"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.
Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI ANTARA DUA PELUKAN
Alana menelan ludah, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kekuatannya yang sempat tercecer. Melihat putranya begitu melekat pada pria yang baru dikenalnya—pria yang memicu badai ketakutan di hatinya—membuat naluri protektif Alana kembali terusik.
Dengan gerakan yang sangat lembut namun tegas, Alana merangkak mendekat. "Arka... Sayang, ini Ibu," bisik Alana, suaranya masih serak akibat tangis.
Kedua tangan Alana yang masih sedikit gemetar menyentuh bahu kecil Arka. Ia mencoba menarik perlahan tubuh putranya dari dada lapang Samudera. Alana ingin menegaskan kembali pada dirinya sendiri, dan pada Samudera, bahwa dialah pemegang kendali atas hidup Arka.
Namun, Arka sempat merengek kecil dan semakin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Samudera. Pegangan tangan mungilnya di kemeja pria itu tidak langsung terlepas, seolah tubuh kecilnya masih trauma dengan kejadian mengerikan yang baru saja menimpanya dan menganggap pelukan Samudera adalah benteng teraman saat ini.
"Arka, sama Ibu dulu, Nak. Om Samudera pasti lelah," bujuk Alana lagi, kali ini dengan sedikit tekanan lembut pada tarikannya. Matanya sempat beradu dengan mata Samudera—seolah meminta dengan sangat agar pria itu tidak menahannya.
Samudera yang peka dengan kecemasan Alana tidak mencoba mempertahankan cengkeramannya. Meskipun hatinya terasa berat harus merelakan pelukan pertama dari putranya berakhir secepat ini, ia perlahan melonggarkan lengannya. Ia membiarkan Alana mengambil kembali apa yang memang menjadi hak wanita itu selama empat tahun ini.
Begitu dekapan itu terlepas, Alana langsung mendekap Arka erat-erat ke dalam pelukannya sendiri. Ia menciumi puncak kepala Arka berkali-kali, menghirup aroma minyak telon putranya dengan rasa syukur yang membubung tinggi ke langit.
Samudera perlahan mundur, memberi ruang bagi ibu dan anak itu, namun pandangan matanya sama sekali tidak lepas dari siluet keduanya. Ada rasa haru sekaligus tekad baru yang kini tertanam di dalam benaknya.
Dalam dekapan hangat Alana, tangisan Arkana perlahan-lahan mulai mereda menjadi sesenggukan kecil. Kedua lengan mungilnya kini melingkar erat di leher ibunya, mencari kenyamanan yang selama empat tahun ini selalu ia dapatkan setiap kali ia merasa takut atau terluka. Alana terus membisikkan kata-kata penenang sembari mengusap punggung putranya, mencoba mengusir sisa-sisa trauma yang menegangkan tadi.
Namun, rasa penasaran anak-anak di dalam diri Arka tidak bisa diredam begitu saja.
Di sela-sela helaan napasnya yang masih memburu, Arka perlahan melonggarkan pelukannya pada Alana. Kepala kecilnya menoleh, dan sepasang mata bulatnya yang masih basah oleh sisa air mata kembali menatap ke arah Samudera.
Samudera masih mematung di tempatnya berdiri. Pria jangkung itu sama sekali tidak bergeser satu inci pun sejak Alana mengambil Arka dari dekapannya. Tatapan mata Samudera terkunci pada sang putra—penuh dengan binar kehangatan, rasa bersyukur, dan emosi tak terbendung yang selama ini terkunci rapat di dalam dadanya.
Melihat Samudera yang terus menatapnya dengan senyuman tipis yang begitu tulus, Arka tidak menunjukkan rasa takut. Sebaliknya, bocah cerdas itu mengerjapkan matanya yang sembap, seolah menyadari bahwa pria asing yang baru saja menyelamatkan nyawanya ini memiliki ikatan yang sangat kuat dengan dirinya. Sesekali, Arka menyembunyikan wajahnya kembali di bahu Alana saat merasa malu, lalu sedetik kemudian melirik lagi ke arah Samudera dengan tatapan polosnya.
Alana bisa merasakan setiap pergerakan kecil putranya. Saat menyadari arah pandangan mata Arka, dada Alana kembali berdesir perih. Ia tahu, sekokoh apa pun benteng yang ia bangun untuk mengisolasi Arka dari dunia luar, ia tidak akan pernah bisa menghapus ikatan darah yang mengalir di antara dua laki-laki di hadapannya ini.
Suasana ruang makan itu mendadak hening, menyisakan ketegangan tak kasatmata di antara Alana dan Samudera, dengan Arkana yang berada di tengah-tengah sebagai jembatan takdir mereka.