita butuh makan untuk pertumbuhan nya, semua itu butuh uang dan kita harus menabung. Apa lagi kamu setelah lulus sekolah belum bisa kerja di perusahaan papa Santo. Kamu harus kuliah dulu kalau mau nerusin perusahaan papah" Kata Fina dengan sifat keibuannya.
Bahkan Fino melongo mendengar perkataan dari Fina, mengetahui kalau Fina lebih bawel dari mama nya saat sedang menasehati nya.
"Kau juga mas!, Pokoknya besok kau ikut buat rekening!" Kata Fina.
"Saya juga?"
"Iya mas, pokoknya saya mau besok kamu izin gak berangkat sekolah buat nemenin saya ke bank!"
"Liat keputusan nya besok ya."
**
Esok harinya.
Fino sudah menentukan pilihan, pria itu tidak masuk sekolah dan akan menemani Fina untuk membuat rekening di suatu bank, ia juga akan membuat rekening untuk pribadi nya sekalian.
Setelah semalam memikirkan, Fino rasanya butuh rekening pribadi. Karena, selama ini ia selalu meminjam kartu ATM mamah nya ketika sang papah memberinya uang jajan.
Selain itu, Fino gak mungkin selamanya mengandalkan uang papah untuk menafkahi Fina, ia pasti butuh kerjaan untuk dapatkan uang demi menafkahi sang istri.
Emang Fino adalah pewaris tunggal kaya raya yang akan menggantikan ayahnya sebagai presiden direktur perusahaan. Tapi, ia tidak mau sukses dengan cara instan.
Selepas dari kedua pasutri itu yang sudah mendapatkan kartu ATM nya masing-masing.
Fino meminta Fina untuk langsung pulang ke rumah karena merasa tak enak jika lama-lama di luar rumah, mengingat hari ini keduanya sedang izin untuk tidak sekolah.
Sisi lain Fina menolak, mumpung keduanya sudah berpakaian bebas dan sedang berada di luar rumah, Fina ingin mengajak suami nya untuk kencan.
Ada perdebatan kecil karena keduanya kekeh dengan keinginannya masing-masing. Sama-sama tidak mau mengalah.
Lantas siapa yang akan jadi pemenang dari perdebatan itu? Jawabannya mudah.
"DUFAAAAAAAN!!!" Teriak Fina yang terlihat bahagia seraya pecicilan tidak jelas. Bahagia nya Fina karena Fino membawanya ia ke Dufan.
To be continue,